pasar
(mau cerita ini nih..)
tadi pagi saya jalan kaki ke koperasi di kompleks rumah tuk bayar telpon dan air PDAM. hehehe, saya masih “manual” nih. walau banyak layanan bank tuk pembayaran beginian, saya kebetulan cuma ibu rumah tangga biasa, jadi saya masih bisa melakoni ini secara langsung. semata karena ada waktunya saja.
seperti saya pernah tulis di Hangat, saya suka interaksi dengan sesama, terlebih di indonesia. sungguh, hangat terasa. saya juga bertemu tetangga dan satpam kompleks rumah yang juga bayar di sana.
nah, di ring road depan komplek saya, ada Giant pasar swalayan tea. usianya masih baru, jadi masih gress tuk kami yang di kompleks maupun mereka yang disekitar lingkungan kami. jujur, saya baru sekali ke sana, pas grand openingnya saja. itupun karena anak saya mau lihat. saya sih ga kepengen-pengen banget. bukankah Giant itu dimana saja : sama ? seperti Carefour juga di mana saja : sama? jadi ya, saya ga yang gimanaaaaa… gitu.
bahkan suami suka ngomel, ada Giant di depan mata, saya masih aja pengen belanja yang jauh-jauh dari rumah. hehehe.. bukan istri, kalau ga bisa bikin suami sebel. ya ga? ;P
mas presiden saja saya gangguin, apalagi suami beneran?? rugi kalau ga digangguin. hehehe.
maka biar ada giant, saya masih sesekali minta di antar ke pasar anyar, pasar tradisional kota bogor. belanjanya juga kadang ga terlalu penting sih, karena saya sendiri pada dasarnya ga suka belanja. tapi suka aja cari sesuatu yang ga ada di supermarket. seperti kemarin, saya cari raket tuk anak-anak main badminton. di kompleks lagi musim main badminton. di supermarket juga ada dan banyak pilihan, tapi iseng aja.. saya mau beli di toko biasa. jadi kita punya alasan tuk melihat-lihat pasar tradisional.
waktu itu, ada sebuah toko tua segala ada di bilangan pasar anyar – bogor. pemiliknya orang cina. barang di tempatnya nyaris kosong, tersisa beberapa buah. bahkan barang jadul ada di toko itu, seperti senter dari aluminium itu loh. saya geli dan seperti mengenang masa lalu.
kami sempat membandingkan dengan harga raket di toko lain, toko jadul itu berani jual lebih murah dari toko lain sejauh 10 ribu! mungkin karena tidak ada karyawan di toko itu, jadi ga perlu ongkosin karyawan kali yaa. aneh juga. untungnya berapa coba??
saya pun berbicara dengan pemilik tokonya, katanya mereka di sana dari pasar anyar bogor masih tertata rapi. sekarang memang semerawut pasar itu. saya saja pusing kalau ke sana. toko jadul itu besar loh, termasuk di jalan di utamanya. dulunya pasti hebat tuh toko. tapi jadi usang dan kalah tertutup kaki lima di depannya dan swalayan-swalayan di sekitarnya.
pernah juga, sekali waktu.. saya sedang belajar bikin kue. saya bisa beli bahan di supermarket. tapi hari itu, saya iseng mau beli bahan kue ke toko di pasar anyar. dan sayapun pasrah, di toko yang panas dan ramai itu saya ga tahu mesti bicara apa. butek otak saya. duh, biasa di supermarket pake ac, nyaman dan tenang.
tapi saya takjub.
masalahnya saya kan takut pingsan di tengah penggapnya pasar, maka saya jujur saja sama pemilik tokonya, kalau saya baru belajar bikin kue dan butuh bahan ini-ini-ini.
maka loyang tertentu yang tadinya ditawari oleh karyawannya sekian, dipotong harganya sampai seperempatnya. kok bisa?? pemiliknya bilang, biar belajar kuenya sukses dan nanti kembali belanja di sana. hahaha, saya tertawa. pemilik tokonya kasihan kali ya melihat saya yang kepanasan di tokonya. sungguh, setelah saya cek, termasuk bandingkan dengan harga di super market, semua jauh lebih murah. dalam hati, – untungnya mereka itu berapa yaa??
pastinya sih untung. tapi mungkin kecil sekali yaa..
namanya bisnis pasti lebih penting muter dari sekedar untung gede. ya ga?
saya jarang belanja sih. tapi kalau inget belanja itu memberi kesan tersendiri, interaksi yang indah, saya suka terharu.
jadi sadari ada hidup yang ga cuma saya sendirian di dunia ini..
jadi sadari ada hidup yang bersama di sini..
jadi sadari ada hidup yang harus dibagi di sini..
dan tadi, anak-anak kampung berlarian ke Giant. melawan arah berjalan saya yang melewati Giant tuk ke koperasi. terdengar mereka berkata setengah teriak..
- e, nanti belanja ya..
- iya, harus belanja kalau ke sana
- aku beli makanan saja
- aku juga
- aku juga
- yaa, belum buka..
- tunggu saja
- iya tunggu saja..
hehehe, mereka seperti juga anak-anak saya. masih merasa luar biasa kalau ke supermarket. sayapun inget, ketika kecil saya paling suka kalau diajak masuk Hoya, istana mainan zaman dulu.
padahal… ada kehidupan yang lebih indah dari sekedar supermarket. yang penuh interaksi dan perlu dibagi.. terlebih, perlu di tata kembali
***
saya bermimpi,
akan pasar-pasar tradisional di sekitar kita yang tertata rapi. bukan sekedar di-swastanisasi, tapi memang pasar yang terbangun oleh kesadaran akan kebersihan dan keteraturan yang baik oleh semua pelaku pasarnya.
mungkinkah??
jangan pungkiri bahwa pasar tradisional tetaplah tempat kegiatan ekonomi dengan putaran uang paling cepat yang ada disekitar kita. maka peliharalah dia sebaik-baiknya. bukan acak-cakan dan berantakan seperti saat ini. lalu menjadi alasan tuk diganti dengan banyak pasar swalayan bermodal kapitalis yang mematikan kegiatan ekonomi rakyat kecil. rakyat tetap harus diberi tantangan tuk membuat pasar tradisional ini bersih dan teratur.
semua pihak harus mau berbagi dan bekerjasama.
semua pihak harus mau di tata kembali
saya bermimpi..
dan mas presiden cuma bisa bernyanyi di atas mimpi saya
huh, proses cerai sudah saya ajukan loh..
tinggal tunggu tanggal sidang..
hehehe…
salamberbagi
anis

Mbak anis..sudah lama saya gak mampir ke sini…:D Mudah2an masih inget
Mbak anis mirip sama ibu saya, deh..Kalo belanja keperluan dapur beliau lebih suka di pasar Tradisional. Saking seringnya ngobrol sama penjual2 di pasar tradisional beliau malah jadi akrab sama penjual di sana. Saya suka heran kalo tiba-tiba pemilik kios di pasar malah manggil2 ibu saya cuma untuk sekedara menyapa
syelviapoe3
Juli 7, 2008
lha setahu saya ada hadits: “sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.”
sitijenang
Juli 7, 2008
Saya juga senang ke pasar tradisional, bu. dua hari setelah kepulangan saya ke bogor di liburan musim panas ini, saya sengaja ke pasar anyar, ketemu dengan tukang ikan langganan saya di samping borobudur. Lalu ketawa ketiwi dengan tukang mainan. Beli sesuatu di toko kelontong ‘jadul’ pak haji depan dewi sartika. wuih.. murah dan menentramkan. Kita tahu kemana larinya uang kita dengan jelas, karena menjadi aliran yang menghidupi orang-orang kecil, ya bangsa kita ini. Sangat berbeda rasanya kalo kita belanja di Giant baru di jasmin atau hypermart di perapatan Sholeh Iskandar.
Hiruk pikuknya pasar tradisional, panas udaranya, dan berbagai aktivitas didalamnya membuat suasana sederhana yang ternyata bermakna dalam… Mestinya ke tempat inilah perhatian pemerintah di fokuskan.
tuansufi
Juli 7, 2008
@syelviapoe3
inget dong.. saya sampai buka-buka lagi komen2 yang lama..
salam tuk ibunya yaa, kapan-kapan belanja dengan saya yuk..
@tuansufi
sepertinya tuansufi tahu jejak-jejak jalan kaki saya nih.. hehehe
@sitijenang
ada pasar yang pasar..
ada pasar yang “pasar”..
mungkin di situ pasar yang “pasar”..
a-ha??
Menggugat Mualaf
Juli 8, 2008
Saya juga punya mimpi yg mirip.. Saya selalu pesimis liat budaya jakarta yg cuek-marut. gerobak ditengah jalan, nyebrang sembarangan, gak teratur bgt !! sy selalu mikir apatis ttg budaya jakarta dgn manusia2nya.
zamhuri
Desember 26, 2008
@zamhuri
salam kenal mas..
kita punya mimpi yg sama ya?
maka jangan apatis dong.. kan mas zamhuri ga sendirian.. hehehe
saya pikir bisa kok mas. pasti bisa…
Islam Indie
Desember 27, 2008