anis juga manusia

Posted on Juli 23, 2008. Filed under: 1 |

(dilepas yaa..)

maaf tuk mas budi..

maaf tuk bang jephman

maaf tuk mas-mas dan mbak-mbak semua

ternyata saya terbawa emosi

saya pernah sangat trauma terhadap

saudara saya yang islam

yang hanya kudu dan kudu

juga pada saudara saya yang kristen

yang hanya bisa menuntut

saya letih tuh

 

bertahun-tahun lamanya

ternyata tidakmembuat saya jernih

meski saya sudah banyak tahu

dan mencoba membahasakannya

ternyata di lubuk hati

rasa sakit itu lebih mendominasi

saya minta maaf

saya sangat tidak berkapasitas

jadi bertanyalah pada mereka yang memahami

saya hanya tahu sangat sedikit

semua juga hanya karena hati saya yang ga tega

dan ga bisa membiarkan ini berlarut-larut

saya berterimakasih jika bisa membantu

kalau ternyata malah mengacaukan

maaf..

 

saya hanya manusia biasa

bisa salah

bisa sangat salah

saya menjadi sangat mengerti

ayat yang menyebutkan

kalau tidak karena Kami, tentu kamu (muhammad)  tidak akan bisa berlemah lembut pada mereka

semua memang dari Nya

sehingga jika bukan karena tuhan

semua ini juga tidak akan bisa diperbaiki

 

maka mari yukk

ktia temukan tuhan dalam kapasitas kita

dan bersama dengan tuntunanNya

saling menjaga

saling setia

saling membantu

saling berkarya

saya ga bisa lebih dari ini..

saya ga bisa sendirian..

saya manusia biasa..

 

salam,

anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

8 Tanggapan to “anis juga manusia”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

ceu anis,
punten,
nimbrung terus,
habis,
lagi pengen dikomen juga warung blog saya hehe…
engga deng..
eh,
tau gak ceu,
rasa sakit itu bisa dibuat indah..
rasa sakit itu ternyata sebuah anugerah!
rasa sakit itu kan, sebuah penghalusan hati,
penggerindaan kotoran-kotoran pikiran jasadiah yang super nakal ini…
rasa sakit itu adalah pertolongan-Nya…
agar kita mengenal naluri manusia yang super lemah..
super gak berdaya apa-apa…
rasa sakit itu adalah pengguguran dosa demi dosa,
satu demi satu,
secuil demi secuil,
sampai seluruh diri termurnikan, terhaluskan, tergerus karang-karang ego dan kemunafikan kita..
rasa sakit itu adalah sebuah keberuntungan dimata para pencari TUhan… percaya geura..
rasa sakit itu, memancing jeritan dan pengharapan tulus pada-Nya…
rasa sakit itu,
adalah bentuk paling efektif agar kenyamanan dunia yang menenggelamkan ini mulai tampak ilusi nya..
di dunia matrik ini, semua yang tampak indah bisa jadi hanya ilusi kan… gak real katanyamah…
maka rasa sakit itu,
efektif membongkar tutupan mata lahir kita…yang sering terjebak fenomena… lupa dengan hakikat dibalik segala sesuatu…
rasa sakit itu…
membuat sembuh seluruh perangkat batin, nurani terkuatkan, firasat tertumbuhkan, kesadaran semakin pulih..

ah,
kalau saya boleh menyelami peristiwa traumatik yang ceu anis alami…
OO Maha Menakjubkannya Engkau Ya Rabbi..
pasti gak mungkin sia-sia hidup ini kan?

salamrasasakityangindah…..

addaani2008.wordpress.com

@kuswandani
@semua juga
makasih kang..
jujur ya, saya ga butuh simpati, saya sudah setengah mati rasa nih hehehe 😀
mari beri bukti sajalah.. jangan cuma janji. hehehe, kaya kampanye pisan.. maaf.

katanya : orang pinter itu, orang yang belajar dari pengelamannya sendiri. sementara orang bijak itu, orang yang belajar dari pengalaman orang lain.

saya ditakdirkan jadi orang pinter, kudu tahu dari ngerasain pengalaman pahit, sepahit-pahitnya. sementara… semua di sini, kang dani dkk.. ditakdirkan jadi orang bijak.
cukup belajar dari pengalaman saya ini dan mari menjadi baik karenanya.
gimana?

jangan jadi kaya saya deh, ga enak. hehehe. saya justru lebih suka melihat orang yang bisa sadar menjadi orang baik, tanpa susah payah dulu. itu baru hebat namanya. 🙂

duh ceu anis,
hatur nuhun pisan kalau sudah gak butuh lagi rasa simpati…
saya mah cuma sekedar ingin berbagi dan memandang bahagia ceu Anis sudah di “bahagia” kan ALlah dalam bentuk masa lalu sedemikan hebatnya…

sudah melewati duluan fase penanggalan jutaan kemunafikan diri, digerinda segala ego, dibuka topeng wajah agama yang menjadi kebanggaan sebagian besar muslim lainnya..

saya mah cuma sekedar sedikit iri… kok ALlah hebat mengemas ungkapan kasih sayangnya ka ceu anis dalam bentuk masa lalu seperti itu…

saya mah jauh dari hal itu…
makanya boro-boro dipandang bijak… lebih jauh lagi atuh…

peace ah…

@kuswandani
mati rasa kok diiriin?
jangan atuh kang, justru dalam bahagia kang dani dan semua di sini harus lebih baik dari saya.

kan saya dah bilang, saya mah ditakdirkan pinter, karena belajar dengan merasakan semua kepahitan. kang dani dkk disini ditakdirkan bijak karena bisa belajar tanpa harus merasakan kepahitan itu.

Menumpang comment diantara kang’Dan dan kak’Anis, yang tengah saling bersikukuh antara satu sama lain menganggap yang lain lebih baik. Tapi jadi ingat bahwa kang’Dan pernah bercerita bahwa semestinya tidak ada beda antara sedih dan bahagia, toh semuanya cuma warna hari ini. Bukan begitu, kang? Saya belajar banyak dari dialog kakak berdua, salaam… 🙂

yeee eta ceu anis…
justru saya mah malah sedang rindu pada sebuah kondisi mati rasa seperti itu…
karena para nabi terdahulu pun semuanya mati rasa dari segala jenis ujian ALlah, hinaan manusia, pujian makhluk lain… tetap tidak merubah penghayatan diri mereka kepada Allah yang sangat tinggi… jiwa dan nurani nya tidak bergeming dengan jutaan celaan dan makian para makhluk ALlah khususnya mereka yang belum paham akan hakikat kehidupan…

hati mereka ditentramkan-Nya, walaupun fisiknya mengalami sekian tempaan
hati mereka di damaikan-Nya, walaupun fisik dan pikirannya dipusingkan dengan segala perbedaan pendapat dan menerima kebencian orang-orang yang mendengki..
hati mereka ditanamkan rasa aman oleh-Nya, walaupun jasad lemah ini didera oleh dominasi orang lain, dominasi doktrin agama, dominasi waham tentang perbedaan baju…

ya iyya lah,
wong mereka sudah mati rasa dari aspek lahiriya itu semua..
karena itu, saya jujur emang rindu itu ceu anis…
kalau ceu anis udah bosen mengenakan pakaian mati rasa itu, berikan saja ke saya yah kemampuan itu ..hehe…

saya belum bijak, jauuuh, apalagi merasa diri sudah merasakan kebahagiaan…
nurani saya masih menjerit tuh tanda “makanan” kehidupannya belum berhasil mengenyangkannya…

yuk ah, saling berkunjung, dan mencicipi hidangan kita semua, hidangan perenungan yang sangat spesial buat orang lain….

okeh…

@kuswandani
o? malah mau ya? walah.. saya sampai bertanya-tanya tuh, kok saya jadi gini ya?
ehmm, saya suka kok ngerasani “ya Allah beri deh rasa ini pada semua teman dan saudara saya, siapapun dia. rasa yang kutahu Engkau ada. karena saya tidak bisa ceritakan bagaimana persisnya rasa ini”. jadi, kalau memang rasa ini benar, semoga di beri juga ya kedalam hati semua di sini. amin.

e, saya suka kok ke blog kang dani. bingung mau kemontar apa. saya suka menikmatinya saja. karena saya ga punya sudut yang demikian. 😀

@celine
hehehe, semoga ga mabok aja ngelihatnya yaa.
semoga manfaat… 🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: