bertanya

Posted on Desember 18, 2007. Filed under: Islamisasi |

ujung-ujungnya dari
persoalan bangsa ini yang njlimet adalah kembali ke pendidikan..
ehmmm, dari diskusi saya dan k’Ihin, yang buntutnya saya menyimpan
tanya nih..
terutama tuk pendidikan agama Islam..

saya tidak pernah merasakan pendidikan agama islam secara formal,
baik di sekolah, pesantren, pengajian dll, saya banyak di rumah dan baca
buku aja.. sesekali tanya-tanya kyai atau diskusi.. pernah ikut tarbiyah
pun termasuk murid yang ga bagus.
jadi saya ga bisa mengukur ini.
dari obrolan k’Ihin sepertinya pengajaran agama islam saat ini jauh
dari ‘falsafah’nya.
saya sendiri, melihat -tolong koreksi ya-
sepertinya ada yang pincang dari realitas Islam saat ini, menjadi
beragama tanpa ‘ruh’..
pernah disinyalir Rasulullah menjadi seperti buih di lautan,
sementara dalam qur’an.. keimanan digambarkan selayaknya seperti pohon yang
akarnya menghujam ke dalam dan berdaun, berbuah, kokoh menjulang ke
langit.

yaa, sekilas ini memang ketidak harmonisan antara hakikat dan
syariat.. hakikat adalah nilai, syariat adalah aktualisasi.
nilai tanpa aktualisasi menjadi tidak berharga, aktualisasi tanpa
nilaipun menjadi kering kerontang..
duo harmoni ini kiranya bisa diwujudkan, hakikat area batin dan
syariat area lahir. kalau kita bersyariat dengan memahami falsafahnya maka
kita akan mantap menjalaninya.. gitu..

saya ga tahu bagaimana ini terjadi?
dalam penglihatan saya yang tidak memihak karena saya muallaf dan
berislam bukan karena apa-apa, sebetulnya semua pengajaran Islam itu sarat
dengan filosofi yang tinggi, nilai yang luarbiasa dan sebetulnya bisa
dibawakan membumi dengan bermacam realitas..
tapi kenapa kok ga built in di pengajaran agama Islam?
contohnya pluralisme, itu spirit Islam. ayatnya jelas.. lakum dinukum
waliyadiin.
kok dibuat njlimet..?
saya suka bingung lihat realitas yang ada, yang ribut-ribut itu..

kembali ke pendidikan..
cerita ya, sejak kecil terutama di xaverius.. saya dkk terbiasa
belajar dengan perumpamaan, ibarat, terbiasa diajak menelusuri ini intinya
adalah ini.., ini maksudnya adalah ini..
inget buku PMP balai pustaka dulu?
di xaverius, kalau guru absen, kita harus merangkum bab per bab dan
harus dengan bahasa sendiri.. herannya, gurunya tuh mau ya membaca satu
persatu rangkuman kami..
pelajaran bahasa indonesia, ga selalu mengarang bebas. tapi
‘menceritakan kembali’ dengan bahasa sendiri.. sehingga dulu tuh saya dan
teman-teman terbiasa melihat satu cerita dari sudut masing-masing.
kita sih seru-seru saja..
kalau di sekolah minggu.. suster suka bilang, seperti cerita tiga
orang buta meraba gajah, yuk kita bermain persepsi..
sehingga kami tahu kok kalau cerita yang kami ceritakan kembali itu
judulnya satu, kalau jadi banyak pemahaman, karena kami melihatnya dari
sisi yang berbeda-beda..
yaa, biasanya dari cerita Yesus dan Musa.. dan suster akan merangkum
kembali inti cerita meski kita sudah mempresepsikannya berbeda-beda..
jadi makin ngerti.

nah, gimana sih belajar islam itu?
saya sendiri ga berani ‘bebas’ bermain persepsi dalam islam karena,
katanya ga boleh sembarangan menafsirkan qur’an dan hadits, ayat satu
dan yang lain hubungannya macam-macam.. saling menguatkan, saling apa..
belum lagi menurut mahzab ini itu, belum lagi ini dhoif atau shohih..
belum lagi kendala bahasa arabnya, aaaaaargh, lieur..
makanya saya suka islam mode indonesia ala para wali..
mereka -di mata saya- bisa sampai ke intinya. sehingga apa yang
mereka tegakkan itu built in dalam pribadi orang indonesia.. menyelesaikan
masalah umat waktu itu..termasuk membuat sunni syiah damai di indonesia
seperti yang dikutip Yusuf Qardawi di cerita Isham..
gitu..

gimana sok belajar islam yang bener, yang enak, yang udahannya bikin
paham kenapa harus begini dan begitu..??
yang ga ragu lagi dengan banyaknya persepsi karena tahu intinya..

hehe, kyai gunung bilang ke saya gini -ketika saya beri tahu kalau
saya sesekali belajar di kyai kota bogor :
“nikmati saja yang bisa anis nikmati, jangan dipikirin ya..” hehe..
karena kyai gunung tahu saya bakal lieur kali ya..
dan bener.. di kota, kadang agak mengklaim begini dan begitu, bahkan
mengharamkan si ini dan si anu..
aduh, saya emang lieur kalau udah gitu.. karena yang ada dalam
pikiran saya ya cuma satu: ini intinya apa?
kalau intinya udah tahu, beda-beda dikit itu cincai lah.. ya ga??
biar ga ribut-ribut.. malu kan ribut mulu?

hehe, punten ya kalau saya salah.. bisa jadi ini karena keterbatasan
saya pribadi
dulu di tarbiyah, kebiasaan belajar saya ini di bilang kebiasaan
jahiliyah, kebiasaan sebelum muslim.. harus ditinggalkan! duh, lebih sulit
lagi nih..
mana yang kata Rasul permudahlah dalam urusan agama, jangan
dipersulit.. itu ngelesnya saya ke tarbiyah.. hehe
saya tuh di tarbiyah protes mulu… astaghfirullah. ga nyampe otak
saya..
salah ga sih berislamnya saya ini ya??

kembali ke laptop,
menjadi penting pendidikan berfalsafah agar anak cucu kita ga
terjebak juga dalam pengkotakkan yang selama ini telah terjadi.. ini menurut
saya.
tapi gimana ya??

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: