langkah-langkah kecil ttg tuhan

Posted on Juni 15, 2008. Filed under: 1 |

(mau berbagi jejak dari langkah-langkah kecil saya yaa… yang indah dalam kenangan saya, hingga minggu pagi yang gerimis ini.. )

rumah tuhan itu bernama Ekaristi, dekat dengan rumah saya di kampung halaman. saya hanya perlu berjalan kaki bersama teman-teman seiman. berbaju rapi, bahkan bergaun dengan rok lebar bagai malaikat-malaikat kecil yang terbang di pinggir-pinggir jalan. dengan madah bakti di tangan, saya berlari-lari bersama teman, agar tidak telat duduk di depan, jika pastur x yang ganteng itu yang nanti memimpin misa…
jujur, ganteng ga nya, saya juga ga gitu paham.. tapi kata temen, itu yang paling ganteng dari yang ada. ya sudah, deal aja deh.. hehehe 🙂

karena masih cukup pagi, maka saya akan modar-mandir keluar masuk gereja. hanya tuk bermain air tuk tanda salib yang biasa ada di sisi-sisi gang kursi gereja. hehehe, entah deh. rasanya suka saja ketika air itu menyentuh kening, dengan sebutan pertamanya ..atas nama Bapa.
dinginnn… dan alih-alih cantik di gereja itu, saya malah suka basah kepalanya karena air itu… 😉

lalu, saya juga suka menyimpan gambar-gambar Yesus di dalam madah bakti itu. ada yang beliau membuka tangan dan ada juga yang beliau memeluk anak-anak. ehmm, saya tahu itu cuma sekedar gambar, tapi entah kenapa saya kok merasa tahu rasanya.

bagi saya, memang begitulah manusia yang dihatinya ada tuhan. Dia akan membuka tangannya tuk meraih kita. memeluk erat, selama kitapun menginginkan peluknya. Yesus di situ, tidak sekedar gambar. tapi hadir dalam rasa tuhan yang pengasih dan penyayang.
maka saya menangis ketika orang tua saya tidak pernah membuka tangannya tuk meraih saya, di tengah kemelut rumah tangga mereka. tiba-tiba tuhan terasa menjauh dan terlalu jauh…

tuhan tidak mampu merefleksikan kasihnya di dalam hati manusia yang tengah gelap dan gulita..

saya juga punya sebuah rosario yang bisa bercahaya dalam gelap. berfosforensi gitu deh. ketika saya belajar tidur sendiri, dalam gelap, saya suka menangkupnya dalam genggaman dan mengintip cahayanya. ah, dalam logika dan rasa kanak-kanak saya, serasa tuhan menemani di kegelapan malam.. dan sayapun tertidur dengan rosario itu tetap di genggaman..

indah kan??

lalu saya juga akan iseng bermain-main di meja dupa, kalau ibu saya menemani nenek saya ke kelenteng. adalah bagian wajib setelah sembahyang pada semua dewa, maka ibu dan nenek saya akan menanyakan nasib lewat mengocok sekelompok batang kayu bertulis aksara cina. nanti pemimpin kelenteng akan membacakan satu batang yang terjatuh dari kocokan itu.

lah, hari itu saya menyembunyikan dua batang kayu itu. saya iseng. bosan harus bengong menunggu terus. awalnya saya hanya iseng, mau melihat-lihat saja, walau juga tidak mengerti aksaranya. ternyata tiba-tiba, ibu dan nenek saya datang bersama pemimpin kelenteng itu. jadi, saya tidak sempat lagi memasukan batang yang saya ambil itu ke dalam tempatnya semula. aduhhhh… gimana nihhhh??

ya sudah, saya hanya bisa melihat mereka membaca nasib dengan perasaan bersalah. ketika di rumah, saya jujur bilang pada ibu saya gini..
– ma, kayanya salah deh nasib yang dibacakan itu..
– ah, selama ini sih ada benarnya juga kok.. walau ada ga benernya juga. namanya juga usaha..
– anu.. bukan masalah benar atau ga-nya.. itu ga sah deh kayanya.
– ga sah gimana?
lalu saya menceritakan kejadian saya menyembunyikan dua batang kayu ramalan itu. saya pun berkata gini..
– tuh kan, ma. itu sudah tidak sah, karena sudah dikurangi probabilitas dari yang seharusnya ada..
hahahaha, ilmiah banget yaa?? ibu saya ketawa dan bilang gini..
– udah cape-cape sembahyang, malah dikerjain anis. pake probabilitas segala lagi.. ya sudah sana.
saya disuruhnya kembali main, terlihat geli di wajah ibu saya..

indah kan??

lebih kecil lagi ke belakang.. saya masih ingat. karena saya ini suka sakit-sakitan dan pingsan, maka ibu dan nenek saya berjuang apa saja agar saya hidup dan sehat. termasuk mengikuti saran tuk membakar kemenyan di setiap malam jum’at, hanya untuk saya! sebelumnya, saya akan dibalurkan dengan delingo bengle, semacam kunyit gitu deh. asli dibalur ke seluruh tubuh seperti dilulur. lalu berbalut kain batik, saya akan disuruh duduk, lalu kemenyan itu akan di kelilingi ke sekitar saya. uhuk-uhuk.. aduhhhh, bau ga sih??

ga sampai situ, tiba-tiba mak tua itu bergumam-gumam, dan buuuurrrr!!! saya disembur!!!
aduh, apa ya yang dibuat nyembur itu, saya juga ga tahu. lalu wajah saya akan diusap, dan di pegang ke dua pipi saya, wajah saya diarahkan memandang mak tua itu. saya ya begong saja.
tapi, entah kenapa.. setiap habis digituin, saya akan tertidur dengan nyenyak. badan juga jadi segar karena sudah dilulur dan baunya yang khas jamu gitu.
e maaf, karena sudah begitu seringnya, kata pembantu sih saya bau kemenyan, tapi kok buat saya, saya hanya bau jamu yaa?? hahaha… 😀

itu masih berlangsung sampai saya smp. padahal logika saya sudah mulai menolaknya. saya ya protes, iiih.. ngapain sih digituin?? dukun-dukunan ga sih itu?
kata ibu saya sih,
– jangan begitu. jangan di hina. bagaimanapun, itu yang telah membuat anis hidup sampai hari ini. kalau ga digituin dari bayi, anis itu sudah mati.
– hah?? masa sih?
– ya iya, wong dulu, dokter sudah menyerah. bagaimanapun itu hanya cara dan usaha tuk meminta pada tuhan juga. toh, yang bikin hidup atau matikan tuhan, bukan yang lain-lain. setan ga bisa bikin hidup atau matikan??
– ehmmm, iya sih..
– tuh kulit anis juga jadi putih karena di lulur terus setiap jumat kan??
hahaha, ibu saya becanda ga becanda tuh.. waktu lahir katanya sih saya relatif agak gelap. dan kalau lihat di foto, makin lama emang makin putih..
hehehe, masa sih hanya karena luluran delingo bengle dengan stelan kemenyan gitu yang buat saya jadi putih gini? hehehe.. 😀

indah kan?

sungguh, langkah-langkah kecil saya seperti berjejak dari rasa tuhan ke rasa tuhan yang lainnya..
terus begitu… dan begitu… sampai hari ini saya sadari, rasa tuhan itu sesungguhnya hanya satu. Dia yang menguasai hidup dan mati kita, Dia yang ada dan selalu mau ada tuk kita, dan Dia yang maha kuasa dan maha daya tuk kita..

di bumi pertiwi… yang disinilah jejak langkah-langkah saya ttg rasa tuhan itu ada dan nyata, haruskah saya khianati..??
di indonesia… yang kaya budaya, kaya tanah dan airnya, kaya aneka rasa tuhannya… haruskah saya ingkari..??
di muka bumi… yang milik Dia, bukan milik saya atau kita, yang begitu luasnya dan begitu tak terjangkau tangan dan kata kita, haruskah saya dan kita paksakan mau kita saja??

duh, sia-siakah itu?
bukankah lebih baik kita mau bersatu dalam keberagaman ini?
kemudian saling bergenggaman tangan dan wujudkan indonesia yang kaya dan raya dan jaya..
mungkinkah??

saya hanya baru mengenangnya dalam rasa saya
bisakah saya berikan rasa ini ke dalam semua rasa anda?
agar anda juga tahu indahnya?
agar anda juga tahu maknanya?
dan agar anda tahu utuhnya?
walau banyak yang mengurai ttg Nya,
sesungguhnya Dia satu..

ah, saya tidak tahu…
maaf..

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “langkah-langkah kecil ttg tuhan”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

::he..he..dasar usil ya…, namun kenyataan alam bawah sadar kita membaca dengan cepat ya…, merefleksikan dengan membangun sisi dalamnya…baik disadari maupun tidak disadari, namun tiba-tiba sudah mencuat kepermukaan, sehingga seolah-olah perbuatan kita sehingga bisa demikian….
itu klenteng yg di jalan kakap ya…,

@zal
e, bang zal kok tahu??


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: