di keheningan jiwa

Posted on Juli 10, 2008. Filed under: coretan |

(masih ingat sandra, teman saya di tulisan roarrrr!!..? ada yang menarik darinya terkait opini yang dibolak balik. saya tidak ingin berteori, saya ingin mengajak anda pada yang nyata-nyata saja. semoga masih bisa mengispirasi..)

sandra mengaku pada saya, kepalanya mau pecah. dia dimanipulasi oleh keadaan dan orang-orang di sekitarnya. pada dasarnya sandra anak baik, sampai kasarnya nih.. dia tidak makan sebelum yang lain makan, dia tidak tidur sebelum yang lain tidur. sandra sangat tahu diri. ini sejauh yang saya kenal darinya. rasa sungkannya besar dan semua itu terlarut dalam sikapnya yang suka bercanda.

ketika hatinya merasa ketidaknyamanan yang luarbiasa, logikanya terbalik oleh fakta yang terkesan biasa-biasa saja. yup, semua orang bahkan saya merasa sandra dan suami adalah pasangan yang bahagia. tak pernah terlihat lara di mata sandra. anak itu memang lebih suka tertawa.
sandra sendiri sudah terus menerus mengikuti logikanya, bahwa semua baik-baik saja. tapi ternyata hatinya tidak. di keheningan dan di kejujuran sandra merasa teraniaya. tapi mana buktinya san??

anak..

yup, anak adalah makhluk tuhan paling murni. tempat segala kebohongan tak bisa disembunyikan. anak sandra bermasalah. bahkan jauh sebelum sandra sendiri menyadari keluarganya dalam bahaya, sang anak sudah menunjukkan gejalanya. di sekolah yang mahal itu, anak sandra di dampingi tenaga psikologi tumbuh kembang yang memang sudah include dalam harganya. pada suatu ketika, kabarnya anak sandra menunjukkan gejala yang tidak biasa.

maka sandra dipanggil guru dan psikolog itu. katanya..
– kenapa nanda jadi begini? ada kejadian apa di rumah?
yup, anak sandra jadi temper tatrum. marah tak terkendali. sandra bingung. diinget-inget semua kejadian, rasanya biasa saja. selain sandra sering merasa bersalah ketika anaknya suak memukul an mencubit eyang putrinya, ibu mertua sandra. sleain itu tidak ada.
kata psikolognya..
– ya itulah masalahnya san. anakmu depresi karena ibu mertuamu.
– hah? kok bisa?
gurunya menambahkan, katanya suatu hari anak sandra bercerita pada gurunya..
– bu guru, nanda benci yang’ti (eyang putri). yang’ti merebut ayah dari nanda. nanda benci..
sandra begong. sebegitunyakah rasa di hati anaknya?
selama ini sandra sudah merasa mengalah terhadap intervensi keluarga suaminya. suaminya yang anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya itu telah membangun kesadaran sandra tuk tidak terlalu menuntut kepada suaminya. katanya surga ditelapak kaki ibu, jadi ya sudahlah. biar saja suaminya berbakti pada ibunya, sandra sudah maklum saja. tapi ternyata tidak dengan anaknya.

ibu guru itu juga masih melanjutkan..
– kata nanda ibu sandra cerewet, ibu sandra tukang mau tahu urusan orang, ibu sandra berisik dsbnya.
– apa?
– ya begitulah san, anakmu menilai dirimu sangat negatif. ketika aku tanya, apa benar ibu sandra demikian? bukankah ibu sandra suka tertawa dan ajak nanda bahagia. kau mau tahu jawab anakmu san?
– apa?
– itu kata tante-tante nanda bu.
– apa??
– anakmu mengikuti sekitarnya dalam menilai dirimu. itu bukan dirimu kan..
sandra dan psikolog anaknya itu suah berteman lama dan saling kenal satu sama lain. dunia sandra terasa hancur saat itu. bagaimana mungkin anaknya sendiri begitu negatif pada dirinya??
– san, satu saranku. batasi anakmu dari keluarga mertuamu. itu tidak sehat bukan untukmu, itu demi anakmu sendiri. suruh suamimu belajar memilih, anak atau ibunya. aku tahu, kamu bukan orang yang picik san, tapi ini asli demi anakmu! sandra waktu itu ingin menangis..

dan benar saja, suatu ketika, nanda anak sandra mengamuk pada hal yang sepele dan berteriak..
– ibu cerewet, ibu tuli, ibu berisik, ibu sok tahu, ibu sok ramah..
kata-kata yang tidak biasa. maka siapa yang mengajarinya??
sandra menghitung semua sikap baik dan buruknya, sandra mengenang kembali semua salah yang pernah dibuatnya. sandra berulang kali menangisi diri seandainya dirinyalah yang salah. sandra menghisab dan terus emgnhisab dirnya sendiri. basah sajadahnya, basah mukenanya. hancur hatinya.

terpuruklah sandra. suami sandra masih saja tak mempercayai kegelisahan sandra. entah karena sangat membela ibunya sendiri atau memang tidak mau tahu. semua dianggap tidak ada. hanya sandra yang terus gelisah dan terus gelisah.

lalu.. dalam pertahanannya, seperti yang saya ceritakan sandra mendatangi psikolog tuk konseling pernikahan. sandra berusaha memakai tenaga profesional tuk bantu yakinkan suaminya atas kegelisahannya. ternyata sandra bertepuk sebelah tangan. psikolog itu lebih empati pada suami sandra dari sandra sendiri. katanya..
– san, buat apa kamu mempermasalahkan sesuatu yang buat suamimu bukan masalah? kamu cari kerjaan!
sandra marah. ditambah perkataan bahwa sandra adalah mualaf yang lemah iman dari psikolog itu. makin marahlah sandra. logikanya dibolak-balik. sementara jiwanya tak lagi mampu bohong, kalau dirinya teraniaya.

bagaimanakah sandra ketika itu?
jebol!!
defense mekanisme dalam jiwanya jebol. sandra histeris, kesadarannya pecah.

disitulah akhirnya sandra berurusan dengan psikiater dan obat-obat anti depressan. sandra depresi berat. saya sendiri tak kuasa menjaga pikiran dan perasaannya.
padahal saya tahu, sandra sudah buktikan kalau dirinya kuat selama ini menjalani kemualafannya yang berat itu. mengapa tuk soal yang satu ini sandra harus kalah? duh sandra.. kemana dirimu? begitu kejamkah mereka untukmu?? saya turut menangisi sandra.

psikiater itu bijaksana. dosis sandra juga sangat rendah. katanya..
– san, kamu ga butuh semua obat-obat ini. kamu hanya butuh sesuatu yang baru yang mampu meyakinimu. kamu baik-baik saja san. ini hanya ujian biasa. kamu bisa..
maka ketika sandra akan dibawa ke seorang alim sebut saja seorang kyai, psikiater itu langsung mengizinkan. karena berkali-kali psikiater itu bilang,
– bukan aku yang kamu butuhkan san..
dan di orang alim atau kyai itu, sandra hanya dinyatakan baik-baik saja. sandra hanya harus percaya bahwa apa yang dirasakannya benar. sandra istimewa. sepulang dari sana, sandra tidak lagi menyentuh obat-obat tidur dan anti depressan itu. sandra sehat.

kenapa sandra dibilang istiwewa?
sederhana.. nuraninya tidak mati oleh segala bentuk manipulasi di luarnya. hati sandra selalu hidup. dan semua itu hanya karena sandra jujur pada dirinya sendiri. yup.. sandra itu polos.
sandra itu tanpa sadar telah terbiasa jujur di keheningan jiwa terdalamnya. sandra tak tersentuh kebohongan di luar dirinya. sandra menjadi dirinya sendiri

***

kisah sandra sangat mendalam tuk saya. saya menjadi sadari sekali, betapa manusia-manusia di sekitar kita hanya mau kita memandang positif terhadap dirinya sepihak. bahkan pencitraan positif itu melewati batas nalar kita. memaksa kepala kita dan kemudian memecah pikiran kita. bahkan menghancurkan kesehatan jiwa kita. akan citra yang tidak sebagaimana kenyataan, akan wajah yang tak secantik aslinya.

sehingga.. apapun suara di atas sana, rakyat tidak bisa bohong kalau kehidupan ini sudah semakin terpuruk.
maka untuk apa semua kata-kata itu jika tidak menyentuh kenyataan??
dan untuk apa semua diam jika lukanya mulai hilangkan kesadaran??
– ekspor beras ditengah rakyat yang makan nasi aking?
– pembatasan jam kerja diatas kebutuan lapangan kerja yang tinggi?
– kenaikan BBM diatas daya beli yang semakin turun?
– menyanyi diatas tangisan penuh rasa lapar?
– penegakkan syariat islam ditengah rakyat yang belum tentu iman?
– kesholehan pribadi di tengah keterpurukan sosial?

jujurlah..
jujur di keheningan jiwa
akan hidup yang sebenarnya
jangan cuma angan-angan kosong belaka

saya setuju dengan pernyataan yang sudah dikeluarkan oleh seorang Gus Dur, hanya mereka yang jujurlah yang bisa membawa negeri ini menuju ke keselamatannya..

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “di keheningan jiwa”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

psikolog na gelo 😀
Betul, perlu orang yang jujur di pemerintahan, di DPR dan di Rakyat sendiri Jujur dalam arti tidak subjective dalam jujur itu sendiri. Kadang kejujuran juga bias pada perasaan kita gak sih? Misal saya kesel ama si A, mampukah kita jujur?
atau partai A mau ngalahin partai B, mampukah dia jujur?

kata saya sih mbak semua kembali ke niat. Smua pilihan ada biaya, Naekin BBM dan politik beras itu pilihan yang diambil, pasti ada imbas negatif dan positif. Baik hari ini, besok, maupun masa datang. Kita mesti belajar melihat secara utuh, janganlah setengah setengah seperti para aktor senayan. gitu gak sih mbak?

kita impor beras, juragan beras merutuk karena untungnya kecil. Bulog beli beras katanya bikin buntung petani kecil,bulog ekspor beras katanya ga sensitif ama ketahanan pangan.

Selalu aja ada sisi lain dari kebijakan, terserah kita mau menanggapinya seperti apa. Seperti mba anis bilang,terlalu banyak informasi sekarang bersliweran kita mesti pinter-pinter menyaring.

@rajwalimuda
alasan si psi tuh agar sandra bisa berpikir positif. hahaha.. jangan ke positif dulu deh, sandra lagi negatif-negatifnya, defense.. menurut saya ya dibawah ke titik nol dulu deh biar jernih. ya ga?

nah, sama mas.. kita kudu ke titik nol dulu ketika melihat bangsa ini..
pertanyaan-pertanyaan saya itu adalah tuk ke titik nol. kosongkan semua informasi, temukan dulu intinya. kalau kita sudah sepakat bahwa negeri kita ini ga realistis, baru deh kita punya titik yang sama tuk melangkah. dan satu saja positif yang kita bisa, kalau bersama.. itu lebih signifikan. bukan seperti saat ini, kita acak-acakan. jadi maju atau mundur kita sudah ga tahu. keblinger..gitu ga sih??

memang perlu dialog sebelum melangkahkan kaki deh. samakan persepsi. kaya nikah saja deh, ada ta’aruf ada pacaran. dalam sedikit yang kita bisa, karena pastinya beda itu selalu ada, maka itu lebih baik dari kita hanya beranjak dari diri kita sendiri saja. dan syarat dialog itu adalah jujur sama diri sendiri. banyak loh orang yang ga bisa jujur sama dirinya sendiri. lah.. dengan diri sendiri aja ga bsia jujur, bagaimana sama orang lain??

di sini kita belajar dialogkan semua ttg kita daam kejujuran yang mampu kita biasakan. ok? ;D


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: