humaniora (1)

Posted on Februari 24, 2008. Filed under: 1 |

(maaf, diskusi ini ada diantara saya dan teman-teman saya yang pinter-pinter plus kabanyakan alumni ITB. ini tidak mengeneral loh, tapi rasanya ada hal yang bermanfaat di balik diskusi ini. jadi tolong ambil saja hikmah di balik tulisan saya ini ya..)

masih menyoal pendidikan..

mari kita jujur, mengapa lelaki (include wanitanya) ITB suka disebut “the ice block”?
menurut saya itu karena ITB miskin humaniora..
dan bayangkan, jika tuk masuk ITB kudu melewati TK-SMA bahkan tambah bimbel, hehe.. yang notabene makan waktu lama, kita udah menghasilkan ITB yang miskin humaniora. maka, bagaimana jika pendidikan itu mau di padatkan lagi??
dimana humanioranya akan berkembang??

kita sadari deh, humaniora itu berkembang lewat pergaulan, lewat hal-hal kemanusiaan, lewat kejadian-kejadian dalam kebersamaan dengan manusia dsbnya..

jujur, UNPAD dsbnya yang kesannya ga teknikal juga banyak yang miskin humaniora, kok.. dalam arti juga jadi ga yang “enakeun” sebagai manusia, hehe. humaniora jangan dipahami hanya karena bidangnya itu menyangkut atau membahas manusia.
humaniora itu lebih dari sekedar itu..

maka itulah kenapa pendidikan itu memakan waktu, ga bisa “instant”. karena pendidikan ga sekedar kejar tayang kerja atau ilmu. tapi kudu kejar juga nilai-nilai humaniora, baik langsung di dalam proses belajarnya, maupun di sela-selanya.
contohnya, kebersamaan kita di PAS dan Maklumat ini juga membukakan diri kita tentang segala hal yang berbau humaniora.

artinya pendidikan itu memang untuk “memanusiakan” ilmu, bukan “mengilmukan” manusia. memanusiakan ilmu itu bermakna ilmu harus bisa dimanfaatkan sebanyak mungkin bagi kemanusiaan. bukan sebaliknya, manusia menjadi korban keilmuan. seperti jadi korban teknologi, seperti saat ini yang sering dijadikan alat oleh negara maju tuk menekan negara miskin.
o-o-…itu tidak benar.
manusia itu adalah subyeknya kehidupan ini, maka manusia akan tetap menjadi khalifah di muka bumi. tidak akan bisa digantikan fungsinya oleh robot sebagai hasil dari teknologi, apalagi “robot-robotan”, itu loh.. manusia yang nge-act kaya robot.

maka tidak ada alasan tuk merasa rendah diri oleh keterbelakangan teknologi. masih ada satu sisi yang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa diabaikan oleh kita, yakni humaniora. dan inilah kunci kebangkitan era baru ke depan. teknologi itu sudah disinyalir terlalu membahayakan manusia, memiliki banyak efek negatifnya, walau juga banyak positifnya. artinya sebagai “alat”, teknologi memerlukan manusia yang bijak, yang bisa mengoptimalkan kemanfaatannya..

disitulah, mengapa humaniora tidak bisa diabaikan.. apalagi dianggap tidak ada.

ini ga bermaksud menegaskan my nationalism is humanity dan bukan mau bilang basic islam adalah humanisme yaa. tapi di mana saja, humaniora itu di perlukan, even sekecil di dalam keluarga..

menilik humaniora ini ga bisa by design, karena ini bicara sisi-sisi atau hal-hal seputaran istilah manusiawi, tapi minimal ini bisa dimasukan ke dalam yang by design, yakni pendidikan. dalam hal ini, di waktu pendidikan itulah hal-hal humaniora itu bisa dilatih, dididik dan dibiasakan.

percaya ga, kalau jatuh cinta itu juga termasuk dalam hal-hal seputar humaniora? maka kalau ada pepatah jawa kuno, witing tresno jalaran soko kulino, itu ga salah dan super benar..
kita menjadi jatuh cinta secara “accident”, dalam “by design” di waktu menempuh pendidikan itu. ya ga??
hehe, seru kan humaniora itu??

jadi humaniora itulah yang membuat kita kaya..
kaya dengan “kekayaan” yang tidak tersentuh segala bentuk kontaminasi baik itu materi atau interest berdalih agama.. humaniora itu pure about ourself as a human
dan disitulah Tuhan terasa begitu baik dan indahnya.. menjembatani banyak hal dalam hidup.

tapi sayangnya nih, di pendidikan inilah hal-hal humaniora menjadi seperti dimatikan, contohnya -maaf- ketika saya di tarbiyah (angggerrrrr…) hahahahaha
duh, di edit yaaaa.. itu masa lalu kelabu buat saya.. ;P

ehm-ehm-ehm..

tapi sayangnya nih, di pendidikan inilah kadang hal-hal berbau humaniora itu malah menjadi seperti dimatikan, ya ditangan orang-orang yang tidak mengerti, tidak memahami dan bahkan menyepelekan hal-hal humaniora. terlalu mengedepankan aspek kognisi dan mengabaikan metode belajar sebagai media tuk humaniora berkembang…

intinya saya bicara humaniora secara universal loh, bukan semata humaniora dalam pengertian di kamus-kamus umum yang ada. kita boleh saja membaca banyak buku dan dan kamus ini-itu. tapi kita tetap harus mau menyadari adanya “pengertian berjalan” yang seperti “qur’an berjalan” itu..
artinya ada pengertian/pemahaman yang terbentuk tidak secara tekstual. kadang kata tak cukup tuk lukiskan rasanya. maka kita menjadi tidak bisa melulu leterlek dalam membahasakan banyak hal..
karena kita lebih banyak bicara dengan manusia, bukan dengan benda..

mari kita lanjutkan ke humaniora (2)..

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: