nikah dan cerai sama sakralnya

Posted on Desember 18, 2007. Filed under: Islamisasi |

Sebenarnya selain karena hidayah dan konsep tauhid Islam, alasan saya
masuk Islam ada satu lagi…
ini jarang saya ungkapkan ke banyak orang, karena agak-agak aneh tuk
kebanyakan orang..
kali ini, bolehlah saya ungkapkan..
satu hal itu adalah karena dalam Islam ada kata Cerai.. 🙂

Kenapa?
Alkisah, orangtua saya pernah mengalami guncangan yang luarbiasa
dalam bahtera rumah tangganya. saya tahu mereka sangat berusaha tuk
memperbaiki, tapi apa daya, itu sulit sekali.
di usia SMP, ketika saya sudah bisa memahami keadaan, saya pernah
menawarkan opsi bercerai kepada ibu, wah.. itu tidak terpikir oleh beliau,
karena tidak ada wacana cerai dalam keyakinannya, dalam hal ini
nashoro.
walhasil, ini pahit ya.. tapi kenyataannya, ibu saya meninggal karena
stroke sehabis bertengkar dengan bapak saya.
hehe, saya ga heran.. biar bapak saya menangis menyesali, saya biasa
saja. karena dari awal saya sudah menawarkan pilihan cerai tuk kebaikan
mereka juga..

Aneh ya?? hehe..
mungkin karena terbiasa menghadapi keadaan dengan rasio maka saya
lebih mengandalkan akal sehat dari pada emosi sepihak, mengingat dampaknya
yang negatif terhadap saya, kakak dan adik sebagai korban pertengkaran
orangtua.. juga terhadap ibu dan bapak sendiri.

Nah, wacana cerai itu saya temukan dalam Islam..
yang ternyata sangat rapi dan proporsional -dalam pemikiran saya,
loh..
bukan berarti Islam agama kawin cerai seperti kebanyakan asumsi yang
berkembang ya.. justru saya mau bilang dalam tulisan ini, bahwa nikah
dan cerai itu akhirnya kesakralannya sama..

Begini..
Pertama yang harus disadari,
kadang manusia itu gagal melawan dirinya sendiri, kalah dengan
egonya, yang malah menjadi ‘menindas’ orang lain..
disadari atau tidak disadari.. diakui atau tidak diakui.. itu kerap
terjadi dalam relasi kita dengan manusia lain, termasuk dengan pasangan
hidup.
Banyak faktor penyebabnya.
dan biasanya pula manusia dengan akal budi, akan berusaha
mempertahankan, memperjuangkan dan mengerahkan segala upaya tuk kelanggengan
pernikahanannya itu.
hampir dipastikan manusia berakal budi bukan manusia yang asal-asalan
membuat keputusan.

Nah, ketika segala daya dan upaya sudah dimaksimalkan.. tapi tak juga
membaik, bolehlah manusia itu memperoleh keadilannya, dalam hal ini..
keadilan itu bernama ‘perceraian’..

Mari kita cermati..
Allah mengizinan cerai tapi sangat membencinya..
lalu dalam Qur’an, Allah menjabarkan aturan mainnya, bisa dibaca di
QS 2: 221-232.
semua disana jelas sekali..
yang sering terjadi perceraian hanya ditujukan untuk segera
melegalkan perselingkuhan yang sudah terjadi..
ini yang salah..
dalam pembahasan tentang ayat itu, baik di footnote maupun tafsir
yang pernah saya ikuti, masa iddah adalah masa introspeksi disamping masa
untuk mengetahui ada tidaknya kehamilan.
yang sering terjadi masa iddah hanya tuk alasan yang kedua,
ditambahkan pula lelaki boleh langsung menikah begitu menjatuhkan talak.
saya pikir itu justifikasi para ahli tafsir yang notabene lelaki
semua kali ya, hehe..(kidding)

Masa iddah yang saya pahami adalah saat untuk kedua pihak berpikir
jernih, bahkan sengaja dipisahkan agar mampu berpikir tenang, itu sangat
jelas sekali dinyatakan bahwa selama dalam masa iddah, seorang istri
masih harus memperoleh izin suami jika akan bepergian.
QS 65:1-7.
Dan jika setelah masa iddah itu disadari rujuk adalah yang terbaik,
bertekadlah tuk perbaikan ke depan. Sebaiknya setelah masa iddah, cerai
adalah yang terbaik, lakukanlah dengan akhlaq yang baik pula.. hak-hak
atas perceraian pun kemudian diatur sangat rapi.

Talak saja ada talak 1, talak 2 dan talak 3.
terlihat jelas proses itu sangat bertahap dan tidak main-main..

Yang suka disitir, hanya bagian ‘Allah membenci perceraian’..,
yang membuat perceraian menjadi hal yang aib dan jelek.

Sebaliknya, untuk perkara pernikahan yang kerap disitir adalah..
‘jauhilah zina, permudahlah nikah’.
sehingga orang jadi memudahkan perkara nikah dengan dikit-dikit nikah
bahkan melakoni nikah sirri’.. demi menjauhi zina, tapi di lain sisi
malah menjadi melegalkan perselingkuhan yang telah ada.

Padahal, jelas.. dari memilih calon istri/suami Allah mengaturnya,
harus ada wali dan saksi.
wali-nya siapa saja diatur dengan jelas, kemudian dianjurkan tuk
mensiarkan pernikahan tuk kejelasan status..

Boleh diamati, perkara pernikahan dan perceraian dalam Qur’an ‘sarat
dengan pesan melindungi wanita’.

Hemat kata, nikah dan cerai dalam Islam -dimata saya sama dan sangat
sakralnya.
menjadi dua hal yang menuntut kesungguhan, keseriusan dan
kehati-hatian.

Perhatikan baik-baik deh ayat-ayat tentang nikah dan cerai, sangat
hati-hati, jelas, lugas dan rapi.
Sangat detail malah untuk sebuah perkara dalam ukuran al Qur’an..
Subhanallah..

Lalu kalau sering dijadikan alasan ‘anak menjadi korban
perceraian’..ya, karena perceraian itu dianggap buruk, disitir ..Allah sangat
membencinya.
Kalau dari awal kita memandangnya positif, insyaAllah perkara anak
ini bisa diatur dan disikapi dengan bijaksana. Bukan rebut-rebutan bahkan
penganiayaan.

Dalam pendekatan tasawuf yang sangat ekstrim, orangtua akhirnya
hanyalah tempat lewatnya/ kelahiran seorang anak. Bukan menjadi
segala-segalanya untuk anak..
Seperti kata Khalil Gibran.. anak itu bak anak panah yang melesat
dari busurnya, dia tidak akan kembali. Anak memiliki hidupnya sendiri.
Alam materialisme-lah yang membuat anak memiliki begitu banyak PR
orangtuanya..

Saya memilih seimbang ajalah,
Dikatakan yang lebih utama adalah guru -yang mengajarkan hidup pada
anak. Yang dapat menuntun anak pada Illahi Rabbi sebagai awal dan akhir
perjalanan sejati kehidupan di dunia ini.bukan sekedar guru ilmunya
dunia..
Nah, tuk itu saya belajar deh jadi guru buat anak-anak saya tuk kelak
dapat mengenal tuhannya, menemukan jalan kembali padaNya.
Semoga dengan begitu, saya dapet jadi orangtuanya dan utama jadi
gurunya.. amin.
Hehe.. cita-cita sih, makanya saya masih selalu mau belajar agama.

Gitu kak..

Kesimpulan,
jika sudah sampai pada titik tertinggi dari segala upaya, bolehlah
manusia itu memperoleh keadilannya, baik itu nikah ataupun cerai.
Tentunya nuraninya lah yang paling bisa menilai sejauh mana
kesungguhan, keseriusannya juga kehati-hatiannya dalam kedua hal itu.

Selebihnya kita memohon pada Allah akan kekuatan dan kemampuan tuk
menjalani pilihan itu.
Karena Dia luas maafnya, luas rahmannya dan luas rahiimnya..
Dan sekali lagi, sesungguhnya dalam kedua perkara itu, Islam
sangat-sangat melindungi wanita.

kudunya bahagia ya jadi wanita dalam naungan Islam..
maka kenapa banyak wanita yang menangis dalam Islam?
atau dalam skala kecil, janganlah membuat wanita menangis dalam
naungan Islam kita.. kalau kita -bener Islamnya..
gitu ga sih??

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

28 Tanggapan to “nikah dan cerai sama sakralnya”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Alhamdullillah, saya menemukan tulisan anda.
Terima kasih ya, banyak gunanya buat saya pribadi. Semoga Allah selalu menuntun kita kepada hal yang terbaik menurutNya. Amin.

…posting yang bagus..good..good..
doaku untukmu:
Selebihnya kita memohon pada Allah akan kekuatan dan kemampuan tuk
menjalani pilihan itu.
Karena Dia luas maafnya, luas rahmannya dan luas rahiimnya..
Dan sekali lagi, sesungguhnya dalam kedua perkara itu, Islam
sangat-sangat melindungi wanita.
——————-

kudunya bahagia ya jadi wanita dalam naungan Islam..
maka kenapa banyak wanita yang menangis dalam Islam?
atau dalam skala kecil, janganlah membuat wanita menangis dalam
naungan Islam kita.. kalau kita -bener Islamnya..
gitu ga sih??
————-
emang begitu…(eh kamu wanita ya..?) mudah-mudahan banyak wanita yang mendapat pelajaran berharga seperti kamu..hanyalah dengan pelajaran dari Allah langsung…yang menjadi pengalaman berharga kita…bukankah sebaik2 guru adalah pengalaman?

dan tasawuf? tasawuf emang ekstreem….setuju tuh…

masukan utk sy rtnya sdg berantakan,pisah gtu aja n putus kontak sejak 3 thn lalu.sblmnya pernah dikasih no hp anak sy,ternyata yg ngangkat laki-laki….

@wage
saya doakan selalu tuk yang terbaik yaa mas/mbak wage.
jangan letih mengupayakan komunikasi yg sehat, masa lalu jangan di jadikan kendala tuk mencapai komitmen2 yg baik terutama demi perkembangan anak.. krn bagaimanapun juga itukan anak.

saya pernah terkagum2 oleh perceraian yang di dalamnya tak pernah ada usaha tuk menggantikan ayah/ibu bagi anak2 korban perceraian itu. pasangan baru yang hadir bagi ayah/ibu mereka ke depan, tak mesti menggantikan ayah/ibu mereka sebelumnya. di sini anaknya menjadi lebih santai dan tak menambah tekanan tuk beradaptasi dengan orang yang baru dalam hidup ayah/ibunya. walau tentu secara perlahan, kehadiran itu diusahakan bisa termaknai dg baik… seiring kesiapan sang anak tuk menerima kehadiran itu sendiri…

saya belajar menghargai perceraian. menjauhi anggapan buruk ttgnya. walau tentu saya akan berusaha mempertahankan segala yang baik hari ini, yang saya boleh miliki…

alkisah sahabat lama saya dan suami, seorang laki2 sudah lama tak bertemu. lalu belum lama ini, kami reuni. dia membawa istri barunya. saya welcome kok dan santai saja. awalnya dia yang kagok dan berusaha menjelaskan panjang lebar. hehehe, dia spt yang harus laporan pada saya…
wah, ya ga perlu toh? walau saya sih mau saja mendengarkan sharingnya.. saya percaya pada apa yg sudah dialaminya dan tekadnya tuk memulai sesuatu yang baru bagi kehidupannya ke depan. anaknya sendiri dia serahkan pada mantan istrinya. dan kemarin itu sempat dia bawah ke bogor, ketemu dengan suami saya.

saya bilang pada teman saya itu, bahwa saya menghargai kehidupan. baik itu bernama perkawinan maupun jika itu bernama perceraian… suka duka di balik semua itu jelas adalah pembelajaran bagi tumbuh kembang jiwa tuk menjadi lebih baik.. 🙂

hidup ini, kalau bukan kita –manusia– yg menghargai, lah.. mo siapa lagi?? 😉

postingan yang indah.. saya lg cari info ttg kebolehan dalam islam wanita minta cerai? seorang sahabat lagi ada masalah rt, konsultasi ma ustadz tapi dibilang dalam islam wanita ga boleh minta cerai. ga salah tuh??

@yayan
hehehe, saya kurang paham ya dengan masalah fiqih. tapi saya pernah membantu teman yang dihadapkan dengan hal yang membuatnya harus menggugat cerai suaminya. dalam qs albaqoroh 2:226. dikatakan suami di larang mengilaa’ istri. ilaa’ adalah sumpah/niat seorang suami tuk tidak akan menyampuri istri, sehingga istri tersiksa krn tidak dinafkahi juga tidak diceraikan. di sana katanya harus segera memilih dalam waktu 4 bulan, ceriakan baik-baik atau rujuk dan kembali menggauli dan menafkahi istri dg membayar denda.

hematnya sih, jauh sebelum ada dan terjadi gugatan cerai dari istri, suami harus sadar diri kali yaa.. hehehe. jangan melakukan hal-hal yg berpotensi tuk menyiksa istri dan memojokkan istri. apalagi sampai istri harus menggugat cerai. karena sulit loh, tuk seorang istri sampai menggugat cerai suaminya. secara kita terbiasa mendahulukan suami yaa..
dalam riwayatnya sih, pernah ada kok istri yang menggugat cerai suaminya ke Rasulullah.

saya pribadi menghargai hal asasi, selama tidak di cari-cari alasannya, selama memang terindikasi sangat menyulitkan istrinya, saya menghormati istri yang menggugat cerai suaminya. saya belajar menghargai wanita.. tentu tidak semata karena saya sendiri seorang wanita loh. saya ingin wanita tetap memiliki dan menjaga juga terjaga kehormatan dan harkatnya sebagai wanita, meski dia sudah bercerai… karena hidup realistis dan hidup tak selalu harus manis. 😀

saya boleh tanya nggak??

@mahabudi
mau tanya apa mas?

@kang dani
makasih tuk sharingnya kang..
guru sejati akhirnya adalah hidup itu sendiri… begitukah?

punten, ketemu lagi di sini ceu anis…
ikutan ah… komen or share or else…
ingin bahas tentang hadis “Sesuatu yang halal tapi di benci oleh Allah adalah talak/cerai”
hanya satu buah hadis yang saya temukan… tapi amazing-nya…. belasan ayat quran, firman Allah menuntun sang hamba, bagaimana seorang hamba-Nya bercerai baik-baik dengan pasangannya… Dia Yang Maha Bijak dalam sekitar 16 ayat mengarahkan kita, membimbing kita untuk bisa membangun perpisahan (tashrih) dengan makna indah… perpisahan di dalam perlindungan…..

jujur, selaku suami yang juga pernah melewati fase ini, Quran benar2 membuktikan kebenaran ayat-Nya… karena perpisahan ini juga untuk sebuah kebaikan dan kemaslahatan seluruh pihak, dengan iringan istikharah berkali-kali berbulan-bulan… maka Allah pun melindungi mereka yang “terpaksa” harus memilih jalan ini dengan kemudahan, kebaikan yang lahir kemudian.. sehingga sang dua anak pun cukup stabil emosinya… kami pun diikat tetap dalam persaudaraan sesama muslim, bahkan bisa membentuk sebuah keluarga besar…. sang anak yang akhirnya memiliki dua pasang orang tua…

kok bisa..
insya Allah bisa, selama kita selalu berjuang memohon kekuatan kepada-Nya dan membuang sejauh mungkin rasa saling benci dan saling mendengki…

lah, hubungan dengan hadis tunggal dimana Allah benci tapi menghalalkan itu bagaiaman?

saya sih, memahaminya bukan sebuah kontradikitf… itu gambaran sebuah fakta.. bahwa dari sebuah perceraian apalagi disertai dengan kebencian satu sama lain, rebutan hak asuh anak, pergunjingan, buka aib sana sini, saling menyerang, menjelekan mantan di depan anak agar anak memilihnya….
nah fakta itu yang masuk dalam kategori hadis, halal tapi paling Allah benci…

wallahu a’lam bishawab…
diskusi berlanjut… silakan ceu anis…

awal mulanya guru sejati adalah segala sesuatu di luar diri kita…
tapi pada akhirnya, ketika sang diri ini terus mencari dan mencari dan berjuang mengenali diri… ternyata sang Guru Sejati… ada dalam diri kita sendiri….

@kang dani
wah.. beda nih.. hehehe..
makasih kang.. setuju.

tulisan yang sangat bagus.sungguh telah memberikan pencerahan kepada mereka yang tipis pengetahuan tentang islam bahkan tidak memahami islam.

@nungke ibrahim
makasih mas nungke..
salam kenal.. 😀

thx banget… kebetulan aku menemukan tulisan ini saat aku mau memutuskan cerai atau tidak dengan isteri setelah terombang-ambing dalam kekisruhan RT sekita 8 bulanan… bermanfaat banget bagi diriku..

@noor aufa
semoga manfaat ya mas. semoga masalahnya mendapat penyelesaian yang meringankan hati dan langkah kedua belah dan banyak pihak. semoga sama-sama ridlonya… dalam apapun keputusan.

kudunya bahagia ya jadi wanita dalam naungan Islam..
maka kenapa banyak wanita yang menangis dalam Islam?

Hehe … Wanita emang ditakdirkan menangis. Ga usah dihubungkan dengan Islam atau agama apa pun. Udah dari sananya mbak Anis. Kalau ingat film Oshin, tangis perempuan bukan tanda kelemahan. Justru wanita ditakdirkan lebih kuat dari laki-laki. Ada orang SAR yang berkata (dengar di i radio), pemanjat cewek justru lebih survive dari yang cowok jika dilaporkan hilang di gunung. Agak tidak nyambung..hehehe
Intinya, Islam datang untuk mengangkat derajat wanita (yang sangat kontekstual ya jaman dulu nabi Muhammad diutus). Kalau dilihat jaman sekarang kok kayaknya Islam “merendahkan” kaum perempuan, saya kok ga begitu percaya semua hal di zaman sekarang lebih baik dari zaman tradisional.
bytheway, saya suka post ini, kejujuran mbak, dan sy bersimpati kepada mbak. Ga mudah pindah agama, terutama buat yg meyakini agar jgn pindah agama. Hehehe

@rainbow
makasih, maaf baru balas komennya yaa..
sederhananya yang dibutuhkan adalah kejujuran dan ketulusan, termasuk dalam tangis………. sampai pada soal pindah agama.. 🙂

Maaf ya mengomentari mengenai hal ini, di dalam agama saya juga di tuliskan dalam firman “Tuhan Jesus kristus” bahwa diperbolehkan bercerai HANYA BILA salah satu dari pasangan kita selingkuh, memang lain dari itu tidak diperbolehkan karena unsur menikah adalah unsur yang sangat sakral dan sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dalam hal ini bisa dibilang JODOH, kita pun sebagai manusia meyakini adanya juga perjodohan yang sudah ditentukan oleh TUHAN, oleh karena itu agama kristen terutama katholik sangat melarangkan untuk kita menceraikan jodoh kita,karena hal demikian bukan hanya dibenci oleh Tuhan akan tetapi kita telah dikutuk-Nya, oleh karena itu saya hanya meluruskan pengertian saudara yang agak berlebihan menurut saya,saya tekankan sekali lagi, di agama saya salah satu pasangan boleh menceraikan pasangan lain hanya kalau dia berselingkuh dengan yang bukan pasangannya, karena kami memandang jodoh adalah kasih karunia TUHAN yang tidak dapat dengan mudah manusia begitu saja untuk menceraikannya. amin

@nathan
makasih yaa. saya tau kok dalam katolik cerai hanya boleh jika terbukti zina. ya kan?
btw, sudah menikah belum nih? hehehe…

saya sendiri setelah menikah, baru sadar, kalau nikah itu ga semudah bayangan. belum lagi, komplektisitas persoalan pernikahan di masa sekarang mungkin.. mungkin… lebih kompleks ya. KDRT (baik psikis maupun fisik) maupun segala bentuk intervensi dari segala pihak marak sekali saat ini. yang mau ga mau harus diteliti lebih lanjut apakah bisa dipertahankan demi keselamatan dsbnya.

maka ini kasuistik gitu deh.
saya hanya ingin menegaskan, bahwa proses tuk bersama dan berpisah dalam ikatan bernama rt sama beratnya, nyaris sama sakralnya. jangan diremehkan. pada akhirnya mau bersama atau berpisah, yang dibutuhkan adalah kerelaan dan direlakan. agar persoalan2 yg ada setelahnya bisa dihadapi dengan lebih baik. jangan bersama malah menderita, juga jangan berpisah malah hancur lebur.
semoga semuanya bisa selalu diutamakan demi kebaikan bersama..

salam kenal, saya rusli kebetulan menemukan postingan ini dan saya bepikir pas sekali dgn saya yang sedang berada di ambang perceraian. saya ingin konsultasi atau curhat sama mbak….kalo bisa lewat japri. dalam sholat saya selalu meminta ditunjukkan orang yg bisa membantu dan kebetulan ketemu postingan ini. kalo mbak tinggal di jakarta saya dan istri akan berusaha utk menemui mbak kalo gak keberatan. saya bisa dikontak di nomor 08111100012.

@rusli
wah, prihatin dan seneng sekali seandainya bisa membantu mas.
japri dulu saja yaa. sekiranya apa saja yang ingin mas rusli dan istri ceritakan. spt curhat saja. gpp.
kirim ke mualafmenggugat@gmail.com..
semoga saya bisa membantu…

mantap Allahuakbar
anda sangat cermat dan teliti mengupas masalah ini..
dan menulisnya dari hati, maka sampai pula ke hati (saya terutama)

@santi
alhamdulillah
di kejujuran diri, kita temui Dia dalam ilmu dan pengertian yang dalam…

CINTA ANAKKU ADALAH KESETIAN YANG HARUMNYA MELAMPUI ZAMAN. KARENA ITU CINTA MAMPU MENGHUBUNGKAN LANGIT DAN BUMI
Alloh memperkenankan cerai tetapi paling membencinya

@sumono
idealnya memang demikian pak. tapi semoga dalam “ketidakidealan” pun kita tak lupa tuk tetap menjaga kesakralan sebagai bentuk menghormati sebab akibat sebuah relasi…

Kalau suami sudah blang talak 1 apakah sudah cerai?

tidak ada kata cerai,hanya maut yg bisa memisahkan kedua pasangan.
dan perceraian dilakukan apabila telah terjadi perzinahan di dlam pernikahan tersebut.percuma dong wktu pacaran I love u beribu kali klw ujungnya cerai…mending g usah nikah aja klw gitu..ni ajaran sesatlah…

Ahh, rasanya enak gitu baca tulisan anda, emang setiap individu pasti ingin bahagia, kalau memang perceraian yg terbaik, ya apa boleh buat, pasrah sm Allah, semoga Allah ngasih yg terbaik sbg balasannya. Bismillah saya juga bs menjalaninya ya. Bantu doanya 🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: