Seperti mimpi tengah hari

Posted on Februari 3, 2008. Filed under: 1 |

Hari berganti, tahun berlalu, sahabat kini jauh dari rumah menuntut ilmu di kota yang sejuk udaranya, untuk mengejar cita-cita bersama beberapa teman dari kampung halamannya. Kota yang indah, teman-teman yang lucu. Kost disebuah paviliun, asyik dan belajar mandiri. Setiap pagi berangkat sekolah dengan berjalan kaki melewati pepohonan yang rimbun di belakang lapangan sepak yang terkenal di kota sejuk itu. Menuju sekolah menengah atas di sebuah bangunan yang dibelah untuk dua sekolah didalamnya. Seru berkenalan dan berteman dengan yang lucu-lucu, yang berbahasa daerah sangat kental, dan menikmati kemandirian perantauan khas anak kost. Dengan pesan-pean konservatif ala orangtua di kampung, maka sahabat melalui kehidupan kost yang santun dan pingitan. Telpon terus menerus berdering dari kampung halaman untuk selalu mengawasi dari jauh semua aktivitasnya. Maklum zaman dulu, anak gadis yang jauh dari orangtua harus diwanti-wanti untuk pandai menjaga diri, kehormatan dan pergaulannya. Malam tidak boleh keluar rumah, minggu sebaiknya bebenah, dan hari-hari biasa sebaiknya rajin sekolah dan belajar di tempat kost. Tempat kostnya pun dari seorang yang seagama dengan sahabat. Semua demi kemudahan.
Sahabat memilih menurut saja, mendahulukan cita-cita, walau sesekali bermain, itupun dengan teman-teman sekampung yang juga merantau di sana.

Menjelang persiapan kelulusan sekolah, disuatu malam yang terasa pekat dan dingin, sahabat bermimpi.Entah dimana, semua terasa gelap, menakutkan. Berlari ke sana kemari, terbentur suatu yang gelap dan keras. Aaaaaaargh, berteriak pun rasanya tak ada suara yang terdengar. Makin lama makin letih, dan gelap makin menghimpit. Toloooong. Tak ada suara, apalagi yang mendengarkan. Gelap, pekat dan menakutkan, lalu tiba-tiba sahabat mengucapkan kata-kata seperti doa, dengan suara dan kata-kata yang tak dikenalnya. Dan tiba-tiba..blaaaaast. Cahaya putih yang terang, menyilaukan seluruh pandang, nyaris tak ada hitam sedikitpun, semua cahaya putih tak berbatas.
Sahabat terbangun dengan keringat dan nafas ngos-ngosan. Lalu perlahan terdengar suara dari masjid tanda untuk orang Islam, waktunya bersembahyang.
Sahabat masih terengah-engah, jantung masih berdebar-debar, seperti letih habis berlari tiga putaran lapangan sepak bola.

Sepanjang jalan menuju sekolah pagi itu, sahabat berpikir tentang mimpinya. Apa sih itu tadi? Tapi tidak juga bisa menjawab. Sampai sekolah, bertemu teman karib di kelasnya saat itu, entah kenapa, kata-kata pertama yang keluar dari mulut sahabat adalah,
“saya mau masuk Islam”.
Sontak temannya kaget dan mengguncang-guncang bahu sahabat, “kamu sudah gila?”

Gila?
Ya, itu memang pikiran paling gila yang ada dalam kepala. Masuk Islam!
Waktu itu teman sahabat, mencarikan informasi bagaimana mungkin cara masuk Islam. Sahabat berniat masuk Islam diam-diam. Hanya satu teman kelasnya dan satu teman sekampung yang mengetahui rencana ini. Terdapatlah dua cara yang ditawarkan, masuk Islam di seorang da’i di sebuah pesantren di utara kota sejuk atau masuk Islam di masjid.
Ada sebuah masjid yang mengeluarkan sertifikat masuk Islam untuk mereka yang berislam di sana. Sahabat tertarik dengan sertifikat, bukti resmi masuk Islam, legal. Mengingat sangat ingin merahasiakan keislaman dan akan dibuka jika keadaan sudah memungkinkan, maka dengan sertifikat, itu bisa jadi bukti otentik. Yup, begitulah rencana.

Minggu cerah, ditemani dua temannya, sahabat datang ke masjid. Dipertemukan dengan seorang pengurus masjid, sahabat ditanya-tanya tentang alasan masuk Islam. Sulit untuk diceritakan alasan yang terlalu panjang, intinya sahabat menerima tauhid dan menolak tuhan yang tidak satu.

Pengurus masjid bertanya pada sahabat, tahukah perang teluk?
Perang Teluk??
Ketika itu terjadi perang di teluk timur tengah sana, antara Iran dan Irak. Mungkin alasan perang tidak sesederhana yang diduga orang, bagaimanapun hal ihwal sebuah perang pastinya melalui banyak kegagalan upaya berdamai. Dan yang berperang disana adalah orang Islam. Tahukah orang Islam suka berperang?
Sahabat bingung…, apa??

Pengurus masjid bertanya lagi pada sahabat, tahukah poligami?
Poligami??
Poligami itu tentang suami yang beristri banyak, dalam Islam ada poligami walau tentunya ada latar belakang dan dalil-dalil tentang itu. Tahukah kalau orang Islam memperkenankan poligami?
Sahabat makin bingung dan mual…, apa??

Pengurus masjid itu berkata, bahwa memilih islam bukan tanpa resiko. Islam mengalami tuduhan sendiri dari banyak pihak diluar Islam, yang mungkin mereka kurang mengenal dan mungkin juga karena permusuhan. Juga tidak mustahil karena memang begitulah kesan yang ditangkap orang lain tentang Islam,

“siapkah kamu, nak??”
ah, mengapa untuk tuhan yang besar harus mengalami kebingungan ini? Bukankah sederhana ajarannya? Bahwa tuhan satu, tidak beranak dan diperanakkan??
Sahabat tidak mampu menjawab pertanyaan pengurus masjid itu, selain..

“saya ingin masuk Islam, itu saja. tolong Islamkan saya. Bisakah?”
Janjipun dibuat, senin siang, sepulang sekolah, ditunggu di masjid.

Sahabat pulang dengan resah, semalaman kebingungan. Apa itu perang teluk? Apa itu poligami? Mengapa ada kesan menyeramkan dari agama itu? Tiba-tiba sahabat menyadari banyak hal yang belum diketahui tentang agama baru yang akan dipeluknya.
Haruskah diundurkan niat ini sampai semua hal diketahui?
Semalaman sahabat berteman diam, berpikir dan berpikir, timbang dan menimbang, sampai kepalanya panas karena itu.

Tuhan, beri waktu untuk tidur dong…

agar besok semua menjadi lebih baik..

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: