manusia negeri nestapa

Posted on Desember 18, 2007. Filed under: coretan |

Di hari seorang menteri dievaluasi, dengan geram seorang raja
berteriak kepada hulu balangnya..
“panggilkan jin dari segala penjuru mata angin! tanyakan pada mereka,
bagaimana bisa bencana datang dan datang lagi? mengapa negeri seperti
tidak dijaga dari seluruh arah mata angin? mereka digaji bukan untuk
ongkang-ongkang kaki.. mereka harus menjelaskan semua ini.. jangan bikin
saya malu begini..!”
tak lama hulu balang datang bersama keempat jin dari empat mata
angin..
“mohon ampun, paduka.. mereka sudah disini, akan menjelaskan pada
paduka hal ihwal semua musibah yang ada..” sembah sujud hulubalang
mempersilakan para jin berbicara..

jin pertama dari angin utara..
“maaf, paduka… sebelumnya tunjangan sudah hamba terima, mohon
jangan diminta kembali.. pamali kata orangtua.
angin utara sebenarnya biasa saja.. bumi diutara sedikit berawan tapi
tidak berpotensial hujan.. hanya saja, banyak bayi kehilangan susu,
menderita kurang gizi..”

“lantas apa hubungannya dengan pesawat jatuh terbakar itu?” paduka
bertanya-tanya..

“paduka, air susu dan pesawat memang tak ada hubungannya. cuaca juga
cerah ceria.
tapi rintihan bayi merusak gelombang, ion-ion bertabrakan,
menimbulkan percikan api di daerah turbin..”

menteri terkait yang turut hadir bingung mendengarkan penjelasan itu,
tidak ilmiah.
lebih ilmiah jika ini terkandung unsur sabotase..

giliran jin dari mata angin selatan memberikan penjelasan..
“maaf paduka, tunjuk langsung itu seperti bagi-bagi kesempatan..
jangan dipermasalahkan. kasus tutup saja, kita berdamai soal besarannya.
angin selatan sedikit kencang, bumi sedikit basah tapi tidak
potensial bencana, tidak ada perbedaan tekanan udara yang signifikan.. hanya
saja penduduk di selatan makan sisa nasi basi”

“lantas kenapa kapal itu tengelam dan kembali menelan korban?
kemiskinan biasa terjadi, di negara lain juga ada kemiskinan” paduka minta
kejelasan..

“itu dia, paduka.. perih perut dan getir mulut menelan nasi basi,
menggetarkan molekul air.. air bangkit dan menghempas keras.. kapal pun
tenggelam”

menteri terkait tidak bisa mengerti, penjelasan tidak ilmiah. lebih
ilmiah jika kesalahan karena tidak pakai pelampung.

giliran jin mata angin timur memberi penjelasan..
“maaf paduka, sebetulnya uang sudah akan ditransfer, cuma bingung ke
rekening mana, yang bisa kasih kompromi lebih besar.. paduka tenang
saja, semuanya sudah ada dalam agenda..
angin timur tenang, sedikit kering tapi tidak panjang waktunya. hanya
saja penduduk di timur tidak tidur dengan tenang, mereka bunuh-bunuhan
tanpa kejelasan”

“apa hubungannya dengan pesawat yang menghilang?” paduka minta
kejelasan..

“paduka, darah yang mengalir menghalau gelombang hingga tak
terjangkau alat radar, maka pesawat dibilang menghilang”

menteri terkait masih merasa tidak ilmiah, lebih ilmiah jika fenomena
segitiga bermuda berpindah ke katulistiwa.

terakhir jin dari arah angin barat menjelaskan,
“mohon maaf, paduka.. surplus dari subsidi jangan disebarluaskan,
harga jangan turunkan, sebagai negara dunia ketiga biasa dengan
keprihatinan. yang lain nanti diatur belakangan..
angin barat berhembus biasa dari kemarin, kadang berawan kadang
cerah, tidak ada yang berarti. hanya penduduk di barat suka maksiat.. wanita
diperjualbelikan anak diperdagangkan. gaji tidak dibayarkan, anak
mereka putus sekolah”

“apa hubungannya dengan kereta-kereta yang anjlok? ada-ada saja” sela
paduka..

“paduka, ketidak adilan hidup mereka menggetarkan struktur tanah,
akhirnya anlok semua”

menteri terkait makin pusing, karena tidak ilmiah. masih ilmiah kalau
kereta-kereta itu bekas orang lain, relnya juga bekas penjajah.
menelan koran sudah biasa, namanya juga penjajah.

“baru untuk satu departemen, uraian kalian tidak masuk akal semua.
dibayar tapi percuma!” paduka kian berang karena tidak mendapat
penjelasan yang memadai.

keempat jin pun tertawa..
“kami tidak masuk akal itu lumrah, kami menjaga itu sudah.
yang gaib biasa saja. yang bermasalah adalah manusia, maka yang
menyelesaikannya harus manusia lagi, paduka..
gelombang-gelombang aneh datang dari manusia, bukan dari alam maya..
apakah paduka akan menyerahkan tugas itu juga pada kami? hahaha..
sujud pada kami, panggil kami khalifah.. maka kami makmurkan negeri ini
dengan uang yang ada, dan manusia mengabdilah pada kami.
bagaimana?”

manusia..duhai manusia..
para jin tertawa meninggalkan ruang tanpa kata.. meninggalkan paduka
dan menterinya terdiam nestapa..
betapa akalmu tak ada gunanya..

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: