kartini kesiangan di bulan april

Posted on April 21, 2008. Filed under: 1 |

(setelah masalah anak saya terkendali dan telah mendapat komitmen baru darinya juga tentu dari saya dan ayahnya -sebagai ortu- maka semoga hambatannya mulai teratasi dan terus membaik ke depannya. dan ga seru ya, kalau bulan april tidak membicarakan Kartini. maka saya pun, ingin ikut membicarakannya deh. tentu dari sudut saya, yang mungkin berbeda..)

membicarakan wanita indonesia saat ini, membuat saya harus bertanya ini terlebih dahulu :
– wanita indonesia yang mana yang ingin di bicarakan??
kesenjangan telah turut membelah wanita indonesia dengan sangat jelas, bak air dan minyak. wanita indonesia di garis kehidupan menengah ke atas dan wanita indonesia di garis kehidupan menengah ke bawah..

dalam sekilas pengamatan saya, wanita indonesia yang membicarakan urusan wanitanya, masih juga tersekat dalam urusan wanita di kelompoknya saja, atau yang bisa diambil sebagai trend saja. belum cukup mewakili wajah wanita indonesia secara keseluruhan..
dan dalam salut saya pada Kartini, terdapat sejumput rasa miris. lihat saja, toh akhirnya.. kartini menjadi selir bagi seorang adipati rembang dan mati di usia sangat muda. menunjukkan betapa kartini telah menjadi kesiangan dalam perjuangannya yang berjudul emansipasi
maka akhirnya, emansipasi kartini sering dikerdilkan dalam hal pendidikan saja. padahal, rasanya tidak hanya itu deh ruang yang bernama emansipasi.

menjadi pertanyaan, apakah kartini kita dulu itu memang membicarakan wanita hanya dalam lingkup pendidikan saja? sekedar itukah emansipasi yang dulu diperjuangkannya? mungkin tepatnya, baru itu. karena komplektisitas zaman itu berbeda dengan zaman sekarang. tapi bagaimanapun, kartini memang telah meletakkan dasar emansipasi di negeri ini.

lah, yang lebih mirisnya lagi, seandainyapun perjuangan kartini hanya sebatas pendidikan saja. miris banget, pendidikan di negeri ini – boro-boro tuk wanitanya- tuk semua manusianya, juga sedang bobrok-bobroknya. hehehe, memang ga cuma kartini yang kesiangan jadi pahlawan di indonesia. semua pahlawan2 itu sedang bak kesiangan. indonesia saat ini memang sedang sangat melupakan jasa pahlawannya. melupakan sejarah bangsanya..
malah -maaf- manusia indonesia sedang sangat senang-senangnya memasang sejarah nabi-nabi dari agamanya, di sini.. hehehe ;P kartini saja di ingat hanya di bulan april.. apalagi yang lain??

sebenarnya ada kesamaan dalam perjuangan semua manusia yang disebut pahlawan oleh sejarah.

kesamaan dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaannya dan kemanusiaan di sekitarnya. baik dari sekedar hak hidup, hak merdeka sampai hak wanitanya dan hak tuk masalah anak-anaknya..
persoalannya, ada apa dengan hak wanita sampai dia harus di perjuangkan? oleh seorang kartini, dan oleh seluruh wanita indonesia sebagai penerus kartini sampai saat ini. yang seolah ga selesai-selesainya hal itu di perjuangkan. mengapa sampai ga selesai-selesai juga yaa? atau kenapa jadi kok seperti muter-muter saja??

penjajahan memang tidak selesai-selesainya di muka bumi ini.

seperti di kasih umpan bebas tapi tetap dijaring setelahnya. pendidikan di buka untuk wanita, dan lihat.. begitu perempuannya pinter, dan merasa harus mengamalkan ilmunya di masyarakat, masalah rt sering dijadikan hambatan. peran wanita sebagai ibu, masih tetap dituntut oleh sebagian besar lelaki dan komunikasi masih dijadikan kendala kebersamaan. padahal, betapa banyak wanita yang bekerja, selain tuk menambah penghasilan juga tuk membayar kompensasi dari meninggalkan rumah itu. salahkah? tergantung dari mana melihatnya..

lalu sebut saja, wanita di masyarakat bawah. ketika dia turut membanting tulang demi penghasilan keluarga, dari jadi buruh pabrik sampai kuli panggul dan pemecah batu, suaminya selingkuh dengan wanita lain. perjuangannya dikerdilkan.
atau fenomena baru, kemampuan finansial membuat para wanita juga jadi lebih berani bersuara dan menegaskan kekuatannya atas suami dan lelaki. membuat kecemburuan merambat jauh dari masalah emansipasi, malah menjadi kriminal.. alias kebablasan itu.

sama saja,
seperti kemerdekaan negara-negara dunia ketiga pasca PD II. seolah selesai.. padahal kapitalisme digelontor oleh negara-negara maju, tuk kembali menjerat negara-negara dunia ketiga masuk dalam penjajahan model baru, neo imperialisme. dan pemerintah negara2 dunia ketiga dengan alam kemerdekaannya, malah belajar menjajah rakyatnya. tidak benar-benar membela rakyatnya.
menjadi bener toh?.. penjajahan tak henti-hentinya terjadi di muka bumi. dari skala rumah tangga sampai skala negara. dari skala gender sampai skala bangsa, suku, ras dan agama… capee deh ;P

maka bagaimana sih ini?
habis gelap terbitlah terang..
dalam bahasa qur’an, minat dzulumati ilaa nuuur.. (bener ga ya nulisnya ?) dan sama kok artinya, habis gelap terbitlah terang..

banyak sisi gelap manusia yang membuatnya bernafsu tuk menjajah manusia lain. ini yang harus di kendalikan, agar manusia itu mendapat pencerahan dan menjadi terang bagi kehidupan. dan ketika banyak manusia yang mampu demikian, maka kegelapan akan sirna dalam komposisi yang signifikan dan menjelma menjadi pencerahan yang lebih luas serta jaya tuk kehidupan bersama..
dan perjuangan seperti ini, tidak bisa hanya sepihak-sepihak. tentu hanya akan menjadi perjuangan yang bertepuk sebelah tangan. perjuangan demikian harus didukung seluruh pihak.. bahkan oleh pihak yang berlawanan..

sebut saja, masalah emansipasi.
kesetaraan adalah sebuah kondisi yang seimbang. keseimbangan jelas sebuah kondisi di mana titik A dan titik B mencapai posisi datar atau setaranya. maka kesetaraan menjadi relatif, tergantung lawan main kita.
perjuangan kesetaraan menjadi basi jika suami tetap melecehkan hak-hak istri misalnya. maka permainan apapun, kalau tidak disertai kesadaran tuk main berimbang, ya sulit mencapai kesetaraannya. dan sampai saat ini, manusia memang cenderung seperti di rimba raya, permainan hanya tuk menang atau kalah, dia yang kuat dia yang memang. ini ciri manusia bar-bar dan belum beradab. dan sejujurnya, wanita pun banyak yang masuk dalam permainan bar-bar ini. siapa yang kuat itu yang menang. kalau lelaki sih, sudah dari dulu maunya demikian, maka hegemoni lelaki masih kuat sampai hari ini.

saya pikir, bukan seperti itu deh. kalau seperti itu, maka wajar, persoalan ini masih ada dari zaman kartini sampai hari ini, bahkan sampai akhir zaman..

mari kita sama-sama menyadari peran kita. dalam apapun peranitu, hanya kita dan pasangan yang mengerti. dan kompensasi akibat dari peran itu, juga harus menjadi kesadaran bersama.

bekerjasama adalah solusi terbaik tuk mewujudkan kesetaraan dalam banyak hal.

wanita itu bekerja atau tidak, yang penting dia mampu bekerjasama dan berbagi peran dengan lelaki dengan baik. di dunia pekerjaan atau bukan, sama saja. kerjasama itu perlu.
sehingga dimanapun wanita itu mengisi.. lelakinya pun memberi ruang. atau dimana lelakinya itu berhalangan, wanitanya itu boleh mengisi ruang. jadi santailah hidup ini..

demikian juga dalam urusan neo imperialisme bernama kapitalis ini, selayaknya dimana negara maju bisa mengisi, ya isilah di sana. seperti dalam hal teknologi. sementara dalam hal sumber daya, jika disanalah dunia ketiga bisa mengisi, ya izinkanlah dan kompensasilah dengan benar.
mari berdiri dan duduk setara, demi kehidupan bersama.
bencana akibat global warming contohnya, jelas itu timbul dari persoalan ketidakseimbangan kehidupan. ketidaksetaraan kehidupan manusia secara luas. kasus flu burung juga sama.

maka, habis gelap terbitah terang memang bukan jargon sebatas gender.
tapi tuk seluruh kehidupan alam raya ini..
dan buatlah kartini, beserta pahlawan kita yang lainnya itu tidak kesiangan, dengan menyadari dimana sih sebenarnya inti perjuangan mereka, yang masih menjadi perjuangan kita hingga hari ini. yakni…
kemerdekaan dari penjajahan nafsu kemanusiaan
apapun bentuknya..
kalau kemerdekaan ini bisa dicapai, semoga kemerdekaan sejati juga yang kita peroleh.
“kesejatian” yang menyelesaikan semua inti permasalahan..

yuk, tebar aroma kemerdekaan sejati dimanapun kita berada..

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: