budaya kekerasan

Posted on Juni 20, 2008. Filed under: 1 |

(saya bagi disini yaa.., biar perih semoga tetap bisa menginspirasi.. )

jujur, sebagaimana sudah saya ceritakan, kemelut orangtua saya dalam pernikahan mereka, tidak cuma membuat saya menjauh juga membuat saya berpikir keras..
bagaimana tidak berpikir keras?? mau tahu?

ketika saya dicap sebagai anak papa, dalam kemarahannya ibu saya lebih suka bersikap keras pada saya. mau tahu kerasnya -real- seperti apa?

ketika saya hanya mengambil kue milik kakak saya, dan itu membuat kakak saya marah atau menangis, khasnya anak-anak. ibu saya yang ketika itu terjadi sedang menjahit, akan serta merta langsung menusukan jarum jahit ke telapak tangan saya..
aarghhhh… jangan ditanya sakitnya.
tapi jujur, sakit di dalam hati, itu yang lebih parah..

apa saja yang didekatnya ketika saya melakukan salah, itulah yang dijadikan hukumannya.
pernah suatu ketika, saya meniru kata yang tidak pantas tuk anak kecil, karena merupakan umpatan. dan sebagai anak kecil, saya nih hanya meniru sekitar saya yang mengucapkan kata itu. masih khas anak-anak. dan saat mendengar itu, ibu saya sedang mengulek sambal, maka semua sambal di ulekan itu dimasukan ke dalam mulut saya..
aaarghhh… sekali lagi, jangan tanya sakitnya..
tapi jelas, lukanya berdarah di dalam rasa saya..

saya tidak tahu, mengapa ibu saya begitu membenci saya. yang saya akhirnya tahu, itu hanya karena papa saya hanya akan mengakui saya sebagai anaknya jika mereka bercerai. ayah saya sendiri sangat kasar pada kakak saya, ya karena pelabelan itu.
ibu saya cemburui saya. ayah saya tidak mengakui kakak saya.
orangtua yang aneh.. hehehe 🙂

cemburu?
begitu dahsyatkah rasa itu sehingga kekerasanlah jalannya?
pengakuan?
begitu sulitkah rasa itu sehingga kekerasan juga jalannya?

saya membeku, itu saya akui.
kebekuan yang lahir terhadap kekerasan disekitar saya waktu itu.
dan dalam kebekuan itu, saya membangun diri tuk tidak tersentuh oleh kekerasan mereka. sungguh, ibu (alm), ayah dan kakak saya sangat segan pada saya, bahkan sampai hari ini..

saya memilih diam. memilih menjaga diri saya lebih dari yang mereka sangka. saya membangun positif diri dan tidak terkalahkan oleh mereka. saya tidak tersentuh siapa-siapa. saya tetap baik, tapi saya juga tak ingin diganggu.

dalam salah atau benar, saya melawan kekerasan.

kenapa saya bisa begitu?

suatu ketika, ibu saya marah tidak tahu apa sebabnya. dia berkata lantang dan mengusir saya yang ketika itu akan berangkat ke sekolah.
saya ya polos saja.
di usir?
ya pergi dongg..
maka sayapun pergi. sungguh, saat itu saya kelas 5 SD. saya hanya melangkah mengikuti kaki ini. jauh melangkah dan menikmati pemandangan dari kehidupan sekitar. tanpa sepeser uangpun di saku. namanya anak sekolah umur segitu, saya punya apa?? dan saya akan berpikri apa??

berjalan dan terus berjalan..
melewati perkuburan kakek saya, melewati pasar-pasar, melewati desa-desa. lalu terpikir oleh saya seorang family papa. family jauh sih. ya saya pun kesana. wah, mereka kaget. sayakan jarang datang sendirian. dan ya sebagaimana biasa bertamu, saya biasa saja dan tidak menceritakan apapun. sampai sore harinya, dengan menangis-nangis ibu saya datang menjemput saya. minta maaf karena tadi kalap.
saya sudah muak, saya ya diam saja…

apa yang saya dapatkan di saat seperti itu?
api..
saya marah.
kalau mereka bosan menjadi ortu saya, saya akan selesaikan baik-baik. mau dibuang ke panti, buat saya juga ga masalah. tapi jangan perlakukan saya seperti binatang begitu.
binatang saja diperlihara apalagi manusia??

ibu saya tahu, saya marah.
ayah saya tahu, saya marah.
dan saya minta ketegasan mereka sekali lagi.
– masih mau punya anak bernama anis ga?
kalau masih mau, jangan ulangi lagi hal demikian pada saya.
merekapun komit tuk tidak mengulangi itu pada saya..

sebagai anak, tidak kurang rasa hormat saya pada ortu. tapi ya kembali pada ortunya dong, mau dihormati atau tidak??
jangan berlaku bak preman tapi minta dihormati. tidak ada rumus tuh..

hidup ini punya hukumnya sendiri..
ada budi ada balas,
ada sebab ada akibat

premanisme hanya menimbulkan ketakutan sementara, bukan wibawa apalagi kejayaan.
dan saya melawan kekerasan, meski itu pada ortu saya sendiri..

tidak ada jalan melawan kekerasan selain ketegasan.

tapi saya juga air.
sebagaimana arti nama saya.
saya sangat mau mengerti perasaan orang tua saya. saya mau memaafkan dan memulai semuanya kembali dengan perasaan yang baik.

dan sejak itu kami berdamai .
minimal kekerasan berkurang atau nyaris tidak terjadi lagi. walau masalah orang tua saya tetap berlarut. itu urusan mereka, saya sudah tidak bisa menjangkaunya.

***

disuatu masa ketika dewasa, saya suka menggigil kalau mendengar suara anak kecil yang menangis meraung-raung karena di hukum orangtuanya. saya sakit mendengar suara seperti itu. terbayang kekerasan itu tidak sekedar lukai tubuhnya, tapi kekerasan itu lukai rasanya..
dan itu tak tergantikan..

saya sendiri, bukan tidak pernah marah pada anak. saya nih galak dan tegas. walau juga tidak bisa serius lama-lama. tapi itu hanya tuk membangun dialog. pernah saya memukul, malah tangan saya yang merah. dan berkali-kali saya meminta maaf pada anak-anak. saya sakit kalau harus kelepasan. anak-anak sih mengaku tidak sakit oleh pukulan itu, tapi saya yang kesakitan. tepatnya.. sakit itu di perasaan saya.
maka saya selalu bilang pada anak-anak,
– please.. segala sesuatu itu bisa kita bicarakan, jangan buat keadaan jadi tidak mengenakkan buat kita semua. ok?

saya api saya air
saya yin yang

terserah anda,
mau saya bagaimana?
saya bisa api.. saya bisa air..
karena saya manusia..
yang mengetahui siapa saya..

maka, tolonglah..
dalam kehidupan bernegara ini,
mari kita sama-sama sadari diri kita dan hayati mengapa kita harus bersama..
agar kita tidak terjebak prilaku yang menyesatkan jiwa..
yang rugi ga cuma kita sendiri tapi juga masa depan..
apalagi itu atas nama pendidikan, apalagi itu atas nama agama
mari kembali rumuskan diri, kita nih mau bagaimana??

api yang berlebihan hanya akan hanguskan kita
air yang berlebihan juga hanya akan tenggelamkan kita
kita harus terus memilih, tuk jadi api atau tuk jadi air
maka rumusnya ada pada keseimbangan

tuk kondisi indonesia saat ini, marilah kita jadi air tuk sekitar kita
padamkan api yang mulai menyala dan mulai ketahuan ada di mana-mana
sudah bukan waktunya mencari sebab, mari jawab semua akibat
sebelum dia menjadi alasan tuk masalah yang baru lagi
hentikan semua itu dari saat ini juga!
mulailah dengan api yang teratur dan yang menjadi energi tuk membangun

kalau tetap tidak bisa,
karena api sudah terlanjur membesar
maka tunggulah air yang lebih besar lagi
yang ditakdirkan tuk padamkan semua
sebagaimana positif mengudang negatif
dan negatif mengundang positif
sudah harus begitukah??

semua terserah anda..
mau padam?
atau mau sepadan?

***

temui saya,
orang yang mau berdialog panjang dengan anda
tuk selesaikan banyak masalah diantara kita..
temui saya,
juga tidak mau berlarut-larut dalam masalah
ada waktu yang tidak boleh dibuang sia-sia..
temui saya,
mau ada untuk anda..
mau ada untuk kita..

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: