simphony

Posted on Juli 4, 2008. Filed under: 1 |

(e, saya penikmat musik loh, dulu saya suka menari…)

bayangkan dulu, ketika awal saya masuk islam. saya adalah seorang yang alim. dengan rajin dan taat, saya menempelkan satu demi satu stiker bernama islam di tubuh saya. baik itu ayat, sholat, puasa, zakat dsbnya.

laluuuuu, di panas terik kehidupan, tintanya perlahan meluntur, kertasnya ngelotok dan lemnya copot. satu demi satu stiker-stiker itu berjatuhan..

saya sendiri tak kuasa tuk merekatkannya kembali..
dia seperti beragama hanya berupa angan-angan kosong..
hilang begitu saja… higss..

tapi saya bersyukur, bahwa itu semua Allah lakukan karena sayangnya sama saya. Allah ingin saya bisa mengerti apa islam itu sebenarnya. dan sejak itu mulaiah saya meniti satu demi satu islam itu. dengan airmata dan sebenar-benar rasa berserah.

bukan lagi sekedar seperti menempelkan stiker, tapi seperti mengguratkan marka dalam jiwa.

sehingga ucap saya, tingkah saya, gerak saya, melek merem saya, itulah islam saya..
membuat saya adalah bagian dari ayat-ayatNya sendiri dimuka bumi ini

saya mengerti dan sangat mengerti mengapa saya harus begini dan begitu dalam hidup. juga mengerti pada apa yang saya harus lebih dan lebih jernih lagi.

karena saya hanya seekor ikan kecil di samudra.
hanya setitik debu di udara
hanya sebuah noktah di semesta
tapi saya ada dan nyata…

saya lebih setuju..
jika islam lebih mau mengedepankan ayat-ayat yang berhubungan dengan empati dari sekedar ayat-ayat yang memungkinkan menimbulkan kebencian. setelah sekian jarak terbentang antara kita dan Rasulullah, apa sih yang kita inginkan selain menjaga nama baiknya. tentu bukan malah mengecilkannya..

maka karenanya, tiba-tiba buat saya…

Qur’an itu seperti sebuah simphony dalam bentuk notasi balok.
tidak ada artinya jika tidak ada bunyinya. tidak ada artinya kalau tak sampai harmoninya.
kebiasaan mengambil satu-satu not balok lalu menempatkannya sembarangan hanya akan menghasilkan nada-nada sumbang.

dan sebagaimana sebuah simphony, tentu dia ada iramanya, ada alunannya. kadang dia lembut, kadang dia keras. kadang dia cepat, kadang dia melambat. tapi secara keseluruhan dia adalah simphony yang indah..

kemudian, dia juga bisa dimainkan dengan alat musik apa saja. dari sekedar angklung sampai orkestra besar.

dan saya adalah manusia islam yang tengah memainkan simphony islam itu dalam diri dan hidup saya. kadang masih acak-acakan, hehehe.. tapi semoga semakin hari akan semakin indah.
indah di lihat dan indah di dengar… jernih di telinga dan jernih di hati pendengarnya..
saya menjelma menjadi simphony itu sendiri..
sebagaimana Rasulullah menjelma menjadi Qur’an itu sendiri..

***

sungguh, saya sedang memainkan simphony bernama islam itu
dan tidak ada apa-apa yang saya lakukan
selain terus dan terus berlatih
agar nada-nada itu indah
dan semakin jernih

dan saya menemukan saudara-saudara saya yang lain
yang berbeda agama dan keyakinan dengan saya
juga tengah memainkan simphonynya
agar nada-nada nya indah
dan semakin jernih

hmmm, bisakah kita berkolaborasi?
sepertinya sangat menantang yaa?
semoga kita bisa

indonesia
negeri pelangi
negeri kolaborasi
negeri demokrasi

salamindonesia
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: