identifikasi masalah

Posted on Juli 4, 2008. Filed under: 1 |

(agak serius lagi yaa… antara agama dan korupsi nih…)

orang bilang masalah indonesia kita adalah korupsi.
ehmm, buat saya itu turunan keduanya. hehehe..

hal yang mendasar dari masalah kita adalah beragama yang kaya main-mainan. formalitas doang.

mengapa?
sederhananya, kalau beragamanya benar, ya ga akan korupsi. standar dalam materi agama berupa : tidak mengambil yang bukan haknya. ya ga?

lah, pengajaran agama kita saat ini tuh tidak mampu menyentuh kebiasaan bangsa ini korupsi.
haji ya haji, korupsi tetap korupsi. malah hasil korupsi buat naik haji. miris kan??

saya salut kalau ada partai yang mulai main bersih dan tidak korupsi. saya haturkan terimakasih. tapi kalau hanya anti korupsi andalannya, saya pikir itu sama saja dengan program partai pada umumnya. toh, di satu sisi partai tersebut menyetujui kekerasan ala FPI, dengan alasan demi tegaknya islam.
ini masih dualitas.
ini ambigu – menurut saya.

e, maaf yaa. kita sedang mengindentiikasi masalah loh, jadi wajar-wajar saja kalau kita harus melihat dan membuka banyak hal. agar kita jelas bisa melihat permasalahan kita.

idealnya, beragama itu menjadi prilaku.
ga cuma hafalan ayat-ayat atau teori-teori belaka.
syariat itu harusnya hidup.
sholat itu ga cuma fisiknya tapi hatinya juga senantiasa sholat. puasa itu ga cuma perutnya, tapi juga nafsunya. zakat itu ga cuma hartanya, tapi juga diri dan pikirannya. dia menjadi orang yang peduli. dan haji ga cuma ke tanah suci, tapi hatinya juga haji. hatinya konsentrasi berthawaf, tidak setengah-setengah dalam berbuat. hatinya sa’i dengan harap cemas tuk selalu bermanfaat, dst. dan terpenting… dia menjadi bisa bersama siapa saja yang berbeda, karena terasa sama dirinya dan yang lainnya dihadapan tuhan.

maka syariat itu hidup dan tegak atas diri dan kehidupannya..
ini beragama yang benar.

bukan sekedar sholat habis itu sudah.
bukan sekedar hafal ayat tuk mengoreksi orang lain, koreksi dulu diri sendiri deh.
bukan sekedar formalitas, terlihat alimnya saja. dsbnya..

jujur saya pernah seperti itu, sebagaimana saya tulis di simphony itu. dan itu hanya seperti beragama yang angan-angan. wuuuuusssshhhhhh……., ga ada bekasnya.
ilang dan habis begitu saja.. sia-sia belaka.

beda dengan ketika saya mau bersama siapa saja, semua jadi juga mau menyapa saya. duh, terasa tuh di telinga dan hati sapaan itu. atau beda ketika saya setara dengan yang lainnya, saya jadi bisa bercanda bersama. duh, riangnya sampai ke sanubari loh. saya bahagia..
seperti dengan semua disini..

sementara ketika saya sholat malam yang katanya lisan jadi terpelihara, saya malah sibuk sok suci. atau ketika saya rajin berwudhu yang katanya akan membuat wajah saya bercahaya, ehmm sama aja deh. saya ini memang sudah putih. tergantung teman di samping, kalau dia hitam ya saya jadi lebih bercahaya. sementara kalau dia putih juga, ya biasa saja. hahahaha.. maaf, becanda.. 😀

bercahaya itu ya hanya yang lain yang bisa melihatnya. dan itu hati deh ukurannya. saya ga bisa definisikan cahaya di situ. saya pikir itu seperti aura. terasa beda aja kali yaa. ga tahu deh.
tapi jelas ga cahaya yang fisik saja.

selama ini, beragama kita tidak menyentuh kesadaran kita.

terutama yang muslim ya. saya kurang paham dengan saudara-sauadara saya yang beragama lain. tapi selama berbuat baik itu menjadi theme song-nya, dan saudara-saudara saya itu konsisten. ya saya percaya bisa jadi saudara-saudara saya itu yang lebih bercahaya dari yang sekedar beragama di mulut saja.. ya ga?

sekarang coba perhatikan ini..

kalau beragamanya benar, maka dia menjadi seutuhnya manusia.
membuat apa-apa yang dilakukannya berasa dalam pengawasan tuhannya. hatinya selalu hidup. maka ga cuma korupsi dia hindari, tuk bersikap keraspun dia akan banyak pertimbangan. tentu sebagai manusia dia akan banyak perhitungan, walau bukan jadi lamban karena berhitung aja. tapi pada arti, tindakannya lebih berorientasi manfaat buat banyak pihak.

dia juga menjadi orang yang ringan-ringan saja.
ringan tangan, suka membantu. ringan hati, tidak hitungan dalam beramal. ringan lisan, tidak sengan tuk berdialog. ringan kaki, tidak berat tuk segera menolong sesamanya. dan ringan jiwa, sangat pemaaf..

cahaya tuhan terpancar dari jiwanya.
terangnya terasa di seluruh perangainya.
beda deh mungkin yaa rasanya..
tutur lisannya berkesan, hadirnya membahagiakan, sentuhannya mengharukan, nakalnya menyenangkan, tertawanya seperti dunia pun ikut tertawa tuk kita semua. dan tangisnya bisa bikin seluruh dunia bersedih deh.. maka dia akan sangat tidak ingin yang lain sedih karenanya.

maka bayangkan kalau manusia seperti itulah manusia-manusia indonesia.
wuaaaahhhh, indonesia akan jadi negeri cahaya deh.. ya ga? amiiiiinnnn….

saya pernah bilang kan, satu cahaya 100 watt tentu tidak lebih berarti dengan 1000 cahaya @ 10 watt. maka yukk mulai beragama dengan benar. nyalakan lampu jiwa kita.
ga usah banyak berdebat ttg hal-hal berbau agama yang kadang malah bikin kita makin ribut saja dan pusing sendiri. lebih baik kita nyalakan api jiwa kita, jadi cahaya tuk sekitar kita.

buat beragama kita sederhana dan nyata-nyata saja..
setuju?

maka saya banyak bicara agama, karena ini mendasar.
dasar kita tuk berbuat baik
dasar kita tuk bersama yang lain
dasar kita tuk tidak pernah letih
dasar kita tuk menjadi manusia seutuhnya

sungguh, manusia seutuhnya itu hanya terukur ketika dia bersama yang lain dan secara aktif terus berkarya nyata tuk sekitarnya.

yukk..
mainkan simphony jiwa kita
nyalakan pelita hati kita
bergotong royong dengan sesama kita
dan jayakan negeri kita

lah, jadi masalah kita apa yaa??? hahahaha..
selesai menulis ini kok terasa tidak lagi ada masalahnya nih..
sesungguhnya memang tinggal bagaimana bisa menjadi kesadaran yang mendasar aja kok
insyaAllah semua juga sudah paham ttg ini, ya ga?
berarti memang tinggal sedikit lagi kok indonesia ini berjalan menuju cahaya..
ayoo, jangan surut langkah kita lagi..

saya percaya manusia indonesia akan bergotong royong selesaikan begitu banyak masalah negerinya. sesuatu yang selama ini terasa ga mungkin, menjadi mungkin dalam sekali kayuh, jika kesadarannya sudah mendasar. sebagaimana sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui..

salampenuhcahaya
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “identifikasi masalah”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Agama bukannya cuma label mbak? 😆

@mas dana nih sudah apatis yaa?
saya masih percaya sama tuhan yang ada dalam hati saya. menurut saya agama masih bisa menjadi sebuah pendekatan tuk manusia mengenal dirinya lebih baik. kan agama sendiri yang bilang, “kenali dirimu maka kamu akan mengenali tuhanmu”.

persoalannya banyak yang mempermainkan, memperalat dan mempertaruhkan agama tuk kemauannya sesaat.

dan saya ga tahu ya, apakah memang harus seperti ini jalannya? toh tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. maksudnya, apakah memang ini titik baliknya perjalanan -sebut saja- agama islam, saya juga ga tahu. tapi kenyataan bahwa semua agama mengalami titik baliknya dalam sejarah ketika dia sudah memasuki wilayah kekuasaan, itu ada.

seharusnya sih kita belajar dari sejarah agar agama tidak dimanfaatkan. harus ada tafsir yang lebih komprehensif sebelum ini memasuki wilayah kekuasaan. atau sebut saja harus ada internalisasi nilainya, ga bisa sekedarnya gitu. dan saya bilangkan, kalau manusia memang cenderung mengulang sejarah, jadi ya terima aja deh. hehehe 😀

saya pribadi, tipe yang menjadikan diri, kata dan perbuatan saya adalah cerminan keyakinan saya. jadi saya tidak terpisahkan dengan apa-apa yang saya yakini. saya ga suka yang tempelan. saya bukan label. saya anis.. hihihi.

@Dana

Agama bukannya cuma label mbak?

bukan Dan … agama adalah sertifikat yang menyatakan sah tidaknya kamu untuk mendapatkan kapling surga … 😀

*ngacir, sebelum ditimpuk mbak Anis*

@watonist
mas dana, ibarat rumah.. saya nih hanya berusaha adil saja buat mereka yang belum masuk ke areanya mas dana dan mas watonist ini. saya masih bersedia di terasnya nih.. jadi among tamu gitu loh. padahal saya sudah obok-obok dapurnya tuh, cari makanan yang enak-enak. hihihi..

e, kita bicarain rumah siapa nih?
rumah tuhankah?? hahaha..

wah … kok ada yang di teras, ada yang di dapur ?? 😀
intinya beda, gitu aja kan mbak ?!
belum tentu saya yang lebih baik, atau mereka yang lebih baik.
yang penting kita jujur, karena itu satu-satunya cara bertemu Tuhan.

@watonist
salam jujur juga.
intinya beda itu bukan halangan. dan dengan berbeda itu adalah MODAL kita bersinergi dan mengharmonisasikan diri dengan yang lainnya. kalau dah serba sama, buat apa bersama lagi??


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: