humaniora (2)

Posted on Februari 24, 2008. Filed under: 1 |

(masih melanjutkan masalah humaniora..)

humaniora memang tidak bisa by design, humaniora adalah sesuatu yang mengalir dan menemukan kesimpulannya sendiri. tapi sebagai sebuah hal yang tidak bisa dilepaskan dari manusia, maka humaniora bisa diselipi dalam yang by design bernama pendidikan, yang obyeknya juga manusia. seperti dinamika kelompok, kerja lapangan sampai kegiatan2 di organisasi2 pelajar. bahkan lebih rinci humaniora dibiasakan dalam pendidikan seperti belajar gagal, dimarahi guru, nurut guru, jadi juara, menej diri dan emosi, menej pertemanan, dsb-dsbnya..

ketika humaniora dalam dinamika pendidikan yang kemudian coba di rumuskan menjadi seperti yang biasa disebut metode aktif learning atau sebut saja melibatkan aspek kemanusiaan dalam pendidikan, ternyata sering melupakan pendidikan sebagai wadah keilmuan itu sendiri. pendidikan menjadi lebih mengutamakan hal-hal humaniora yang dirumuskan tadi. materi keilmuannya sendiri menjadi berkurang dan lebih mengutamakan pada metodenya. alasannya mengikuti kebiasaan dan kecintaan anak, sampai lahirlah home schooling hanya tuk mengikuti keterlenaan dalam hal humaniora ini, bukan sekedar untuk menyelesaikan masalah kebutuhan khusus. humaniora dalam pendidikan di trendkan. kedisiplinan disebut tidak manusiawi.. dan diberi alasan ilmiah bernama untuk kembangan kecerdasan emosional.

manusia itu memang susah, di lepas lari, di iket mati.. ;P
dan jujur, memang sulit tuk dapat keseimbangan.

padahal keseimbangan kecerdasan intelektual berupa basic dasar keilmuan dan kecedasan emosional dalam humaniora yang terarah, akan melahirkan kecerdasan spiritual. kalau diibaratkan ilmu itu batu timbangan, dia memang kaku dan keras. lalu obyek timbangannya adalah humaniora, yang hidup dan terus bergerak. nah, keseimbangan ini bernama spiritual.
hasilnya adalah manusia yang utuh, sama spiritnya dengan sang penciptanya.

salah kalau banyak pihak berpikir cerdas spiritual itu berkutat di persoalan “agama”. rajin sholat dan ngaji itu bukan cerdas spiritual, itu hanya efek dari spiritual. spiritual itu adalah sesuatu yang lebih dalam dari sekedar “agama”. dia spiritnya beragama, lebih tepat dia adalah spiritnya hidup. maka di rana spiritual kita tidak lagi tersekat bentuk, baik itu “agama” atau “kelompok”.

mengapa spiritual ini suka rancu dengan “agama”? karena sebagai spirit kehidupan tentu dia tidak lepas dari penciptanya, dan bicara penciptaan hidup maka bicara tuhan, bicara tuhan maka jalannya adalah agama. sederhananya karena (terutama di agama islam) manusia dibicarakan sesuai fitroh penciptaannya atau yang sering dikenal dengan kalimat basic islam adalah kemanusiaan, maka keseimbangan ilmu dan agama melahirkan spiritual.

apakah dengan begitu spiritual adalah akhir perjalanan manusia? tidak. ada titik akhir dari spiritual, dan itu adalah Dia sang pencipta itu. spiritual kalau bisa diibaratkan adalah “nafasNya” dan manusia dengan kecerdasan spiritual adalah manusia yang sesuai dengan “nafasNya”. manusia yang selaras tarikan dan hembusan nafasnya dengan semesta. bingung? ya sudah, tinggalkan dulu..

kembali ke pendidikan,
pendidikan yang baik seharusnya bisa meletakan dasar-dasar keseimbangan ilmu dan humaniora. kemudian di masyarakat ini semakin terasah dan teruji. mempertajam dan memperkuat. menghasilkan manusia-manusia dengan spiritual tinggi, yang mampu berkarya dengan keilmuannya dan menata dengan humanioranya. penuh tanggungjawab dan terpimpin..

inilah yang saya sering bilang dengan kemerdekaan dan kesetaraan yang bertanggungajwab pada tuhan. keseimbangan bernama spiritual inilah yang memungkinkan tanggungjawab pada tuhan itu terus-menerus, atau dalam bahasa agama ihsan senantiasa. karena sudah selaras jiwanya dengan semesta dan penciptaannya atau fitrohnya. bahkan kadang saya pikir, inilah “back to nature” itu sesungguhnya, bukan sekedar kembali ke penghijaun lingkungan. hehe, terlalu harfiah kali yaa..

demikianlah..
tubuh kita adalah lilinnya, humaniora adalah sumbunya, ilmu adalah cahayanya, spiritual adalah terangnya. kadang kita merasa begitu berilmu, tapi tidak mampu menerangi, karena kita melupakan humaniora sebagai sumbunya. sebaliknya kadang kita terlalu manusiawi tapi melupakan keilmuan, seperti punya sumbu tapi tak ada cahayanya, tetap tidak menerangi. atau kadang kita merasa berilmu dan sangat humaniora, tapi kita beruzlah memilih menyendiri dan menjauhi kehidupan dunia, maka kita seperti sumbu dan api tanpa lilinnya, ga juga bisa menerangi.

kesemua itu memerlukan keseimbangan, agar terangnya kuat, mampu menyinari sekitar terus menerus dan menjadikan kegelapan perlahan sirna. bukan yang sejenak terang lalu padam, dan sejenak terang lalu padam.. (maaf) seperti agym contohnya.

terakhir…
satu lilin setara terang seratus (100) watt, tentu tidak berarti di banding seribu (1000) lilin meski masing–masing hanya satu (1) watt. karena 1000 watt bersama-sama lebih terang dari 100 watt sendirian.

mari, tuk tetap belajar bersama-sama.. siapapun dan apapun kenyataan kita..

ini menurut pemikiran saya,
maaf, kalau salah..
dan.. bagaimana dengan anda??

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: