ketika saya menggugat..

Posted on April 17, 2008. Filed under: 1 |

(setelah ramai bicara hal-hal yang di luar sana, yang berwarna-warni bak pelangi. yuk, sejenak masuk dan mendalami perjalanan jiwa saya, yang juga sungguh tak kalah berwarna-warninya. membuat pelangi itu ada di sana dan di sini.. semesta itu ada di sana dan di sini -sambil memengang dada nih-.. 😛
terutama tuk semua yang bertanya mengapa blog ini dinamakan mualaf menggugat, saya jawab lebih dalam, dari sekedar diberi nama oleh teman seperti yang saya ungkap di ‘about’ yaa..
refleksinya, mungkin anda semua juga bisa sesekali menyelami perjalanan jiwa anda sendiri..)

percaya ga, kalau saya ini pernah membanting al Qur’an dan juga pernah membanting mukena berikut sajadahnya??
saya juga pernah meninggalkan sholat selama setahun dan tidak puasa wajib bulan ramadhan.
jujur, itu pernah saya lakukan.. ;P
ketika saya menggugatNya dalam kejenuhan yang pekat..

dalam perjalanan keislaman ini,
entah mengapa saya ini lebih banyak di uji oleh muslim sendiri dari keluarga yang bukan muslim.
oke, ortu dan keluarga besar memang mempermasalahkan. tapi 5 tahun berlalu, dilihat saya bertahan, akhirnya sikap-sikap keras itu melunak. bahkan di 2 tahun pertama, ibu saya mengizinkan saya islam dengan beberapa syarat. jadi relatif “aman”.
saya bukan mualaf yang seru. yang dipukuli, di tamparin dsbnya yang berbau fisik.
secara psikis meletihkan, itu iya..
nah, saudara-saudara saya yang muslimlah, yang justru menambah keletihan psikis saya..

klise, perbedaan dalam islam dan sikap-sikap fanatik itulah yang membebani saya. seperti ada beberapa yang saya bagi di sini. dan banyak lagi, saya tunda ceritanya, mengingat saya ingin obyektif. jujur, saya masih suka merasakan keperihan dan ingin menangis mengingat betapa sulitnya saya belajar tuk bersama saudara-saudara saya yang muslim. takut jadi emosi gitu deh..
ntar-ntar aja lah, kalau saya dah bisa obyektif.

walau saya pikir wajar aja kali yaa..
disatu pihak, saya harus menghadapi keluarga yang menentang keras keislaman saya. lalu secara bersamaan, di lain pihak, saya harus belajar beradaptasi di lingkungan muslim yang tentu baru bagi saya. dan di lain pihak lagi, saya sendiri harus terus belajar islam itu sendiri..
habis-habisanlah.. hehehe..

sebagai mualaf, jujur.. saya nih ga punya banyak keinginan, selain bisa melihat dan merasakan islam yang katanya sempurna itu.
kasarnya, itukan “jualan”nya Allah pada saya yang mualaf. sebagai pembeli, tentu saya membelinya karena saya ingin kesempurnaan yang dijualNya itu. kalau ga ada itu, tentu saya ga mau beli dong. ini kasarnya loh. dan yang namanya membeli, ya harus ada “harga” yang saya bayar. mana ada yang “gratisan” dalam hidup ini??
e, saya ga menyalahkan tuhan untuk “jual-beli” ini loh. ini wajar.
hidup.. mekanismenya memang gitu.

maka, hehehe, maaf ya.. saya nih suka ingin tertawa, kalau ada muslim yang begitu bangga dengan zaman Rasulullah saw. bukan tertawakan kebanggaannya, saya juga bangga pada Muhammad dan zamannya. tapi, kebanggaan itu bukan berarti selesai sampai di situ dan tiba-tiba merasa itulah yang sempurna dan cucok tuk diterapkan di masa kini. kok jadinya terkesan, hanya mau terima beres aja..
mana “harga” yang kita bisa beri untuk mencapai kesempurnaan seperti di zaman Rasul itu??
atau halusnya, mana pengorbanan yang bisa kita beri untuk kesempurnaan seperti itu?

dan kalau bicara “pengorbanan”
semua tahu deh, manusia itu aslinya sulit tuk berkorban. apalagi berkorban dengan segala yang disukai dan dicintainya. halah, jujur aja deh.. itu berat. berkurban domba, itu biasa. tapi coba minta tuk korbankan kenyamanannya, kebanggaannya, kesenangannya dsbnya? hehehe, sejujurnya.. sulit kan?

sejujurnya, saya telah membayar sangat mahal keislaman ini.. mengorbankan semua yang saya punya. yaaa.. itu karena saya juga maunya yang sempurna sih.
ga ada barang kalau ga ada harga dong.

bayangkan,
ketika saya merasa, berjamaah dengan kelompok islam tertentu itulah yang sempurna, saya diuji habis-habisan oleh Allah di sana. semua yang saya pikir bener, dibalik olehNya. -dalam kapasitas saya loh-. membuat saya harus mengakui, hijrahnya saya kepada islam ini karenaNya atau karena jamaah itu??
dalam kejujuran, saya jawab : saya hijrah di sana, karena jamaah itu. tidak karena Allah, wong jujur, saya baik agar disebut sholeh oleh mereka. sehingga saya merasa yang ga seperti saya, jadi tidak sholeh. hehehe.. sekali lagi, ini jujurnya saya loh. mungkin beda dengan yang lain.
dan kemudian, saya seperti ditanya : mau terus atau cukup di situ?
saya pun menjawab, saya ingin terus.

lalu saya menikah dengan keluarga muslim. saya bahagia, itu tentu. bagaimana tidak bahagia? saya bersyukur bisa diterima oleh keluarga muslim, karena sebagai mualaf -tentu- saya ingin bisa diterima lingkungan muslimlah. maka sayapun “melebihkan” keluarga suami saya dibandingkan keluarga saya sendiri. alasannya ya karena keluarga saya non muslim. belum lagi, dulu saya tahunya, segalanya yang disebut demi islam itu ya segala yang untuk muslim.
dan… saya diujiNya habis-habisan juga di sana.
baca kiasannya yang saya tulis dalam “tertikam dari belakang”.
https://mualafmenggugat.wordpress.com/2007/12/07/tertikam-dari-belakang/

sekali lagi, itu membuat saya merasa ditanya : hijrah/islamnya saya ini karena keluarga itu atau karena Allah?
dan sejujurnya, saya menjawab : saya hijrah di sana, ya karena keluarga muslim itu, karena suami saya.
dan seperti ditanya kembali : mau terus atau tidak? ya saya jawab : terus..
maka saya selesaikan dengan baik persoalan yang ada, saya menej lagi semua relasi dan coba seimbangkan juga dengan keluarga saya yang non muslim.

ga sampai di situ.
termasuk dalam soal anak, saya diuji dan dipertanyakan dalam hal yang sama..
baca tulisan saya yang “ibrahim dan ismail dalam pendidikan nasional”..
https://mualafmenggugat.wordpress.com/2008/02/19/ibrahim-dan-ismail/

arrrrgh, capenya jangan ditanya..
dan berapa kali ingin saya mundur, tapi saya juga ga pernah mampu untuk mundur..
saya menyakini Allah itu haq dan Rasulnya itu benar.
seorang teman muslim yang pluralis, pernah bilang gini kepada saya.
– kalau anis memang pluralis. di agama mana saja, harusnya bisa saja tuk anis memaknai tuhan. maka jika berislam itu sulit buat anis, ya keluar dari islam juga ga papa kok..
hehehe, itu diucapkannya karena dia telah begitu sedih melihat saya, ketika saya mengalami sakit cukup parah dan menyebabkan saya hampir mati. baca di Mati (1)
https://mualafmenggugat.wordpress.com/2008/01/29/mati-itu-1/

itu terjadi ketika saya sudah benar-benar marah pada Allah..
ini salah, itu salah, semua tibat-tiba terasa salah..
maka saya menggugatNya.. menggugat tuhan.
saya pertanyakan, mana islamMu??? aku ingin tau!!
aku sudah memilih agamaMu, sudah menjalani kataMu, sudah mengikuti aturanMu..
so, mana islamMu??

saya ga bisa membohongi nurani, kalau saya cinta “islam”..
sengaja dikutip tuk tidak hanya dimaknai sebagai agama.. tapi lebih pada sebuah penyerahan diri untuk tuhan..
yup, saya ingin melihat dan merasakan islam yang katanya sempurna itu. bahkan kalau diizinkanNya, saya ingin berbagi dengan semua manusia, agar turut melihat dan merasakan kesempurnaan itu bersama saya..

saya ini memang sudah berjalan terlalu jauh…
jika ditanya mana hasilnya?
ya seperti yang semua lihat di sini. saya menjadi begini..
merdeka dan ingin semua merdeka dari segala bentuk penjajahan jiwa..
termasuk merdeka dari penjajahan “islam” itu sendiri..
dan saya islam, itu iya..
lalu lihatlah.. saya masih terus berjalan tuk mencapai kesempurnaan itu..
dan karena hanya Dia yang sempurna, maka kesempurnaan itu adalah Dia.

apa ada yang mau bilang, saya nih akan mencapai kesempurnaan itu di surga nanti?
hehehe.. sayangnya, saya sudah melepas jatah surga itu..
saya pernah berjanji dalam hati, ketika saya sadari.. akan sangat sulit bagi muslim tuk menikahi saya. tidak hanya mualaf, saya nih juga cina. saya sangat tahu bahwa tidak mudah untuk keluarga muslim menerima saya. apa anda ingin saya hanya karena saya islam? tentu tidak bisa, saya nih ya juga cina. saya nih satu paket.
jangan anda hanya mau islam saya, tapi tidak mau kecinaan saya.
saya ga pernah mimpi lahir sebagai cina, tuhan yang buat saya jadi cina dan saya berjuang untuk jadi islam.
jadi justru pertama kali anda harus mau menerima kecinaan saya, baru menerima keislaman saya..
maka, karenanya saya pernah meminta pada Allah, agar diberikan surga jatah saya -yang katanya mualaf itu berhak atas surga sebab karena kemualafannya- kepada muslim yang berani menikahi saya..
hehehe.. jadi sudah tidak lagi ada jatah surga untuk saya nih..

rugikah saya?
tidak.
saya ingin kesempurnaanNya, bukan sekedar surgaNya..
yup, demikianlah mengapa saya dan blog ini dinamakan mualaf menggugat..
saya tidak mau keislaman saya hanya sebatas kitab suci al Qur’an..
juga tidak juga mau hanya sebatas sajadah dan mukena..
saya ingin terus dan terus melangkah..
menuju Dia..

dan saya temui, semua pejalan spiritual, pernah mempertanyakan tuhannya.
dari Ibrahim sampai Muhammad pun pernah..
dari budha gautama sampai mother theresa pun pernah..
dan kalau kita bertanya ttg muara yang nyata dari perjalanan ini..
ehmmm..
ini sudah terlalu panjang.
kapan-kapan saya coba jawab deh..

bersambung.. ;P

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

7 Tanggapan to “ketika saya menggugat..”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Aku bisa menghayati situasi pelik yang Ibu Anis hadapi. Dan aku suka banget narasi Ibu yang aku kutipkan berikut ini :

“…itukan “jualan”nya Allah pada saya yang mualaf. sebagai pembeli, tentu saya membelinya karena saya ingin kesempurnaan yang dijualNya itu. kalau ga ada itu, tentu saya ga mau beli dong. ini kasarnya loh. dan yang namanya membeli, ya harus ada “harga” yang saya bayar. mana ada yang “gratisan” dalam hidup ini??”

Tidak mau setengah-setengah; tapi harus sehabis air mata, seperi dikatakan Kahlil Gibran untuk menggambarkan totalitas.

Trim Ibu untuk kommentarnya mengenai blogger Malaysia yang kurang ajar itu.

@ bung Robert
ternyata persatuan itu bisa kita mulai dari sini..
sesama blogger bisa bersatu dan tolong menolong.
hidup blogger indonesia..!! hehehe,iseng.. ;P
makasih juga yaa.

sekali lagi, itu membuat saya merasa ditanya : hijrah/islamnya saya ini karena keluarga itu atau karena Allah?
dan sejujurnya, saya menjawab : saya hijrah di sana, ya karena keluarga muslim itu, karena suami saya.
dan seperti ditanya kembali : mau terus atau tidak? ya saya jawab : terus..

mbak saya rasa niatnya mbak harus diluruskan…mulailah sesuatu yang baik dengan niat yang benar..Insya Allah akan membuahkan hasil yang baik pula :D..seperti firmannya dalam surat Al-Zalzalah 7,8 yang artinya :

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula

keep Istiqomah ya mbak..mari kita sama-sama belajar 😀

Salam

mbak, bagus tulisannya…
aku suka penasaran dgn apa yg ada di hati dan otak para mualaf… 🙂
mudah2an semakin ikhlas, ya! 😉
mari sama2 belajar!
karena sebagai org yg sudah menjadi muslim sejak lahir pun, rasa2nya masih banyak yg harus saya pelajari.

@ desmeli
rasanya kalau niat, seperti yang saya bilang di awal tulisan, sebagai mualaf saya hanya ingin tahu dan rasakan islam yang katanya sempurna itu.
tapi pada perjalanannya itu loh, dimana “niat” itu bisa terkotori dan teralihkan juga terbelokkan.
kenapa? ya karena kenikmatan yang selalu mengiming-ngimingi kita dalam setiap “pencapaian” di perjalanan itu.

artinya, saya bener-bener harus selalu meluruskan dan meluruskan lagi perjalanan saya. menjadi seperti surat al Fatihah yang selalu kita baca di setiap sholat : ihdinash shirothol mustaqiim. tunjukkanlah jalan yang lurus..
kalau didalami, itu seperti melawan ego sendiri loh. wah, ego mana yang ga ingin kemenangan, kemegahan dan kenikmatan itu. tapi yaa.. saya berusaha proporsional saja dengan kapasitas dan kebutuhan saya. saya ga mau bohong sama diri sendiri ttg apa yang saya ingini..

saya ingin Allah, ingin islam yang rahmatan lil alamiin.
maka kenikmatan dalam berumahtangga sekalipun, tidak harus menghentikan perjalanan spiritual saya. waktu itu, saya terjebak rutinitas bahkan terlenakan oleh ego saya. dan ujian justru datang tuk mengoreksi ego itu.
maka saya kembali berjalan dan berjalan lagi, mencari lebih dalam lagi..

btw, pertanyaan2 itu datang dari hati saya yang paling dalam loh. maka hati saya paling dalam juga yang menjawabnya. tempat di mana saya tidak bisa lari, apalagi sembunyi.. dariNya.

@juminten
yuk, kita sama-sama belajar..

makasih semuanya..

Ass. wr. wb.

Dibalik setiap kesusahan/kesulitan Insha Allah terdapat kemudahan.

Salam kenal

jujur nih..
saya sampe gemetar baca tulisan (curhatan) Bu Anis.

dan jujur juga nih..
saya jadi merasa belum seberapa dalam hal ke’islaman’ di banding yang Bu Anis bilang tentang kesempurnaan islam.

Jujur lagi..
saya baik memang supaya dibilang sholeh oleh orang lain. Jujur lho ini bu..


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: