kebenaran itu abu-abu

Posted on Desember 18, 2007. Filed under: Indonesiana, Islamisasi |

ini judul artikel di kolom seni – kompas minggu, 18 maret 2007
membahas tentang teater, berjudul Mahkamah, yang dimainkan oleh Ray
Sahetapi dan Mutiara Sani. Karya asli dari alm. Asrul Sani, yang dulu
sudah pernah dipentaskan..

ada kata-kata yang saya suka..

– Kenyataan selalu menawarkan wajah beragam
Benar-salah kerap tersembunyi di balik lapisan-lapisan tafsir yang
bisa dikupas dari berbagai sudut pandang
Di tengah relativitas itu, prilaku seseorang akhirnya hanya dapat
dihakimi oleh hati nurani nya sendiri..

-Pertunjukkan ini mengajak penonton untuk merenungkan paradoks
manusia zaman sekarang, yang mempertontonkan berbagai tidakan yang saling
bertentangan.
Seorang meneriakkan jargon kemanusiaan, misalnya, dengan cara-cara
yang tidak manusiawi. Pada titik ini, seperti diingatkan filsuf Jerman,
Friedrich Nietzsche, manusia memang selalu berperang dengan sesamanya
dan dirinya sendiri..
Saat tindakan manusia begitu kompleks, maka pengadilan terakhir
berpulang pada hati nurani sendiri.
Nurani yang JUJUR bisa menggugah seseorang tuk selalu berprilaku
lurus.
Tapi, begitu nurani mati, semuanya terancam disetir nafsu yang pandai
berkilah atau bersembunyi di balik dalih-dalih..

Artikel itu mengingatkan saya, entah di buku yang mana, karena saya
banyak membaca..
sebuah kalimat yang kalau ga salah bunyinya..
“harusnya kita bisa mengetahui mengapa Muhammad start dari sebutan
Al-Amin, karena itu kunci beragamanya Muhammad..”

selebihnya, banyaklah wacana Islam menyatakan hal-hal yang
berhubungan dengan tema di atas..
– bahwa musuh terbesar manusia itu adalah dirinya sendiri,
– bahwa jihad akbar itu adalah jihad menahan nafsu,
– bahwa dalam diri ada segumpal daging yang jika dia sehat maka
sehatlah seluruh prilaku, – jika dia rusak maka rusaklah seluruh prilaku,
dan segumpal daging itu bernama hati.. yang berarti juga nurani..
– hisablah dirimu sebelum engkau dihisab dihari akhir nanti
(maksudnya introspeksi tea ato kerennya muhasabah..)
– juga tentang ihsan..
– dll..dsb..

yup, semoga kita bisa selalu jujur dengan diri sendiri..
karena dalam hubungan dengan manusia, kita nyaris tak mampu bersikap
hitam-putih..

hanya kebenaran tentang Allah, Rasul dan Kitabnya saja yang jelas
hitam putihnya.. menjadi pembeda, al -Furqon, sebagai acuan kita..
selebihnya bismillah, hanya Allah, Dia- dimana kita tidak akan pernah
mampu menyembunyikan diri..

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “kebenaran itu abu-abu”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Intinya nurani dan kejujuran merupakan bentuk titik yang paling jelas bagi dirinya sendiri, sementara orang lain hanya bisa mereka-reka…
maaf benar gak yaa… sejumput hikmah ini saya dapatkan dari kata2 di atas…

————
saya setuju, kebenaran mutlak milik Yang Maha Benar… btw pertanyaanya:
Jika kembali ke Qur’an dan Hadits, justru konflik mulai timbul….
sebab ada lapisan banyak tafsir yang menyelimuti hakekat ayat2 dan ajaran Rasulullah saw… bagaimana menurut Anda?

salam kenal, saya anis nih.. mualaf yg dikutip pemilik blog ini 🙂
saya coba jawab ya pertanyaannya p’kurtubi..

—–
Jujur saya suka bingung kalau baca tafsir 🙂 setiap ulama punya interestnya masing2 bahkan -maaf- punya kepentingan dari penguasanya saat itu. maka diperlukan kebeningan dalam mempelajari semua nash-nash islam itu. Dan kebeningan itu ada di terintegrasinya pikiran dan hati kita. totaly, di nurani kita.

Memang menjadi subyektif ya, kebenaran saya bisa menjadi bukan kebenaran p’kurtubi. tapi, jujur lagi, bukankah kebenaran setiap agama juga bisa menjadi subyektivitas agama itu?
buat teman2 nashoro, Isa as adalah kebenarannya. buat kita yg muslim, Muhammad itu kebenaran. bahkan buat aliran kebatinan justru merekalah yang merasa sebagai jawaban yg benar tuk problem permusuhan agama yg ada selama ini.
relatif ya?? hehe..
tapi, jujur juga, ada kebenaran bersama yg diusung oleh semua agama itu, yaitu sama-sama ingin perdamaian dan kebaikan hidup di muka bumi. ya ga??
Dalam perbedaan syariat/bentuk, tujuannya sama..

Maka saya juga yakin, di titik tertentu, kebenaran dalam kejujuran saya ya akan sama dg kebenaran dalam kejujuran p’kurtubi, juga yg lainnya.

contoh :
Kita sibuk berkoar-koar bahwa korupsi itu salah. tapi kenapa korupsi tetap merajalela dan bebas merdeka? padahal kita sudah pakai ayat2 di qur’an dan dalil2 di hadist. sudah jelas dan terang benderang. kenapa?
Itu semua karena ada yang tidak jujur. korupsi baginya wajar, itukan bentuk terimakasih saja.. atau korupsi penting karena dia sendiri kepepet.. atau bahkan dengan korupsi jadi bisa berangkatkan haji keluarga nih.. dsbnya.
Manusia punya sejuta pembelaan, tapi coba deh jujur pada dirinya sendiri. tolong dijawab baik2 dan bening, korupsi itu salah ga sih??

Tuh kenapa bangsa kita saat ini sibuk lempar batu sembunyi tangan dan cari kambing hitam.. karena ga ada yang mau jujur.

Maka dimana sih kebenaran bahwa korupsi itu salah? ya, di nurani kita..

Mempelajari qur’an dan hadist itu memerlukan internalisasi, butuh integrasi. agama harus mampu memberdayakan nurani pemeluk agama itu. agar agama tidak tampil sekedar dalil2 dan ayat2 yang kering kerontang, apalagi jangan sampai agama itu tidak mampu menjawab realitas kita.

Beragama jangan sekedar “katanya-katanya”. beragama harus dengan kesadaran penuh dan sesuai kapasitas, karena bukankah kita hanya dimintai tangungjawab tidak lebih dari yang kita mampu?
maka jujurlah,kita mampunya sejauh mana?
Dan jujur pula, setiap manusia jika dia mampu menyelesaikan suatu masalah sesuai kapasitasnya saat itu, maka dia akan beranjak meningkat ke kapasitas yang lebih
besar.
demikian juga dalam beragama.

nah, nih dia.. kalau ternyata kita ini terlahir dan hidup dalam kapasitas yang berbeda-beda, maka kenapa kita tidak jujur untuk mau bersama dengan siapa saja? kenapa kita masih suka membeda-bedakan sesama manusia? bahkan ada yang mengkafirkan yang diluar golongannya?
padahal Allah saja sudah menegaskan semua manusia itu sama di mataNya, kecuali yang takwa..
yang mau lebih dulu bebesar hati dan memaklumi yang kapasitasnya masih belum meningkat. kurleb gitu termasuk bentuk takwa kan??

segini dulu ah jujurnya..
bagaimana p’kurtubi?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: