Berawal dari Tanya

Posted on Desember 27, 2007. Filed under: kisah menuju cahaya |

Hati selalu ceria menanti datangnya pagi. Membuka pagi bagaikan membuka halaman buku cerita, yang penuh kata didalamnya, melukiskan kisah dan menimbulkan keasyikan buat yang membaca. Begitulah harusnya pagi untuk semua anak-anak, semangat menuju sekolah, menuntut ilmu bersama sahabat-sahabat tercinta.

Di sekolah yang penuh kedisiplinan dan nuansa religi, para guru menyiapkan hari untuk melayani pendidikan di setiap pagi. Sahabat kecilpun memandang penuh suka kepada para guru, mengagumi kelembutan wajah dan sinar hati yang dipancarkan dari mereka. Belajar menjadikan pintar dan tahu banyak hal. Guru selalu mengawali hari dengan doa, mangajak semua murid dan sahabat kecil merasa hari ini akan baik hingga malam berganti.

Tak hanya menuntut ilmu, sekolah juga menanamkan keimanan, agar pendidikan selaras dengan jiwa, melahirkan manusia yang utuh, jasmani dan rohani, otak juga hati. Semua murid dan sahabat kecil merasa bahagia bersekolah, tak hanya kepala yang diasah agar tajam berpikir, hatipun diisi agar tak kosong dan merasa sepi. Pendidikan akhirnya adalah proses pengisian jiwa seutuhnya, maka pendidikan sangat menentukan kualitas dan kapasitas manusia yang dididiknya.

Di sekolah, guru mengenalkan tuhan, menggunakan perumpamaan agar mudah dipahami. Tuhan digambarkan selayaknya bapak, ibu dan putra, yang harmoni dan penuh kasih. Perumpamaan itu untuk murid dan sahabat kecil dapat merasakan kasih tuhan dalam kehidupan nyata, seperti pelukan ayah, belaian ibu juga genggaman erat putra yang tulus. Agar tuhan terasa maha kasih dan maha sayangnya, agar tuhan terasa dekat, terasa melihat sebagaimana orangtua yang dekat dan selalu memandangi tumbuh kembang anaknya.

Tak ada yang salah pada perumpamaan itu, selama memang seperti itulah yang dirasakan setiap manusia pemeluknya. Karena tuhan memang ada tak sekedar di wilayah manusia berpikir, juga di wilayah manusia merasa. Maka kemampuan merasakan tuhan pada setiap manusia berbeda, begitu pula pada rasa sahabat kecil.

Namun kesedihan sering terpancar ketika tuhan digambarkan seumpama kasih harmoni. Mata suka berkaca-kaca mendengarkan tuhan yang begitu hangat dan sayang. Seandainya tuhan memang begitu.

Karena mereka, orangtua, tetaplah manusia biasa yang sering kalah melawan kemarahannya di setiap masalah yang terjadi di antara mereka, melahirkan pertengkaran demi pertengkaran. Sahabat kecil belum mampu memahami, selain merasakan betapa sepi rumah dalam keramaian pertengkaran, betapa sunyinya rumah dalam baku balas alasan-alasan, dan betapa hancurnya rumah dalam tegak angkuh mereka yang berseteru. Mengapa hangatnya tuhan tak ada di sini?

Tanpa memahami apa yang terjadi, sahabat kecil berlari dan berlari, mencari kehangatan tuhan. Tak ada harmoni dalam tuhan yang bapa, bunda dan putra. Tak ada kebenaran perumpamaan itu dalam kenyataan dan hati sahabat kecil, membuatnya resah, gelisah, menyimpan sejuta tanya. Hanya sahabat kecil yang merasakan kehampaan dan kesedihan, yang lain semua bahagia dalam perumpamaan tuhan yang demikian.

Teman sahabat kecil berdoa penuh kusyu’, seolah tuhan mendengarkannya. Teman itu bisa merasakan tuhan yang harmoni dalam bapa, bunda dan putra, meski bundanya kini bukan bunda sejati, hanya yang tiri dan tak terlalu mau memiliki. Sahabat kecil ingin seperti temannya, tetap merasakan tuhan meski tuhan tak sempurna dalam perumpamaan, tapi hati terlanjur perih dan tak mampu mengerti. Dia berlari dan berlari, pikiran dan jiwanya mengembara, mencari dan mencari. Mencari kebenaran yang sejati yang mampu melewati perumpamaan manusia.

Manusia memakai perumpamaan dalam melukiskan cinta tuhan untuk manusia, agar manusia mengenal, merasa dan mengikuti langkah tuhan. Manusia menggunakan banyak perumpamaan tentang apa saja untuk memudahkan pengertian yang dimaksud. Tapi untuk hati sahabat kecil, perumpamaan tentang tuhan yang ini, tidak mampu menghadirkan kehangatan dan kasih tuhan. Membuat kebenaran tentang tuhan kali ini terasa nisbi, tak sepenuhnya teraih.

Guru menemukan sahabat kecil menangis sendiri, dibelainya dan katanya, “sesungguhnya tuhan tidak pernah ingin kita menangis, hanya kemarahan dan keserakahan manusia lain diluar sana yang membuat kita menangis. Maka tuhan suka kita yang menangis dari pada mereka yang marah disana. Maka berdoalah, memohon apa saja. Karena ketika kita menangis tuhan sedang mendengarkan kita”. Sahabat memandang guru, menemukan ketenangan dan keyakinan jiwa didalam bola matanya. Membuatnya terhibur, tersenyum dan berdoa,

Tuhanku.

Izinkan aku mencari kebenaran sejatimu. Walau tak kupungkiri segala usaha untuk memperkenalkan dan mendekatkanmu adalah usaha yang mulia, berkah juga penuh peluh. Hanya untukku, hanya untukku, biarkanlah aku mencari kesejatian dan keutuhanmu. Agar menjawab semua tanyaku tentangMu. Dan pahamilah jika tanya tentangMu dalam diri ini seperti air yang mengalir menuju muara. Mengalir terus mengalir dan izinkanlah hanya berhenti pada muaraMu saja. Yang entah kapan dan dimana.

Sahabat kecil duduk didepan meja kudus, memasrahkan diri dan membawa jiwanya berlari dan berlari mencari tuhannya. Seperti air yang mengalir menuju muara, bayi yang tumbuh dewasa, burung yang terbang menuju cahaya..

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “Berawal dari Tanya”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

membaca perjalanan Anda mencari Nya,
saya merasa tertinggal jauh dari Anda…

Mendengar atau membaca kisah-kisah semacam ini, saya selalu ingat perjalanan Nabi Ibrahim dan Salman…sayangnya, saya tidak akan pernah bisa memahami sepenuhnya apa yang dirasakan.

Saya dulu dibesarkan dalam lingkungan keluarga, yang sangat menghormati kepercayaan yang berbeda-beda. Justru karena itu, saya bertanya-tanya…. sebetulnya kepada siapa saya harus memohon dan berserah diri? Entahlah karena guruku, teman-temanku mengajarkan hal-hal kebaikan, saya akhirnya memilih untuk lebih mengenal Dia. Bahkan yang menjadikan saya bersyukur, ibu akhirnya juga rajin menyembah Dia.
Allah Maha besar.

Membaca semua isi blog anda tengah malam tadi membuat hati ini nyaman sekali, memaksa saya untuk merenung lama….Meski saya muslim dari kecil tetapi saya masih belum sepenuhnya bertemu denganNya, sejujurnya saya iri dengan anda karena lebih dahulu menemukanNya.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: