Biarkanlah Roda Tetap Berputar

Posted on Januari 18, 2008. Filed under: 1 |

Sebagai ibu rumah tangga, saya merasakan dan menyadari sekali dampak dari kenaikan harga bahan-bahan pokok sekarang ini di pembiayaan rumahtangga saya.
Kalau mengikuti trend ya inginnya hemat sana – hemat sini. Walau kadang -jujur- ketika semua harus dihemat, saya merasa.. kenapa jadi seperti pelit ya?? hehe.
Maka sayapun mulai menimbang-nimbang..

Di suatu malam, suami dan saya berserta anak-anak jalan keluar. Tadinya cuma mau cari angin saja. Tiba-tiba, teringat tuk mengajak anak-anak melihat tempat saya dan suami sesekali menghabiskan malam. Sebuah warung taman dengan life musik sederhana berharga mahasiswa. Kalau melihat perencanaan keuangan bulan ini, tentu itu tidak ada dalam budget. Tapi saya tetap ingin ke sana, saya bilang pada anak-anak dan suami, kita niatkan untuk tetap memutar roda kehidupan.
Pembelanjaan kita malam ini, semoga menjadi rezeki untuk orang lain.. minimal untuk yang bekerja di sana. Kita dapatkan suasana dan makanannya, mereka dapatkan rezekinya.

Begitupun ketika belanja di tukang sayur. Tukang sayur mengeluh, ibu-ibu semakin sedikit yang belanja. Sudahkah modalnya makin naik, yang beli makin dikit, begitu katanya -miris. Saya hanya bisa tersenyum, dengan jumlah belanjaan yang masih seperti biasa, walau tentu dengan harga yang naik hampir dua kali lipat..
Yup, saya tetap beli tahu dan tempe yang harganya sudah naik dua kali lipat dengan ukuran yang dikecilkan dan itu juga diada-adakan.. karena nyaris sulit ditemui dalam jumlah banyak.. saya tidak mengurangi belanja saya.
Saya tidak menyesali penghematan yang tidak memenuhi perencanaan keuangan yang sudah saya coret2 itu, kembali saya niatkan untuk membiarkan roda kehidupan ini tetap berputar..

Jujur, saya tidak tega..
Saya bersyukur punya suami yang berpenghasilan tetap, dengan standar yang selama ini baik, saya bersyukur masih bisa tetap membayar hutang2 kami, terutama hutang kredit rumah πŸ™‚ Saya bersyukur masih bisa menikmati pelayan kesehatan terbaik dengan jatah dari kantor suami, saya bersyukur masih bisa memberi makan dan gaji yang baik untuk pembantu di rumah walau masih di bawah UMR, saya bersyukur masih bisa menyekolahkan anak di sekolah yang memenuhi standar pendidikan pada umumnya.. bahkan saya bersyukur masih bisa internetan di sini.. πŸ˜‰

Maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak turut memutar roda kehidupan di bawah sana yang mulai tersendat dan bahkan mulai anjlok rodanya..
Saya memang bukan pengusaha yang bisa memutar roda mereka dengan signifikan, saya hanya ibu rumah tangga,.
Saya juga bukan sinterklaus, yang bisa bagi-bagi hadiah setiap hari..
tapi setidaknya.. saya tidak turut menghentikan laju roda kehidupan ini..
Biarlah berputar walau lambat lagi berat.. asal jangan berhenti..

Saya menyakini jumlah rezeki itu sudah diatur tuhan, hanya cara perolehannya yang harus diusahakan manusia.
Jadi saya tidak merasa harus khawatir berlebihan, seperti yang mulai mendera banyak ibu rumah tangga. Beberapa dari mereka yang sudah mulai merumahkan pembantunya, karena alasan berat menggaji dan memberi makan. Dan mulai memilih menggunakan pembantu harian, dengan tidak mesti bertanggung jawab memberi makan, karena hitungan kerja yang hanya setengah hari.
Bahkan mulai banyak ibu-ibu yang mencari alternatif sumber keuangan tuk sokong penghasilan suami. Dari jualan ini-itu sampai jasa ini-itu.

Saya memang tidak memotret mereka yang kaya raya diatas sana, yang mungkin masih bisa bermewah-mewah ditengah kemiskinan yang semakin menusuk jantung rakyat kecil saat ini. Karena kebetulan saya pribadi bukan di golongan atas sana, saya hanya berada diantara mereka yang lemah dan mereka yang kuat itu. Maka saya masih bisa memotret roda kehidupan di bawah dengan jelas.
Memberi sekeping asa tuk mereka yang di bawah dan membuka wacana tuk mereka yang diatas.

Sering saya teringat, bukankah hidup ini bagai piramida?
Mereka yang lemah memang berada dibawah dan berjumlah lebih banyak dari yang diatas. Tapi bukankah keberadaan mereka yang dibawah itu jelas juga untuk menyokong mereka yang diatas?
Jangan mimpikan piramida itu terbalik, membesarkan jumlah yang diatas dan melupakan mereka yang dibawah.. pastinya, piramida itu tidak akan bisa berdiri tegak, malah ambruk.
Yang paling mungkin adalah meratakan semuanya.. menjadi bergaya sosialis..

Tapi sebagai manusia modern dengan sejarah bentuk kehidupan yang pernah terjadi, tentu bentuk sosialis tidak diingini banyak pihak. β€œFitroh” perbedaan juga tidak akan mendapatkan ruangnya.
Karenanya, kalau kita mau tetap dihargai, maka maulah turut menghargai perbedaan financial ini. Maulah tetap peduli.. Maulah tetap membuat piramida yang ideal dengan standar minimal pendapatan yang baik untuk mereka yang dibawah, agar sokongan mereka terhadap yang diatas juga menguat.
Bukan dengan melupakan dan menganggap mereka tidak ada, apalagi cuma memanfaatkan mereka.

Saya bukan pakar ekonomi,
ngerti ekonomi juga hanya sebatas ngurus keuangan keluarga.
Tapi saya berharap, kita mempunyai kecerdasan emosional dan spiritual tuk masalah financial, terlebih tuk saat ini. istilahnya kerennya mah begitu πŸ™‚

Huh..!! tarik nafas nih..
Berat memang ya, bicara hari ini begini, belum tentu besok bisa konsisten begini..
di tengah sempit dan beratnya beban hidup yang mengitari seluruh aspek kehidupan kita..
Tapi ya sedikitnya.. bicara ini termasuk usaha lah..
Usaha untuk tetap membiarkan roda berputar..
ditengah jalan yang masih menanjak lagi berat di tahun ini..

semoga Allah membimbing dan merahmati kita melalui jalan menanjak lagi berat ini..
amin. Al fatihah..

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: