jangan harfiah..

Posted on Juni 14, 2008. Filed under: 1 |

(dilanjut yaa..)

sembilan, mandi
ini berawal dari kedatangan tamu dari jamaah al arqom malaysia ke kelompok saya itu. bagaimana bisa, saya ga tahu.. aslinya sih, teteh arqom itu urang sunda, tapi pengikut jamaah arqom itu. jadi agak-agak malaysie gitu deh dialeknya.

dia berjualan produk arqom yang tentu bebas alkhohol dan halal, sambil menularkan kebiasaan-kebiasaan yang dikatakannya itu sebagaimana rasul dulu. salah tahunya ttg mandi. berdasarkan dari doa sebelum masuk kamar mandi, yang intinya kita memohon perlindungan dari Allah dari godaan setan. maka katanya, kalau mandi tidak boleh -maaf- sebagaimana kita mandi selama ini. harus menggunakan kain, agar tidak terbuka demi tidak dilihat setan..

ehmm, maka beberapa teteh itu mandi menggunakan kain sarung gitu. saya pun mencobanya. hehehe, maklum deh, namanya juga anak baru islam.. kaya anak baru gede. dan haduhhhhh… kok aneh ya?
(wah, tolong luruskan pikiran anda ketika membaca ini ya, hihihi)
ketika di kamar mandi, berbalut kain.. saya menatap sekeliling kamar mandi, yang selama ini biasa kita pakai mandi deh. ehm, sebelum ini, mandi ya tinggal mandi. niatnya mandi, bersih-bersih lalu keluar sudah bersih juga wangi. tapi kenapa saat itu, terasa jadi aneh.. kenapa harus terasa ada yang melihat? padahal kamar mandi itu tertutup rapat. hiii… pikiran saya jadi aneh-aneh deh saat itu.

belum lagi, ketika mengguyurkan air ke badan.. wah, ribet. bagaimana sabunannya? kain sarung itu malah lengket kemana-mana di badan. saya jadi sedih loh. terbayang oleh saya, mereka yang mandi di sungai. pasti di sana akan ada rasa khawatir kalau banyak yang mungkin mengintai karena mandi di ruang terbuka, lalu juga terasa juga ribetnya mandi berbalut kain. bersih atau ga mandinya sudah ga kepikir deh. asal kena air dan segar saja kali yaa..

duh, tiba-tiba, saya bersyukur menjadi manusia modern, yang sudah bisa membangun ruang khusus tuk mandi bernama kamar mandi. sungguh, ini buah dari kecerdasan manusia kan?? apalagi saya pernah kuliah di arsitektur.. bukti manusia memang terus tumbuh dan kembang, seiring tumbuh kembang moral dan etikanya.

saya nih, jadi malah berpikir -harusnya- kita bisa membangunkan rumah sehat dengan kamar mandi yang baik, bukan malah jadi mundur ke kondisi yang sudah kita jawab permasalahannya dengankamar mandi ini. jadi doa masuk kamar mandi itu -buat saya- kok lebih relevan tuk masa dimana mandi kita masih di ruang terbuka. setannya kan pastinya, karena khawatir diintip orang.. gitu ga sih??
ah, saya memilih menghargai perkembangan akal manusia deh. maaf yaa… niatnya mandi, ya saya kerjakan sesuai niat itu. saya ga mau ribet.. setuju? πŸ˜€

sepuluh, tiga jari
masih dari teteh arqom itu, kali ini malah beberapa orang. kamipun menjamu sebagaimana yang katanya cara makannya rasulullah. makan bersama dalam satu baki, plus suapannya dengan tiga jari saja. ga sebagaimana biasanya kita makan dengan tangan, ini hanya tiga jari saja. jempol, telunjuk dan jari tengah. saya ya ikut saja..

makan bersama dalam satu baki, di banyak daerah di indonesia ada ya, terutama di acaraacara adat. tapi… tiga jari? haduhh.. ga dapet-dapet loh nasinya. kalaupun dapet dikit. hehehe, ga bikin kenyang dan malah repot loh. saya ya menghormati sajalah. ikutan saja. walau kok rasanya ga kenyang deh makan kaya gitu πŸ˜€

ga cuma sampai disitu, katanya biar berkah, minumnya ya air matang bekas kobokan tangan kita sehabis makan itu, dan digilir…. hoek! ga deh, makasih… saya kok tercekat. untung teteh-teteh saya itu juga masih punya akal sehat, air kobokan mah ga tuk diminumlah, meski katanya berkah.. ya ga? πŸ™‚
sungguh, saya kok merasa sudah jauh dari akal sehat semua itu. maka kalau dalam qur’an ada ayat yang berbunyi, berpeganglah pada tali agama Allah. buat saya itu maknanya, berpeganglah pada akal sehat.

Tuhan itu adalah sumbernya Ilmu. dan ilmu itu dekatnya dengan akal. maka teguhlah berpegang pada tali agamaNya, itu universalnya… teguhlah berpegang pada akal sehat!
jangan keterlaluan deh. astaghfirullah.. meski saya mualaf, saya menolak praktek begituan. lebih baik ga jadi orang islam, kalau saya disuruh demikian. hehehe, maaf…

sebelas, sempit
sejak sma di bandung, saya tidak pernah nonton tv. saya jarang mau gabung dengan ibu kost, nonton tv. saya lebih suka asyik baca buku sendirian. maka ketika islam, saya ikut tinggal dan menjaga tempat usaha itu, yang juga tanpa tv, saya sudah biasa. hanya memang, saya punya sony mini compo, tuk selalu dengar radio dan musik.

tapi sejak di rumah teteh-teteh itu, mini compo saya itu dibuat tuk mendengarkan nasyid. saya tidak keberatan dengan digunakan bersama mini compo itu. hanya saya nih agak kesulitan mendengar nasyid itu. terutama nasyid intifadhoh – ttg perang afghanistan atau palestina gitu deh..
saya sih ikut-ikutan yang ada saja, maklum anak baru islam tea.. walau rasanya kok kering yaa batin saya.. 😦
e, beda kan nasyid dengan musik padang pasir?? ini nasyid perang itu, bukan musik padang pasir. tapi katanya begitulah kalau mau berislam dengan kaffah.. utuh menyeluruh.

untung ada salah satu teman di sana yang masih mau mendengarkan Bimbo dan Ebiet G Ade. jujur, saya sudahkah tidak mengerti arti nasyidnya, kering gitu rasanya mendengar nasyid itu. saya yang dulu biasa menari, saya yang dulunya menyanyi di gereja, saya yang penggemar berat phil collins, saya yang…. aduh, tapi kalau memang inilah islam, saya coba bertahan deh. tapi kok sulit ya? untungnya waktu itu, saya aktif di pembinaan anak-anak masjid salman, disana saya kembali mendengarkan musik.

katanya musik itu universal, bahkan terbukti, karena musik… manusia bisa bersahabat dengan manusia-manusia lain dari belahan dunia lain. bisa berkolaborasi dan bisa bersama-sama. ehmm, kalau islam itu universal, tidakkah seharusnya islam itu sebagaimana musik itu yaa?
bisa menjembatani banyak hati? ini kenapa rasanya jauh dari makna universal? malah sangat parsial? kalau ga mau dibilang sempit? duh, sempit deh hati saya waktu itu. saya merasa jadi kasar, jadi pemarah, jadi kaku.. jadi bukan saya lagi…. 😦

dua belas, sendiri
maka, ketika saya sendirian, malam-malam di rumah itu, sehabis sholat dan masih berbungkus mukena, saya lebih suka merenungi diri. kenapa begini ya islam? yang mana yang benernya nih?
rasanya kalau dulu Muhammad itu membebaskan manusia dari kejahiliyahan atau kebodohan, kenapa semua ini malah terasa seperti -maaf- malah kebodohan (kasarnya) dalam hati saya yaa? sempit dan picik..

diluar sana, manusia sudah mencapai bulan, manusia berlomba menciptakan karya-karya kemanusiaan yang luar biasa, bahkan manusia sudah memproduksi banyak teknologi.
walau memang hidup pasti ada negatif dan positifnya, diluar sana juga berlangsung banyak hal-hal yang negatif. tapi tidakkah harus dihadapi dengan lebih canggih, lebih bermoral dan beretika tinggi? bukan malah mundur begini kannn??

maka saya lebih suka menyebut diri saya mualaf saja. saya tidak bisa menjadi muslim kalau harus demikian.

dalam empati yang besar saya tuk perjuangan seorang Muhammad, jelas saya tidak bisa mengecilkan artinya, hanya karena zaman Muhammad yang memang masih demikian harus dibawa ke zaman sekarang. saya tidak bisa mengkerdilkan arti Muhammad hanya tuk berlagak demikian. saya tidak akan membawa Muhammad dalam keseharian hidup yang harfiah, saya lebih suka membawa jiwanya dalam jiwa saya..

jiwa yang berisi semangat tuk menjadi lebih baik, lebih sehat, lebih teratur, lebih sukses, lebih cerdas, lebih unggul, lebih canggih, lebih bersih, lebih wangi, lebih berisi dsbnya. maka islam pernah mencapai puncak kejayaannya dalam hal ilmu dan pemerintahan di zaman dulu itu.
ya saya pikir karena semangat Muhammad yang tumbuh di dalam hati, bukan sekedar assesori.. hehehehe… πŸ˜€

tulisan yang ini ga lucu yaa..? maaph πŸ™‚

yang ini memang berkali-kali membuat saya ingin mundur..
tapi entah kenapa, saya tidak pernah bisa..
saya tidak bisa membiarkan kebodohan seperti ini..
maaf, ini terasa kebodohan dalam dimensi saya loh..
maka saya terus melangkah menuju intinya..
meninggalkan semua yang seperti itu..
saya ingin tahu yang sebenarnya..

sekalipun untuk itu
saya harus pecah..
dan terbelah..
sekalipun untuk itu
saya harus kesakitan..
dan berantakan..

sungguh, saya hanya bisa berkata
tolong, jangan harfiah..
sekali lagi, jangan harfiah..
dan mohon, jangan harfiah..

merdekalah yang penuh tanggungjawab pada tuhan..!

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

10 Tanggapan to “jangan harfiah..”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

tul banget
saya mendukung dech

@realylife
wah,langsung dapet komentar nih.. makasih yaa.. πŸ˜€
yukk, kita sama-sama bikin hidup ner-bener hidup, ya ga? realylife gitu loh.. πŸ˜€

harus menggunakan kain, agar tidak terbuka demi tidak dilihat setan..

setan itu musuh yang nyata (kata-Nya), apa artinya ??

Taqoba-ullahu mina wa minkum, kamsia Teh mBak anistuk bacaan nyang….. ehm. mulanya saya eja biasa-biasa aja tuh. kemudian kok sedih yah…….., tapi berakhir plooong… banget gitu dech!

@watonist
jujur, “setan” itu -buat saya- adalah potensi negatif dalam diri kita. maka itu nyata, karena kalau kita gagal mengatasi itu, semua hal yang buruk pasti terjadi. karena bukankah baik dan buruk dalam hidup ini adalah hasil ulahnya manusia, dan itu nyata?

perhatikan pula, mengapa Rasulullah itu dikabarkan sering beristighfar. sesungguhnya, beliau melakukan itu tuk mengendalikan potensi negatif dalam diri beliau, atau “setan” itu. maka juga dikatakan di setiap kelahiran sudah ada setan dan malaikatnya. itu bahasa agama, bahasa kitanya ya setiap manusia memiliki potensi negatif dan positif itu.

disini juga harusnya kita bisa menjangkau bahasa agama dengan akal yang sehat, agar pengendalian nafsu itu bisa mungkin dilakukan dengan nyata pula. selama setan dianggap makhluk diluar kita, maka selama itu pula, kita dalam salah ulah kita, tidak merasa kalau perbuatan salah itu sesungguhnya sudah perbuatan “sekelas” setan. dan kalau itu terus dilakukan, “setan”nya terus naik kelas dalam diri kita, hiiii… akan semakin gelap deh jiwa itu.
gitu ga sih mas?? πŸ™‚

@kuncung
wah, maaf kalau jadi bikin sedih mas kuncung. saya memang masih suka menangis kalau ingat keislaman saya, kasuat-kasuat gitu deh. airmata bisa mengalir tanpa sadar. ga tahu tuh kenapa.. tapi yang penting, mas kuncung plong kan??

dari kecil saya diajari tuk tidak mudah menangis, maka saya selalu merasa kuat dan akan baik-baik saja. tapi akhirnya saya nyerah tuh, malah jadi suka meneteskan airmata tanpa sadar itu.. hehehe, tapi ga papa deh. sekali lagi, yang penting plong kan?? hehehe makasih yaa… πŸ˜€

jujur, β€œsetan” itu -buat saya- adalah potensi negatif dalam diri kita. maka itu nyata

setuju πŸ™‚
dia nyata bukan karena dapat diraba
dia nyata bukan karena dapat di tera
dia nyata karena dia adalah potensi dalam diri kita sendiri.
dia nyata karena kita (seharusnya) mampu mengenalnya seperti kita mengenal diri sendiri

nis, kali ini ada ironi,
bahwa memang dunia bukan tempatnya orang beriman, dunia ini surga bagi orang tidak beriman tapi penjara bagi orang beriman , saya lupa mungkin ini hadist, tapi intinya memang kita (orang islam ) tujuannya ngga jadi rocket scientist
jika ada kejadian kaya kemarin 1 juni itu saya cuma bisa mengelus dada sambil bilang ini yang dibilang dihsdist yang mengatakan bahwa islam diawal kemunculannya dianggap aneh nanti juga diakhir jaman juga dianggap aneh , orang bergerak maju kita bergerak mundur klop kan
jadi pusing ah …

@Dinda
teh, mohon jgn harfiah.
dunia itu penjara bg org beriman, yakni ketika rasa ttg tuhan telah mendominasi hati. sudah mengerti byk hal tapi tdk bisa merubah dlm kekejab mata. sbgmn saya tulis dikisah Musa dlm tulisan mandiri itu, Musa sendiri dlm rasa “terpenjara didunia” itu malah terus berusaha membebaskan kaumnya dari fir’aun kok. bahkan memeberikan kemerdekaan hakiki dan kebahagiaan di tanah yg baru itu.

jd, dunia itu tetap kanvasnya kehidupan. dunia tetap hrs digarap tuk kebahagiaan lahir batin manusia. bukan ditinggalkan begitu saja atau malah dihantam seenaknya juga. gini ya.., hidup ini punya “rule”nya sendiri, alami atau sunatullah. melawan ini sptnya melawan hukum tuhan. contoh : dunia selalu bergerak maju. maka menahan laju hidup ini sama saja dg sia-sia. maka gimana sih menjalani hidup ini seharusnya? SEIMBANG. bukan keseimbangan kalau kita selalu memaksakan kehendak. fir’aun itu dulukan jg memaksakan kehendak, merasa dialah tuhan, abadi dan bisa berlaku semena-mena pd manusia lain. itu salah.

saya setuju kalau DIALOG itu membangun keseimbangan. maka dari hidup berRT sampai negara perlu dialog. RT pake sms, hihihi.. negara lewat parlemen. ya ga?

di sebuah buku Emha, para santri ditanya oleh kyainya : apa titik tengah antara kekerasan dan kelembekan? jawab santri : LENTUR. dan kyai bilang, itulah titik pusat al Qur’an, fal-yatalaththaf.

yukk, kita lenturkan hati, pikir dan prilaku kita.. ok? πŸ™‚

karena agama itu di-design for eternity maka pilihan bahasanya adalah perumpamaan,untuk mempertajam maksud menguatkan makna, hingga umat awal sampai akhir jaman pun dapat memaknai agama dengan kondisinya (context ke kinian)
adalah sulit menggambarkan sesuatu yang diluar persepsi (yang ditak di-ilmui atau dialami) manusia dengan bahasa harfiah karena bahasa berkembang sesuai dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan
contoh penggambaran setan, penggambaran surga, surga di mana air mengalir dibawahnya ( bagi orang cidaun cianjur selatan , adalah hal biasa melihat air sungai mengalir dibawahnya , tapi bagi orang arab gurun pasir itu adalah hal tidak biasa)
juga setan, ketika kita tidak merapatkan shaf di bilang setan akan masuk , tapi maknanya kita akan berfikiran negatif pada orang yang tidak mau merapatkan diri dengan kita
CMIIW nis,

@Dinda
siiplah… teh dinda tea atuh. πŸ™‚
masalahnya ga semua orang mau dengan pembahasaan ulang itu teh.. takut lari dari pakem, merasa tidak afdhol dsbnya. padahal katanya kan bicaralah dengan bahasa kaumnya..
nah, gimana ntuh teh?
soal surga saya sudah tulis di surga yang ada borobudurnya di blog ini juga.

salam bahasa menunjukkan bangsa.. hihihi πŸ˜€


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: