ekstrimitas

Posted on Desember 18, 2007. Filed under: Islamisasi |

iseng mengomentari nih, maaf kalau salah..

ektrimitas yang terjadi di masyarakat hampir dipastikan berawal dari
kekecewaan atas kondisi kehidupan yang ada..
ektrimitas berlabel agama, menjadi yang paling jitu tuk merekrut
anggota, karena manusia ketika menghadapi masalah yang menghimpit -apalagi
multi dimensi seperti sekarang ini- memang cenderung mendekat pada
agama..
entah disengaja atau tidak,
akhirnya ektrimitas berlabel agama jauh dari idealisme yang diusung
bahkan cenderung memanfaatkan anggota, seperti dalam hal support
keuangan.

kalau mau bijak, ini memang keterbatasan manusia itu sendiri dalam
mengekspresikan kehidupan beragamanya..
tapi melihat dampaknya yang buruk, ya.. ini harusnya ditangani serius
oleh segenap ‘mereka’ yang mengaku memahami agama dengan benar di
penghulu negeri ini..
dalam skala kecil, yang dapat kita lakukan adalah memperbaiki
kehidupan dan pemahaman beragamanya kita..

kalau diamati, gerakan ektrimitas ini sangat bernuansa timur tengah
atau bernuansa harfiah atau bernuansa permusuhan..apapun labelnya.
maka tampilkanlah Islam yang bernuansa membangun.. Islam yang
bekerjasama, kompromi dan mampu berdiri di keberagaman..

maka untuk saya pribadi, lebih suka dengan wajah Islam indonesia..
moderat dan intelek..
menurut saya, itu adalah implementasi dari Islam yang digambarkan
sangat membangun oleh Rasulullah.
sangat kritis, teliti dan cermat, juga sangat mengutamakan
pengetahuan..
belum lagi kalau dirasani, Rasulullah adalah seorang yang sangat
tertantang untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan dimuka bumi -pada
siapapun, tidak pandang agama dan status sosial,
maka perjuangan berlabel Islam sekalipun, jika jauh dari nuansa
seperti Rasulullah seperti itu, ya.. hindarkan saja.

kembali ke laptop..
hemat kata, ekstrimitas adalah bentuk ‘lari dari kenyataan’, bentuk
frustasi dari beragama itu sendiri.. ga berani menghadapi tantangan yang
sebenarnya, menjadi hanya seperti membangun istana diatas awan..

anak-anak muda usia, yang tengah mencari jati diri, ketika tidak
mampu mengikuti arus kehidupan global, yang oleh bangsa ini masih
diterjemahkan dengan konsumtif terhadap produk asing, maka wajar jika mereka
lari ke jamaah-jamaah seperti itu..
ekstrimitas beragama menjadi alternatif pilihan ditengah keputus
asaan.. diatas harapan-harapan indah yang ditawarkan

harusnya ‘filter’ terhadap bentuk ekstrimitas itu bisa masuk
kependidikan agama di sekolah..
dulu, kita pernah membahas masalah pendidikan agama yang jauh dari
filosofinya.. maka wajar lagi, jika pendidikan agama tidak mampu
meng-counter fenomena ini..
apalagi dengan diizinkannya masuk ke rohis-rohis sekolah..
kalau ga salah dulu kalau di materi team wawancara ada point litsus
ya? lupa, hehe..

kompleks ya mengurai ini ke akarnya..
seperti kata GD, mereka tetap saudara seiman kita, walau kita tidak
seperti mereka..

saya suka membaca Emha, dalam wawancara di koran Sindo..
ketika ditanya, apakah dia agamawan, atau budayawan, atau seniman,
atau wali, atau apa??
dijawabnya: terserah anda.. buat saya tidak ada lagi arti semua
institusi itu.. yang penting anda memahami kebenaran yang saya usung..
wow!

di banyak referensi Islam yang saya baca,
memaknai laa ilaha ilallah yang benar akan menghasilkan manusia yang
mandiri sejati.
dia benar-benar terbebas dari ini-itu, pesan-pesan sponsor,
titipan-titipan mahluk juga lepas dari puja-puji.. terbebas dari segala
kebendaan..
semuanya sudah berorientasi kepada yang diatas.. sudah benar-benar
‘inalillahi wa inna ilaihi roji’uun’..
ada dan tiada sudah tak masalah.. lillah..lillah..lillah

mengamati gerakan-gerakan ekstrimitas, sepertinya memang masih jauh
deh dari benar dalam memahami agama.. masih formalitas sekali..

maka salut pada mereka yang mau dengan sungguh-sungguh meng-counter
gerakan ini dengan pemikiran-pemikiran yang moderatnya..
sebut saja pak Jalal, GD, gus Mus, cak Nun, cak Nur dengan Paramadina
dsb..
mereka yang mau dengan konsisten berdiri ditengah ektrimitas..
mengusung sesuatu bernama Islam Indonesia..
walau masih jauh dari sempurna, apa yang mereka lakukan adalah sebuah
usaha untuk membatasi gerakan-gerakan Islam yang merusak itu..

salut!
harusnya upaya mereka bisa sinergi dengan pihak-pihak lain yang
bermain dalam usaha menyejahterakan rakyat.. idealnya sih begitu.. 🙂

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: