Islam dan anomali air

Posted on April 9, 2008. Filed under: 1 |

e, maaf yaa buat semua yang suka ke blog ini..
semoga tidak bosan dengan saya nih….
karena saya hobbinya mengoreksi umat islam saja..

ehmmm, saya sudah pernah melawan non muslim, yakni keluarga sendiri.
maka, sebenarnya mudah saja bagi saya turun ke jalan dan ikutan melawan non muslim yang lain, apalagi seperti soal si wilder tea..
tapi sepertinya, saya melihat fenomena “anomali air” pada umat islam..

ini saya kutip definisi anomali dari pelajaran fisika anak yang mau umptn..
Pada umumnya suatu benda akan memuai (volume benda bertambah) jika dipanaskan? sedangkan massa benda tetap. Tetapi air pada daerah tertentu (antara 0-4 derajat C) memiliki keanehan pemuaian disebut ANOMALI AIR.

nah, saya merasa umat islami tuh memiliki “anomali”nya..
artinya, umat islam bisa-bisanya memiliki kondisi tetap “nyaman” di realitas umat islam yang -sejujurnya sebut saja- buruk seperti saat ini.
sangat aneh kan??
contoh : adegan nyaman berupa demo bakaran-bakaran terhadap film wilder di kondisi kemiskinan tepat disampingnya. atau pertemuan mau menuntut segala ke mahkamah internasional, padahal bangsa ini sendiri tengah ngos-ngosan dan udah pakai kayu bakar segala.
itu aneh banget kan??

dan karena penduduk indonesia itu mayoritas beragama islam ya wajar saja, kalau anomali ini terlihat jelas juga di masyarakat indonesia. ga cuma di soal wilder loh,
contohnya lagi, seperti banyaknya yang naik haji di tengah krisis bangsa gini..
atau pejabat yang nonton bareng AAC di tengah rakyatnya yang gizi buruk dstnya..

maka, perlu “pemanasan yang konsisten” agar air itu bisa melewati suhu 4 derajatnya dan siap untuk memuai..
melewati anomalinya tuk kemudian matang dan bermanfaat.
ya ga??

hehehe,
jadi, saya nih ya memilih tuk memanas-manasi umat islam -termasuk diri saya sendiri- secara terus menerus agar bisa melewati suhu 4 derajatnya itu..
sederhananya gitu deh..
loh, biar kalau perlu saya turun ke jalan itu ga jadi sia-sia..
abis, ngapain juga turun ke jalan?
sementara umat islam ternyata lebih butuh makan dan bukan butuh demo.. apalagi makamah internasional.. hehehe..
ya ga??

nah, menjadi pertanyaan:
apakah umat islam indonesia sudah melewati suhu 4 derajatnya itu?
sudah melewati anomalinya itu?
ini kudu di jawab jujur, agar saya ga perlu lagi memanas-manasi dari kaca mata saya.. hihihi. wong sejujurnya siapa juga yang mau jadi relawan kompor gini… ;P
dan kalau berkaca dari kasus wilder itu sih, – jika kita sikapi kasus itu semacam test water gitu- kayanya menunjukkan masih belum melewati anomalinya yaa..
gitu ga sih??

seorang teman pernah bertanya pada saya ketika saya kompori dia tuk hal lain. hal berbau bisnis. katanya, – ibu anis ini kompor dengan bahan bakar apa sih? pertamax, premium, aftur atau apa??
hehehe, saya jawab saja, kalau bahan bakar saya adalah magma bumi. semua yang dia sebutkan itu hanya turunannya, masih tidak ada apa-apanya.. hehehe ;P
dan sebagai kompor, kalau airnya sudah matang dan bermanfaat banyak, ya kompornya tinggal dimatikan dan ditinggalkan. bagi saya itu tidak masalah..

maka yuk, kita matang dan bermanfaat..

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

11 Tanggapan to “Islam dan anomali air”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

yuk… ntar kalo sudah matang jauh lebih nikmat ketimbang masih mentah… 🙂

mbak anis, bangsa ini gak bgitu ngos ngos-an kok, kita dalam rangka merubah diri, insya allah akan terus ke arah yang membaik..sayang media tidak mendukung optimisme negeri..banyak juga calo-calo politik yang cari muka buat pemilu
heheeh..

@ alief
betul, maka ayo matang bersama.. ;P

@ rajawalimuda,
ehmm, sebetulnya bangsa indonesia ini hebat loh. ga ada rotan, akar pun jadi. ga ada beras, makan ubi juga oke. ga ada nasi pulen, nasi akingpun jadi. ga ada yang dimakan, puasa juga boleh. ga ada yang asli, yang palsu pun jadi. terus begituuuu..
jadi “ketahanan” (baca : kesabaran) bangsa ini sebetulnya hebat, tinggal pemerintahnya saja nih yang kudu tulus pada rakyat yang sekuat ini.. ya ga??
kadang saya merasa, kok tega ya elite2 yang membohongi rakyat sebaik ini?? hiks..

kalo menurut saya sih mari sama sama berubah, buat negeri ini,jangan cuma tiap detik nyari kambing hitam, apa koruptor,elit pemerintah, atau yang lainnya, tapi setiap hari kita gak menghasilkan hal apapun yang positif,dari yang simpel simpel aja, kurangin buang sampah plastik, kurangin bakar BBM, dll.Kayaknya sekarang bangsa kita agak aneh beda ama jaman dulu mbak,sekarang pengen gampangnya saja, mau harga harga turun, tapi konsumsinya masih daging sama beras,ya kalo harganya mahal ya mbok diganti sama yang lain, gitu lho..
menurut saya sih kita mesti mengurangi menyalahkan orang lain, sebelum bisa menyalahkan diri sendiri.

hehehe..menurut saya lho…

Islam normal-normal aja ah. Memuai dan kemudian meregang serta mengeliat karena dipanas-panasin oleh struktur pemikiran kaya wilder itu……Perjuangan Islam jadi lebih berat memang, selain memperjuangkan secara fungsional di arus bawah yang masih banyak miskinnya (materi maupun pikiran) tapi juga memperjuangkan kepentingannya melalui perubahan struktur pemikiran, politik dan ekonomi yang secara global harus diakui tidak selalu berpihak pada Islam lho..!

@ rajawalimuda
begini, sebetulnya banyak kok komponen dari bangsa ini yang selalu dan selalu berusaha secara personal dan kelompok tuk perbaikan kondisi saat ini, tentu dalam kapasitasnya masing-masing. seperti jika kita melakukannya di rumah dan sekitar kita. tapi usaha ini tuh seringkali mati dan mandeg, karena sudah menjadi fakta jelas, bahwa kondisi memprihatinkan ini memang sudah menjadi ruangnya kebijakan struktural.
dan karena ini masuk dalam kebijakan struktural maka kitapun harus mau melihat ini secara luas, jangan melulu melihatnya dari kepentingan diri sendiri atau kepentingan kelompok saja..
gitu ga sih??
maka thema perjuangannya harus bisa memberdayakan kebersamaan..
so far saya merasa, pancasila adalah rumah kita bersama..
basic kesadaran ini akan menentukan langkah-langkah kita kedepannya loh, temasuk langkah untuk memperbaiki ini secara luas..
atau lagi-lagi, kita hanya akan muter-muter mulu di sini.
gimana?

@aombandung
saya melihat justru disitulah tantangan buat umat islam, untuk bisa membahasakan dirinya lebih luas..
tidak harus afdhol berbahasa arab misalnya, atau tidak harus semua berjilbab misalnya, dst-dstnya termasuk tidak harus merasa kebaikan hanya datang dari segala yang berbau islam..
hehehe, harus mau bermain lebih luas dan disini “esensi”lah yang harus dikedepankan. maka kemudian, umat islam ya juga harus pandai melihat esensi dari setiap permasalahan.. jangan melulu mengedepankan jubah islamnya.
gimana kang aom?

Saya setuju, bahwa esensilah yang harus dikedepankan. Dan yang dimaksud dengan “esensi” menurut saya adalah bahwa kita “tidak hanya sekedar” menerima dan pasrah pada “nasib”. termasuk cukup hanya sekedar bisa bahasa alqur’an (bhs arab), bersorban, berjilbab. Menguasasi bahasa alqur’an, sorban, jilbab hanya sekedar simbol keislaman. Perjuangan islam memerangi kedholiman dengan kelembutan bukan tidak pernah dilakukan lho..dan selama ini kita memang selalu berjuang dengan kelembutan, Tapi bisa jadi beberapa muslim tidak sabar dengan perjuangan kelembutan yang selama beratus tahun kita selalu gunakan.

Cool 😎

Kemarin saya berbincang-bincang dengan seorang ustadz yang sedang melancarkan program membaca Al Qur’an agar umat melek Al Qur’an .. tidak saja sekedar dibaca tapi juga diamalkan. Karena seluruh tuntunan hidup ada didalamnya.

Kemudian, ada beberapa teman muslim yang kemarin membantu orang-orang yang kelaparan. Saya kedua perbuatan baik ini tidak diliput oleh media. Sehingga seakan-akan islam hanya kerjanya demo mulu.

Bukankah hal ini sama dengan si anggota parlemen Belanda itu .. melihat Islam hanya tentang WTC, perang dan timur tengah. Mungkin akan menjadi balance, kalo kita sebagai umat muslim .. dapat melihat secara menyeluruh.

Mungkin untuk sementara begitu pendapat saya bu.

@ mas erander
saya ga bilang umat islam tidak melakukan banyak kebaikan loh..
hanya memang prosentase peliputan ini yang ga balance,dan -maaf- sepertinya masih single fighter.
saya kira islam harus mulai mau bergandengan tangan dengan siapa saja nih..
justru ini loh yang mulai harus diupayakan dan dibukakan pintunya,
toh indonesia ini bukan milik yang islam saja, meski mayoritas penduduknya islam.
gitu ga sih mas?

kyai saya digunung seorang pengusaha agribisnis yang lintas mahzab, lintas agama dan lintas batas. beliau berjuang memberdayakan masyarakat di sana, sehingga hilang ungkapan kyai harus dihidupi, justru kyai yang memberi hidup pada masyarakat. keren kan??

proses pematangan itu sendiri harus melalui pola yang benar dan sesuai dgn aturan 2 yg tdk menyimpang . bahkan diperlukan pembimbing yang dianya sudah mencapai lebih dari sekedar 4 derajat .
baru kita bisa menjadi umat yang kelihatan banyak tapi juga berisi.
gak sekedar islam kulit tapi juga mendalam
semua memang dumulai dari diri sendiri.
optimis harus selalu ada .

@agez
hmm…. sejatinya nurani bisa membimbing manusianya… sejatinya loh..
saya perhatikan bangsa indonesia, terlebih umat islamnya, masih tak berani menjadi dirinya sendiri. tak berani dan tak terlatih mendengarkan suara nuraninya sendiri. sehingga lagi-lagi hanya mengikuti segala di luar dirinya.. tak benar-benar sebagaimana jati dirinya gitu deh…

maka mungkin kita harus mulai berani jujur belajar mendengarkan nurani kita sendiri..
menemukan guru di dalam jiwa.
gitu ga sih mas agez?:D


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: