tentang mengerti
(refleksi.. refleksi… daripada masuk penjara karena curahan hati..
becandaa… tetaplah bicara dalam cara yang berbeda.. )
.
pernah suatu ketika, hanya berdua dengan suami di mobil, saya bertanya kepadanya. kenapa ya, dulu ketika saya merasa paham agama, saya inginnya ini itu. ingin begini dan begitu. lah, sekarang setelah semakin mengerti, saya kok malah tak bisa ingin ini itu yaa? aduh, mengambil sedikitpun dari hidup ini aja, saya ga berani..
suami ya ketawa aja denger saya…
.
Tuhan..
kenapa ya?
semakin mengerti, aku semakin merasa tak berdaya
merasa tak memiliki apa-apa dan bukan apa-apa..
padahal dulu, aku merasa hebat, kuat, mantap..
ah, kemana semua daya?
kemana semua kuasa?
aku hanya tahu Engkaulah yang punya..
Tuhan..
seandainya Kau ada di sini
menatapMu pun aku tak berani
menyentuhMu pun aku tak suci
apalagi tuk memilikiMu?
aku merasa tak pantas diri
padahal kutahu Kau selalu hadir
menghangatkan rasaku
menjaga tidurku
menemani hari-hariku
.
semakin mengerti
aku semakin merasa tak bisa memiliki apa-apa
tak juga bisa memilikMu
yang ada hanya rela-rela dan rela
sebagaimana mengalah dan melulu mengalah?
walau entah untuk siapa?
selain untuk rasa rela itu sendiri..?
maka dimana agama?
seperti itukah dunia?
melulu minta rela dan direlakan?
simbol-simbol itu terasa meletihkanku..
.
Tuhan..
semakin mengerti, aku merasa semakin tak mampu
kakiku bahkan tak lagi mampu menahan tubuhku
tak mampu menyanggah egoku
maka ego itu jatuh
dan aku memandangnya dalam pilu
aku malu..
maka peluklah aku, Tuhan
dalam kerapuhanku
.
Tuhan.. o.. Tuhan..
ketika aku terengah-engah berjalan menujuMu
akankah Kau segera menyambutku?
atau ketika aku tersoek-soek meniti ke arahMu
akankah Kau segera meraih tubuhku?
dan ketika aku berdarah tuk menggapaiMu
akankah Kau segera berlari memelukku?
ah..
aku tak lagi membaca tentang janji-janjiMu
aku hanya tahu, Kau telah menjemputku
mengetuk pintu hatiku
menungguku membukakan pintu itu
diliputi rasa malu bak seorang dara dihampiri sang kekasih
.
semakin mengerti,
aku semakin tak bisa memiliki
tak berharap ini itu
selain diriku dan Tuhanku
cukuplah Tuhanku untukku
agar kelak aku belajar menyentuhNya
menjagaNya, merawatNya, meyayangiNya
dan menyiapkan diriku untukNya
dan agama?
dia tak menyoal simbol-simbol
dia tak menyoal tutup botol
dia bukan penyumbat
dia sangat bersahabat
.
maka aku gemetar
ketika Tuhan meraih tanganku
mengajakku berjalan-jalan
melihat banyak hal di sekitar
dan menceritakan padaku
tentang hidup yang tak akan pernah habis diceritakan
menjadi bak dongeng yang tak pernah didongengkan..
.
hingga tiba saatnya,
aku tertidur di pelukanNya
abadi?
maka kata orang tua itu, dihadapan Tuhan, kita emang kecil..
keciiiiiilllll… keciiiiiilllll….
.
salam
anis

nice posting…
buwel
Juni 6, 2009
@buwel
makasih
@advintro
sederhananya, dengan merasa kecil dihadapanNya, maka kita bisa melayani semua kepentingan di luar diri kita, atau kepentinganNya. tanpa rasa itu, kita akan melulu merasa diri kitalah yg besar.. sehingga arti melayani juga lebih untuk diri sendiri…
teorinya atau langkah2 refleksinya seperti itu..
maka kalau sudah terbiasa merasa kecil dihadapan Tuhan, semoga akan terbiasa menyiapkan diri untuk Tuhan. dalam arti melayani kepentingan2Nya. semoga…
@Frida
Islam Indie
Juni 8, 2009
Ah…Masa sih ?
Gak yakin gw…sandiwara dan topeng doang
Takaltabu.com
Juni 12, 2009
terus, kalau sudah ngerasa kecil kudunya gimana? hehe
advintro
Juni 6, 2009
Download Software AL-QUR’AN Pro Ver. 3.0
Al-Qur’an lengkap 30 juz ( 114 Surat + teks & terjemahan (Arab/English/Indonesia))
Tafsir Quran Lengkap, Penunjuk waktu sholat, 21 bahasa terjemahan Al-Quran, Al-Qur’an Audio with Voice of Shaikh Sudaish (Imam Mecca).
Download Gratis Sekarang . Link Download http://www.ziddu.com/download/3082887/Al-QuranProVer.3.0.exe.html
Frida Lidwina
Juni 7, 2009
Hidup ini tak semudah membalik telapak tangan namun juga tak sesulit….
lam kenal
Filar Biru
Juni 10, 2009
Enak ya bisa dialog dengan suami, tapi kok ga dikasih jawaban cuman ketawa ajah, kasian… deh. Nah saya kasih komen sedikit yah, orang yang beriman ketika disebut NamaNya bergetarlah hatinya dan semakin banyak membaca ayat-ayatNya semakin bertambah imannya, kalo orang sdh bertambah imannya semakin cintalah kepadanya, dan semakin mengetahui hakekatNya, perbuatanNya, kebesaranNya dan segala keMahaanNya, maka semakin kecillah dirinya dihadapanNya. itu artinya telah terjadi penambahan keimanan pada diri mbak Anis. Tapi ingat loh kalo iman tidak dijaga dan dipelihara akan terjadi penurunan tingkat keimanan, maka Nabi mengajarkan do’a “ya muqollibal qulubi tsabbit qolbi ‘alad diinik”, artinya “wahai zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini atas agamamu”.
terima kasih
salam untuk keluarga
muslich
Juni 10, 2009
Senanggggg sekali, saya melihat blog ini.
Meskipun kita berbeda agama, tetapi menurutku gagasan di blog ini merdeka. Pikirannya pun terbuka.
Ada tertulis begini mas, “siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”.
Mohon mengkopi link mas “Islam Indie” di blog saya, ya.
Salam damai.
dinandjait
Juni 30, 2009
mengingatkan ku tuk balik lg ke Allah…
wisnupriyo
Juli 2, 2009
K’Anis boleh ikut nimbrung ya..sudah lama gak diskusi sama K’Anis….
Sepanjang perjalanan manusia berusaha mengenal hikmah yg terdalam semakin ia menemukan dahaga…semakin haus ia..semakin tidak berdaya…
Paling tidak kalau kita ikuti sejak zaman para filosof yunani (maupun masa sebelumnya) sampai diwahyukannya firman Allah lewat kitab suci yg disampaikan oleh para Rasul-rasulnyanya semua diliputi oleh kedahagaan akan hikmah dan kedekatan dgn ilahi….
Bentuk kedahagaan itu termaifestasi kedalam kegelisahan manusia..kegelisahan untuk semakin dekat denganNya sebagai langkah makin mendekat utk “bersimpuh” tanpa mampu menatap denganNya..bermain dan bersimpuh ditamanNya dengan ke-Maha Indahan….
Selain itu memang manusia di lengkapi dengan perasaan gelisah, hal ini diungkapkan Allah dlm Al Quran dimana manusia memang suka berkeluh-kesah…
Keberkeluh-kesahan ini sebagai unsur dari kegelisahan adalah juga menunjukkan bahwa kita hanyalah sejumput cahaya ilahi, dimana akan hilang bentuknya ketika bertemu dengan penciptanya cahaya,ilahi rabbi…
Para filosof,guru tao,sufi, dan lain-lain menggambarkan semakin kita akan mendekat kepadanya semakin kita tiada..tiada dalam pengertian hikmah maupun materi….
Selain itu kegelisahan adalah gerak kehidupan itu sendiri….disini kegelisahan menjadi bentuk kasih & sayang Allah kepada mahlukNya,manusia…
Bahkan kitapun bisa mengambil hikmah dari filosof atheis sekalipun seperti Nietzsche,menunjukkan bahwa bila kehidupan
manusia sudah “semakin wajar” maka hancurlah kehidupan itu..karena itu menurutnya, “kewajaran” harus diruntuhkan, dialektika maupun kegelisahan adalah daya dorong untuk mencapai puncak kemanusiaan itu sendiri….
Kisah Abu bakar Ash-shiddiq ketika ditanya “Bagaimana engkau mengenal Tuhan ?”, beliau menjawab “ketidakmampuan mengenalNya adalah pengenalan”…(jawaban ini terasa dalam kalau kita mau merenungkannya…)
Jadi menurut saya, kalau K’anis semakin mengerti semakin tidak berdaya maka ada 3 kemungkinan :
1) K’Anis sedang dalam tarbiyah Allah untuk masuk ke “jenjang” berikutnya,..bahwa ilmu dan kemantapan yg dikira dimiliki saat ini ternyata masih sejumput dihadapan ke-Maha-an Allah…untuk diminta olehNya lebih memperdalam hikmah dan ketiadaan dihadapanNya…lirihkanlah “Alhamdulillahi robbil alamin….”
2)K’Anis sedang gelisah karena saat mengumpulkan ilmu dan kemantapan di masa “dahulu” ditujukan untuk menjawab sesuatu “di depan”,…tanpa disadari K’Anis sudah “membuat model / membatasi sesuatu yang di depan itu”…tapi ternyata kehidupan tidak sebatas apa yang “dimodelkan itu”…maka ketika pada masanya, masa kini “bertemu dgn masa depan yg digambarkan dahulu itu” ternyata lebih besar dan luas sehingga ilmu dan kemantapan yg dibangun dari sejak dulu “terasa” tidak cukup…kegelisahan menjadi muaranya..
Bila ini yg terjadi , embib sarankan untuk me-reorientasi-kan ilmu
adalah untuk ilmu..ilmu untuk bertemu dengan ketiadaan…untuk pada akhirnya kita semakin dekat dan berjumpa denganNya…sebab bila kita orientasikan ilmu utk “hanya” menjawab sesuatu maka kita “tidak akan mencapainya”….dan kegelisahan yang muncul adalah kegelisahan frustasi…frustasi yang bisa mengiris semangat kita utk menuai ilmu…atau melencengkan jalan kita dari proses keilmuan itu sendiri…
3) K’Anis sedang gelisah karena semata-mata memang “unsur manusia kegelisahan” itu sedang muncul saja…dan ketika ini muncul sebaiknya kita bawa kegelisahan ini untuk berdialektika dan memacu roda kehidupan…positif hasilnya..maka menjadi terkait dgn no. 1….
Yang mana dari ke-3 itu yang sedang K’anis sesungguhnya alami, hanyalah Allah dan hati K’Anis yg bisa menjawabnya…bahkan bisa jadi dari 3 kemungkinan itu, tidak ada yang tepat sama sekali…
Wallahu’alam bi shawab…
Teriring salam utk K’Toto, K’Anis, dan keluarga
Wassalam
-embib-
embib
Juli 31, 2009
salam.
pada hemat saya, tata jalan puisi ini bunyinya
natural dan bersahaja. namun tetap menusuk jiwa.
keep it up! : ) kerana saya suka membaca dan menghayati tulisan di sini.
nkchai
September 10, 2009