jawaban : Islam dan akal sehat

Posted on Juni 25, 2008. Filed under: 1 |

(saya jawab khusus yaa, biar juga dibaca oleh yang lainnya. pake hadist… jadi rada serius dikit. tapi ini cukup penting tuk diketahui bersama deh.. enjoy! 😀 )

dari : bpk. Kuswandani Muhammad Yahdin

salam kenal,
saya pernah mendengar sebuah hadis (walaupun tidak semua sepakat dengan keshahihan hadis ini)
Baginda Rasul Saw. pernah bersabda,
“manusia punya empat mata,
dua mata letaknya di kepalanya untuk melihat urusan dunianya…
dua mata lagi terletak di qalbu nya
untuk melihat urusan agamanya”

salam kenal juga.. 😀
komen lengkap di islam dan akal sehat, saya hanya ingin mengupas dikit isi hadistnya.

dua mata lahir, dua mata qolbu.
menarik nih…

ehmm, saya pernah membaca ttg eksistensi manusia. maka mungkin nyambung ya, kalau kesadaran obyektif itu terbangun dari..
dua mata yang memang indera penglihatan.
lalu mata yang bernama pikir,
dan mata yang bernama hati/rasa.

qolbu itu tempatnya rasa dan fikir berpadu. namanya nurani. qolbu itu bukan semata hati yang ada di dada, tapi hati yang ghoib itu. ya ga?
hati ada di rongga dada, otak ada di rongga kepala. tapi dia bekerja dan senantiasa menemani kita dengan tidak teraba kan? terus berkecamuk tanpa media kan? toh kalau diambil hati hanya segumpal daging, otak kalau diambil dia hanya segumpal seperti lemak gitukan? maka itu dikatakan ghoib.
dan mata adalah indera tuk menangkap rangsang dari luar.

karenanya ketika dua mata kita melihat sebuah obyek, menerima rangsang dari luar, maka mata pikir kita akan membangun persepsi dan mata hati kita membangun rasa.

sebut saja, mata melihat air dalam gelas, pikir akan menceritakan persepsinya, dari itu H2O sampai gelasnya lucu. dan rasa memberi citranya, dari terbayang segarnya sampai air ini tuk siapa yaa??

maka benarlah hadist itu, Rasulullah sudah memberi tahu, apa-apa saja yang harus diberdayakan tuk manusia itu menjadi obyektif.

contoh ya. yang aktual nih..
kekerasan FPI di monas.
mata kita menangkap kesan, kekerasan begitu brutal diteriakan atas nama Allahu akbar.
coba tanya mata pikir anda, tepatkah tindakan begitu?
lalu tanya mata rasa anda, apa rasanya melihat adegan itu?

nah, setelah mata melihat kesan, pikir akan dimasuki banyak persepsi dari luar. yang katanya itu terprovokasi, padahal itu untuk silam, amar ma’ruf nahi mungkar.. dsbnya. mari jernih. kalau anda berhenti pada persepsi di luar anda, maka anda taklid.
coba tanya lagi pada mata hati/rasa anda, apapun alasan itu, apakah benar melakukan kekerasan atas nama agama? apa tuhan di dalam rasa anda membenarkan itu? apakah tidak ada jalan lain yang lebih baik dari sekedar mendahulukan kekerasan?
dst-dst..

ini harus dilatih..
akal sehat harus dilatih dan dibiasakan.
sebagaimana kejernihan yang harus selalu diupayakan, bukan asal terima jernih. maka berlajar pada siapapun tidak boleh taklid.

kejernihan sejati ada pada harmoninya keempat mata itu. obyektif!

misal,
anda memilih membenarkan FPI, dengan alasan2 sepihak dari FPI dan alasan2 ayat2 kitab suci.
tapi perasaan anda sejujurnya tidak tega dan kurang setuju dengan kekerasan.
kan banyak yang bilang gini..
– iya sih, caranya salah. tapi FPI itu membela islam..
ini ga match dongg..

anda sudah tidak jujur pada salah satu mata yang dianjurkan Rasulullah itu. anda tidak jujur dengan mata rasa anda.
kalau ini terus dibiarkan, ini akan menjadi jalan tuk munafik.
dan kedepan kalau sudah banyak yang begitu, namanya fasik
hati-hati dengan nih…

maka kejujuran itu penting.
maka ada hadist (shohih) yang kurleb bunyinya,… di dalam dada ada segumpal daging, yang kalau dia benar, benar seluruhnya. yang kalau dia jelek, jeleklah seluruhnya….

jadi dapat diambil kesimpulan, dari empat mata yang harus diberdayakan yang dipesankan Rasulullah dalam hadist tsb.. adalah mata bernama hati/rasa yang paling utama dan menjadi titik terakhir tuk menjawab semua masalah kita.

perhatikan ini…
hati-hati !
mata pikir bisa terkelabui oleh banyak persepsi dan argumentasi
mata dzohir bisa tertipu oleh banyak atribut, reklame dan kampanye
tapi mata hati… insyaAllah tidak, karena itu diyakini, tempat arsyNya. yang di dalam kegelapan sekalipun, itu masih bisa nyala walau dengan cahaya yang sangat kecil.

kan.. ada cerita (film), seorang marinir amerika yang gagah suka membom, begitu dia lihat sendiri hasil bomannya, dia ga bisa memejamkan mata barang sejenakpun. sesalnya tidak terhingga.
di situ hatinya yang sudah berbicara..

pertanyaannya, bagaimana nih agar mata hati ini jernih?

di titik tertentu, dikatakan manusia itu akan bisa melewati kesadaran obyektifnya, menjadi hanya jernih sebagaimana rasa ketuhanan itu. ini contohnya adalah orang-orang sholeh yang pernah ada. refleksinya sudah satu dengan rasa keesaan. contoh ideal untuk ini ya para nabi.

anda tahu cahaya?
dalam bahasa yang sederhana yaa…
cahaya itu sifatnya bergerak lurus.
pembiasan cahaya terjadi jika dia melewati dua medium yang berbeda.

nah, kalau ilmu Allah itu adalah cahaya. maka ilmu akan tersampaikan dengan baik, kalau media penyampainya mampu meneruskan cahaya itu dengan lurus juga.

kalau seorang ustad, ruang jiwanya keruh atau bahasa agama hatinya kotor, ya tentu tidak akan mampu meneruskan cahaya itu pada umat.
yang ada malah mengacaukan.. alih-alih cahaya diteruskan, malah acak-acakan biasnya, bahkan acak-acakan didirinya sendiri loh. kasihan deh ustad yang kaya gitu. serius, kasihan..

nah, berhubung…. ustad juga manusiaaaaa…..:D
maka kita juga harus bisa menjadi media yang jernih. dari begitu banyak cahaya yang bias, ada deh sedikitnya cahaya yang masih lurus. karena memang begitulah sifatnya cahaya itu sendiri.
yaa, kali-kali kejernihan kita masih bisa menangkap yang sedikit lurus itu.
bahkan kalau perlu, ya sadari kalau tidak ada sama sekali cahaya yang lurus dari ustad yang demikian. dan itu sangat tepat tuk ditinggalkan!

saya pribadi, ada batas-batas tertentu yang akhirnya saya memilih tuk “membuang” ustad-ustad yang sudah berkali-kali ….menurut saya…. tidak jernih dan hanya bisa memprovokasi, memobilisasi dan seenaknya dengan ayat. begitupun pada buku2 agama. saya terus mengukur, membedayakan seluruh indera, pikir dan rasa saya, agar saya tidak taklid.
hasilnya ya seperti yang anda baca tulisan-tulisan saya di blog ini. kadang baik, kadang engga… hahaha 😀

kita harus terus mau belajar.. jangan cepat merasa cukup
dan hidup adalah media pembelajaran paling indah. ya ga?

sampai disini, bagaimana?
semoga pak Kuswandani bisa terima yaa.
dan yang lain, semoga juga bisa mengerti yaa..
intinya, saya setuju hadist itu.
dan terimakasih sekali lagi, tuk pak Kuswandi sudah berkenan menuliskan di sini.. 🙂

yukk, mari kita berdayakan semua yang dikaruniakanNya pada kita, sebagai makhluk yang mulia di atas ciptaanNya yang lain.
mari kita capai kesempurnaan kita sebagai insan sebagaimana yang diamanatkan Rasulullah saw.
mari kita menjadi semakin baik dari yang kemarin dengan semakin jernih pada amanat-amanatnya.
mari jangan sembarangan dalam belajar agama…
setuju?

istilah kerennya…..teliti sebelum membeli
be yourself
dan berkumpullah dengan orang-orang yang jernih hati juga.
ciri sederhananya, selalu berusaha obyektif dan mampu mengambil sikap. bukan yang dibilang bagai buih di lautan tea..
kitakah itu?
yukk, kita berusaha tuk itu..
sama-sama menebar rahmat tuk sekitar kita..
bukan malah memperkeruh suasana, setuju? 🙂

salam,
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: