tak terjangkau kata

Posted on Juli 21, 2008. Filed under: coretan |

(cuma mau jujur yaaa..)

maafkan tulisan saya sebelumnya yaa.. ttg Ayat-Ayat Perang itu.
saya hanya menyadari kata tak cukup tuk lukiskan rasa
maaf…

sebagaimana saya hanya ingin tulus dan jujur, maka itu tidak perlu tuk diyakini..
silakan abaikan saja..

memang letih membicarakan tuhan
saya begitu lemah dan hina tuk menjangkauNya
tak memiliki cukup banyak ilmu
tak memiliki cukup banyak mau
saya hanya tahu Dia terasa
meski tak pernah mampu lukiskan rasanya

tapi saya sudah menyampaikannya, biarlah ada..

maka sekali lagi, maaf
dan mari kita bina kehidupan yang damai
pissss… 🙂
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

8 Tanggapan to “tak terjangkau kata”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

mari …
you know, kebalikan dari love bukannya hate tapi indifference…

Mang kenapa toh mbak?

@budi
makasih mas budi, saya tahu..

@dana
hehehe, sedang merasa tak berdaya aja.. tahukan rasanya?? 😀

kalo kata tak cukup tuk lukiskan rasa, trus apaan dong yang cukup tuk lukiskan rasa?

memang letih membaca blog Anis
saya begitu bosan dan jemu tuk mendengar kata ingin tulus dan jujur, maaf, …
maka sekali lagi maaf

tapi saya sudah menyampaikannya, biarlah ada..
silakan abaikan saja..

aduhai jiwa musik,
seandainya anda pernah merasakan kesetrum listrik… (maaf nih contoh kasusnya konyol banget)
kemudian ceritakanlah secara detail selengkap mungkin bagaimana rasanya…
bayangkan bagaimana persepsi para pendengar misal yang satu anak SD kelas 2, sebelahnya mahasiswa tingkat akhir, dan satu lagi pengamen jalanan yang lupa bahwa dia pernah belajar SMA…
logiskah kita mengatakan bahwa tidak mungkin tiga orang pendengar dengan latar belakang jauh berbeda itu bisa merasakan apa yang telah anda ceritakan dengan lisan anda dan tiga orang itu sepakat….

demikian pula kita,
melukiskan Zat yang Maha Ghaib di atas segala keghaiban yang ada dihadapan kita, akan jauuuuuuuh lebih sulit lagi untuk digambarkan dengan lisan atau tulisan kita dan menjamin semua orang bisa merasakan yang sama…

masing2 kita dengan segala kemaha-lemahannya tentu hanya mampu berucap, mengekspresikan diri dan merasakan apa yang setiap pribadi mampu rasakan.. dan dijamin pasti unik masing-masing kita dalam merasakannya…
merasakan kehadiran-Nya yang Maha Tak Tersentuh bukan perkara sederhana…

dan alangkah bijaknya jika mas/mba “jiwa musik” turut bersama kita semua belajar saling berbagi perasaan, berbagi pengalaman, berbagi perhatian, berbagi hasil renungan, berbagi hasil perjuangan memaknai sebuah kehidupan… seremeh apapun..

eh, harusnya saya gak berhak ikutan mengomentari sebuah komentar yang bukan ditujukan kepada saya pribadi yah…
mohon diampuni ikut campur saya… walaupun saya percaya ceu anis sudah melewati masa kehidupan menghadapi caci dan puji yang tidak bertumpang tindih…
tapi, saya belum tuh ceu…
jadi…
ah, inimah just lintasan pikiran saya sajah…

@jiwamusik
@kuswandani
makasih tuk pengertiannya kang dani..
mas -presiden- jiwa musik itu hanya ingin saya tidak banyak mengeluh sebenarnya. dia ingin saya bebas merdeka saya menyatakan rasa saya. dan mas presiden merefleksikan sisi terdalam saya, bahwa saya juga jenuh dan letih.. kemarin saya bener-bener keletihan loh.

tapi itulah kemerdekaan.. kemerdekaan tuk saling menyatakan diri. kemerdekaan tuk saling bercermin.

dulu ketika saya harus selalu benar, rasanya memang nikmat, penuh andrenalin dan meremehkan yang lain. tapi disana, saya justru tersobek-sobek, rasa selalu harus benar itu paling terasa telah membunuh kejujuran, ketulusan dan penuh maaf saya.
maka tuk kembali menjadi manusia, saya mencari-cari kembali kata jujur, tulus dan maaf.. merasakan kembali betapa saya nih hanya manusia yang begitu lemah dan tak berdaya, sangat bisa salah dan penuh rasa sungkan… tapi saya ada, itu iya..

tapi mungkin jadi keterusan yaa.. hehehe. sampai mas jiwa musik mengingatkannya dan kang dani membelanya.. makasih ya, senang punya sahabat yang baik-baik begini. hmm, kalau memang sudah merasa jadi manusia, tidakkah kita bisa seadanya saja ya? merdeka! 😀

kenapa mbak ??
sampeyan merasa sakit karena merasa telah melukai orang banyak di tulisan sebelumnya ??

@watonist
hmm, mungkin..
saya hanya takut kalau saya begitu..
karena sungguh, saya ga mau begitu..
jadi begitulah.. hehehe 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: