asketisisme kekuasaan: sumpah Palapa
(nah, sekarang mau ke yang aktual nih.. beragama itu ga ada artinya kalau ga ada aktualisasinya. percuma kalau berdebat saja ttg ayat, ya ga??.. )
apa yang ada dalam benak anda ttg Sumpah Palapa?
waktu SD kita tahu, kalau Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan buah Palapa sebelum menyatukan nusantara. betttul?? hehehe
dari kebiasaan mengolah pikir dan rasa, saya menemukan bahwa buah palapa dalam sumpah itu, tidak bisa diartikan sekedar buah bernama Palapa.
saya merasa itu adalah buah lambang dari kemegahan dan kemewahan.
jadi Gajah Mada bertekad tuk tidak mengecap kemewahan dan kemegahan di zaman itu sebelum menyatukan nusantara. maka, kalau buah Palapa adalah buah terlangka dan termahal di zaman itu, maka -sekali lagi- GM berjanji tuk tidak memakannya sampai menyatukan nusantara.
kita tahu, leluhur bangsa kita ini suka berpantang dan berpuasa dari sesuatu demi mencapai keinginannya. sebuah sikap penuh tekad, perjuangan juga komitmen tinggi di mata saya. maka wajar kalau GM pernah mencapai cita-citanya dengan tekad sekuat baja sedemikian.
nah, kalau kita tarik ke zaman sekarang,
maka kita perlu sikap asketisisme atau kesederhanaan itu tuk mencapai kembali kejayaan indonesia.
kita perlu berpantang dari materi berlebihan tuk mencapai cita-cita kita.
jangan mudah tergiur oleh kemegahan dan kemewahan yang dijanjikan kekuasaan.
sepertinya ini harga mati nih tuk negeri kita saat ini.
karena kekuasaan di negeri kita saat ini memang sudah rancu dengan kekuasaan atas nama materi dan ekonomi. sangat sulit memisahkan kekuasaan kita dari materi, maka korupsi di negeri kita gede banget.
maka, kalau anda merasa ingin bermain di kekuasaan atau bahkan kalau mahasiswa masih ingin berjuang di jalanan, satu deh.. miliki tekad baja tuk lebih mendahulukan kepentingan yang lebih besar, tuk lebih mencapai cita-cita bersama itu
sebagaimana di perlambangkan oleh Sumpah Palapa dari maha patih yang terkenal dalam sejarah bumi nusantara ini, Gajah Mada.
hehehe, ga nyangka yaa.
indonesia kita memang dalam sejarahnya pernah dibangun oleh sebuah perjuangan besar, dari orang yang besar juga dan demi sesuatu yang besar juga.
nabi-nabi itu juga suka berpuasa. mempuasakan nafsunya. menahan diri dari banyaknya tawaran duniawi. semata demi kepentingan yang lebih besar, kepentingan umat dan demi kepentingan sejarah kemerdekaan manusia di muka bumi dari penjajahan iblis tea.
maka sebetulnya, kita dapat simpulkan bahwa keberhasilan sebauh perjuangan ada pada tekad yang membaja, keyakinan dan keprihatinan. tanpa itu, nyaris nihil semua..
masih adakah sang Gajah Mada
yang bertekad sekuat baja
dan pandai menahan kesenangan raga
tuk kita, indonesia??
salam,
anis

1. di islam tidak boleh mengharamkan apa-apa yang dihalalkan oleh Tuhan
2. Gajah mada menghalalkan segala cara ingat kasus perang bubat , Sri baduga maharaja dipancing dengan taktik akan menikahkan dyah pitaloka dengan Hayam Wuruk, tapi rombongan seserahan dihabisi, sampai sekarang di jawa barat ga ada jalan gajah mada.
soal pengorbanan nabi-nabi, aulia-aulia khalifah -khalifah saya setuju patut ditiru itu
budi
Juli 1, 2008
@Budi
anda ini terlalu terbatas atau memebatasi diri ya mas Budi??
hehehe, saya kok letih yaa dengan manusia semacam anda. maaf, ini jujur… pisss..
saya bukan tidak tahu, GM pernah memplintir fakta atas kasus perang Bubat itu.
saya hanya mengambil satu sisi positifnya GM, tidak lebih dari itu dan tidak adakah itu bagi anda?
harus sesempurna apakah manusia untuk anda??
saya jelas tidak bisa demikian..
dan maaf, anda salah mas Budi. saya tinggal di Bogor, dan di Bogor ada jalan Gajah Mada. di belakang supermarket Yogya. saya suka lewat sana.
ehmm, sempurnakah?
Menggugat Mualaf
Juli 1, 2008
@Budi
ps.
ayo mas Budi.. saya dan teman-teman di sini terbiasa bebas lepas. jadi mas budi jangan sungkan tuk salah dan benar bersama kami yaa. hehehe, kami komunitas manusia apa adanya..
belajar dari salah,
mengingatkan dalam benar,
berbeda tapi satu juga..
merdeka!!
Menggugat Mualaf
Juli 1, 2008
lha yo itu, tokoh yang kamu jadikan contoh itu jauh dari sempurna masih ada insan kamil yang bisa kamu tiru ada ayatnya kok surat .. eh kamu kan ga suka mengutip ayat ya , ga jadi deh
kalo mempersatukan lewat kolonialism belanda juga pernah , tapi yang penting itu mempersatukan lewat aqidah tauhid ..
soal bogor ,hehe isin aku ga tau di bogor ada jalan GM
kalo letih sama oran macam aku yo wis ga usah di post commentnya
budi
Juli 2, 2008
@Budi
Mas Budi, disini kita belajar untuk berbeda,
belajar untuk mengetahui bahwa kita tidak sempurna.
belajar menghargai pendapat orang, belajar
untuk mengetahui omongan kita dipahami, di
salah artikan, dibenci . Juga belajar
ahwa pendapat kita juga belum tentu benar. Belajar
juga bahwa ternyata ada juga pendapat orang yang ajaibDan yang terpenting untuk saya…saya belajar menjadi manusia.
datyo
Juli 2, 2008
@Budi
wah… jangan mutung dong mas Budi..
seperti kata mas Datyo tuh, kita sama-sama kok di sini..
e, katanya nih, sesungguhnya kita tuh tidak bisa mencintai seseorang itu apa adanya. kita pasti -meski sedikit- akan punya ekspektasi darinya. jadi wajar kalau saya atau mas Budi sendiri, tidak bisa menerima seluruh perbedaan kita masing-masing.
dan katanya lagi, dewasa dalam mencinta itu adalah pada “bagaimana kita ketika bersamanya”. cieee.. jadi, bagaimana kita mau membuka ruang dari diri kita tuk orang lain. dan di sanalah, baik-buruk masing-masing kita akhirnya bisa kita bagi dan sinergikan.
toh, sesungguhnya, meski banyak tokoh yang ideal, insan kamil dsbnya, kita tetap bukan mereka. kita adalah kita. saya dan teman-teman di sini, tipe yang lebih suka menjadi diri sendiri dalam apapun inspirasi yang ada. dan kita tuh suka pada “god in the small things”, tuhan pada hal-hal kecil. dalam sedikit bahkan dalam salah, kita sangat menghargai jika itu bisa mengkayakan kita.
saya minta maaf sudah bilang letih dengan mas Budi yaa. maaf, letih itu karena bingung menjawabnya kali yaa. saya sangat terbatas deh. maaf yaa… yukk, berdamai. pisss
Menggugat Mualaf
Juli 2, 2008
Assalamu ‘alaikum Mbak Anis,
Gajah Mada bagaikan anekdot bagi yang merasa nasionalis…
Sekedar guyon:
Gajah Mada dengan buah Palapa bagaikan Adam dengan buah kuldinya…
Mada := Adam? (baca cara Arab).
Maaf buat yang tidak berkenan dengan guyonan saya.
-wassalam-
Faubell
Juli 2, 2008
Saya senang baca komen2nya. Ini yang patut dicontoh, bahwa setiap perbedaan tidak menghalangi kita utk hidup rukun berdampingan. Alangkah hidup bisa lebih bisa bahagia dengan saling tepo sliro.
Sblangkon
November 3, 2009