tuhan dalam kebaikan dan kejahatan

Posted on April 7, 2008. Filed under: 1 |

(ehmmm, ini iseng aja yaa.. dari menjawab diskusi teman ttg kebaikan dan kejahatan yang sepertinya sudah merupakan design tuhan. semoga bermanfaat dan memiliki refleksi pada hal-hal yang lain di kehidupan kita )

saya juga pernah kok mikirin ginian. ga sengaja.. maksudnya, saya mikir ttg ini ketika saya merasa kok saya ini jahat banget yaa.. hehe.
maksudnya juga, saya pernah merasa jadi orang jahat. hiiii… ya terutama di sikap melawan ortu ketika memperjuangkan keislaman saya dulu. walau saya yakini, saya nih memperjuangkan agama Allah, tapi tetap saja saya merasa saya telah jahat sekali ke ortu sendiri..

ini jujur loh..
walhasil saya jadi merasa, kalau saya sebagai manusia ini tuh jauuuuuh sebelum berbuat jahat itu, merasa punya pilihan kok.
pertama: saya tahu berislam butuh perjuangan,
kedua: saya juga tahu melawan ortu itu tidak baik.
yang saya ga bisa: “bersabar” dalam perjuangan itu.
dan kenyataannya, saya memang “memilih” melawan ortu.
plus kacaunya saya tuh, saya menjadikan keislaman sebagai alasan melawan ortu. persoalannya kan, sebaik apapun niat saya ketika melawan ortu, -yakni demi keislaman tea-, saya tetap telah melakukan hal yang jahat. jadi beda antara niat baik dan tindakan saya. idealnya kan niatnya baik, jalannya juga baik. ya ga??
dan setelah saya lewati semua itu, saya sadari.. saya sebenarnya bisa saja -misalnya- memilih berkompromi dsbnya..

contohnya gini: karena saya diberi tahu bahwa aurat itu tidak boleh ditunjukkan pada yang bukan muhrim dan non islam, maka tidurpun saya pakai jilbab. kenapa? ketika saya menginap di rumah murobbi saya -waktu itu-, beliau juga tidur bersama saya dengan tetap memakai jilbab. meski saya nih muslimah toh? itu beberapa kali, sehingga saya pikir, -ooooo… begitulah seharusnya jadi orang islam. maka sayapun menirunya.
ibu saya yang non muslim, jelas meminta saya jangan begitu-gitu banget. lah, saya kok ya ngotot dan bersikeras bahkan sampai bertengkar. alasan saya, beginilah islam dan saya harus membelanya. padahal setelah saya semakin mengerti, alasan itu bukan islam. itu ikutan murobbi, ikutan standar sholeh yang saya pelajari.. hehehehe..
(sekarang saya ga punya murobbi loh.. hehehe, rada kapok)
nah, ketika jujur sama diri sendiri, masyaAllah.. ga enak banget tidur pake jilbab, dan yang paling terasa.. saya kok sedih yaa melihat ibu saya menyerah pada sikap keras saya. hiks..

dan tahu ga, apa alasan ibu saya ketika meminta saya tidur jangan pakai jilbab? sederhana. katanya.. mbok biar sudah islam, bolehlah mama ini tetap bisa melihat anak mama yang sebenarnya. ya begini dan begitu dalam ingatannya.
eee.., saya waktu itu malah merasa saya memang sudah bukan anis yang begini dan begitu dalam ingatannya, saya adalah anis yang sholeh, menjaga pandangan, menjaga aturan islam dsbnya..
aaarghhhhh….! kalau saya inget itu, nyeseeeelllllllll banget..
ingin deh rasanya mengembalikan waktu dan berkompromi lebih banyak.
toh, ibu saya pada akhirnya tidak melarang saya berjilbab kok, hanya mbok ya o.. kalau tidur di rumah lampung itu jangan pakai jilbab. biar mama bisa menikmati menatap saya yang anaknya..
tapi yaaaa, seperti nasi sudah jadi bubur, apapun yang terjadi ya sudahlah..
saya belajar dari kejahatan saya sendiri.. (peurih deh nulis ini..)

kembali ke laptop
artinya : sebuah kejahatan itu terjadi, bisa karena faktor luar seperti pengaruh orang lain
dan dari faktor dalam, yakni pengetahuan dan kesabaran kita sendiri. kurleb itu..
maka setelah sebuah kejahatan itu terjadi ya tobatlah, jangan ulangi dan jadikan sebagai perbaikan kedepan.
itulah yang namanya proses pembelajaran tuk “pinter dan bijak” berbuat baik di kemudian hari. saya menyimpulkannya gitu.

maka ada nasehat yang bunyinya gini: “orang pinter” adalah orang yang belajar dari pengalamannya sendiri dan “orang bijak” adalah orang yang belaajr dari pengalaman orang lain..
artinya, tanpa harus ada kejahatan terlebih dahulu (mengalami salah), kita bisa kok jadi orang baik (benar). tipe-tipe preventif gitu loh…

disini juga kemudian saya menyadari sekali, kenapa kitab suci itu memuat banyak kisah-kisah dari kaum-kaum sebelumnya. seperti berita yang diulang-ulang. ya tujuannya sih agar kita ga mengulang kesalahan/kejahatan yang lalu-lalu.
ini inti dari “obyektifitas” dalam belajar sejarah. ya ga?
(hehehe, penulisan sejarah itu konon ga ada yang obyektif, tapi -minimal inilah “obyektifitas” yang mungkin diambil dari belajar sejarah, gitu loh maksudnya)

kesimpulan : kejahatan diciptakan bukan untuk kejahatan itu sendiri (atau menjadikan kejahatan itu bentuk yang mutlak), melainkan untuk mengetahui apa yang merupakan kebaikan yang -mungkin- lahir darinya. sehingga dapat disimpulkan pula, bahwa kebaikan itulah yang sebenarnya mutlak.

karena kalau kembali pada esensi awal penciptaan, kebaikan itulah inti dari semua penciptaan ini. dulu yang wa bobi -teman saya- bilang, awalnya penciptaan itu adalah bilangan satu dan setelahnya adalah bilangan semu. maka kejahatan itu adalah kesemuan. itu bentuk dari menturutkan hawa nafsu -dalam bahasa agama.

hehehe, maaf – semoga ini cukup di mengerti yaa??? haduh, saya sedang suka takut salah dalam menuliskan sesuatu nih.

trus, dalam bahasa agama yang afdhol nih..
konon di setiap kelahiran manusia itu, pasti ada setan yang lahir juga. kurleb gitukan katanya?? jangan harfiah dengan membayang-bayangkan setan itu bentuk jadi-jadian deh. pikiran seperti itu hanya akan membuat setan itu “bener-bener” jadi bentuk jadi-jadian itu. pikiran kaya’ gitu akan menjebak kita terus menerus pada mistik-mistikan tea.

saya tahunya, manusia itu memiliki “sisi baik dan sisi buruk”.
inilah yang dalam “bahasa agama” disebut setiap manusia lahir ada “malaikat dan setan”nya. dua sisi ini ya seperti dua sisi mata uang koin itu. tergantung pengetahuan, pendidikan, keyakinan, lingkungan dan inner pelakunya tuk memainkan mata uangnya yang mana. ini perlu pengendalian, dan agama islam mengajari ini lewat tazkiyatun nafs, tasawuf dsbnya itu.

buat saya ini lebih logis, dari dibilang manusia itu ada setannya dan harus di usir setannya itu. hehehe, yang tepat buat saya, ya harus dikendalikan sisi buruknya. harus dibiasakan memainkan dengan bijak dua mata koinnya

kalau ditarik ke hal pendidikan,
maka pengetahuan keilmuan itu untuk membangun kesadaran logika dan budi pekerti itu untuk membangun kesadaran jiwa. otak dan hati ini punya “menu makanan”nya sendiri. keduanya harus diupayakan seimbang. jika satu diantaranya terlalu berlebihan, ya pastinya akan bermasalah..
kadang saya pikir, disinilah inti tugas penciptaan kita, menyeimbangkan rasa dan rasio dalam menghadapi banyak problema hidup, dan hasilnya ya yang dinamakan romatika hidup itu sendiri. hehehe.. gitu ga sih??

ketika menyadari ini, saya menemukan hidup yang lebih tenang loh, bebas dan merdeka.. maksudnya, ya hidup itu memang memiliki romantikannya. hasil dari berbudaya dan berperadabannya manusia, hasil dari upaya manusia menjalankan fungsi penciptaannya, termasuk hasil dari kesalahan/kejahatan dan kebaikan yang diupayakan manusia dalam kehidupan ini..
kedepan, kesadaran ini harus bisa diarahkan tuk menjadi khalifah di muka bumi, dalam artian bermanfaat banyak bagi kehidupan yang lebih luas..
ini misi islam sebagai “agama” di muka bumi deh..

(oops, saya menekankan kata “agama”, karena kadang dalam pikiran saya, islam itu bisa tidak memerlukan bentuk berupa “agama” loh.. hehehe, ini pikiran iseng banget.. maaf..)

nah, gimana menurut anda??

anis

Make a Comment

Make A Comment: ( 10 so far )

blockquote and a tags work here.

10 Responses to “tuhan dalam kebaikan dan kejahatan”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

postingan yang mencerahkan. kejahatan tampaknya sekarang sudah menjadi ancaman di berbagai lapis dan lini kehidupan. tak hanya di kalangan masyarakat bawah. konon di tingkat elite pun kini premanisme sudah marak, bahkan dilakukan secara telanjang.

saya pernah baca mutiara al-hikam, bukunya bagus, mbak anis pernah baca?
intinya kejahatan itu mungkin diciptakan agar kebaikan diketahui dengan jelas,mana yang gelap dan yang terang. Kejahatan diridhai oleh allah agar manusia bisa memilih dan memilah yang baik dan yang jahat, proses kesadaran dari jahat ke baik ini juga akan menjadi sumber pahala dari Allah. Kalau gak salah sih begitu.

ikut sedih akan pengalaman mbak anis,tapi sepertinya smua orang pernah berperilaku yang mirip sama orang tua dan/atau sesama manusia, walau dengan konteks yang mungkin berbeda…

:(

Belajar kejahatan dari perspektif berbeda dari yang pernah saya pelajari di dalam kelas. wogh… rasanya.

-salam kenal.
btw URL nya menggelitik,’mualafmenggugat’, mengguga siapa?
*peace ah*

Mungkin jawabannya ada di majalah TIME edisi 3 Desember 2007, dimana ilmu pengetahuan mencari penyebab mengapa seseorang bisa berbuat jahat atau berbuat baik.

@ mas Sawali
itu dia mas Sawali,
kisah ini di posting semoga bisa melihat refleksinya dalam keseharian kita saat ini,
yang mana pilihan tuk kejahatan lebih di hiraukan dari pilihan tuk kebaikan.
kenapa begitu ya mas?
padahal, rasa sedih setelahnya kejahatan itu sakit loh..
dan kejahatan itu meminta “bayaran yang mahal” sekali dari hidup kita..
gitu ga sih??

@ rajawalimuda,
alhamdulillah saya sudah baca buku tsb..
makasih ya sudah diingatkan kembali…

@ mas landy
salam kenal, makasih ya sudah mampir..
sepertinya dalam diam berbicara banyak nih..

@ norie
salam kenal,
hehehe.. menggugat pada siapa saja yang mau digugat..

@ mas erander
gimana kalau mas resume saja TIME edisi tsb di sini..?
saya tunggu ya, senang loh dikayakan dari banyak sisi..
terimakasih..

Waktu sekolah dulu saya pernah diajarin bahwa pemahaman Islam dilakukan melalui tiga pendekatan willing (iman), feeling (rasa) dan thinking (fikir). ketidak seimbangan dalam pendekatan akan terjebak pada gaya hidup yang berlandasakan “filsafat” atau hanya sekedar “eling” pada sang pencipta. Kita memang tidak cukup hidup hanya menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain saja. Tapi sebagai muslim diberitugas untuk menjadi khalifah dibumi dan alam semesta. Pertanyaannya adalah kenapa hingga saat ini kekalifahan itu tidak diserahkan pada orang muslim, tapi justru didominasi oleh orang non muslim ? bisa jadi kita masih termasuk kedalam orang yang “merugi” karena tidak bisa menyeimbangkan antara pemanfaatan waktu, keimanan, saling mengkoreksi, dan hanya mengandalkan kesabaran melulu.

Menjadi orang baik dan jahat,atau apapun memang pilihan, tapi konsekuensi dari apa yang kita pilih bukan pilihan. Artinya mau tidak mau kita harus bertanggung jawab atas pilihan itu.

Wallahualam.

setahu saya, melepas jilbab di depan ibu sendiri no problemo. wah.. kebayang deh jadi serba salah pas dirumah. meski beda keyakinan islam tetap menganjurkan untuk bersikap baik ke ortu.

masalah malaikat & setan, kalau boleh usul dikit,tiap manusia disertai jin (bedain dg kata iblis) yg bisa jadi setan bisa juga jadi muslim, kalau semua langsung jadi setan, tidak sesuai fitroh dong… bukannya manusia juga begitu? kalau malaikat ikut lahir?? belum ada rujukannya nih. yang saya tahu, yg mendampingi manusia ada 2 malaikat untuk mencatat kebaikan dan kejahatan.
(— hanya masalah definisi saja—)

point intinya saya setuju. adanya kejahatan adalah sebagai ujian bagi manusia. kalau kejahatan ada untuk mengetahui kebaikan, itu sih kasus per kasus tidak bisa digeneralisir.

Kita dilahirkan dibumi diberi amanah dari Sang Khalik agar bisa menjaga alam, kekayaan yg ada di bumi ini.Dan menjaga untuk tdk saling membunuh, menghujat, mancaci-maki, memfitnah, mendendam, dsb. Melainkan Saling Mengasihi Sesama Manusia

@ronny
setuju mas..
setuju banget..
mari buat dunia berseri :D


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...