kutipan : FPI Sweeping Rumah Makan
ini kutipan dari blognya mas Joe. The Satrianto Show. saya mengutipnya, karena sesama blogger bersaudara, hehehe maksa. makasih ya mas joe…:D
menurut saya, ini adalah salah satu contoh ketika bersyariat tapi tidak memahami makna atau substansi dari bersyariat itu sendiri. ketika puasa hanya untuk sekedar menahan lapar dan dahaga, maka ya rumah makanlah yang harus berkorban. hehehe..
beda jika puasa mengandung makna -yang katanya- menahan nafsu dan membersihkan diri. apalagi demi mencapai hari nan fitri. dan jauh dari makna sosial, dimana belajar menahan nafsu itu memang lebih terasa dalam berinteraksi dengan sesama.
tapi ya inilah potret nyata keberagamaan kita, terutama wajah islam di indonesia saat ini. mengingat para negarawan negeri ini masih gagal dalam mengurus dirinya sendiri, maka menjadi mandiri dalam beragama di tataran kita yang hanya rakyat kecil ini, harus terus kita biasakan. demi kebersamaan kita dan demi rasa hormat kita pada nabi muhammad dan islam itu sendiri.
buat saudara-saudara saya yang non muslim, maaf sebelumnya atas semua kenyataan ini yaa. mari lihat ini sebagai problem kita bersama, dari kegagalan bangsa kita dalam bernegara. kita kehilangan jati diri di tengah bergitu banyaknya krisis sehingga menimbulkan angan-angan di sebagian saudara-saudara kita akan kejayaan yang sejatinya bukan millik kita, tapi milik sejarahnya sendiri. maka mari kita saling bergandengan tangan, tetap berkepala dingin, demi perahu kita bersama yang bernama indonesia. demi kelak kita mengukir sejarah gemilang atas nama indonesia sendiri.
selamat menikmati celotehnya mas joe..
dan mari tetap setia pada kebersamaan kita..
*****
FPI Sweeping Rumah Makan
September 7, 2008 – 3:34 pm
http://diary.satchdesign.com/?p=109
Akhirnya, sodara-sodara, kelakuan manja beberapa oknum manusia yang kebetulan seiman sama aku – yang sempat dikhawatirkan sama Mas Nazieb – dalam rangka menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan terjadi juga. Dan judul yang ta’tulis di atas adalah judul artikel yang ta’baca di koran SINDO edisi hari ini. Yeah, manusia-manusia manja yang menamakan dirinya sebagai Front Pembela Islam itu mulai menyambangi warung-warung makan yang nggak menutupkan dirinya selama bulan Ramadhan untuk kemudian meminta (yang biasanya bakal berujung jadi sebuah pemaksaan) mereka supaya tutup.
Jadi tanpa banyak membuang waktu, marilah kita simak hal yang justru memalukan umat itu bersama-sama berikut ini:
YOGYAKARTA (SINDO) – Aksi sweeping yang bertujuan untuk menghormati Bulan Suci Ramadan kembali digelar Front Pembela Islam (FPI). Kemarin, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) FPI DIY menggelar sweeping terhadap warung-warung makanan yang masih membuka dagangannya di siang hari.
Memangnya kenapa, Oom? Nggak boleh po jualan makanan pas bulan puasa? Memangnya semua manusia di Jokja itu agamanya Islam? Memangnya semuanya pada puasa? Gimana juga kalo ada mbak-mbak berjilbab yang lagi datang bulan terus kebetulan pas lagi kelaperan?
Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Gustomi menyatakan, aksi yang dilakukan pihaknya ini ditujukan untuk mengajak seluruh masyarakat baik yang beragama Islam maupun yang nonmuslim untuk bersama-sama menghormati keberadaan bulan suci bagi umat Muslim.
Lha, kok aku malah ngerasa kalo ini justru sebuah ajakan buat umat Muslim supaya nggak menghormati ajaran agama orang lain, ya? Oom Gustomi, di Jokja itu masih banyak mahasiswa rantau yang ngekos, yang artinya sehari-hari mengandalkan warung-warung makan buat ngisi perutnya masing-masing karena nggak pada masak sendiri. Kebetulan memang sekarang bulan puasa, jadinya mahasiswa yang Muslim memang pas siang-siang nggak butuh warung makan. Tapi bagemana dengan mahasiswa yang bukan Muslim? Mereka-mereka ini mau dipaksa supaya sama-sama kelaperan juga, gitu? Mereka-mereka ini mau dipaksa untuk menjalankan ajaran agama yang tidak mereka anut dengan ikut-ikutan nggak boleh makan? Iya, gitu, Oom Gustomi? Jadi FPI maunya memaksa mereka itu supaya menjalankan perintah agama Islam yang boleh jadi nggak pernah diajarkan dalam ajaran agama mereka? Oom Gustomi sendiri mau nggak kalo misalnya disuruh masuk ke gereja tiap hari Minggu?
Menurut dia, bentuk-bentuk penghormatan tersebut salah satunya dengan tidak membuka warung makan pada siang hari di mana seluruh umat muslim tengah menjalankan ibadah puasa. “Ya, kami dalam aksi ini mengharapkan agar mereka (pemilik warung) mau menutup warungnya di siang hari. atau paling tidak bukanya mundur jadi pada sore hari saja sekitar pukul 15.00 WIB,” terangnya.
Ah, ah, ah, Oom Gustomi… Oom Gustomi… Lha kalo mereka yang non Muslim itu lapernya pas pagi-pagi atau pas tengah hari terus gimana? Mau disuruh makan batu yang dikasih kecap? Manja sekali sampeyan itu. Takut tergoda untuk membatalkan puasa gara-gara nggak sanggup menahan nafsu pas ngeliat warung makan yang lagi buka, ya? Apanya yang “mengendalikan hawa nafsu” kalo kayak gitu caranya, wong baru dipancing dikit aja langsung jadi kalap? Oom Gustomi, sampeyan kalah sama anak-anak Muslim yang masih esde di Denpasar. Sungguh mati!
Dulu, waktu awal 90-an, aku yang masih kelas 2 di SD Cipta Dharma belajar untuk puasa full-day (nggak main setengah hari-setengah harian lagi). Jumlah murid yang beragama Islam di situ banyaknyanya nggak lebih dari jumlah jari pada 1 tangan. Tapi seingatku, di kelasku cuma aku sama Ophi (lengkapnya Ophi Novridi) aja yang puasa penuh. Mayoritas murid di esde itu jelas Hindu yang artinya jelas pada nggak puasa pas bulan Ramadhan. Pas bel istirahat aku sama Ophi juga biasa ngeliat teman-teman kami yang berlarian menyerbu kantin, makan dengan lahap, minum dengan tenang. Tapi kami nggak pernah protes sama kepala sekolah kami, minta supaya pengelola kantinnya ditegur, disuruh nutup kantinnya berhubung bulan puasa.
Kenapa kami nggak protes? Simpel, karena kami berdua bukan FPI!
Sampai esema aku masih setia hidup di Denpasar. Dan setiap bulan Ramadhan juga aku nggak pernah protes kalo ngeliat teman-teman sekolahku pada makan di depanku. Warung-warung makan di Denpasar juga tetap pada buka. Tapi toh nggak ada sebiji umat Muslim pun di Denpasar yang berniat protes. Karena apa? Karena mereka bukan FPI yang terkenal cuma jago kandang itu!
Jadi, Oom Gustomi, sampeyan kalah sama anak sekolahan. Mereka nggak merengek-rengek kayak sampeyan yang minta warung-warung ditutup cuma supaya ibadah puasa sampeyan berjalan lancar sesuai dengan standar lancar versi sampeyan sendiri.
Dalam aksi yang dilakukan kemarin, FPI baru sekadar memberikan imbauan kepada para pemilik rumah makan atau warung dengan jalan menempelkan selebaran berisi seruan untuk menutup usaha atau membukanya pada sore hari. “Tadi kita titipkan selebaran ini kepada kasir-kasir atau menempelkannya di dinding beberapa rumah makan yang ada di Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta,” akunya.
Ya, ya, ya, memang pengakuan yang manja, kan? Manja dan egois lebih tepatnya. Demi tidak adanya godaan dalam ibadah puasanya, mereka tega-teganya menyumbat mata pencaharian manusia lain. Apanya yang “menahan godaan” kalo macam itu? Apa artinya “menahan godaan” kalo ternyata godaannya sendiri malah nggak ada? Setauku, puasa itu “menahan godaan”, bukannya “menyingkirkan godaan”. Maka kalo Oom Gustomi dan gerombolannya khawatir tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, silakan berdoa, minta sama Allah supaya nggak usah dianugerahi nafsu saja. Sana minta supaya yang namanya hawa nafsu itu dicabut dari diri sampeyan-sampeyan semua untuk selanjutnya pensiunlah sampeyan sebagai manusia dan kemudian malih jadi malaikat yang nggak punya nafsu.
Namun demikian Gustomi menegaskan, jika nantinya imbauan yang mereka layangkan ini tetap saja tidak perhatikan oleh pemilik rumah makan atau warung maka pihaknya tidak segan-segan untuk melakukan tindakan tegas terhadap mereka berupa penutupan usaha.
Oho, nggaya banget sampeyan, Oom Gustomi? Berani “tegas” cuma karena kebetulan sampeyan hidup di daerah di mana Islam adalah agama mayoritas penduduknya, kan? Kalo sampeyan hidup di Denpasar kayak masmu yang ngganteng ini, misalnya, apa sampeyan juga berani bertindak “tegas”? Atau kenapa sampeyan tidak rame-rame bertindak “tegas” juga di London, Paris, New York, Roma, Tokyo? Di sana umat Islam-nya jauh lebih perlu dibela, lho. Wong nyari makanan yang halal aja agak repot, kok, apalagi menghindari godaan pas bulan Ramadhan. Sana, berani, nggak, sampeyan?
“Dalam melakukan tindakan tegas tersebut kami sekali lagi menegaskan tidak akan berbuat anarkis. Bahkan nantinya kami akan tetap berkoordinasi dengan pihak aparat kepolisian dalam setiap kegiatan yang kita lakukan,” katanya.
Yeah, tentu saja. FPI, kan, memang nggak pernah anarkis. Standar anarkisnya FPI, kan, beda. Mentungin ibu-ibu dan anak-anak aja kata mereka belum termasuk kategori anarkis, kok
Sementara itu menanggapi aksi yang dilakukan anggota FPI tersebut, Wakapolda DIY Kombes Pol Anwarudin mengatakan, pihaknya masih mentolerir tindakan mereka jika dilakukan dalam batas kewajaran.
“Dalam bulan puasa ini kita harus bisa saling menghormati satu dengan yang lainnya. Dalam artian, saling menghormati antara yang puasa dan yang tidak berpuasa. Jadi jika masih tergolong wajar dan dilakukan dengan baik-baik kita masih mentolerir mereka,” jelasnya.
Wajar? Yang kayak dilakukan Oom Gustomi itu wajar, Pak Anwar? Menghimbau untuk menghalang-halangi manusia lain yang kebetulan tidak seiman dengannya yang mau menyambung dan mempertahankan hidupnya (makan, maksudku) itu wajar, Pak Anwar? Menurutku nggak, deh, Pak. Yang kayak gitu itu nggak wajar. Yang kayak gitu itu penyakit.
Namun, sambung Anwar, jika nantinya aksi yang dilakukan sudah melebihi batas, maka pihaknya juga akan melakukan tindakan tegas. “Mereka itu memiliki kapasitas apa melakukan hal itu? Jadi kalau mereka tegas, kami juga akan melakukan tindakan tegas kepada mereka,” tandasnya.
Bravo, Pak Anwar! Salut buat sampeyan. Asal sampeyan jangan kayak polisi India di film-film Bollywood aja, yang datangnya selalu telat pas masalahnya sudah bubar semua. Soale, pada intinya, walaupun FPI mengaku membela umat Islam, aku yang (di katepenya masih tertulis) Islam sama sekali nggak merasa dibela sama mereka. Sebaliknya, FPI malah selalu bikin aku malu dengan menampilkan wajah Islam yang tidak rahmat bagi semesta alam.

emang payah PFI itu, beraninya sama orang kecil ke hotel jaringan four season, rizt carlton, novotel itu di tiap kamar , di mini bar nya ada liquor , restorannya tetep buka, tapi mana berani dia ke situ atau setorannya kurang warung2 kecil itu
budi
September 8, 2008
ulama-ulama lain pada ke mana itu ya? setujukah merekas semua? media SINDO sendiri menurut saya gak jelas juga. cuma minta opini yg sependapat aja.
sitijenang
September 8, 2008
hore!
dikutip!
tapi kurang rapi aja mbak. yang paragraf dari sindonya diquote aja, biar keliatan beda yang mana yg dari koran, yang mana yang opini saya
joesatch yang legendaris
September 8, 2008
@budi
@siti jenang
makanya nih mas budi dan mas siti jenang.. “DI CARI : tuhan tuk kaum marjinal..”
si mas-maskah tuhan tuk mereka?
@joe
saya nih ya gaptek toh mas joe, ntar deh saya belajar dulu ngerapiinnya. hehehe.. semoga belajarnya ga lama2. hihihi
makasih yaaa..
Menggugat Mualaf
September 8, 2008
kemarin Gorda nyaris pingsan karena olah raga.
tapi bukan itu yang membuat dia senewen.
Karena Henoch temannya makan ayam krispi selesai
olah raga di depan hidungnya.
Kriuk kriuk di giginya sama dengan kriuk kriuk di perutku
. gitu katanya.
Tapi kata mama, kalo kita berpuasa di
lingkungan teman2 Kristen, maka pahala kita
lebih besar, karena di lingkungan teman2 muslim
semua puasa, jadi ya gak berasa berat.
kalo ini kan lain…menahan godaannya bener
bener berat. Tapi aku gak mau mokel..
sayang puasanya….
Ini yang bilang anakku yang 10 tahun. dia cuma
satu satunya yang muslim di kelas.
dia sudah belajar memahami bedanya menahan godaan
dan menyingkirkan godaan.
Dat
September 9, 2008
@mas datyo
wah, selamat dong buat mas gorda..
itu nikmatnya beragama tuh, mass.. sippp deh, tante anis kasih two tumbs up buat mas gorda.
Menggugat Mualaf
September 9, 2008
FPI?? kayaknya lama2 seperti preman bersorban. mereka mengatas namakan Islam, tetapi perilakunya malah memalukan Islam. Apa mentang2 mereka punya bekingan?? rumornya sih mereka juga UUD ( ujung ujungnya duit)
ari
September 9, 2008
FPI = Front Pembela (kepentingan seseorang yang beragama) Islam … jadi bukan keseluruhan Umat Islam, terutama di Indonesia.
Tampaknya begitu… :>
darnia
September 9, 2008
@ari
@mbak darnia
@semua
saya memang mengutip ttg FPI, yang secara umum kita tidak setujui caranya selama ini.
tapi saya merasa, sudahlah. akhirnya saya menyadari bahwa memang demikianlah jika beragama sudah “berselingkuh” atau bermain-main dengan kekuasaan. kalau tidak benar-benar menghayati agamanya, maka yang ada hanya dimanfaatkan.
padahal seharusnya tidak ada cela antara beragama dan bernegara, jika secara substansi kita tidak mengkhianati bahwa semangat beragama sering membuat kita jadi semangat berbuat baik dan memperbaiki banyak hal. ini mungkin, yang harus kita temui dalam diri kita. penghayatan keberagamaan yang mandiri. agar kita tidak mudah dimanipulasi keadaan. tetap kepala dingin dan tetap membumi. tentu juga tetap berenergi tuk melawan kesewenangan jika itu memungkinkan. walau tuk saat ini, sama-sama ngotot hanya akan merusak perahu kita ini
maka kadang saya suka merasa, tuhan ada di hal-hal kecil
Menggugat Mualaf
September 9, 2008
Terkait dengan masalah toleransi di bulan Ramadhan ini, Bu Anis, saya mohon komentar ibu mengenai ucapan seseorang yang saya kutip di blog saya:
Meminta orang lain menghargai puasa anda? Lebih baik tidak usah puasa!
Makasih Bu
Catshade
September 16, 2008
@catshade
saya coba komen di sini saja yaa.. maafkan sebelumnya, kalau kurang bisa menjawab secara utuh.
di sisi yang paling dalam, saya juga pernah membacanya dalam sebuah hadist, tapi maaf saya lupa persisnya. intinya, puasa itu adalah ibadahmu untukKu.
artinya – minimal buat saya-, puasa itu sangat “pivate dan rahasia”. saya ga merasa perlu mengumbar berita kalau saya sedang berpuasa. kecuali jika saya ditawari makan, maka barulah kemudian saya menolaknya dengan santun, memberitahu kalau saya sedang berpuasa.
private dan rahasia di sini juga terkait bahwa puasa itu lebih untuk pengendalian hawa nafsu pribadi. ini ibadah perorangan sekali. di banyak agama, pengendalian hawa nafsu berupa puasa -apapun bentuknya- bertujuan tuk kejernihan diri. ini sebuah metode pembelajaran yang halus tuk jiwa kita sebenarnya. yang sayang, manusia lebih sering mengerdilkan makna puasa itu.
kalau kemudian di bulan ramadhan ini, sebulan penuh umat islam berpuasa, saya kira tetap tidak untuk mengurangi kesakralan nilai dan tujuan puasa. termasuk ke privatan dan kerahasiannya. maka wajar mengundang komentar nyinyir, kalau berpuasa hanya tuk dihargai ya jangan puasa saja.
hehehe, itu sudah akibat dari kita suka merendahkan nilai ibadah, bahkan ibadah apa saja termasuk puasa.
saya pikir, sebaiknya di kembalikan dulu pada makna dan manfaat puasa ini. kalau berdebat di sebatas hak atau kewajiban, rasanya sulit ya. masing-masing manusia cenderung mengutamakan egonya, apalagi ini sudah masuk ke ruang publik.
nah, kalau saya pribadi sih tidak menyoal jadi lebih tertantang beribadah puasa di depan mereka yang tetap makan dan minum. atau bahkan itu akan lebih membuat nilai ibadah puasa saya tinggi dan bagus. saya ga suka itungan dalam beribadah. sederhana saja, saya sih menikmatinya sebagai puasa tuk diri saya pribadi. saya mengukur sendiri rasa dari puasa saya.
gitu.. duh, maaf. inginnya bisa banyak membantu. tapi segini dulu, gimana?
Menggugat Mualaf
September 16, 2008
@catshade
nambah :
kesimpulan puasa adalah sebuah pembelajaran personal, yang refleksinya harusnya bisa membangun empati dan ketangguhan pribadi kita. termasuk jika diadakan secara bersama, ya seharusnya bisa membangun empati dan ketangguhan umat. jelas, bukan malah jadi terbiasa memaksakan kehendak
maafkan prilaku yang masih penuh formalitas ini yaa. semoga kedepan, semua bisa lebih ke substansinya.
amin
Menggugat Mualaf
September 16, 2008
[...] hari pihak kepolisian sudah melarangnya. Miris rasanya ketika mendengar dibulan Ramadhan ada sweeping pedagang, apalagi pelakunya adalah ormas yang mengatasnamakan “Islam”, yang sudah pasti mereka [...]
Shaum Dalam Minoritas
September 25, 2008