tertikam dari belakang

Posted on Desember 7, 2007. Filed under: coretan, Islamisasi |

Tertikam dari Belakang

“Munafik! Itu munafik namanya!”
Laras berteriak geram dalam kemarahan ketika sahabatnya yang mualaf
menceritakan hal terburuk yang pernah didengarnya.
“Aku bukan mualaf, aku tidak tahu rasanya jadi mualaf. Tapi aku tidak
akan pernah mengatakan hal itu pada seorang mualaf, apalagi dalam
konteks menekan dan menampik seperti itu. Munafik!” Laras berkata
berapi-api.
Sahabatnya yang mualaf ditampik oleh orang Islam sendiri. Orang Islam
yang tidak mau peduli.
‘Kita tidak pernah tahu sampai kita merasakannya sendiri’, itu memang
pemeo kuno. Maksudnya untuk memotivasi agar kita tidak ragu untuk
mencoba hal baru yang sekiranya akan mengkayakan kita. Tapi akan berbeda
jika kalimat itu dipakai untuk menunjukkan ketidakpedulian kita.
“Apa aku berzakat tunggu aku miskin dulu? Agar aku tahu rasanya jadi
orang miskin baru kemudian aku sedekah? Apa aku harus kafir dulu, baru
aku bisa berkata aku tahu rasanya jadi mualaf?”
Laras mencoba mengobati sakit hati sahabatnya.
“Aku punya seribu alasan untuk meninggalkan Islam dan hanya ada satu
alasan untuk tetap Islam. Karena Allah itu haqq dan Muhammad itu benar”
sahabat berkata menunjukkan dirinya kini berdiri di persimpangan
imannya.

Laras mengingat sahabatnya di waktu kecil. Mereka bak belahan jiwa,
tertawa dan menangis bersama. Terpisah jarak dan benua tak mampu
menghapus rasa yang sudah terjalin lama.
Laras tercekik ketika sahabatnya masuk Islam, bagaimana mungkin?
Dulu ketika waktu guru mengaji datang ke rumah, Laras malas mengaji
lalu meminta sahabatnya menjemputnya main.
Dulu ketika bulan puasa, Laras lapar berpuasa lalu mengajak
sahabatnya itu makan bakso di belakang sekolah.
Dulu ketika suara adzan memanggil sholat, Laras tidak pernah sholat,
malah mengajak sahabatnya lari ke toko buku.
Maka ketika sahabatnya baru masuk Islam berkata, “Aku baru tahu kalau
sholat itu pakai mukena, dulu di kamarmu kok tidak pernah ada mukena
ya? Dulu aku tidak pernah melihatmu sholat”
Laras menjawab “Aku dulu kalau sholat ke masjid”
Merekapun tertawa terbahak-bahak, dulu sholat di masjid? Asal!

Dan kini sahabatnya di persimpangan, Laras sedih juga bingung tak
tahu berkata apa.
Sejenak sahabatnya mengajak Laras menelusuri lorong waktu, ketika
berbicara dengan pamannya yang tak mau beragama.
Sang paman berkata begini,
“Memilih Islam sebetulnya sangat beresiko. Bukan untuk keluarga,
keluarga hanya marah di awal saja. Justru sangat beresiko untuk dirimu
sendiri. Mereka, orang Islam- bukan orang yang bijaksana, mereka bangga
dengan agamanya yang sempurna tapi tidak berlaku sesempurna agamanya.
Mereka bertindak buruk dan berdalih itu karena agamanya. entah mengapa?
Kamu adalah mutiara kami, kami bekalimu dengan ilmu yang terbaik yang
kami punya.
Pesanku buatlah Islam bangga memilikimu. Jangan permalukan kami”

Laras sangat mengerti bagaimana sahabatnya dibesarkan. Tak ada kata
tuk kembali, karenanya Laras menambahkan begini,
“Aku tidak pernah membekalimu apa-apa dalam menjalani keIslaman. Kali
ini deh aku bekali. Mungkin telat tapi lebih baik dari pada tidak sama
sekali”
Sahabatnya sudah merasa pasti aneh bekalnya, dan benar.
Bekal Laras adalah,
“Jadi orang Islam harus siap ditikam dari belakang oleh orang Islam
sendiri”

Ada realitas di manapun di dunia ini, ketika kawan jadi lawan, belati
tersembunyi.
Jangan pernah menampik, jangan pula mengelak.
Dia yang maha Adil selalu melihat, juga selalu maha Ampun.
Ada realitas di manapun di dunia ini, ketika beragama tak memiliki
jiwa, dia berdarah tapi tak pernah sadar dimana sakitnya.
Maka dari kesadaran terkecil yang ada, biarlah punggungmu berdarah
untuk menahan belati saudaramu, daripada kehilangan kelapangan dadamu
untuk tunjukkan mutiara imanmu.
Bagaimanapun beragamamu.

Di tempat terpisah seorang kyai berkata,
Muhammad telah tunjukkan semua rasa untuk kita umatnya, dia mualaf,
dia buta huruf, dia sederhana berselimut tua. Dia menahan lapar dan
menangis untuk umatnya. Dia juga perkasa, tegas dan bijaksana. Suami yang
baik, bapak yang penuh kasih, kakek yang lucu. Dia pintar berperang,
berdagang, dia juga rendah hati, ramah berakhlaq mulia.
Jangan katakan kita tak tahu rasanya, karena Muhammad telah tunjukkan
semua rasa. Agar kita peka dalam beragama.

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “tertikam dari belakang”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Luar biasa….pasti ini true story ya?
Dan ungkapan sang paman membuatku tersadar, bahwa saudara yang mengaku seiman denganku pun bisa menikamku dari belakang ketika kita tidak sepaham. Bravo buat mbak pemilik blog. Saya salut pada keberanian anda memilih Islam sebagai “pelabuhan” iman hingga akhir hayat.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: