maka mereka dinamakan orang tua

Posted on Juni 7, 2008. Filed under: 1 |

(ini adalah bagian yg cukup pahit dalam hidup kanak-kanak saya. tapi ini sangat membangun jiwa saya… mau tahu??)

sebut saja keluarga saya itu keluarga yang tidak harmonis. uang telah membuat papa saya : selingkuh. waktu itu sampai begitu genting, sehingga kalau perceraian terjadi, saya akan jadi anak papa, dan kakak saya akan jadi anak mama. kami terancam pecah dan terpisah..
sejak itu pula perlakuan tuk saya dan kakakpun berbeda seiring pertengkaran diantara ibu dan ayah saya. ibu saya dalam emosinya jadi sangat membenci saya, karena saya adalah pilihan dari pihak ayah. ibu saya menjadi keras kepada saya, dan sangat longar pada kakak saya.

berhubung saya ini malas ribut dengan ortu, maka sikap keras ibu saya itu, saya maknai sebagai bentuk nilai yang ditanamkannya pada diri saya. dan memang menjadi seperti itulah sikap kerasnya. saya mendapatkan nilainya, tidak terpaku pada sikap kerasnya.

tapiii…. sebagai anak, saya tetap tidak kuat terus menerus menahan diri. disuatu pertengkaran, dimana saya dibawa-bawa. saya pun meledak! saya melempar gelas ke arah papa. saya berteriak padanya, kalau dialah yang membuat semua ini jadi berantakan.. duh, saya jenuh!

dan semua terkaget-kaget…
mama dan papa saya tercekat, kakak saya tercengang, paman saya yang kebetulan melihat .. shock! anak yang selama ini santai, yang selama ini nurut, yang selama ini asyik dengan buku-bukunya, bagaimana bisa begitu???!

wah, jangan ditanya… saya juga kaget sendiri.. kok bisa yaa??
itu seperti tidak saya sadari. seperti ada sesuatu yang meledak saja deh, dan saya menyesalinya langsung seketika itu juga. saya tidak pernah bermaksud demikian. itu semata karena saya sudah jenuh aja.. nyesel deh.

maka ibu saya diminta paman tuk membawa saya jalan-jalan. naik becak.
hehehe, saya kecil suka naik becak… 🙂
sepanjang jalan itu… (tolong perhatikan yang ini)
ibu saya minta maaf pada saya
yup, beliau yang duluan minta maaf

wah, ya saya tidak enak hatilah. harusnya saya yang minta maaf. kelepasan. bagaimanapun saya anaknya. tapi ibu saya memaksa saya tuk mendengarkan dan menerima permintaan maaf nya.

katanya, jangan membenci papa.
semua yang terjadi, tidak bisa hanya dilihat dari kesalahan papa saja. memang beliau salah sudah membuka pintu tuk wanita lain. tapi, tentu tidak sesedarhana itu. pekerjaan, lingkungan, pendidikan, godaan, kebutuhan, ketidaksengajaan, bahkan khilaf… diwacanakan oleh ibu saya. ehmmm… saya ya diem saja. bingung juga..

lalu satu katanya yang berkesan tuk saya, bahwa..
– bisa jadi mama sendiri juga bersalah, non..

duh, ingin deh saya memeluk ibu saya waktu itu.
saya tidak mengerti apapun yang sudah terjadi, saya masih duduk di kelas 1 SMP. tapi saya bisa merasakan bahwa semua terjadi adalah buah dari proses panjang dalam kebersamaan kedua ortu saya itu, ditambah bersama keluarga besar, bertetangga, berkolega dst-dst..
sejak itu, saya mencoba tuk tidak melihat papa saya secara hitam putih.

saya belajar abu-abu.
saya belajar menerima banyak faktor di luar teori dan kenyataan yang ada di depan mata. saya belajar melihat dengan hati…

dan yang ada… akhirnya adalah rasa sedih dan sayang.
bahwa bagaimanapun dia adalah papa saya, manusia yang darinya saya : ada.
manusia yang padanya saya : dititipkan tuhan.
terserah apa rencana tuhan, tapi tuhan beri dia untuk saya dan beri saya untuknya..
dalam dimensi masing-masing, peristiwa itu sama-sama bermakna buat saya dan papa, begitupun untuk ibu saya..

sungguh, peristiwa itu luar biasa dalam pengalaman hidup saya..
ibu saya minta maaf pada saya.
itu sungguh, sikap paling berani di mata batin saya.
ibu saya berani bertanggungjawab…….

***

makaa……,
jika hari ini kita saksikan indonesia carut marut, para politisi senior itu pada saling melempar kata dan sikut menyikut. dimata saya, itu urusan mereka.
kita tidak akan diminta menanggung prilaku mereka, biar mereka saling bertanggung jawab atas sikap mereka sendiri.
semoga saja mereka bisa -istilahnya- meminta maaf pada anak bangsa ini dengan sungguh-sungguh memberi jalan tuk kita membawakan indonesia ke depan..
apapun bentuk minta maaf itu, apa dengan mengusir mereka yang jahat dari bumi indonesia ini, atau juga termasuk membuka aib mereka sendiri.. dsb, terserah.

biarkan mereka minta maaf dengan cara mereka..

dan kita….,
dalam kepahitan ini… sambutlah permintaan maaf itu.
bukan apa-apa, kita masih diperlukan tuk hidup ke depan.
kalau kita juga ikutan mandeg, maka siapa lagi nih yang akan melangkah membawakan indonesia..?

maka mereka dinamakan orangtua,
ketika mereka segera menyadari kesalahannya dan segera membereskan semua urusan, tuk anaknya terus melangkah dan bukan mandeg karena permasalahan mereka..

maka juga, saya pernah menulis “tua dan muda di 2009 – 2014”. sungguh, saya berharap mereka tetap bisa jernih bersikap sebagai orang tua, untuk indonesia baru ke depan..

yukk, kita doakan para orang tua itu
semoga kesadaranlah yang berpihak pada mereka
bukan lagi-lagi nafsu dan nafsu tuk kejayaan mereka sesaat..

maaf yaa..
sebagai anak, mungkin saya terlalu berbakti pada ortu..
saya tak pernah bisa meniadakan orang tua..
seburuk apapun mereka untuk saya..
tapi jangan lupa, saya masuk islam..
meninggalkan orang tua dalam keyakinan hati..
saya memilih dalam subyektivitas saya..
akan jalan tuk saya yakini menjadi lebih baik..

demikian juga dengan indonesia kita hari ini..
orang tua bangsa ini boleh pernah salah..
dan mereka boleh selalu bersungguh-sungguh
memperbaiki semua itu untuk kita..
kitapun tetap akan menempuh..
dengan jalan dan cara kita sendiri..
yang kita yakini terbaik tuk kita ke depan..
buah belajar dari perjalanan orang tua kita itu juga..
kembali pada Pancasila dan UUD 45..
kembali pada citra rasa indonesia kita..
kembali pada rasa tuhan yang esa dalam keberagaman kita..
kembali pada rasa kemanusiaan kita tuk adil dan beradab..
kembali pada rasa persatuan dan inginnya kita semua bersatu..
kembali pada cara bermusyawarah tuk mufakat yang fair dalam jiwa muda kita..
dan semua itu, demi keadilan sosial bagi kita semua.. bagi semua indonesia…

semoga..

merdeka!

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “maka mereka dinamakan orang tua”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Aku sangat tersentuh oleh testimoni ini. Sudah terlalu sering tak mampu terharu, mungkin karena kepedihan di mana-mana. Sejak mau berangkat tidur dan kemudian bangun di pagi hari, kesadaran tentang Indonesia hanya menerbitkan keprihatinan dan kesedihan. Lama-lama kita menjadi terbiasa, dan kebal.

Kepedihan tapi tanpa rasa haru. Kesalahan tanpa pengakuan. Pengakuan tapi tanpa penyesalan. Dan pembenaran-pembenaran yang menteror akal sehat.

Sementara itu korban-korban terus berjatuhan; di Sidoarjo sebuah neraka sedang terbentuk atas nama bencana alam, dan para penduduk terpaksa bertahan di zona maut atau pergi tanpa bekal kehidupan.

Dan di Monas, pada hari Ahad yang memilukan itu, sebuah tragedi kemanusiaan dilakukan entah buat apa; kemudian dengan enteng disebut Insiden Monas.

Terima kasih, Anis, untuk keberanianmu bertutur jujur. Itu sungguh melegakan dan menginspirasi.

@tobadreams
makasih, bang..
sakit akan semakin sakit, jika tidak dimaknai..

tuk lumpur porong sidoarjo, saya hanya mau bilang pada orang2 tua itu:
walau sedikit,
semoga bukan karena pelit..

tuk monas kelabu, saya juga hanya mau bilang pada orang2 tua itu:
dipikirnya ringan,
padahal itu bak bumerang..

setuju ga bang, saya bilang gitu pada mereka yang dinamakan orang tua itu?? 😀

Hmmmm…salut buat anda deh, ternyata ketajaman mata hati dalam melihat masalah akan membawa diri ini pada titik betapa manusia itu makhluk mulia. Dan yang membuat manusia menjadi tidak mulia juga manusia itu sendiri…aduh bingung nih. BTW, kalau pemimpin bangsa dianggap orangtua, yang kita tunggu perminta maafanya pada anak bangsa, lha yang ini saya paling tidak yakin, meskipun bukan hal yang mustahil. Salam kenal aja deh dari saya.

@abiehakim
justru disitu mas..
kalau mereka orangtua, maka temui permintaan maaf mereka dalam “bahasa” mereka hari ini, yang semerawut dan tidak bisa lagi mempertahankan diri dan hegemoninya..
semua seperti kebablasan..
membuat mereka akhirnya -perlahan tapi pasti- harus mengakui, mereka itu orang tua dan harus sudah memberi estafet kepemimpinan ini dengan fair kepada kita semua. tidak bisa terus mau absolut dalam hidup di negeri ini.

termasuk buat mereka yang pro garis keras, kenyataan saat ini adalah tuk disadari bahwa mereka tidak bisa terus kasar begitu pada kita. itu mengkhianati kesejatian bangsa ini..

sederhanakan saja, ini pendewasaan buat kita -yang muda- dan ini penyesalan buat mereka -yang tua- hehehe 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: