remang

Posted on Juli 13, 2008. Filed under: coretan |

(pernah ga mendengar pengakuan kalau seseorang itu “menyimpang”? saya pernah..)

dia teman saya. dekat atau tidak.. relatif, karena saya dengannya tidak satu aktivitas. tapi dekat itu iya. usianya lebih muda dari saya dan sukseslah segala tentang hidupnya.
sampai suatu ketika itu, dia minta izin pada saya tuk keluarkan penat hidupnya. sebagai teman dan rasa kakak, tentu saya bersedia mendengarkan. diapun minta izin mengimel saya.

sungguh, saya bak tercekik membaca imelnya. bukan apa-apa, saya suka mendengar cerita kehidupan “menyimpang” ini dari banyak buku dan berita. tapi tentu tidak terbayang oleh saya, kalau itu terjadi pada teman saya sendiri!

dia mengalami pelecehan sexual di usia kecil. masih oleh kerabatnya sendiri. dia terkondisi bahwa itu tidak salah, bahkan seolah itu biasa dan dia sendiri suka. maka kebiasaan prilaku salah itu menjebaknya lama. kesadarannya akan itu salah, tidak cukup di dukung oleh keadaan sekitarnya. bahkan di satu masa, dia sudah menjadi pelaku tuk itu, dalam arti memiliki teman yang sama.. itu di usia yang masih remaja. sampai akhirnya kesadaran itu memuncak, maka dia berusaha melawannya. walau masih sebatas pencitraan. yup, dia sadar prilaku itu menyimpang dan itu negatif bagi pencitraan dirinya.. maka olah raga, prestasi akademik bahkan kegiatan keagamaan dilakoninya tuk batasi dorongan menyimpang itu.

ga sampai di situ, demi pencitraan.. dia melakoni pernikahan normal!
inilah puncak deritanya ketika curhat pada saya. karena ternyata bukan sembuh, dia malah tidak mampu menjalankan kewajibannya sebagai suami. ini tekanan yang luarbiasa, karena istrinya normal dan berhak atas semua ttg pernikahan itu sendiri.
inti dari curhatnya adalah tuk saya bantu istrinya menerima kenyataan dirinya.

waduhhh.. mimpi apa saya?? jujur, saya nih ga merasa kompeten, saya bukan apa-apa. saya hanya ga tega melihat keterjebakan dia dan istrinya itu. maka, saya coba deh. saya coba..

hmm, maaf yaaa… sambil saya jalani usaha tuk membantunya, rasa tidak nyaman menyerang saya. tiba-tiba saya merasa jijik, entah jijik pada teman saya itu atau jijik pada perbuatan yang telah menjerumuskannya, saya ga tahu. pokoknya jijik. saya sampai mual beberapa hari. sungguh, saya kan cuma orang biasa, saya bukan psikolog atak pakar apa yang memang mempelajari aneka prilaku menyimpang itu. kemudian saya juga merasa sakit.. entah terbayang rasa sakit di jiwa teman saya itu, entah sakit karena sulit menerima kenyataan teman saya seperti itu. pokoknya saya sakit. sampai berhari-hari saya sakit kepala dan nyeri hati.

saya menangis.. tangis dalam sibuk mengendalikan diri saya sendiri

apalagi, setelah saya bertemu istrinya. aduh… wanita mungil itu gemeteran, dia mengalami neurotik. ya semata karena telah begitu lama tertekan dan tidak menemukan jalan keluarnya.
satu yang diyakini oleh istrinya, cinta!
istrinya itu mengaku sangat cinta pada suaminya.

walahhh… matilah saya. saya nih orang yang ga begitu pinter soal cinta.. 😦
jujur ya, meski saya wanita, hasil tes personality menunjukkan kalau rasionalitas saya melebihi rata-rata kaum saya, melebihi rata-rata rasio wanita. hehehe, saya nih memang tipe yang cenderung menekan perasaan saya sekuat-kuatnya demi kepentingan yang lebih banyak. saya bisa mengabaikan perasaan saya, demi banyak hal menjadi lebih baik. itu saya..

maka bayangkan..
betapa tersiksanya saya berhadapan dengan wanita yang malah mendahulukan perasaannya dari banyak kepentingan diluarnya. haduhhh… – pokoknya cinta, begitu katanya.
dia bertahan dan ingin suaminya sembuh, kembali normal..

membuat saya ingin berteriak.. ya Allah…. tolongggggg… bingung nihhhh. tuk kapasitas saya, ini bingung banget loh..

jujur ya, ditengah semua penyimpangan itu, teman saya memang seperti sudah kehilangan kejantannya. terbukti ketika dia terus mengeluhkan sikap istrinya yang ngotot mempertahankannya bahkan merasa jijik pada istrinya sendiri. sampai saya bilang gini..
– kamu kan lelaki, kalau memang ini sudah salah baik dalam agama dan norma umumnya, ya sudah. bercerailah baik-baik. kamu lelaki, kamu bisa mentalak istrimu.
e.. alih-alih dia mau mengerti maksud saya, malah mengalirlah sejuta alasan. dari yang tidak tega sampai bagaimana kata orang nanti bahkan alasan bukankah cerai itu memang tidak diharamkan tapi di benci tuhan?!! begitu kata-katanya..

saya bingung. cerai tidak mau, menjalankan kewajiban sebagai suami juga tidak mau. lah, maunya apa dongg??

sama saja dengan istrinya. ketika mengeluh dan terus mengeluh, saya bilang gini..
– bagaimana kalau gugat cerai saja. ada kok ayat ttg larangan menyusahkan atau memojokkan istri dan bagaimana solusinya. (QS 2:141)
nah.. dia malah menjawab juga dengan banyak alasan, dari yang cinta sampai tidak siap dengan status janda dan ketakutan kalau cerai suaminya malah akan semakin terjerumus pada pergaulan menyimpang.

maka sama saja nih, maunya apa dongg??

di titik tertentu, saya pamit dari masalah mereka itu. bukan tidak mau membantu. tapi saya juga tidak mau terjebak tuk membenarkan pendapat saya sendiri. saya nyerah dan hanya berpesan..
– kalau memang ingin terus, bersungguh-sungguhlah. kalau perlu berobat pada pakar yang kompeten. saya nih yakin, kesungguhan akan membuahkan hasil.
– kalau memang ingin mundur, sungguh-sungguh juga lah. bercerai baik-baik. dan awali hidup baru dengan keyakinan baru juga. saya yakin, hidup ini tidak sesempit pikiran kita..
– kalaupun mau tetap dan menikmati penderitaan itu sambil menunggu keajaiban, ya terserah. asal jangan setengah hati. dan kalau keajaiban tidak juga tiba, jangan heran kalau akan membuat semua ini meledak dan beresiko lebih dari yang kita perkirakan. kita tidak diminta tanggungjawab lebih dari yang kita mampu.

manusia boleh memilih..

***

saya tidak tahu apa yang ingin tuhan ajarkan pada saya dari peristiwa ini. saya hanya sadari kalau hidup tidak sesederhana seperti kalkulator otak saya. tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua..

kemudian saya juga baru tahu kalau cinta bisa begitu tak menyentuh logika. sampai terkesan seperti menghalalkan segala cara dan melupakan banyak fakta. saya menyerah!

dan akhirnya saya menyimpulkan, minimal tuk saya pribadi
kalau saya memang tidak akan mengerti apa itu cinta
sampai saya menjadi cinta itu sendiri..

seorang teman yang juga mengetahui permasalahan ini berkata gini..
– nis, itu namanya cinta mati. cinta yang di bawa sampai mati!
dia tertawa. padahal saya tahu, dia dan saya sama-sama tidak mengertinya. cinta mati hanya sebuah teori tuk semua ini bisa kita terima sekedarnya atau ala kadarnya. lalu dengan pasti, melupakannya..

saya tidak ingin jadi cinta yang mati
saya tidak ingin mati dan memberi kematian perlahan-lahan
saya ingin jadi rasa cinta yang hidup
saya ingin hidup dan terus memberi kehidupan bagi sekitar saya
saya ingin utuh dalam rasa cinta saya
saya ingin menjadi rasa cinta itu sendiri

***

kita adalah lilinnya kehidupan
semua masalah dalam hidup adalah sumbunya
dan cinta kita adalah apinya
semuanya bersatu menjadi rasa terang itu sendiri

maka ketika hidup meremang
masihkah kita ingin terang??

salamutuh
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “remang”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Hidup seringkali bikin manusia ” merasa terjebak”…
Seandainya… seandainya saja kata “IKHLAS” sangat mudah dilakukan seperti ia diucapkan…
Tidak akan manusia yang menjadi gelisah, tidak akan ada manusia yang merasa terjebak, tidak ada lagi keraguan dalam melangkah..

Tapi memang adanya begitulah manusia… sangat mudah terombang-ambing…

Ampunilah kami ya Allah… bimbinglah saudara-saudara kami yang berada dalam kegelisahan sampai mereka merasa tenang dan berada dijalanMU kembali. Jalan yang sesungguh-sungguhnya.

Hanya Engkau yang tahu.. apa yang menanti kami disetiap ujung perjalanan hidup ini.

@mbak yanti
amin… selemah-lemah pertolongan memang doa..
itu juga yang semoga tak putus dari saya untuk mereka dan kita semua..
amin.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: