berkah itu bernama agama…

Posted on April 21, 2008. Filed under: 1 |

beberapa hari ini, saya main ke beberapa blog teman-teman, maaf, kalau tidak semua saya beri komentar. saya nih kok tiba-tiba merasa kecil ketika membaca tentang beragamnya kenyataan yang ada di sekitar kita, yang dipotret oleh teman-teman blogger. dari tentang pilkada, sara sampai soal waria..
tentu, salut banget buat para blogger, yang telah menjadi “jendela” tuk kita melihat banyak kehidupan di sekitar, tanpa perlu turut melakoninya. dan, kenapa tiba-tiba terasa kecil?

sebagai seorang yang melakukan perjalanan pencarian akan tuhan, dan yang sampai pindah agama segala. saya jadi merasa, betapa saya ini belum ada apa-apanya, dan apa yang saya pelajari rasanya juga belum seapa-apanya, tuk menjawab begitu kompleksnya kehidupan ini. saya menjadi begitu kecillllll.. di alam raya ini. banyak bingungnya, banyak tidak tahunya dan banyak blo’onnya.. hehehe ;P

dan tiba-tiba dalam rasa kecil itu, saya jadi mengerti betapa banyak orang memilih tuk sekuler dan bahkan tuk atheis. betapa tidak?
kebenaran tuhan bisa menjadi relatif dalam komplektisitas persoalan manusia.
bukan manusia mengikuti petunjuk tuhan, malah rancu antara manusia dan tuhan itu sendiri. betapa banyak agama dipersepsikan hanya untuk membawa manusia pada manusia lagi, baik berupa pengkultusan pribadi atau golongan. bukan kepada tuhan itu sendiri..
ketulusan manusia menjadi hilang ketika agama tidak bisa menjadi jalan keluar seperti yang diinginkan. hehehe, jujur saja deh. betapa banyak manusia yang masih ingin agama itu menjadi jalan keluar hidupnya. sehingga jika tidak seperti jalan keluar yang diinginkan, dia mengatakan agama itu belum tepat atau bahkan mengatakan agama itu tidak benar. mengkafirkan segala di luar agamanya atau malah meninggalkan agamanya.
manusia menjadi tidak benar-benar obyektif dengan agamanya sendiri..

mungkin termasuk diri saya sendiri nih.. higs.
hehehe, itulah kenapa saya katakan, betapa saya nih merasa menjadi kecil sekali kalau sudah berhadapan dengan begitu kompleksnya persoalan manusia.

tapi saya masih bersyukur..
karena indonesia kita ini, masih terkenal sebagai negara dengan umat beragama paling banyak di dunia. abangan atau tidak, sebatas ktp atau tidak, bahkan beribadah atau tidak, mayoritas orang indonesia masih mengaku beragama. sedikit sekali deh yang mengaku sekuler atau atheis..

itulah indonesia kita… hehehe ;P
warna religi sebagai ungkapan bertuhannya manusia indonesia, masih lekat dan kental. tanda manusia indonesia memang bukan manusia yang super hero. mereka mengakui adanya kekuatan lain diluar dirinya, yakni kekuatan tuhan itu. baik dalam bentuk mistik maupun logik. dan walau dalam banyak prakteknya, manusia indonesia masih beragama seperti anak kecil, yang saling berebut popularitas dan pengikut. tapi -setidaknya- manusia indonesia masih mau punya tuhan.. hehehe..

dan tahu kan.., menusia bertuhan harusnya menjadi manusia yang adil dan beradab..
sekali lagi sayang, manusia indonesia masih “setengah-setengah” dalam beragama. jadi ya masih suka rancu dan belum mencapai kesadaran kemanusiaan tertingginya dalam rasa berketuhanan itu. kalau ibarat perjalanan mah, sebetulnya tinggal sedikit lagi nyampenya tuh.. maka saya sebut “berkah” suasana beragama itu di bumi indonesia kita ini, apapun agamanya..

komplektisitas kehidupan menunjukan bahwa kehidupan ini tidak bisa dijawab sendirian. komplektisitas menusia itu juga menunjukkan bahwa persoalan manusia ini harus mau dijawab oleh banyak pihak, bahkan oleh seluruh manusia itu juga. maka kesadaran berkah beragama ini, harus mampu membawa manusia indonesia tuk mau secara bersama melangkah lebih jernih lagi, tuk jawab bersama komplektisitas persoalannya.

seperti persoalan partai, ya segenap partai harus punya kesungguhan tuk menjawab itu. soal sara juga, semua manusia yang beragam ini harus mau menjawab persoalan sara secara bersama di indonesia. bahkan termasuk persoalan waria tea, ya seluruh komponen terkait harus mau menjawab bersama persoalan ini.
di dalam komplektisitas persoalan, manusia yang berkompeten dan yang terlibat meski tidak langsung tuk menjawabnya, ya harus mau bergandengan tangan dalam menjawabnya. bukan dengan saling melepaskan tangan. atau membiarkan usaha untuk itu seperti bertepuk sebelah tangan dan menguap begitu saja..

nah, karena katanya agama itu adalah “pintunya spiritualitas”.. pintunya pengenalan akan tuhan. maka beragamanya manusia indonesia, sesungguhnya menunjukkan manusia indonesia itu -ibaratnya- sudah di depan pintunya tuhan.
tapi, apa yaa hanya mau di situ dan gontok-gontokan di depan pintuNya??

mari masuk lebih dalam.

– rasa keber-agama-an sebagai wujud rasa berketuhanan, akan membawa manusia tuk dapat mengeksplorasi rasa kemanusiaannya. dalam rasa berketuhanan, rasa kemanusiaan itu akan tampil adil dan beradab.
– lalu dengan rasa keberadaban dan keadilan itu, manusia bisa bersatu dengan manusia yang lain. mewujudkan persatuan dan kebersamaan yang tidak mengenal batas.
– setelah bisa bersama dengan siapa saja, maka sesama manusia itu bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, bisa bermusyawarah menyelesaikan banyak persoalan dalam kehidupan bersamanya.
– lalu dengan bisa bermusyawarah, manusia terdorong tuk menyelesaikan persoalan secara bersama, maka keadilan sosial berupa kesejahteraan bersama juga bisa diwujudkan..

kesimpulan :
PANCASILA itu sudah cukup dan sangat cukup, menjadi ideologi kita bersama di indonesia.
dia cocok untuk manusia indonesia yang beragam dan menjadi prinsip yang didukung secara bersama, karena memiliki inti yang sama. pancasila telah lahir dari innernya bumi pertiwi dan menjadi lukisan asli bagaimana manusia indonesia sesungguhnya. bahkan demikianlah sesungguhnya semua manusia di seluruh di dunia..
awalnya berketuhanan
kemudian berprikemanusiaan
kemudian bisa bersatu
kemudian bisa bermusyawarah
dan kemudian bisa bersama mewujudkan kesejahteraan bagi kehidupan..

maaf -.. jangan karena Pancasila pernah dimanipulasi sebuah rezim, maka kita meniadakannya. seolah dia basi untuk kita. justru kita harus memurnikannya dan mengembalikannya pada tempatnya semula. saya melihat..
Pancasila telah menjadi “bahasa dalam kebersamaan” kita di indonesia.

nah, dalam keberkahan bernama agama,
masihkah kita malah mempeributkan masalah agama? bahkan menjejalkan label agama ke seluruh sendi kehidupan kita..?
hentikan pelabelan..
mari melangkah ke langkah berikutnya,
mari menjadi manusia yang beradab karena beragama itu..
lalu terus dan terus ke langkah-langkah berikutnya, seperti yang dijabarkan pancasila.
demi tercapainya cita-cita bersama, berupa keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia..
dan yang sebenarnya, itu juga merupakan cita-cita kita dalam beragama.. apapun agama kita.
gitu ga sih??

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “berkah itu bernama agama…”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

wah, postingan yang bagus. di tengah keraguan banyak kalangan ttg pancasila, tulisan ini meneguhkan sikap bahwa pancasila masih amat relevan utk bangsa kita yang multiagama dan multietnis.

lho, anis tuh sekuler juga dong..
hanya orang sekuler yang menghormati agama-agama.. baik agama sendiri maupun agama orang lain..
betul nggak? kan pancasila adalah dasar bahwa kita bukan negara agama (alias negara sekuler!)

jadi jangan takut jadi sekuler! (eh, tapi sekuler haram ya?? hmm..)

@ daniel..
oya?? saya sekuler?
perasaan kok ga yaaaa, hihihi.. ini khas perempuan, pake perasaan ;P
ehmm, so far sih.. islam saya hari ini bikin saya cinta indonesia. berislam dengan tantangan yang ada di depan mata. trus, pancasila itu islami kok buat saya. meski bukan sebuah agama. tapi sebagai sebuah ideologi, pancasila ga bertentangan dengan islam saya. tapi, ga tahu kalau dengan islam yang lain.. hehehe..

@pak guru sawali
kesadaran pancasila ini termasuk wujud nyata “kembali” nya saya, pak. setelah berpikir dan berpikir lagi, terbuka dan terbuka lagi, harus saya -jujur- akui ternyata pancasila paling cucok untuk kita, indonesia. dan sangat islami pendalamanan pancasila itu loh.. seperti perjalanan insan kamil dalam tasawuf gitu deh. maka saya dukung wacana “manusia indonesia seutuhnya”. itukan insan kamil juga intinya, tapi dalam pemetaan hidup di indonesia..

e, siapa tahu nih, pancasila bisa menjadi sebuah isme yang mendunia. ada sosialisme, komunisme, liberalisme dll dan ada kelak ada pancasilaisme.. hehehehe… isengggg ;P dan siapa tahu juga, indonesia bisa leading dunia yang plural dan damai dengan pancasila-nya. percaya atau tidak, indonesia punya nilai jual tinggi loh. ya kan?? hehehe.. becanda, pak.

Senang membaca artikel ini; tapi sambil tetap prihatin memikirkan nasib Ahmadiyah…

Aku baru saja memposting artikel mengenai Ahmadiyah yang dinyatakan terlarang itu :

http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04/23/negara-tidak-berhak-membubarkan-ahmadiyah/

Waw….. postingan yang luar biasa.. jika semua wagga indonesia berpikiran seperti itu pasti sekarang kita sudah sama dengan amerika atau dengan negara-negara maju lainnya.

@werene
yuk, kita sama-sama.. ;P
salam hangat.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: