mengapa putih? (pilkada 2)

Posted on April 11, 2008. Filed under: Indonesiana |

lalu, saya ditanya begini..

Setuju mbak Anis,
Pertanyaannya, gimana mekanismenya supaya dapat pemimpin seperti itu.
Terus kalau mekanisme yang sudah ada dan legal, ternyata tidak/belum bisa
menyediakan pemimpin spt. itu, gimana ?
Apa nggak usah diganti pimpinannya, nggak usah ada pilihan pemimpin, dll
Atau nggak usah ada pemimpin ?

( dan saya menjawabnya seperti di bawah.. )

teman yang baik..
ini masalah “memilih”..
dimana di dalamnya termuat kesadaran akan siapa dan bagaimana calon yang ingin di pilih, yang sejujurnya pasti berdasarkan ekspektasi terhadap calon tersebut..

rakyat bukan tidak menginginkan pemimpin..
rakyat dimanapun menginginkan pemimpin dan kepemimpinan, itu logis.. fitroh malah..
tapi sesuai atau tidak pemimpin dan kepemimpinan itu terhadap kebutuhan rakyat, itu yang sangat dipertanyakan..

kalau negara – dalam hal ini parpol dsbnya- tidak mampu menyediakan pemimpin dan kepemimpinan yang sesuai dengan kesadaran dan ekspektasi sebagian besar rakyatnya, ya adalah wajar jika rakyat “memilih”.. untuk tidak memilih..

wajar kalau rakyat meninggalkan pemimpinnya, jika si pemimpin tidak mampu menyediakan regenerasi atas kepemimpinan negerinya. atau sebaliknya, rakyat akan menuntut siapapun pemimpinnya tuk penuhi semua kebutuhannya, tidak peduli si pemimpin ini mampu atau tidak..
yang terakhir ini loh sebenarnya yang ga kita inginkan..

rakyat, pemimpin dan kepemimpinan harus ada sinerginya..
maka menjadi tugas negara – dalam hal ini parpol dsbnya – tuk menyediakan pilihan tuk regenerasi kepemimpinan di negeri ini..
so far, pilihan di negeri ini, masih sangat kental dengan kepentingan pribadi dan kelompok. sebetulnya ini tuh sah – sah saja, setiap negara punya “rezim”nya.
hanya… tuk kondisi indonesia yang sudah morat marit ini, sadarilah kalau kekuatan rakyat sudah bergerak sendiri..
keluarnya opsi calon independen kemarin itukan indikasi kegagalan negara -dalam hal ini parpol dsbnya- tuk menyediakan pilihan yang sesuai kebutuhan rakyat.
indikasi kalau rakyat telah bergerak sendiri..

saya jadi berpikir, apa sih esensinya negara itu?
ada rakyat ada pemimpin.. ada massa ada kepemimpinan..
ideologi, ekonomi, dsbnya itu, adalah hal-hal berikut yang menyertainya.
nah, kalau pemimpin lemah, maka rakyatnya yang ambil alih..
sebaliknya kalau rakyat lemah, pemimpin yang bisa seenaknya. seperti soeharto dulu..
idealnya kan balance..

nah, demi balance inilah,
yang seharusnya semua pihak, terutama negara- termasuk parpol dsbnya itu- mengerti akan bagaimana kepemimpinan itu diselenggarakan.
ga ada arti pemimpin tanpa rakyat dan ga ada arti rakyat tanpa pemimpin..

golput yang menguat khususnya di indonesia.. (karena di negara lain, peminat pada pemilu itu memang sedikit, karena kekuatan rakyat sudah cenderung seimbang dengan pemerintah) ..cukup menunjukkan kegagalan indonesia dalam kepemimpinan.
rakyatnya sudah ga peduli dan mengambil sikap menyeimbangkan diri sendiri di antara kekuatan rakyat kebanyakan dan negara.
kedepan, kalau ini dibiarkan, ya menjadi seperti banyak negara lain, minat rakyat pada pemilu ga begitu kuat lagi..
tapi tuk indonesia, seharusnya belum ke sana kali yaa, karena kondisi indonesia saat ini masih butuh “kebersamaan dari banyak pihak”.

kesimpulan:
memilih itu adalah bagian dari kebebasan..
bagian dari kemerdekaan..
bagian dari kesadaran..
bukan sebuah paksaan..
dan bukan demi apa-apa atau siapa-siapa..
ya demi kepemimpinan dan demi rakyat itu sendiri..
bersikaplah kalau bangsa ini bangsa yang pinter, dan berhak memilih..
termasuk, berhak memilih : tuk tidak memilih..
hehehehe.. ;P

nah, buat : teman-teman ngeblog..
bagaimana dengan anda?
tidak apa-apa loh,
jika tidak setuju dengan saya yang memilih tuk golput..
mari kita belajar “dewasa” dalam beragama dan bernegara..
setuju?

salam,
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “mengapa putih? (pilkada 2)”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Bagi saya golput itu bukan gak milih mbak anis,golput itu orang gak punya golongan, gak memihak, ketika masuk masa kampanye gak ada prejudice sebelumnya, supaya bisa memilih dengan baik.Pemilu tahun kemarin saya juga begitu sampai bilik pemilih,baru mantap memilih. prosesnya panjang, kalau tidak mantap saya tidak akan coblos. gampang saja. Jadi keputusan tidak memilih itu setelah kita dengarkan semuanya, dengan sebersih2nya telinga (pake cotton bud dulu, heheeh).

tapi menurut saya ya itu masalah mendefinisikan, semua itu pilihan, mau tidak sama ya tidak apa apa. hehehe..

saya terus terang gak habis pikir dengan masa yang marah ini, mesti dibawa kemana negara ini kalau smua orang marah? sudah 10 tahun loh ini..satu generasi sudah..
ntah sampai kapan…

Mungkin saya sendiri termasuk golput karena memang sejak dulu nggak pernah merasa menjadi simpatisan salah satu partai, apalagi jadi anggotanya. Cuma kalau urusan hak untuk memilih pasti saya ambil, untuk bisa ngambil lagi hak-hak lainnya dikemudian hari…Kalau kewajiban ? kayanya di Indonesia ini nggak ada deh kesempatan untuk ngehindar…bikin KTP aja mesti ada bukti pembayaran PBB kok. Jangankan masih hidup, udah mati aja dikejar mesti bayar iuran peneng nisan toch ?

bukannya tak menghormati yang golput ya..

jawabannya kok tidak nyambung sama pertanyaannya ya… bertanya praktis mekanismenya kok dijawabnya teoritis gitu lho….
kumaha eta teh?? lamun teu milih kumaha aya pemimpinna kitu.

@ mailer

oke saya jawab praktis yaa..
sebuah bangsa pasti terdiri dari banyak kelompok. sebagai sebuah pribadi -kebetulan saya ini tidak berkelompok-, saya memilih “jujur” pada diri sendiri tuk tidak memilih. karena tidak ada yang sesuai kebutuhan indonesia dalam perhitungan dan pemikiran saya.
seperti kata rajawalimuda, golput itu sendiri sebuah pilihan.

soal pemimpinnya. jika tidak ada yang memilih, maka pemerintah ya jelas harus menyediakan pilihan atau bekerja yang seusai dengan kebutuhan. pemerintah harus sadar bahwa tidak ada dukungan, selain memenuhi apa yang dibutuhkan.

ini mekanisme “alami” dari hukum permintaan. gitu ga sih??

persoalannya kan ada “pengkondisian” ttg sekelompok-sekelompok tertentu yang diyakini di butuhkan.
maka ini kembali lagi, menjadi soal kejujuran pada diri dan realitas kita.
dan saya ini memilih mengajak jujur terhadap kebutuhan kita. sederhanakan??
kalau dalam kejujuran itu, anda memang setuju dengan sesuatu yang ditawarkan kelompok2 tertentu, ya silakan memilih. bebas dan bertanggungjawab toh??

salam,
anis


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: