inna lillahi wa inna ilaihi roji’un

Posted on April 18, 2008. Filed under: 1 |

(eitss.. seperti ada berita kematian saja yaa?? hehehe.. ;P ini justru ingin melanjutkan yang kemarin loh, melanjutkan “ketika saya menggugat..”, biar ga setengah-setengah.
ini yang nyata tentang muara..)

semalam saya gusar sekali, semua yang saya tulis disini tiba-tiba terasa nihil..
mengapa?
cerita yaa..
anak pertama saya, sungguh sangat pinter. alhamdulillah, saya dikaruniai anak dengan kecerdasan kognitif very superior. dia membaca sendiri di usia 4 tahun. tapi bahagiakah saya dengan itu? di satu sisi bahagia, di lain sisi, saya gusar sekali. karena secara emosi, anak saya tidak secerdas kognisinya. walhasil dia menjadi cenderung agak susah dihadapi.

sedikit kembali ke masa awal kehamilan, awal kelahiran dan balitanya, saya akui -sejujur-jujurnya- kalau saya sangat tertekan secara psikis. seperti yang saya utarakan kemarin. persoalan klise dalam hal berumah tangga, yang dialami semua pihak, menjadi lebih rumit tuk saya yang mualaf dan cina ini..
mungkin, seharusnya islam menjadi jembatan. awalnya saya juga berpikir menikah untuk membina keluarga yang islami dan sakinah. semua teori tentang itu, saya praktekan. tapi, tahun demi tahun berjalan, mulai terasa hambar ketika betapa banyak hal berbau teori itu menjadi seperti ‘jauh panggang dari api’.
maklum, kita ini manusia dan bukan robot yang harus selalu sesuai aturan.

asli, tidak ada hal-hal besar yang mengganjal, justru hal-hal kecil yang terabaikan dan menumpuk. yang kemudian perlahan tapi pasti, mulai mengikis jiwa. dan yang menjadi korban, adalah anak pertama saya. dia tumbuh dalam emosi saya yang labil..

luarbiasa-nya, semua itu dulu tidak terlihat. smua seperti baik-baik saja. justru setelah saya dan dia semakin tumbuh, saya baru menyadari betapa banyak hal terefleksi darinya atas apa-apa yang saya alami dulu. anak saya menjadi “cermin” tuk saya akan situasi yang rumit dulu itu. tidak ada asap kalau tidak ada api. rumus tuhan yang sederhana ini jelas berlaku untuk saya deh… ;P

dulu, sebelum saya bisa menjawab banyak pertanyaan dalam jiwa saya sendiri, saya cenderung menyalahkan dan terus menyalahkan keadaan. mengapa begini dan mengapa begitu, juga kalau saja tidak begini dan kalau saja tidak begitu. huaaahhhh, cape banget.
hanya ketika saya telah mampu tuk jujur, saya menjadi bisa lebih jernih.

mau tahu apa yang menjadi langkah awal tuk perbaikan dalam kejernihan penuh kejujuran itu?
saya memaafkan diri sendiri.

aaargh… rasanya ingin menjerti ketika menyadari sesadar-sadarnya, bahwa saya tidak bisa lari dari apa-apa yang sudah saya pikirkan dan lakukan. tidak bisa sembunyi apalagi mengingkari. saya menjadi seperti dibukakan kitab catatan amal dan dosa, sebesar dzarahpun tertera di sana, tuk kemudian dihitung antara saya dan Dia. saya menemukan, kalau saya memang tidak mendapat apa-apa selain apa yang saya kerjakan. sungguh tidak ada luput dariNya dalam kejujuran saya.

maka setelah bisa memaafkan diri sendiri, saya bisa memaafkan orang lain juga keadaan. dan perlahan mencari jalan keluar yang bisa membantu anak saya mengatasi hambatan emosinya. seperti membuka satu demi satu pintu, anak saya -perlahan- mulai bisa bersosialisasi dengan baik, lalu bisa mandiri, lalu mengatasi kesulitan2 dalam pertemannya.. satu demi satu.. tahap demi tahap.
dan semalam, masih ada lagi hambatan.. yang harus saya jawab bersamanya. sebelum akhirnya dia akan melesat bak anak panah yang terlontar dari busurnya.

kurang lebih demikian.. suami sayapun mendukung, turut terlibat dalam hal yang memang kapasitasnya. bahkan adiknya pun turut berdiskusi bersama saya tuk urun rembuk, memecahkan masalah ini, atau minimal belajar dari hal tersebut. saya biasakan, saling berbagi pendapat. sang kakak juga geli mendengar pendapat adiknya. biarlah mereka saling melihat bagaimana mereka dalam pandangan masing-masing mereka.. ;P

lantas mengapa saya katakan, hal berbagi di blog ini tiba-tiba terasa nihil karena hal tersebut?
yup.
bagi saya, saya tidak bisa disatu sisi -eksis di blog, tapi di lain sisi -tidak mampu menjawab hal kecil di rumah saya sendiri. saya tidak lagi bisa berbeda diluar dan di dalam. saya ingin utuh dan satu. simultan, di luar dan di dalam harus sama dan selaras.
menjadi satu kata dan kenyataan, satu hati dan perbuatan.
saya sudah tidak mau dan sudah tidak bisa berbohong kepada semua di sini.

dan kalau mau jujur, hal yang sempat menggusarkan dari anak saya semalam, menjadi bak “tarikan” agar saya tetap seimbang luar dan dalam. eksis saya di sini harus selaras dengan eksis saya di rumah. maka lihatlah, eksistensi itu tidak berarti harus dengan segala sesuatu yang besar. dalam hal-hal kecil, eksistensi itu tetap bisa utuh.
justru berawal dari hal kecil itulah, maka langkah besar kita dimulai..
sebaliknya, banyak orang merasa eksistensi harus lewat hal-hal besar, nyata dan dilihat banyak orang, bahkan bergerak yang membahana. tapi giliran di hal-hal kecil, dia justru tergelincir.

indonesia kita juga demikian. pembangunan fisik yang megah telah dinilai sebagai sebuah eksistensi bagi pemerintah. lah, nyata terlihat.. justru di hal-hal kecil, pemerintah tak mampu menjawab. dari persoalan tahu, tempe sampai beras, hari ini masih terabaikan. konversi minyak tanah ke gas tanpa sosialisasi dan pembiasaan, membuat kebijakan itu bak tong kosong berbunyi nyaring. mulut pemerintah menjadi bak berbuih-buih, meluap-luap dan pecah ga karuan..

demikianlah, muara itu. yang saya usaha gambarkan dalam hal-hal nyata..
kalau secara teori, tentu sudah banyak di buku-buku dan tinggal baca sendiri. hehehe..;P

walhasil, kesimpulannya : saya belajar menjadi manusia yang manusia
bukan manusia yang robot apalagi manusia yang tak berguna..
memaafkan diri sendiri dan secara perlahan kemudian mengatur dan menjawab banyak hal dengan kapasitas saya yang sesungguhnya. pengenalan diri demikian, membuat hubungan saya dengan tuhan terasa lebih indah dan boleh apa adanya. saya menjadi merdeka dalam tuhan.

jujur, tidak ada kebahagiaan yang indah bagi saya, selain kemerdekaan ini.
dulu, dalam kelimpahan materi, saya malah bak si miskin dalam lumbung padi, lumpuh. dan sekarang, lihat saja.. betapa setiap hari saya bisa mengup-date blog ini, seolah tak pernah habis rasa kaya ini tuk di bagi-bagi di sini.. hehehe ;P

yuk, turut menikmati dan merasakan kemerdekaan dan kekayaan jiwa yang luar biasa ini.
sungguh, hanya tuhan yang mampu membuat kita demikian..
innalillahi wa innailaihi roji’un, ini memang sebuah kalimat dalam qur’an. tapi maknanya bisa menyentuh siapa saja.
karena maknanya adalah semua dariNya dan akan kembali kepadaNya..
Dia, muara sejati dari semua kehidupan ini..

merdeka!!

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

K A M B I U M
menambahkan tulisan di atas..

inget kambium? ini ada di pelajaran biologi, tentang lapisan dalam batang kayu berakar tunjang. kambium, menjadi semacam catatan sejarah tentang apa-apa yang sudah dialami dalam pertumbuhan sebatang pohon. kadang lapisannya tipis, mungkin paceklik. atau kadang lapisannya tebal, mungkin tanda hujan turun terus menerus. atau kadang sedikit keriting garisnya, mungkin tanda hujan dan panas silih berganti tak tentu arah.

begitu juga, tanda dalam jiwa kita..
menjadi seperti “kiasan” dalam lagu Chrisye, yang berbunyi..
berkata tangan kita, akan apa yang dilakukannya..
berkata kaki kita, akan kemana dilangkahkannya..
ini ‘bahasa agama’, bukan berarti tangna dan kaki akan ada mulutnya dan berbicara…
tapi menjadi ‘tanda’ seperti kambium pada pohon itu. dan hanya dalam kejujuran, kita bisa ‘membaca’nya..

luarbiasa ya tuhan itu..
saya suka tersalut-salut pada tuhan..
maha suci Dia, subhanallah.. ;P


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: