tusuk gigi

Posted on Juli 4, 2008. Filed under: 1 |

(miris….)

saya tercengang dengan berita maraknya makanan kadaluarsa yang beredar dan dikonsumsi rakyat kecil. dengan harga seperempatnya, mereka memakan roti penuh jamur, susu kaleng yang sudah mengelembung kalengnya, dsbnya. sungguh, sakit melihatnya nih…

pemerintah setempat mengaku tidak bisa apa-apa karena permintaan rakyat kecil yang memang sudah tidak mampu membeli makanan layak santap.
roti kadaluarsa katanya lumayan jadi tidak usah masak, karena saat ini mereka sudah memasak hanya dengan kayu bakar. dan bahan makanan yang memang mahal.

duh!

dulu, waktu saya masih tinggal di bandung, saya suka ke pasar tradisional dekat rumah. di tempat saya membeli beras, dijual beras jatah raskin dari bulog.
gusti.., saya pengen nangis melihat berasnya. sudahkah kuning, kusam dan seperti dedak. maaf sangat cocok tuk makanan ternak. tapi penjual mengaku ada pembelinya. dan kenapa raskin dijual? katanya titipan oknum deh neng. biasa. saya lupa harga nya waktu itu. tapi sungguh, saat itu saja saya sudah merasa keterlaluan negeri ini.

lah, sekarang??
makanan kadaluarsa..??
ancamannya nyawa nih.

tega!

aarghhh, pengen menjerit deh.
kemiskinan ini struktural banget. ini harus ditangani secara luas, sudah ga bisa orang perorang.
saya bener-bener ga habis pikir dengan negeri ini, yang katanya manusianya beragama… kok rasanya jauh sekali dari rasa beragama itu sendiri??

yang katanya Rasulnya mewanti-wanti tuk melawan kemiskinan, yang katanya sahabat Rasulnya sampai memanggul sendiri beras tuk rakyatnya… lah ini apa???

sementara kalau ada manusia dengan rasa Isa as yang memberikan makanan, cermin roti yang tak habis-habisnya, mereka dituduh misionaris, dituduh mengkafirkan. padahal, kalau memang ada Allah di dalam hatinya, janganlah begitu. harusnya mari bersama memberi makanan sehat bagi mereka yang kelaparan.

mari bersama jawab tantangan dan problema bangsa ini. kita ga bisa selalu sendiri-sendiri dan saling menuding terus menerus.

ada kenyataan yang bener-bener butuh kebersamaan dan kesadaran kita semua.

kemarin, ada pembantu orang lain yang kelaparan. mengaku di tinggal majikannya, tapi tidak disediakan cukup uang. untungnya, rumah kakaknya dekat di kompleks rumah, sehingga setiap sore dia bisa pulang. dia sudah seperti itu, kurang lebih dua minggu dan baru cerita ke si mbaknya saya.
maka saya bertanya ke si mbak saya,
– kok ga dikasih makan di rumah kita saja?
– takut dimarah majikannya dong bu
ya sudah, saya suruh si mbak memberinya sejumlah uang, tuk lumayan beli indomie atau roti-roti di warung, sampai majikannya pulang. jangan bilang dari saya, bilang dari si mbak saya saja. itung-itung sudah gajian jadi bisa bantu dia.
e… besoknya dia kembalikan uangnya. katanya pada si mbak saya..
– kita kan sesama pembantu. saya ga bisa terima.
halahhh… jadi dia memilih kelaparan dari makai uang itu tuk beli indomie atau roti.

sampai saya bilang ke si mbak,
– ya sudah bilang saja itu dari ibu.
dia malu lalu berterimakasih pada saya. saya hanya bisa bilang,
– kalau sudah di beri, ya belikan makanan. jangan sampai sakit. sakit sekarang lebih mahal loh.
blak-blak saja deh dan minta ga usah bilang ke majikannya kalau itu dari saya.

sungguh, saya miris.
hal seperti ini kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?
rakyat kecil itu memang sudah begitu terjepit. jadi jangan lagi di persulit deh.
hal ini memang kecil..
tapi bener-bener masalah mendasar.

ketika kita hanya berpikir tuhan pada hal-hal besar
maka kita selalu luput dengan hal-hal kecil ini.
termasuk hal makan tuk rakyat negeri ini..

***

kyai pernah berkata pada suami saya
– kalau kamu cuma butuh tusuk gigi, kenapa cari pohon besar-besar?

kalau kita memang cuma butuh tuk lebih perhatian pada hal-hal kecil, maka kenapa kita susah payah dengan hal-hal yang besar yang malah tidak menjawab masalah kita?

***

tidak usah rumit tuk indonesia deh,
– silakan beragama dan berkeyakinan yang benar menurut masing-masing
– jadi manusia yang beradab dan adil, jangan saling merendahkan pada sesama manusia
– kemudian berbeda-beda tetap satu deh, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh
– silang sengketa di selesaikan dengan rembukan atau dialog dan jangan dengan kekerasan
– lalu sangat penting, tuk mari sejahterakan kehidupan bersama kita, terutama bagi mereka yang tidak seberuntung kita…

ga usah rumit-rumit kudu syariat islamlah, kudu inilah, kudu itulah..
sudahlah..
itu saja sudah sulit..
atau itu saja dulu deh, bisa ga??
ga usah banyak mau deh..

mari sederhanakan diri
dan sederhanakan perjuangan ini..

setuju?

salamprihatin
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “tusuk gigi”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

gimana kalo kudu syariat diganti menjadi kudu nggak boleh ada yang lapar?

setuju …….

@dana

pengertian syariat disini apa nih??
salah satu ajaran Islam, dosa bila kita makan kenyang tapi ada tetangga yang lapar.
dan tentu saja itu bagian dari syariat.

jadi???

@Budi
akhirnyaaa… mas Budi ada setujunya dengan saya juga ya?? hahaha..

@blm_ber_blog
sebetulnya mas dana tuh “menuliskan” yang blm ber_blog_tulis. jadi sebetulnya pengertian syariat mas dana dan blm_ber_blog itu sama. gitu ga sih?? hehehe 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: