satu, satu, satu..

Posted on Mei 27, 2008. Filed under: 1 |

(mari masuk ke dalam lorong waktu, ketika saya menuju yang satu.. )

sebagai orang cina, meski saya beragama katolik saat itu, saya tentu tetap diajak ortu dan keluarga besar ke kelenteng. dari sekedar tradisi keluarga, ke kelenteng juga sangat bernuansa wisata..
dalam kenangan masa kecil itu, saya yang tukang protes ini, ketika melihat begitu banyak patung yang diberi dupa, maka ya saya akan bertanya dan bertanya..
– ini patung apa? siapa dia? untuk apa disembahyangi? lalu yang itu apa? kenapa beda bajunya? kenapa yang ini beda ruangnya? kenapa ini berdua dan itu sendirian? kenapa..? kenapa..? kenapa..?

cape deh ibu saya.. 🙂
maka kadang saya hanya disuruh mengikuti sambil diam atau malah di suruh main bersama kura-kura yang ada di taman kelenteng waktu itu. tapi saya penasaran, sangat penasaran dan memaksa ibu saya menjelaskannya. ibu saya pun -mau tak mau- harus menjelaskan. yang ini tuk rezeki, yang ini tuk kesuburan, ini tuk kesehatan, ini tuk pejagaan rumah, ini tuk panjang umur, dsbnya..

menjadi seperti kalau kita, ada doa untuk makan, doa tuk bepergian, doa tuk keselamatan, doa tuk turun hujan, doa tuk tolak bala, dsb-dsbnya.
hanya di kelenteng itu diwakilkan dalam bentuk patung atau dewa-dewi..

maka saya pun pernah bertanya pada ibu saya begini..
– ma, dari semua dewa dan patung yang banyak ini, mana yang paling hebat?
dasar penasaran 😀
hehehe, mau tahu jawab ibu saya?
ada satu yang paling hebat.. tapi ga ada disini..
(maksudnya ga ada di dalam kelenteng-red)
– loh, kok ga ada di sini? emang dimana?
sayapun celingak-celinguk, menyapu pandang ke semua ruang..
ya ada aja, kerasa ada yang paling hebat tapi ga di gambarkan disini..
kerasa?
– iya, kerasa.. karena semua inipun Dia yang hebat itu yang menciptakan. kalau disekolah, itu yang namanya Tuhan Yang Maha Esa itu, non.
– ooooo… jadi masih ada tuhannya toh semua yang dilambangkan oleh patung-patung ini..
hahahaha, demikianlah saya dengan sederhana menyimpulkan..

maka sejak saat itu, saya di kelenteng atau di gereja, dalam bagaimanapun para pemuka dan pengajar agama mencoba melukiskan kasih tuhan, saya selalu merasa memang ada yang satu yang paling hebat.. 😀

dan maka pula, ketika Islam menawarkan dengan sangat eksplisit bahwa tuhan itu ahad (satu), ya saya dengan segera tune in dengan konsep yang demikian.
hanya heran aja, kalau tiba-tiba jadi rumit, dengan islam yang awalnya saya pikir sederhana dengan Allahu ahad itu..
ya sejujurnya, itu terjadi ketika agama islam dijadikan alat tuk mengoreksi beragamanya orang lain. saya pribadi, lebih suka menempatkan islam tuk menjawab banyak tanya saya, daripada mengoreksi orang lain.

karena dimata saya, selama mereka bisa mencapai makna “islam” dalam rasa akan tuhan yang satu itu, sesungguhnya mereka telah sampai pada konsep keilahian itu sendiri.

tantangan dari sebuah agama, apapun bentuknya, adalah mencapai keidealan ajarannya. bukan untuk arogansi tapi basi, karena sendirinya tidak mengerti..

maka, saya pernah sangat terkesan sekali dengan kisah Bilal Bin Rabah
yang ketika mengalami penyiksaan dari kaum quraisy karena pilihan berislamnya, Bilal justru menyebut :
Ahad, Ahad, Ahad..
menjadi pertanyaan besar di benak saya,
kok bilangnya “Ahad, Ahad, Ahad” dan bukan “Allah, Allah, Allah”??

sungguh, ketika saya renungi dalam-dalam,
saat itu Bilal tidak sedang memperkarakan bagaimana dirinya atau kaum qurasy yang menyiksanya itu memanggil Dia
Bilal sedang menyampaikan rasanya..
rasa akan Dia yang satu dan hanya satu..
maka Bilal berucap Ahad, Ahad, Ahad..
rasa yang semoga juga dirasakan juga oleh kaum qurasy yang menyiksanya itu, walau mungkin kaum quraisy menyebut dalam cara yang berbeda..

see? jauh sebelum syariat itu diturunkan dan diajarkan oleh Muhammad, inilah yang terpenting. rasa akan keesaan tuhan dalam jiwa. sebagaimana rasa dalam jiwa seorang Bilal bin Rabah.

maka aneh, jika saat ini semua umat islam seolah ingin berlomba-lomba mengedepankan syariat.
sik, sik, sik..
tar, tar, taaar..
tauhid/rasa keesaan dalam jiwanya dulu deh yang dibenerin, ya ga?
ribut akan perbedaan mulu itu ga kan ada selesai-selesainya, kalau ga punya basic pemahamam yang jernih ttg islam itu sendiri. gitu ga sih? 😉

dan saya..
ketika kaki-kaki kecil saya melangkah di kelenteng itu..
ketika kaki-kaki kecil saya berlari-lari menuju gereja itu..
ketika kaki-kaki remaja saya lalu lalang dikoridor masjid itu..
sungguh, sama semua rasanya..
satu, satu, satu..
esa, esa, esa..
ahad, ahad, ahad..

dan kini, temuilah kaki-kaki dewasa saya melangkah mantap..
menapaki setiap jalan dan batu-batu ujian..
bak melompat-lompat, hup-hup-hup…
tapi tetap bunyinya di dalam hati, satu-satu-satu..
saya mantap merasakan rasa satu itu dalam jiwa dan raga saya..

saya merdeka!!

maka sebagai Indonesia, yang demi dasar pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa itu, akan mantapkah juga kita di dalam rasa ke-indonesia-an kita?

tuhan, merdekakan kami sekali lagi..!!

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “satu, satu, satu..”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

ya sejujurnya, itu terjadi ketika agama islam dijadikan alat tuk mengoreksi beragamanya orang lain. saya pribadi, lebih suka menempatkan islam tuk menjawab banyak tanya saya, daripada mengoreksi orang lain.

saya juga sering ngenes kalau lihat orang lempat-lemparan ayat,
pikir saya, “kenapa nggak dipakai bercermin aja … biar jadi tambah cakep semua”.
lha dipake lempar-lemparan nanti kalau kepala pada benjol gimana ??
apa nunggu pada benjol dan kerasa sakit dulu baru mau berhenti ??

::seandainya semua bisa menterjemahkan puisi SANG MAESTRO, maka apa yang dibanggakan penemunya..
::seandainya semua bisa menikmati rumah di real estate yang amat mahal harganya, apalah kebanggan memiliki rumah itu..
::seandanya semua bisa…ah..engga perlulah ada semua kegelisahan itu…
::untung orang tuaku tak sadar bahwa akupun bisa berjalan tanpa di tatah…sehingga ada kesempatannya untuk menatahku…

asyik juga membaca artikel ini,
kenapa bilal berkata ahad, ahad, ahad?
kalau saya sih…
merasakan apa yang bilal rasakan,
yakni kepasarahan yang mendalam saat penderitaan
akan bayangan kematian di depan mata…
……lalu…pertolongan tuhan benar2 datang
akhirnya saya bisa lolos dari maut tersebut…

@watonist
sama mas, miris dan teriris-iris rasanya melihat ayat-ayatNya di jual dengan sangat murah..

@zal
bang zal, siklus kali ya. ada masanya kegelisahan kembali datang tuk jawab negatif yang telah begitu besar, sama dengan ada masanya kegelisahan tuk melawan positif yang sudah terlalu besar. sudah hukum alam.. bersyukur kita berada di kesadaran tuk mempositifkan kembali semua ini..

@adi isa
yup, mari pasrah pada dia yang esa, yang menguasai hidup dan mati kita.. makasih 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: