kenapa ya dunia pendidikan kita acak-acakan?

Posted on Februari 22, 2008. Filed under: 1 |

(maaf, saya masih mau bicara tentang pendidikan kita, bagaimana dengan ini?)

kalau saya boleh mereview..
sebagai anak yang pernah sekolah di tahun 80an, rasanya ga ada yang aneh dengan pendidikan kita saat itu. malah semua kalangan semangat sekolah dengan program wajib belajar 9 tahun tea. dan sebagai anak yang pernah sekolah di sekolah swasta katolik dan di sekolah negeri, rasanya juga tidak ada yang berbeda sekali diantara keduanya. pelajaran dsbnya sama, hanya mungkin di pembiasaan2nya yang berbeda..

dan jujur, setelah saya pikir-pikir, masalah yang kini terjadi hanya karena ada pihak-pihak tertentu yang tidak terakomodasi oleh pendidikan saat itu, dan itu memang ada juga nyata. Ada pihak-pihak yang terlalu cepat dan terlalu lambat tuk mengikuti pendidikan tsb. mereka yang sekarang kita kenal dengan istilah anak-anak dengan kebutuhan khusus.. baik itu kebutuhan khusus akselerasi maupun kebutuhan khusus minus.
sementara untuk kebutuhan ketenagakerjaan di usia dini, dulu sudah ada sekolah kejuruan, baik itu smea, stm, smk2 beraneka ragam dari keperawatan, kehutanan dst dst..

duluuu, yang pernah diupayakan pemerintah sebagai otoritas tuk mengakomodasi kebutuhan khusus itu sepertinya hanya pengembangkan kurikulum. maka kita kemudian kenal kurikulum cbsa dsbnya. tapi karena dirasa tidak juga cukup, maka pihak-pihak yang membutuhkan pembedaan tsb terus menguat dan melahirkan bentukan-bentukan baru dalam pendidikan.

belum lagi pendidikan kita juga terkena trend politik yang terus berkembang. sebut saja ketika pemerintah melirik potensi islam, maka dirasa perlu sekolah2 berwawasan islam. padahal kalau jujur kita lihat dengan teliti, penyelenggara pendidikan bernafas islam juga sudah banyak sebelumnya, sebut saja pesantren2. dan tidak cukup sampai di situ, sekolah-sekolah berkebutuhan khususpun mengambil segmen keagamaan, seperti pendidikan islam tuk anak autis, tuna netra dll.

perbedaan bukan dihilangkan malah diperkuat dan masuk ke setiap lini.. dan sendi..

intinya kan pendidikan umum itu seharusnya tetap umum, dan memiliki ruang toleransinya -berapa skala- untuk setiap jenjangnya. artinya.. jika terdapat perbedaan kebutuhan dan masih dalam toleransi, anak tetap harus mau terakomodasi di situ. toh, kalau kita jujur, orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus itu sebetulnya tidak banyak.

bukan malah dengan terus menerus mengikuti kebutuhan yang berbeda-beda dan -terus terang- ya akan terus berbeda-beda.. dan sampai kiamat, juga akan terus beda aja.
maka disini perlu tuk membuat kerangka, membuat batasan-batasan dan menerapkan toleransi-toleransinya. beragama juga gitu deh, ga bisa diikuti terus potensi beda yang banyak ini, harus mau dikelompokan secara luas..

dan gilanya nih, kita juga terpanasi oleh pendidikan model-model asing, wah makin runyam dan acak-acakan deh. steve jobs tiba-tiba mau diproduksi secara masal. anak hafiz qur’an juga mau diproduksi secara masal.. ya ga bisa dong..
wong pendidikan model asing yang terlihat sukses itu juga lahir melalui proses panjang di negaranya dan sesuai karakter bangsanya.

kembali,
pendidikan itu tetap akan memiliki polanya tersendiri yang tidak terlepas dari sifat manusia sebagai obyek didikannya. disini pendidikan memang memainkan fungsi benar-benar tuk mendidik manusia agar memiliki kecerdasan2 dasar, memiliki basic referensi, juga ketrampilan-ketrampilan dasar tuk kemudian masuk ke dalam spesifikasi yang dimintati.
artinya dari TK, SD, SMP, SMA, S1, S2 dan S3 itu polanya berjenjang dan saling mendukung, saling terkait juga tidak bisa ditiadakan satu diantara lainnya jika memang ingin sampai pada level pendidikan tertinggi itu..

ini terlepas bahwa setelah S1 kita sudah bisa bekerja loh.., toh ke depan saya melihat kebutuhan S1 ini akan dirasa tidak cukup memadai lagi, maka akan diperlukan S2 atau master yang lebih banyak, walau mungkin tidak untuk kebutuhan S3 yang memang akan tetap tidak akan terlalu banyak..
ini juga terlepas dari kemungkinan2 seperti putus pendidikan di tengah jalan sehingga perlu kursus2 ketrampilan praktis tuk mentas di masyarakat atau yang memang menginginkan sekolah2 kejuruan..

maka di sini, saya menjadi tidak setuju kalau pendidikan dijadikan hanya alat untuk memecahkan masalah ketenagakerjaan.. ini berbeda walau masih terkait.
sederhananya, pendidikan tetap harus bisa mewarisi keilmuan.. ga sekedar untuk kerja.

nah, sekarang gimana?
menurut saya, ya kembalilah menata pendidikan nasional kita ini sesuai tempatnya.. kembalikan sesuai tempat dan haknya. jangan berlebihan-lebihan teruslah.. kasihan anak cucu kita..
solusi-solusi seperti program khusus akselerasi, atau sekolah kejuruan, atau sekolah berkebutuhan khusus untuk mereka yang minus juga tetap di selenggarakan. anak-anak harus tetap cerdas dan dicerdaskan. kemudian pendidikan keagamaan tempatkan lagi di tempatnya.

akhirnya, pendidikan umum itu memang akan dan harus bersifat balance, seimbang saja tuk semua jenis basic keilmuan yang diberikan.
kemudian jika masih kecil, si anak butuh pembiasaan sholat dan ngaji, itu bisa dirumah atau tpa2. butuh musik dan lain-lain, ada kursus2. sementara jika sudah besar nanti ingin hal-hal yang lebih diminati dan ditekuni sebagai profesi ya masuklah universitas sesuai minat dan bakatnya. tapi secara umum, basic referensi dsbnya tuk bahkan mengambil dan mengikuti pendidikan sesuai minatnya pun, sudah memadai..

ke depan, otoritas, institusi dan iklim keseluruhan harus menunjang dan membantu tuk terakomodasinya para lulusan ini mentas di masyarakat, baik itu dengan bekerja di bidang profesional atau tetap membaktikan diri di keilmuannya itu..

inilah namanya mencintai anak dan mengikuti kecintaan anak menurut saya..
tuhan saja masih mau terus mengatur dan membatasi kita, ga selalu menuruti mau kita kan?? artinya kebebasan itu harus disertai tanggunjawab, dan kemerdekaan itu terpimpin..
di sekolah anak-anak belajar ini.. dalam bentuk basic keilmuan yang seimbang tuk kemudian masuk ke jenjang specialisasi sesuai minat dan bakatnya.. menjadikannya merdeka dan bertanggungjawab dengan profesi dan keilmuannya.

indonesia ternyata pernah merumuskan ini dengan baik jauh sebelum kita lahir loh, tapi memang butuh kematangan tuk mewujudkannya..
maka mari kita belajar membumikannya.
hidup indonesia.. merdeka!!

maaf, ini intinya.
tapi saat ini, seperti banyak di media dan sekitar kita, kita justru disibukkan oleh efek dari masalah pendidikan, seperti kurangnya gaji guru, gedung yang hancur dsbnya. artinya, kalau saja kita senantiasa mensupport pendidikan nasional kita, tentu kita bisa turut menyelesaikan masalah efek domino dari berantakannya dunia pendidikan kita. sekali lagi, memang tidak dengan ditinggalkan dan semakin di tinggalkan.. dan ini memang masalah kepedulian, kalau sekedar berpikir tuk diri sendiri, tentu kita tinggal cari yang kita mau saja.
dan saya juga tidak sedang mengoreksi kebijakan otoritas, yang makin bikin ini acak-acakan..

gitu ga sih??

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “kenapa ya dunia pendidikan kita acak-acakan?”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

salam kenal aja

yap, satuju..sekolah kita memang lebih mirip dengan “pabrik tenaga kerja” bukan mendidik “manusia” untuk jadi “manusia”…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: