Tuhan yang Besar

Posted on Januari 31, 2008. Filed under: kisah menuju cahaya |

 (melanjutkan kisah nyata menuju cahaya)

Sahabat kecil bersama teman-teman senang mengoleksi buku. Semua buku dibaca, tak ada batasannya. Banyak buku tentang tokok-tokoh terkenal disukainya, sangat mengasyikkan mengenal dan mempelajari jalan hidup manusia tuk menjadi ternama dan berarti.
Menginspirasi dan mengajari banyak hal tentang perjuangan hidup.
Adalah sebuah buku menyusun tokoh-tokoh berdasarkan mau si penulis. Seratus orang tokoh disusun berdasarkan prestasinya dalam kehidupan, begitu kata penulisnya. Sahabat kecil membeli dan ingin mengetahuinya.

Pertama dibuka, dia yang disusunan pertama bernama Muhammad. Katanya seorang nabi dari Arab. Membawa ajaran bernama Islam, dengan kitab al-Qur’an. Dia menguasai hampir seluruh Jazirah Arab, sebagian Afrika sampai ke Eropa dengan Cordobanya yang terkenal dengan lautan ilmu.
Baru kali ini ada nabi menguasai sampai ke luar jazirahnya, membawakan dengan ilmu dan penuh pesan kebaikan. Tidak diulas lebih dalam, yang jelas nabi itu berhasil merubah dunia dan peradaban. Agama yang dibawanya adalah agama Islam, konon agama yang universal.

Agama Islam..,
seperti agama mayoritas kehidupan disini, begitu gumam sahabat kecil.

Tak hanya buku itu, di sebuah buku kecil yang memuat kisah-kisah teladan, ada sebuah kisah yang sangat disukai sahabat. Kisah seseorang Arab bernama Umar, salah seorang sahabat Muhammad – si nabi dari Arab.
Ketika Umar berkuasa menjadi pemimpin, Umar gemar menyamar dan berkeliling kota, mengawasi kehidupan rakyatnya. Suatu malam, terdapatlah seorang ibu tua yang sedang menangis sambil menanak batu. Ketika anaknya bertanya kepada ibunya mengapa menanak batu, ibu tua itu menyesali Umar sang pemimpin, yang tidak melihat pederitaannya. Dan kebetulan sekali, Umar lewat di dekat situ. Sambil menangis, Umar pulang mengambilkan gandum dari rumahnya dan memberikannya kepada ibu tua itu dengan dipanggul di punggungnya sendiri. Umar melakukan itu karena takut pada Allah tuhannya, yang maha mengetahui dan maha melihat.

Bagi sahabat kecil, itulah kisah terindah dari seorang yang Islam, yang menggugah hatinya. Sahabat sang nabi itu begitu santun dan baiknya. Lebih takut kepada Allah tuhannya dari manusia manapun. Bahkan seorang ibu tua pun dilayani karena takut pada tuhan.
Sosok si miskin yang malah sangat dilupakan di masa sekarang.
Sahabat sering mendengar kisah kebaikan nabi, tapi kisah ini kisah sahabatnya nabi.
Jika sahabatnya saja begitu, bagaimana hebatnya sang nabi ya?

Sahabat juga memiliki dua teman karib sejak kecil, bak satu jiwa mereka bermain bersama. Tidak lihat suku, agama atau kedudukan sosial ekonomi. Mereka bertiga bisa mewakili kelompok yang berbeda dalam masyarakat. Mereka memang berbeda-beda. Tapi semua seolah menyatu, satu rasa satu jiwa. Sesekali berbeda itu biasa tapi tidak pernah terjangkit permusuhan atau kesalahpahaman. Mereka membicarakan suka dan duka, termasuk mengerjakan tugas bersama. Bahkan berjanji untuk tetap bersahabat hingga tua usia menghampiri.
Indah dan bahagia, itulah rasanya manakala persahabatan dapat mengisi jiwa dan raga. Ketika semua orangtua semakin sibuk dengan diri mereka, sahabat mengisi dengan bersama belajar mengarungi hidup, saling menuntun, saling mengoreksi juga saling berbagi.

Terbayang betapa bahagianya sang nabi, punya sahabat sebaik itu. Mengamalkan ajaran tuhan sampai begitu santunnya. Padahal dimana-mana, penguasa cenderung minta dilayani dan terus dipenuhi maunya. Bagaimana bisa menjadi begitu ya?
Pengaruh tuhannya pasti sangat besar, sehingga bisa membuat seorang penguasa bisa sedemikian baiknya pada rakyat kecil. Mengantarkan sendiri gandum untuk rakyatnya.

Apa yang diajarkan sang nabi? Mengapa tuhannya begitu besar?

Dalam mayoritas yang ada di keseharian, sahabat kecil dapat melihat betapa penganut agama dengan tuhan yang besar ini menguasai minoritas, membungkam dan nyaris tak memberi ruang, selain kesalahan demi kesalahan yang ditimpakan kepada minoritas, seperti kambing hitam, tak mampu membela diri.
Begitukah Tuhan yang besar itu mengajarkan kebesarannya?
Sahabat kecil tak dapat menjawabnya, tapi perlahan mulai melangkah mencari jawabnya.

Dalam sebuah bacaan sederhana dari kisah-kisah teladan itu, dikatakan tiada tuhan selain Allah adalah karena tuhan seharusnya satu. Tidak beranak dan diperanakan. Kasat dan jelas, sangat mengoreksi tuhan yang sahabat kecil pertanyakan. Dan sejak dulu, sahabat kecil telah diam-diam menolak perumpamaan itu dari logikanya, karena tak dapat merasakan kehangatan tuhan dalam realita perumpamaan itu.
Dalam keterbatasan, perumpamaan seperti itu membuat tuhan memang terasa jauh dari hati, sejauh orangtua dari hati karena konflik pribadi yang berkepanjangan.
Minimal untuk sahabat sendiri, entah mengapa?

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: