dari mata bernama rasa.. (3)

Posted on Mei 22, 2008. Filed under: 1 |

(masih sekali lagi nih.. ini kesimpulan deh, janji ga ada sambungannya lagi, hehehehe.. sekali lagi asli, ini masih soal rasa….;D)

maka kemudian kita ke pertanyaan mbak yanti di tulisan saya “belajar kurang ajar”
kenapa umat islam ini saat ini begini? acak-acakan. termasuk di dalamnya saya. saya gini-ginikan umat islam, walau berbeda (dikit) 🙂

ya karena kita sudah miskin rasa. beragama tanpa rasa…

bukan salah berpegang pada Al Qur’an dan Hadist, saya juga suka baca buku islam. tapi itu untuk menginspirasi. bukan saya menjadi seperti buku itu. al Qur’an juga sama, itu inspirasi buat saya. saya memilih tuk menjadi Qur’an berjalan sebagaimana Muhammad di juluki. selalu bergerak dan senantiasa hidup.
saya ga bisa mengecilkan Muhammad dan Allah hanya sebatas Qur’an dan Hadist.
aduhhhh… itu kecil sekali ga sih tuk memuat tuhan yang maha besar???
maka Iqra’ itu adalah membaca yang lebih banyak lagi, lebih hidup lagi dan lebih luarbiasa lagi dari sekedar Al Qur’an yang kitab itu.
dan ini yang lebih seru loh!! asli…

kenapa?
karena sebuah tantangan kan tuk mejadi rahmatan lil alamin itu?
sebuah tantangan kan tuk menjadi kebaikan bersama itu?
sebuah tantangan kan tuk menjadi adil dan bijaksana?
sebuah tantangan kan tuk menjadi di pertengahan dan berdiri di banyak perbedaan?
sebuah tantangan kan tuk sejahtera dan makmur dan adil senantiasa?
sebuah tantangan kan tuk menjadi bahagia lahir batin?

maka, mengapa terpaku dihanya sebuah kitab? padahal ayat-ayatNya beterbaran di mana-mana, menunggu dibaca dan dijawab. walau, kalau kita teliti lagi, Qur’an sendiri sudah memberi tahukan hal itu. kan kata Qur’an : Iqra! bacalah.. renungilah..
tapi ternyata masih saja terpaku dan terbelenggu di sana yaaa?

mari lihat..
di sebuah hadist katanya Wa fi sirri’ Ana : dan didalam rasa ada AKU.
kita suka mencari-cari Dia kemana-mana ya? padahal Dia bilang Dia dekat. bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. dan juga bilang, kalau Dia dekat pada yang memohon dan berdoa padaNya dan selalu berbuat kebaikan.
ya iyalaaahhhhh… berdoa dan memohon itukan tanda kita sebagai manusia masih memerlukan Dia dan meyakini Dia ada. lalu kalau kita masih berbuat baik, itu juga tanda kalau kita masih sadari Dia ada, maka mau berbuat baik demi balasan hidup yang baik juga. walau kadang kita lupakan Dia, tapi di saat butuh, kita masih juga meminta padaNya dan sesaat sadar tuk berbuat baikkan??

kadang rasanya tuh, tuhan dan manusia itu sebenarnya bisa satu rasa.. walau manusia yang sering lupa. lupa karena menuruti ego pribadi terhadap kehidupan, ingin semua diraih dalam genggaman, baik materi maupun non materi.

agama fungsinya ya untuk mengasah hati. kalau dalam islam, kita temui di kitab-kitab tazkyatun nafs, Ihya ulumudidin, al Hikam, dsb-dsbnya, banyak banget. itu tuk mengasah hati, membangun empati.
tapi ternyata sulit ya itu terwujud, padahal kita-kitab itu adalah kitab-kitab klasik. yang nota bene sudah bertahun-tahun diterangkan soal empati ini. cuma mungkin perlu tafsir ulang dengan bahasa kekinian kali yaa..

ya sudahlah..
intinya : empati..

akhlaq mulia seorang Muhammad itu sejujurnya terlahir dari rasanya akan tuhan.
bukan dari hanya logikanya ttg tuhan. prilaku atau budi pekerti itu lahir dari rasa. ga sekedar dari olah pikir.
seperti bahwa saya akan hormat pada ortu karena dia yang membesarkan saya dsbnya. itu benar, tapi yang lebih indah jika itu juga adalah hasil dari rasa menghargai dan empati pada ortu yang sungguh-sungguh -dalam lapang dan luang- membesarkan kita.
disana, jelas ada moral yang lebih dikedepankan dari sekedar hitungan matematis fungsi ortu. dan akhirnya akhlaq atau pekerti itu akan mengalir begitu saja, bukan direkayasa. dan inilah yang mahal sekali dalam hidup loh.

lantas kalau merasa umat islam masih jauh dari karakter Muhammad, ya itu yang harus kita cari tahu. dan hari ini, di tulisan ini, saya mengajak di sini, dalam keterbatasan saya, mendekati sosok Muhammad dari mata saya yang bernama rasa.

kali-kali empati saya pada Muhammad bisa membuka sesuatu ttg beliau yang selama ini tak tersentuh kita. karena jujur, saya sendiri juga bisa setelah mengalami pergulatan terus menerus, baru akhirnya menyadari arti rasanya, baru bisa melihat dari mata bernama rasa..

sebelumnya, saya sama saja dengan yang lainnya. melihatnya dengan logika matematika saya. bahwa Muhammad begini begitu, karena ini dan itu, dan katanya ini itu, walau kemudian juga hanya ini itu, dan bahkan ini dan itu. asal tahu ini dan itu karena ini dan itu, dan jangan lupa ini dan itu tak lain karena ini dan itu. atau kalau ga ini dan itu ya ini dan itu. halahhhhh… begitu terus.

sampai saya sadari dari mata bernama rasa, maka saya pun mengendap…
ingin menangis karena sakitnya saya tahu,
ingin menangis karena sepinya saya tahu,
ingin menangis karena dilemanya saya tahu,
ingin menangis karena cintanya saya tahu..
saya tahu dari mata bernama rasa

maka maafkanlah saudara-saudara kita yang masih belum mampu melihat dari matanya yang bernama rasa. dan doakan semoga kelak dapat melihat dari rasanya, yang tentu akan berbeda-beda dan indah-indah saja…
sungguh, tiada yang salah.. selain jika nafsulah yang berbicara.
mari beningkan rasa… dengan kejujuran dan ketulusan, yang hanya dan hanya itu saja…

(selesai deh.. akhirnyaaaaaaaaaaaa :D)

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “dari mata bernama rasa.. (3)”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Setiap orang didekati Tuhannya dengan cara yang berbeda-beda kalo menurut saya. Ada yang lewat rasa, ada yang lewat logika, dan masih banyak lagi.
Dan hanya orang itu saja yang tahu bagaimana rasa sesungguhnya menikmati “pendekatan” Tuhan. Ada yang pingin berbagi, ada yang pingin dinikmati sendiri.
Yang pingin berbagi juga punya cara macam-macam. Ada yang macam kyai gunung, ada lagi yang macam FPI.
Dan semua tentu dalam rencana Tuhan. Gitu kan? Jadi hidup itu indah, saya menikmatinya dengan cara saya dan melihat orang menikmatinya dengan caranya sendiri.

@iwal
justru itu saya berbagi dari mata saya..
selebihnya, ya terserah anda dan semua..
masing-masing pasti punya dimensi rasa dan logikanya sendiri..
ini sungguh tidak untuk disetujui kok.
hanya inspirasi saja…. ya ga??
mari sama-sama nikmati hidup ini.. pisss 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: