menyoal Ahmadyiah

Posted on April 19, 2008. Filed under: 1 |

ehmm, sudah terlalu lama masalah ini yaa.. bolak-balik di soal sesat ga sesat, dilarang atau tidak di larang..
saya mau melihat masalah ini lebih luas dan lebih dalam deh, biar bisa menyelesaikannya sampai ke intinya, cieee.. ;P cobain yuk, melihat dari sudut saya.

semua tentu sudah tahu, apa yang akan terjadi jika sebuah cahaya berwarna putih jatuh di atas sebuah prisma?
cahaya yang putih itu akan terurai menjadi mejikuhibiniu. merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. lalu, bisakah cahaya yang sudah terurai itu disatukan kembali menjadi sebuah cahaya putih seperti semulanya? ya, kalau di pelajaran fisika zaman smp dulu, katanya berilah prisma lagi, yang bisa menangkap semua cahaya yang telah terurai itu dan arahkan kembali “dengan tepat”, maka mejikuhibinuiu itu akan kembali menjadi cahaya yang putih dan satu itu.

nah, kadang saya melihat..
cahaya yang putih dan satu, yang kemudian terurai menjadi mejikuhibiniu itu, ya seperti kebenaran tuhan yang satu, yang jatuh ke muka bumi ini. kebenaran itupun terurai, dan menjadi begitu banyak persepsi dan ekspresi..

persoalannya kemudian, apakah kita akan terjebak dalam warna-warni itu dan saling ngotot mengklaim cahaya warna merah lebih baik dari cahaya warna jingga misalnya? atau mau sampai kapan juga kita ribut soal cahaya warna biru yang menurut kita lebih indah dari cahaya warna ungu misalnya?
waduh, betapa banyak gradasi warna dari cahaya yang terurai itu coba??
mau sampai kapan kita meributkannya? karena satu dan yang lainnya walau tipis tipis jelas tetap ada bedanya ..
dan ingat, cahaya yang warna-warni itu memang indah,
tapi sadarilah cahaya warna-warni itu, jelas bukan merupakan cahaya yang putih dan satu tea.
masih harus melalui ‘satu proses’ lagi tuk kembali menjadi cahaya putih yang satu itu.

demikian juga dengan kebenaran tuhan yang terurai menjadi banyak presepsi dan ekspresi.
misal saja, kalau saya meyakini islam adalah cahaya yang putih dan satu itu. terbukti, islam sendiri saat ini telah terbagi-bagi menjadi banyak persepsi dan ekspresi. ada yang keras, ada yang plural, ada yang militan, ada yang tarekatan dst-dstnya.
sungguh, banyak sekali.
apalagi kalau mau ditarik dari keyakinan agama di muka bumi ini adalah dari agamanya nabi Adam a.s? atau dari agamanya nabi Ibrahim yang disebut agama yang hanif itu?
wuih, pasti lebih banyak lagi persepsi dan ekspresinya..

lalu tentang nabi.
jelas sebagai muslim, saya meyakini nabi Muhammad sebagai khataman nabiyin. nabi terakhir.
persoalannya kemudian, apakah setelah Muhammad maka Allah ‘tidak akan’ memberi petunjuk lagi kepada manusia? saya yakin, Allah selalu memberi petunjukNya, bahkan sampai akhir zaman.
banyak orang baik yang senantiasa berbuat baik dan memurnikan keimanannya, loh. bahkan orang seperti itu banyak diantara kita. mereka berusaha mengatasi hawa nafsunya, beramal baik tuk kepentingan orang banyak dan ga pamer-pamer. kalaupun mereka mengajari kebaikan, itupun bukan untuk diri mereka atau kelompok apapun. semua dilakukan ya hanya untuk tuhan.

lalu apakah manusia yang mendapat petunjuk itu, harus disamakan dengan nabi? hehehe, itu kembali pada kebijaksaan anda semua. tapi saya pikir, ada terminologi wali dalam islam. atau mungkin santa dalam kristen.
walau untuk hal wali ini saja, sebetulnya hanya bisa dikenali oleh yang wali lagi atau yang diperkenankan oleh Allah tuk mengenalnya. aslinya, wali adalah orang yang biasa saja. hanya memang telah tiada kekhawatiran lagi dalam hatinya. jiwanya tenang sebab senantiasa ingat tuhannya. nah, masalah ketenangan hati ini kan emang cuma dia dan tuhannya yang tahu. ya ga?
ga bisa diklaim begitu saja oleh kita deh.

tapi emang kadang kita -manusia- ketika mengagumi seseorang, yang kita anggap mengajari kebenaran, maka kitapun menggagapnya selayak nabi. mengkultuskannya, melebih-lebihkannya dsbnya.
padahal kita ini kan manusia modern.
dan sejujurnya nih, apa emang kita masih butuh nabi lagi?
kalau soal negara kita yang sedang semerawut ini, jelas kita butuh pemimpin yang mumpuni, dan -maaf- bukan butuh nabi..
mari lebih dewasa dalam beragama..

lah, bagaimana dengan ahmadiyah? yang mana mirza gulam ahmad -sudah diklaim sebagai nabi oleh pengikutnya?
ya kembali ke uraian ttg cahaya putih yang jatuh di atas prisma itu.

kalau saya sih, -tidak hanya untuk soal ahmadiyah- saya sudah memilih tuk menjadi ‘prisma’ yang kembali menangkap semua cahaya warna-warni itu, dan sebisa mungkin mengajak semua cahaya warna-warni itu bekerjasama di kehidupan dan menjadi kebaikan bersama.
sebagai wujud bersatunya kembali cahaya warna-warni menjadi cahaya yang putih dan satu itu..
kembali menjadi kebenaran tuhan yang utuh di muka bumi..
kembali menjadi kehidupan yang baik dan penuh keselamatan.. ketentraman yang kemudian semoga bisa mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua.

yup, insyaAllah, saya memilih berusaha menjadi prisma yang bening, yang mampu menyelurkan cahaya itu pada titik kembalinya.
bukan menjadi sekedar cermin yang hanya bisa memantulkan cahaya, bahkan sembarang memantulkan, sehingga sesama warna-warni itu saling bertabrakan.. hehehe ;P

itu menurut saya..
gimana?
bisa tidak mengikuti logika saya dalam hal ini? saya sangat intuisi dalam soal ini, loh.
melihat persoalan lia eden, mushadek dan kali ini ahmadyah dsb-dsbnya.. ya demikianlah jawaban saya tuk hal demikian.
tidak akan ada klaim sesat dari saya. saya lebih ingin terbuka, transparan dan mengajak tuk melihat lebih jernih lagi warna-warni dalam beragama ini, kemudian mengajak semua tuk bersama mengisi kehidupan ini dengan kebaikan yang banyak..
semoga damai hidup ini, dan tentu kemudian kita bisa berkarya bersama dalam kedamaian..
semoga sirna curiga dan sirna permusuhan, kemudian lahirlah persahabatan, saling bergenggaman dan tolong menolong.

saya berharap, semua dari kita, banyak berpikir sebelum mengikuti sebuah aliran keagamaan tertentu. dan banyak berpikir juga, sebelum mengambil tindakan dalam menghadapi aliran-aliran keagamaan tertentu itu.

justru masing-masing kita secara pribadi, harus mandiri dalam beragama dan harus memiliki cita-cita tuk beragama yang benar dan semakin benar.
jangan puas dan terbuai hanya di warna-warni itu. teruslah menuju Dia, dan jangan berhenti hanya sampai di nabinya, kelompoknya, atau alirannya dsbnya itu.
terus dan teruslah menuju Dia, tuhan yang satu dan yang meliputi segala sesuatu..
lalu dalam skala negara kita, jelas semua ini sudah diatur dalam UUD 45..

dewasalah dalam beragama dan bernegara..

gitu ga sih??
semoga dapat dimengerti yaa..

peace!
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

13 Tanggapan to “menyoal Ahmadyiah”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

saya setuju dengan anda bu

” yup,betul itu,bu.”

Yang penting jangan saling jotos aja ya… mbak…

We iya… kok lama gak mampir ke “rumah”???
Mudah-mudahan sehat selalu

membaca tulisan Anda, sungguh menyejukkan.

Jarang diantara kita mau merenungkan makna dibalik surat al-fatihah yang kita baca tiap kali shalat.

Semoga bisa. *berdoa*

analogi prismanya ok juga tuh 😉

kemaren liat di TV, kyai-kyai sepuh NU juga menolak pelarangan ahmadiyah..
damai rasanya mengetahui orang-orang yang sangat faham agama bisa setoleran itu..

selalu ada harapan nis.. 🙂

Jadi menurut anda apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah terhadap ahmadiyah?

@ oky
perlakukan mereka sebagai salah satu dari “tarekat” dalam islam.
sama seperti tarekat al ghazaliyah, rumi dsbnya. mirza gulam ahmad tak lebih hanya seorang mursyid dalam tarekat tsb. lalu hiduplah dengan damai dan berkontribusi positiflah dalam membangun indonesia.
MUI harus mau membina dialog yang membangun, antar tarekat atau jamaah dalam islam yang ada di indonesia. mengarahkannya tuk membangun bersama di indonesia.. bukan mengucilkan atau mencapnya sesat.
bagaimanapun, -menurut saya- keberagaman lebih baik dinaungi dari pada diperuncing.
gimana?

btw, mursyid adalah guru. kedepan yang harus diarahkan bahwa mursyid/guru bukan untuk dikultuskan. tapi cukup dijadikan ibarat “pintu” buat belajar lebih dalam lagi dan lebih jernih lagi..

Setahu saya dari pelajaran Fisika, yang namanya cahaya putih itu memang punya banyak komponen yang berbeda frekuensi. Kalau dianalogikan dengan suara, ada yang treble, ada yang middle, ada yang bass, ada yang ultrasonik, dan sebagainya ..

Anjuran membunuh Ahmadyiah oleh FPI

@ishaq
mengamati sepak terjang FPI, saya tuh selalu bertanya-tanya. siapa sih dibalik PFI itu? hehehe. aneh aja. sesama indonesia kok begitu?
terlalu banyak pihak yang ingin memancing dikekeruhan kondisi indonesia saat ini. atau sederhananya- ada pihak-pihak yang emang ga ingin lihat indonesia ini jernih. mungkin kalau jernih, takut ketahuan belangnya kali yaa. hehehe. maka, kalau saya sih, cuekin ajalah yang kaya gitu. ya ga?

dicuekin tanpa dikritisi bisa bisa hal tersebut menjadi kebenaran loh bu.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: