ruang terbuka dan keluarga berencana

Posted on Februari 6, 2008. Filed under: coretan |

(sekedar intermezzo yangingin saya bagi di sini)

kemarin, saya pergi hunting buku..
biasa, by angkot..

sepanjang jalan pajdjajaran bogor, banyak penjual tanaman hias.
lalu ketika angkot berhenti di lampu merah dan berhenti cukup lama..
saya tertegun oleh pemandangan di depan saya..
kebetulan saya duduk di belakang supir dan menghadap pintu masuk angkot yang terbuka lebar.

disana, ada dua anak penjual tanaman sedang bermain, di sisa trotoar jalan yang sudah penuh dengan tanaman hias. agak kepinggir jalan banget.
lalu kayu mainannya jatuh ke jalan, wushh.. hampir saja disamber motor yang lewat.
sang ibu berteriak, dan mengambil ke dua anaknya..
lalu membawa mereka masuk bedeng kecil di samping dagangan, ternyata si ibu sedang memasak di sana.

ini bukan masalah “keberuntungan”..
mereka tentu sudah sangat beruntung bisa hidup dan makan di sana..
masih sehat dan punya anak, sambil tetap bisa menjual tanaman hias..

ini sesungguhnya adalah masalah “kepedulian”..
kalau kita peduli masalah kependudukan dan masalah ruang hidup
tentu kita akan menata kelahiran dan memperhitungkan ruang tuk kelahiran2 berikutnya
.. agar kehidupan tidak empet-empetan kaya sekarang ini..
kalau kita peduli masalah ruang tinggal dan ruang terbuka..
tentu kita akan menata area manusia berdiam atau beraktivitas dan berbagi ruang terbuka tuk bertemu atau bermain bersama..
.. agar kehidupan tidak hanya asal ada dan seadanya seperti saat ini..

anehnya,
manusia pada umumnya malah ga peduli pada kepedulian itu..
disuruh ngatur saja, ga mau..
apalagi mau di atur??

lah, iya toh?? agama menjadikan manusia khalifah.. pemimpin..
bahkan dikatakan setiap diri adalah pemimpin..
keren kan..? disuruh jadi pemimpin..
eee…, manusia malah ga pada mau memimpin dengan sungguh-sungguh..
maka, gimana kalau manusia disuruh jadi budak oleh agama??
tapi nyatanya nih..
manusia itu malah jadi budak.. tanpa disadarinya..
bukan budak agama.. tapi budak nafsu..

kunci semua ini ada di “manusia”-nya..
kalau masih saja ‘bodoh’.. maksudnya bodoh lahir batin, ya begini..
maka kudu di didik manusia itu, lahir dan batin tuk bisa memimpin..
ga bisa memimpin orang lain, minimal bisa memimpin diri sendiri..

istilahnya,
kalau manusia itu ga bisa dididik untuk berbuat baik,
setidaknya dididik jangan merugikan orang lain..

maka, mulailah dengan menata kehidupan sendiri dengan setidaknya “berencana”
dan mau berbagi “ruang terbuka” tuk bersama-sama yang lainnya..
bukan malah “tidak terencana” dan “berebut ruang” dengan yang lainnya..
gitu ga sih??

ini baru terkait dengan masalah hidup di lingkungan,
belum yang terkait dengan masalah lingkungan hidup itu sendiri, loh.. hehe..
teuing ah..

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: