kutipan : Perjuangan Menjadi Muslim Amerika: Islam Substansial atau Islam Arab?
(ini bagus banget.. sangat perlu tuk introspeksi kita. karena sebetulnya kita sudah lama memiliki “islam indonesia”. herannya, kok kita seperti mundur ke belakang.. dan memaksa “islam arab” di indonesia dengan alasan “permurnian”. hehehe, jangan-jangan malah amerika nih nanti yang bisa menjadi rahmatan lil alamin, seandainya amerika memang bisa mengakomodasi kekritisan seperti ini. di satu sisi, saya mengagumi rasionalitas amerika loh.. walau tentu, saya tetap bangga dengan keragaman spiritual indonesia. buat saya indonesia sangat kaya. indonesia bisa lebih balance di mata saya.)
***
Muhammad (40 tahun) menangis terisak-isak. Hatinya hancur. Imigran asal Aljazair itu bercerita bahwa puteranya yang baru beranjak dewasa memilih menjadi ateis ketimbang Muslim. Sementara itu, para jemaat masjid yang lain hanya bisa termangu pasrah, mendengar bagaimana budaya sekular Amerika mempertunjukkan keperkasaannya.
Itu hanyalah sepenggal di antara banyak kisah sedih keluarga Muslim yang gagal meninggalkan jejak Islam di negara baru mereka. Sebagian besar putera-puteri mereka melakukan konformitas budaya, mengikuti gaya hidup yang materialistis dan sekular, yang secara dominan dipraktikkan di Amerika Serikat.
Jeffrey Lang seorang mualaf kulit putih Anglo-Saxon Amerika Serikat. Dalam sebagian besar kandungan buku Even Angles Ask: A Journey Islam in Amerika, Lang menuturkan betapa konflik budaya, konflik pemikiran, yang menghadang generasi muda Muslim maupun mualaf (pemeluk baru), merupakan persoalan dalam perkembangan Islam di Amerika Serikat.
Ada beberapa kelompok masyarakat di Amerika yang sukar menerima Islam sebagai bagian budaya Amerika.
Pertama, generasi muda Muslim yang lahir dan besar di negara itu dan cenderung ingin menjadi “orang Amerika” ketimbang “orang Arab.”
Kedua, para mualaf kulit putih Amerika yang terbiasa dengan rasionalitas, yang akhirnya murtad karena tidak bisa menerima kedangkalan berpikir komunitas Muslim yang terdominasi budaya Arab.
Ketiga, masyarakat Amerika yang mempunyai stereotip bahwa menjadi Muslim berarti menjadi orang Arab.
Lang mengakui, sukar memang membantah stereotip, atau stigma tersebut. Sebab, “Ketika muncul dalam berita, para Muslilm Amerika selalu berpakaian dalam jubah Timur Tengah,” tulis Lang mengambil contoh (h.132). Selain itu, tambah Lang, simbol-simbol seperti pakaian Timur Tengah, ucapan-ucapan Arab, atau berjanggut, meneguhkan semua anggapan itu, sampai-sampai para mualaf dan sahabat Lang berkomentar kepadanya bahwa kaum Muslim mungkin mengira bahwa Tuhan “hanya mengerti bahasa Arab.”
Tidak heran, warga setempat yang masuk Islam mengalami krisis identitas dan konflik budaya. Di satu sisi mereka ditolak komunitas mereka sendiri, didiskrimnasi lantaran dianggap melakukan pengkhianatan budaya. Tapi, di sisi lain, mereka pun tidak diterima komunitas Muslim sepenuhnya, karena sukar mengadaptasikan budaya Amerika yang sudah tertanam semenjak kecil, dengan budaya Arab yang asing.
Ketika mengkritik praktik dan pandangan yang bercorak Arab tradisional, sebagai contoh, sering malah mereka dituding kebarat-baratan dan dicap “tidak islami.” Apalagi, jika seorang Muslim mempertanyakan hukum Islam klasik atau kebiasaan yang mapan, ia dibungkam dengan tuduhan “hendak mengubah agama” (h.142).
Seorang Muslim justru dianggap saleh jika semakin menampilkan kebiasaan lahiriah yang tidak penting semisal mengenakan sorban, gamis, memanjangkan janggut, dan mengucapkan idiom-idiom Arab. Disebabkan oleh pemahaman yang remah ini, sebagian mualaf kulit putih berupaya keras menjadi “orang Arab” agar dapat diterima komunitas Muslim. Hal-hal seperti ini lagi-lagi semakin memperkuat stereotip warga Amerika bahwa Islam identik dengan Arab.
“Saya teringat suatu ceramah yang saya hadiri di sebuah universitas sewaktu pertama kali saya tertarik dengan Islam. Pembicaranya — seorang mualaf Amerika yang mengenakan busana mirip pakaian Saudi Arabia — terus-menerus menyisipkan dalam presentasinya istilah-istilah Arab yang diucapkan dengan buruk, seolah-olah segenap khalayaknya akrab dengan istilah-istilah itu. Suasana seperti itu menciptakan begitu banyak kesenjangan dalam pemahaman saya sehingga pembicaraannya, bagi saya, secara praktis tidak bisa dipahami. Saya tinggalkan ceramah itu dengan perasaan bahwa untuk menjadi seorang Muslim seseorang harus menjadi seorang Arab,” tulis Lang (h.31).
Lang hendak mengungkapkan bahwa konflik yang terjadi sesungguhnya bukan antara Islam dengan Amerika, melainkan antara “budaya Arab yang kolot dan konservatif” dengan “budaya yang rasional dan modern.”
Misalnya, pandangan orang Arab mengenai peran gender membuat tidak sedikit wanita kulit putih Amerika mengundurkan diri dari niat mempelajari Islam. Lang pernah menyaksikan, sebagai contoh, seorang wanita kulit putih Amerika memutuskan tidak jadi memeluk Islam karena gerah mendengar pertengkaran para jemaat Masjid tentang boleh tidaknya seorang perempuan hadir di masjid itu.
Sewaktu Lang dan keluarga tinggal di Dahran, Arab Saudi, ketiga putrinya ia masukkan ke sebuah sekolah Islam khusus untuk anak-anak perempuan. Pada hari pertama belajar, kepala sekolah mengutip hadis yang mengatakan bahwa intelegensi kaum wanita berada di bawah kaum pria (h.148) walaupun menurut Lang tak ada ayat Quran yang mendukung hadis ini. Namun, sayangnya, di Amerika justru pandangan-pandangan tradisional seperti ini seringkali dilontarkan penceramah Muslim dalam kuliah-kuliah umum tentang Islam di universitas-universitas sehingga membuat orang Amerika salah paham tentang Islam.
Generasi muda Muslim yang lahir dan tumbuh dalam budaya Amerika tidak nyaman dengan praktik-praktik dan pandangan-pandangan semacam ini, sehingga mereka enggan disebut sebagai seorang Muslim kendati mewarisi “nama Arab.” Jika ditanya, “Apakah kamu Muslim?” Mereka akan menjawab, “Orang tua sayalah yang Muslim.”
Oleh karena itulah, Lang menyimpulkan bahwa kaum Muslim di Amerika sangat membutuhkan ulama-ulama asli Amerika yang dapat memecahkan problem budaya tersebut. Ulama-ulama itu mengerti budaya Amerika dan mampu membimbing generasi baru Muslim Amerika — baik generasi muda Muslim maupun para mualaf — untuk hidup menurut ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka menguasai ilmu-ilmu klasik, tapi siap mengkaji secara kritis karya-karya ulama di masa lalu. Dengan begitu Islam dapat ditafsirkan dengan konteks masyarakat Amerika kontemporer. Di sini Lang ragu bahwa komunitas Islam Amerika bisa bertenggang rasa dengan kajian Islam klasik yang ada saat ini. Pendeknya, Lang mendambakan terciptanya masyarakat Muslim yang bergaya Amerika moden (h.297-298).
Nama Jeffrey Lang dapat disejajarkan dengan para mualaf Barat lain seumpama Leopold Weiss, Murad Hofmann, Roger Garaudy, atau Maryam Jameelah yang menyumbangkan perspektif alternatif dalam menafsirkan universalitas Islam. Keinginan Lang menampilkan citra diri sebagai Muslim Amerika, misalnya, ia ejawantahkan dengan mempertahankan nama Amerikanya, memilih mengucapkan “thank’s God” alih-alih “alhamdulillah,” dan tetap berbusana ala Barat, karena baginya simbol-simbol bukan persoalan substansial.
Selama beberapa tahun menjadi Muslim yang “bukan merupakan rencana hidupnya” itu, Jeffrey Lang — yang juga seorang guru besar matematika — menyaksikan bagaimana komunitas Muslim saling mendengki, menggunjing, menjelekkan jemaat Muslim di luar kelompok mereka, enggan menerima kritik, bahkan mengkafirkan satu sama lain.
Banyak mualaf kulit putih yang keluar dari Islam lantaran kecewa, tapi Lang bersiteguh. “Saya memeluk Islam bukan karena komunitas Muslim, melainkan lantaran kebenaran Qur’an!” katanya kepada sahabat kulit putihnya yang akhirnya murtad.
Buku ini sebenarnya dipersembahkan Lang kepada puteri-puterinya agar mengenal Islam. Selan itu, buku ini juga ditujukan sebagai penuntun bagi para mualaf kulit putih Amerika yang pada umumnya mengalami tahap-tahap perjalanan spiritual keislaman serupa.
Sebagian besar isi buku ini mengandung pergulatan intelektual dan spiritual Lang dalam memahami Islam, tapi bab dua secara khusus memuat penafsiran Lang mengenai prinsip-prinsip dasar Islam yang menjadi argumen keberislamannya.
Meskipun di Amerika menemukan relevansinya, gagasan dalam buku ini — bagi kita di Indonesia — mungkin kedengaran usang, karena perdebatan semacam ini pernah dipopularkan Nurcholish Madjid sekitar dua-tiga dekade silam. Namun demikian, buku ini memberikan kesadaran bahwa sebagaimana malaikat yang berani mempertanyakan penciptaan manusia kepada Tuhan, kita pun seharusnya berani menggugat pengamalan Islam yang secara umum kita pahami sekarang. Islam substansial, atau Islam Arab?
Judul Buku: Bahkan Malaikat Pun Bertanya: Membangun Sikap Berislam yang Kritis; Judul Asli: Even Angels Ask: A Journey to Islam in Amerika; Penulis: Jeffrey Lang; Penerjemah: Abdullah Ali; Penyunting: M.S. Nasrulloh; Pengantar: Murad Hoffman (edisi Amerika Serikat), Jalaluddin Rakhmat (Indonesia). Tebal: xvi + 302 halaman; Penerbit: Serambi. Tahun 2001
http://semestanet.com

Wah..mbak..buku yang bagus..boleh dipinjam, gak..? Kalo bisa yang edisi bhs Indonesia gitu..:D
COba kalo Pak Lang tinggal di Indonesia dan kenalan sama kita, ya, mbak..he…he…
syelviapoe3
Agustus 7, 2008
@selvy
seorang teman, tepatnya bu fitra yang suka berkunjung di blog ini juga, menghadiahkannya buat saya yang berjudul “Aku bertanya maka Aku beriman”?. masih seri dari Jeffry Lang juga. tapi, maaf..belum habis di baca.
karena saya sedang asyik dengan novel Ayu Utami “bilangan Fu”. bagus loh. boleh dicoba deh.. kalau mau mencoba merasakan sesuatu yang lebih kaya. seperti melihat bunga dan ilalang..
mau pinjem? boleh. tapi gimana pinjeminnya ya?
Menggugat Mualaf
Agustus 7, 2008
bagus bukunya mbak, sayang di tempat saya agak susah cari buku edisi bahasa inggris. nanti kalo nemu pasti saya beli. Insya allah
sering sering resensi buku dong mbak
rajawalimuda
Agustus 7, 2008
Sepertinya memang bagus nih. Ntar coba beli ah…
dana
Agustus 7, 2008
@mas dana
@mas rajawalimuda
apa yang terjadi pada Jeffry Lang adalah sama dengan apa yang terjadi pada saya. saya seperti kehilangan diri saya, maka saya menggugat. saya tidak bisa menjadi “orang arab”..
terutama bagian ini :
….Ketika mengkritik praktik dan pandangan yang bercorak Arab tradisional, sebagai contoh, sering malah mereka dituding kebarat-baratan dan dicap “tidak islami.” Apalagi, jika seorang Muslim mempertanyakan hukum Islam klasik atau kebiasaan yang mapan, ia dibungkam dengan tuduhan “hendak mengubah agama” (h.142)….
ini saya alami sendiri.
ada yang ‘menuduh’ saya akan merombak tatanan islam seperti muawiyah membunuh khalifah ali. halahhh.. saya disamakan dengan muawiyah?? bahkan ada yang mempertanyakan saya seperti ini “heh, islam ga sih lu nis?!!”. eeits, islam yang mana dulu nih? saya jelas ga bisa berislam seperti mau yang nuduh itu.
aduh.. setiap saya berbeda sedikit aja, langsung di bombardir. bikin mual deh.
sayangnya saya tidak secerdas Jeffry Lang, yang menggugat lewat tulisan/buku atau kajian. dan rasanya masyarakat amerika lebih rasional deh menerima hadirnya buku beliau. artinya, belum tentu sama dengan masyarakat indonesia yang lebih emosional. buku2 cak nur aja di deskriditkan.
kadang saya pikir, saya nih ga perlu menggugat loh. wong islam indonesia sudah ada. saya tidak merasa merubah apa-apa, saya nih ya malah “kembali” sebetulnya. gitu ga sih?
Menggugat Mualaf
Agustus 7, 2008
yah tapi mbak judul “mualaf kembali” kan membingungkan, emang jauh lebih bagus “mualaf menggugat” hehehe…
rajawalimuda
Agustus 8, 2008
Duh, mbaknya malah jadi curhat.
Tenang aja mbak. Sepertinya mbak belon separah saya yang menganggap Islam itu bisa untuk agama apa aja. Atau sudah?
dana
Agustus 8, 2008
@mas rajawali
iya mas, saya sangat berterimakasih saja nih pada yang sudah memberi nama mualaf menggugat..
@mas dana
saya tahu mas dana sudah jauh.. saya hanya ingin lebih toleran saja. hihihi
Menggugat Mualaf
Agustus 8, 2008
@dana
bah … sepertinya aku ketularan virusmu Dan
atau kau yang ketularan virusku ??
@mbak anis
kalau saya sih, welkam saja sama semua budaya
asal ndak ngrusak dan nggak maksa
watonist
Agustus 8, 2008
mohon maaf saya cuma mau mengomentari(tell me if Im wrong)… maaf ya mbak Islam original nya tidak ada itu ISLAM arab atau ISLAM Indonesia, atau pengkotak-kotakan seperti itu, hal tersebut dikarenakan oleh distorsi dari media, ungkapan dan keadaan sejarah dimasa lalu, atau sebuah anggapan adalah orang Islam yg berpakaian seperti orang arab memakai pakaian gamis, berjilbab dan rok menutupi seluruh tubuhnya hingga kekaki adalah “ISLAM ARAB” lalu ISLAM INDONESIA harus pake kebaya dalam pakaian sehari-hari atau baju kurung atau baju tradisional lainnya?
trus orang indonesia yang berpakaian rok span atau tangtop adalah ISLAM mana tuh? lalu jika kita memilih mengucapkan Assalamualaikum daripada Hai selamat pagi dan Good Morning adalah ISLAM Arab? kita tidak bisa berkacamata dari itu hanya sekedar ikutan mengatakan ada ISLAM ARAB atau ISLAM INDONESIA, atau malah ISLAM AMERIKA,kita harus membedakan mana kebudayaan mana yang Agama, banyak orang arab yang beragama Nasrani seperti di lebanon atau dibeberapa wilayah negara arab lainnya penganut kristen maronit atau Kristen Kopti di mesir, para wanita memakai jilbab, para pria banyak yang memelihara janggut dan memakai baju gamis.
back to history pada saat kolonialisme bangsa barat sampe puluhan tahun yang lalu,di wilayah wilayah kantung mayoritas masyarakat muslim maka para penduduk muslim sebagai masyarakat jajahan menggunakan identitas and entititas keagamaan mereka sebagai simbol perlawanan seperti yang diajarkan oleh orangtua dan masyarakat mereka namun oleh para orientalis barat hal tersebut membahayakan bagi kedudukan mereka sehingga mereka menyebarkan paham kepada daerah2 yang melakukan perlawanan bahwa itu hanyalah sebuah kebudayaan yang dibawa bangsa arab kepada mereka,menimbulkan perbedaan paham diantara mereka,antara mereka yang terdidik oleh pendidikan barat dengan mereka yang dididik secara tradisional keislamannya.
Mengapa orang Muslim harus repot dengan masalah kebudayaan ataupun tanggapan orang luar/kaum orientalis tentang Islam sendiri? masih banyak hal yang seharusnya kita lakukan daripada terus berpolemik mengenai hal tersebut.sampai seperti kang Jalaludin Rakhmat itu beserta Jaringan Islam liberalnya, bagi saya lucu, Rasulullah ga pernah mengatakan islam itu sosialis,Liberal atau bahkan Komunis wkwkwkkwkwkww bukankah mereka malah melakukan pengkotakan ataupun melakukan perbedaan terhadap Islam itu sendiri?
cukup kita menjalankan islam secara murni, mengikuti Al-qur’an dan hadis yang sahih. sebab bukan kita yang menilai benar atau tidak nya orang lain selama mereka tidak melakukan penistaan ataupun penipuan demi keuntungan pribadi atas agama yang kita anut, toh yang menilai benar atau tidak nya apa yg kita amalkan dan perbuat itu adalah Allah kan?
saya sangat respect terhadap bukunya Jeffry itu sebab sebenarnya Ia ingin mengungkapkan seperti yang dikatakan oleh sayyid Quthb “tegakkan islam pada dirimu sendiri maka nanti Ia akan tegak pada negaramu”
dan kita harus membedakan mana pemikir islam,imuwan islam dan Ulama Islam.
indonesia24hrs
Agustus 8, 2008
@indonesia42hrs
seharusnya memang begitu.
saya ini pernah kebingungan tuk mendefinisikan islam saya, karena “pemahaman” thd islam itu sendiri sudah begitu luas. tapi pada akhirnya harus mau begitu, mengingat islam memang sudah bertemu dengan banyak agama dan pemikiran lainnya. secara pribadi, islam juga sudah ditafsirkan begitu banyak oleh ulama islam itu sendiri. maka harus mau saling mendefinisikan. itu di ruang wacana. manusia membutuhkan banyak kata tuk menjelaskan banyak hal. wajar, kalau itu terjadi.
selebihnya, buat saya islam itu hidup. definisi islam itu ada pada bagaimana kita membawakannya. menjadikan bukan apa itu islam tapi “bagaimana itu islam”.
di sinilah “kearaban” itu meluntur. mengapa? ya ketika islam itu tidak lagi wacana, maka islam menjadi kenyataan kita di sekitar kita. disinilah islam bersentuhan dengan budaya. sebagai pembawaan dari pelaku islam itu sendiri.
jadi, islam dan budaya setempat itu memang natural terbentuk, natural terintegrasi, natural saling mengkayakan. sebagai konsekuensi membawakannya di luar jazirah arab. termasuk kalau itu akhirnya diistilahkan sebagai “islam indonesia”. islam indonesia menjadi kekhasan dalam membawakan islam di indonesia sebagai buah dari bagaimana manusia indonesia itu mengamalkan islam dengan keaslian dirinya. itulah keragaman dan kekayaan buat saya.
yang saya soroti dari “islam arab” itu adalah “ketika beragama di indonesia” harus meninggalkan jati diri indonesia, apalagi malah memecah belah indonesia. kenapa sih takut menjadi islam dan tetap indonesia? itu yang pernah terjadi dalam pengalaman saya berislam. kesannya kalau tidak akhi ukhti, kurang islam. ini yang saya terganggu sekali. pernah mencoba tapi kok ga bisa.
saya nih ingin mengamalkan islam secara mengalir, secara apa adanya. bukan diwacana saja.
selebihnya saya menerima “kearaban” itu sebagai keragaman dalam kebersamaan kita, walau saya tidak begitu2 amat. dalam konteks indonesia, saya ingin kita lebih mengutamakan kenyamanan dalam kebersamaan kita di indonesia. saling berempati dan saling menghargai.
@watonist
selebihnya, saya juga setuju dengan mas watonist. asal ga merusak dan ga maksa..
Menggugat Mualaf
Agustus 8, 2008
Barangsiapa berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunnah, tidak akan tersesat………
mediabilhikmah
Agustus 15, 2008
Assalamualaikum. Ikut nimbrung
Yups, Islam harus tegak dibumi manapun. Di Amerika, Perancis, Rusia, Indonesia dan bahkan Israel. Islam harus tegak dan memberikan rahmat untuk seluruh alam. Memberikan kedamaian dan rasa tentram.
“Berdakwahlah menurut bahasa kaum” adalah realitas yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Jelas sekali, tidak mungkin ketika kita akan berdakwah di para preman, tukang becak, atau anak punk sekalipun. Dengan PeDenya kita membawa baju gamis, dan sorban. Jelas akan terjadi benturan “kebudayaan” yang biasa mereka pakai! Jadi “berdakwah menurut bahasa kaum” merupakan realitas bahwa Rasulullah sangat menghormati sebuah kebudayaan, yah tentunya yang tidak menyimpang dari aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam Islam.
Memang realitas bagi seorang Muallaf kadang membingungkan, diatara haus akan ilmu Islam, namun benturan yang dihadapinya begitu kencang! Sejatinya seorang muslim memang tidak boleh menghakimi benar atau salah jika masih ada hal-hal yang memang jelas tidak melanggar dari aturan syara’.
Islam membolehkan kita dalam berfikir bebas, namun tetap berfikir dalam batas-batas kemampuan manusia. Jika tidak mampu melampaui batas fikiran manusia, maka kewajiban kita beristighfar dan bertasbih. Bukan karena kita salah, tetapi lebih didasari ketidak-mampuan kita sebagai manusia yang memang mempunyai banyak kekurangan.
Yah, jangan samakan antara kebudayaan Arab denga kebudayaan Islam. Karena jelas berbeda! Karena kita ingat bagaimana jahiliahnya kebudayaan Arab yang akhirnya di reformasi oleh Rasulullah. Walaupun memang akhirnya Kebudayaan Islam tidak terpungkiri menjadi stigma sebagai kebudayaan Arab.
Yang penting harus kita ingat, bahwa Islam itu mudah. Tapi jangan dipermudah apalagi dipersulit. Tapi yah jangan salahkan orang yang memakai bahasa Arab, karena dalam Quran jelas bahasa arab adalah bahasa yang dipilih oleh Allah. Yah, seperti anak saya yang memanggil Abi kepada saya, bukan berarti ingin menjadikan Arabisme. Hal itu sama saja, ketika saudara-saudara saya yang biasa dipanggil Papa oleh anaknya, yah bukan berarti mereka juga ingin meng-Baratismekan?
Yah, yang penting saling mengerti. Tidak perlu saling mengklaim benar dan salah jika tidak jelas-jelas tidak melanggar aturan syara’.
Ok, nice blog. Wassalam
Abu Jaisy
Agustus 15, 2008
kayaknya bagus nich, pandangan-pandangan kritis yang patut dicontoh dan membuka cakrawala kehidupan agama islamku.
yg selama ini jalan ditempat.semoga di Indonesia hal ini dapat diterima dan merupakan kajian bagi intelektual muslim yg selalu ingin islam menjadi payung universal
Mohammad Mulia Darmawan
September 5, 2008
Sudah kubaca semua buku karya Jeffrey Lang, tapi versi bahasa inggrisnya. Yang bahasa indo belum. Kalau sempat cobalah teman-teman membaca yang versi asli bahasa inggrisnya.
Fajar Suryawan
September 9, 2008
mohon maaf hanya sharing saja tanpa maksud menggurui, silahkan koreksi bila dibutuhkan…
ISLAM klo sebagai ‘way of life’ akan terasa nyaman dan damai. Islam saya pernah baca, arab nya aslamah =pasrah. pasrah pada ketentuan Allah dan kita menikmati apapun prosesnya.bila kita menggunakan kacamata ‘way of life’ insya allah keindahan Islam itu akan bisa dirasakan agama mana pun di dunia.
Kondisi stationer akan mudah merasakan kehadiran Allah dalam diri kita. karena Dualitas menuju singularity allah itulah kehidupan (according 99 asma’ul husna).. Balancing of life.
ada kiri kanan, wanita pria, siang malam, terang gelap dan seterusnya. bila kita Idle didalam nya dan stationer insya allah rasa itu akan kita temui. stationer hanya bisa kita jumpai pada saat kondisi kita “SUWUNG”..
dalam rukun Iman, salah satunya adalah iman terhadap kitab2 Allah. kita tidak memilih..tapi harus kita padukan.. philosophistically ke empat nya adalah Syari’at, tareqat, hakekat dan ma’rifat bersama sama di jalankan.
mengenai Jeffry Lang; “pilihan tidak pernah salah, tapi menyikapinya yang salah”
Bila seluruh umat di dunia ini menggunakan Islam sebagai Way of Life, betapa indah dan damai nya dunia ini.
terima kasih..maaf nama nya sama..hehehe..Wass
Fajar Suryawan
Agustus 1, 2009
@fajar suryaman
wah, makasih mas..
apa komentarnya mas fajar ttg buku Jeffry Lang nih?
sharing dongg..
Menggugat Mualaf
September 9, 2008
buku yang bagus…bisa nambah wawasan kita
witwit
Maret 31, 2009
@mbak wiwit
tul mbak, bagus banget…
@Andri
mas, sebelumnya, di awal islam saya di jejali buku2 islam dari penulis arab. setelah lama ga pas dg referensi arab, saya coba baca referensi dari penulis indonesia spt Hamka sampai ttg para wali, waaaahhhh…. kagum! beliau-beliau bisa membahasakannya dg budaya dan bahasa kita ayng indonesia dengan baik.
saluttt… ga asal tempel.
Islam Indie
April 2, 2009
Assalamualaikum
sebetul-nya orang islam di indonesia bisa menengok kebelakang ketika para sunan melakukan alkulturasi budaya dalam dakwah dengan wayang, seni. sunan kalijaga menunjukkan sebagai orang islam tidak di wajibkan menggunakan baju arab tetapi memakai busana yang menutupi aurat sesuai akidah agama…..
Bagaimana apabila para nabi di turunkan di cina…bagaimanakah budaya berbusana umat muslim ?
Andri
Maret 31, 2009
Islam never die
SUKRI POMALINGO
September 14, 2009