teka-teki kitab suci

Posted on Juli 23, 2008. Filed under: coretan |

(suka main teka-teki?)

sebelumnya, maaf yaa buat mas presiden saya : jiwa musik 😀
saya akan kembali menghaturkan maaf dan kejujuran bagi saudara-saudara saya yang bukan islam, karena tentu saya akan merasani (bukan membahas) –al Qur’ankitab suci yang dimaksud dalam tulisan ini. meski saya dulu katolik, tentu sangat sedikit waktu saya bersama Injil.. dibanding waktu saya bersama al qur’an. tapi… saya berharap, semoga  tetap bisa mengispirasi tuk saudara-saudara saya yang bukan islam..

begini…

disuatu saat tertentu, saya pernah merasa –al qur’an– kitab suci agama saya itu seperti sebuah teka-teki. yup, asli.. terasa seperti teka-teki silang!
dari apa sih inti isi qur’an ini? sampai…. apa sih mau al qur’an ini?
atau kenapa Allah berkata begini? sampai…. haruskah berkata begini?
atau apa sih yang melatar belakangi Muhammad bilang begini? sampai kenapa juga Muhammad bilang begini?
semua itu seperti teka-teki… sampai pengen deh, saya berada di situasi ketika perkataan-perkataan itu disampaikan. hehehe, kalau saja ada mesin waktu yaa?? saya pasti akan bolak-balik pp deh.. 😀

tapi saya iman..
dan rasanya semua saudara-saudara saya juga mengimani kitab suci agamanya masing-masing. ya ga? itu wajar dan itu manusiawi..

persoalannya.. iman yang gimana dulu nih…??
hehehe, jelas bukan iman yang taklid. sederhananya..
tapi iman yang hidup,
dan itu yang ingin saya ajak semua ke sana..
mau?

cerita yaa..
saya pernah merasa hidup untuk al qur’an. diajari begitu sih. harus begini dan begitu sebagaimana kata al qur’an. ehmm.. saat itu saya pikir ya itulah islam, maka saya ikuti. tapi lama-lama kok terasa aneh.. tepatnya terasa tidak up to date atau tidak realistis.

dari situ, saya sudah langsung menyadari bahwa saya nih tidak hidup tuk masa di mana Rasulullah itu ada. saya harus hidup tuk masa saya dengan tantangan yang nyata di masanya saya juga.
maka, dimanakah fungsi kitab suci sebenarnya?

teringat, ketika kelas 1 SD di mata pelajaran matematika, saya harus bergantian dengan teman-teman maju ke depan kelas tuk hafalkan perkalian 1 sampai 10.
1 x 1 = 1
1 x 2 = 2
1 x 3 = 3
terussss.. sampai,
9 x 8 = 72
9 x 9 = 81
9 x 10 = 90
terus satu demi satu, sampai terakhir..
10 x 10 = 100!
dan itu harus ngelotok..!!
hebatnya, begitu hafal perkalian itu dengan ngelotok, maka mudah bagi saya tuk mengerjakan pembagian. hal yang sama dengan sebelumnya saya menghafal penjumlahan maka mudah bagi saya mengerjakan pengurangan. berawal dari latihan sederhana sampai hafal tentunya. tergantung metoda belajar dari sekolahnya.

nah, lalu ke kelas-kelas berikutnya, saya tumbuh kembang dengan soal-soal berikutnya yang sangat variatif. walau kadang rumit  mencari jalan pemecahannya. bervariasi memakai rumusnya, tapi basic referensi saya tentang penghitungan atau matematika sudah sangat saya kuasai.
sepertinya sederhana yaa..??

tapi ketika di kelas 1 SD saya menghafalkan perkalian itu, itu terasa susah banget loh. sampai di tongkrongi mama deh waktu menghafalkannya. walau ke depannya, dari yang sederhana itu saya tumbuh kembang. tanpa yang sederhana itu, saya ga bisa menjawab begitu banyak soal di jenjang berikutnya

begitu pula dengan kitab suci.
buat saya, kitab suci adalah basic referensi.
tentu tidak sesederhana matematika itu. dan akan sangat sederhana kalau sudah kita kuasai, terutama kuasai substansinya.

kesimpulan : 
saya tidak hidup untuk kitab suci. justru kitab suci tuk saya hidup.

sebagaimana pola perkalian itu ada tuk saya belajar matematika dalam hidup.
maka jangan pula terus-terusan ditanya, kenapa 1 x 1 itu sama dengan 1.
itu entah kesepakatan siapa deh.. 🙂
sebagaimana juga jangan terus ditanya kenapa tuhan itu satu bukan tiga atau 4, 5 atau justru tuhan tidak ada sama sekali?
itu sudah seperti sebuah kesepakatan dalam kejujuran hati manusia deh…

persoalannya yang penting adalah, bagaimana dari pengertian tuhan itu satu, kita bisa mewujudkan banyak kebaikan. dan menjawab tantangan berikutnya dari hal tersebut.

– seperti kalau memang meyakini tuhan itu satu, ya janganlah mentuhankan harta sampai-sapai betah melihat kemiskinan merajalela dan terus sibuk memperkaya diri sendiri.buat apa terus menerus menghafal tuhan itu satu, tapi ga mengerjakan soal-soal yang begitu banyaknya dalam hidup ini?
atau kita memang maunya seperti di kelas 1 SD saja?
bisa dipahami?

kemudian, karena dalam kitab suci itu selain mengajari masalah keimanan, dituliskan pula peristiwa-peristiwa seputar kenabian itu, maka ya harus di pahami konteksnya.

seperti ini saja..
beberapa teman meminta blog mualaf menggugat ini dibukukan. walah, bingung saya. karena disini hanyalah kumpulan perkataan-perkataan saya terkait konteks yang sedang saya pikirkan bahkan konteks yang sedang ditanyakan. anda semua yang mengikuti dan hidup di masa yang konteksnya sama dengan saya, ya tentu mengerti maksud-maksud dari perkataan saya.

lah, kalau buku mualaf menggugat bertahan sampai cetakan tahun ke-20 saja, pastinya sudah berbeda isi bukunya dengan konteks diluarnya. apalagi kalau bertahan hingga berabad-abad lamanya??? anak cucu saya sendiri juga sudah ga paham deh.

maka kitab suci memang bukan untuk menentukan bagaimana seharusnya kehidupan kita saat ini. sekali lagi, kitab suci adalah basic referensi dan kitab suci adalah inspirasi. saya mengimaninya begitu.

saya salut dengan upaya tuk terus menerus mentafsirkan kitab suci menurut kebutuhan zaman. tapi maaf ya, tetap sajalah dibutuhkan pengertian mendalam ttg apa fungsi kitab suci dalam hidup.
kalau tafsir diadakan tetap tuk memaksakan kehidupan sesuai kitab suci, saya pikir ya persoalannya akan terus seperti kenyataan kita selama ini. selalu bias dan bias lagi, juga dipertanyakan terus menerus..
seperti duluan mana telur dengan ayam deh..

saya lebih setuju, tuk sadari saja dan terimalah, bahwa sebagai basic referensi kitab suci menjadi pelajaran dasar tuk menghantarkan manusia menjadi manusia di kehidiupan ini. kenali dan pahami diri juga visi penciptaannya. itu sudah pertanda kitab suci harus dipelajari dengan jernih.
selebihnya jawablah tantangan hidup dalam kapasitas dan realitas kita.

sekali lagi, sebagaimana tulisan saya sebelum-sebelum ini, saya bisa begini karena saya sudah bergelut dengannya dan sudah bertekad melewati kelas 1 itu. hahahaha.. becanda 😀
sejujurnya karena saya sadari dan merasa bahwa kehidupan saat ini sudah menunggu jawabannya. tak lagi bisa terus ditunda dengan berangan-angan saja.

demikianlah teka teki itu saya jawab..

benar tidaknya saya ga tahu. kuncinya hanya ada ketika jawaban saya ini memang bisa menjawab kehidupan di sekitar kita saat ini.

tertarik dengan perkataan pak Mario Teguh di O channel, bahwa kalau sudah dicoba terus menerus dan tidakjuga benar, maka itu salah. walhasil, semua yang sudah lama kita pakai sebagai pakem beragama kita dan tidak juga memperbaiki kenyataan kita ini, maka berarti memang ada yang salah nih..

sudah saatnya kita berpikir dengan cara yang lain atau berbeda, selama substansinya tidak lari dari kitab suci itu sendiri. dan rasanya memang tidak akan lari, karena (semua) kitab suci itu sendiri lahir dari kebutuhan yang sama dengan kita saat ini. hanya dalam konteks yang berbeda.

sebagaimana tingkat tertinggi dalam sufi adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan memenuhi segala sesuatu sesuai haknya. maka meski saya bukan sufi, saya berniat tuk menempatkan kembali kitab suci pada tempatnya dan menjawab kehidupan ini sesuai haknya.
sungguh, problema kehidupan yang semakin memburuk saat ini sudah harus segera dijawab dengan kesadaran penuh..

ini cuma wacana loh,
saya sekedar mewacanakan
bagaimana?

salamsufidoofidoo
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

24 Tanggapan to “teka-teki kitab suci”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

wahh … manteb mbak,
numpang cerita boleh yah ??

saya dulu waktu kecil, diajarin bahwa 1+1 sama dengan 2, tapi ketika 2+2 saya sempat sebegitu ngeyelnya bahwa hasilnya adalah 3, 3+3=4.
untunglah kakak saya cukup bijak dengan tidak langsung menyalahkan saya, mungkin di pikirannya “oh dikiranya penjumlahan itu mengurutkan angka”, maka di mencari kasus lain, “1+2 berapa ??”, “1+3 berapa ??”
baru setelah itu saya nyadar, oh maksudnya notasi plus atau penjumlahan itu “begini”, pemahaman … tentu ndak bisa diceritakan, meski bisa ditelusuri.

dan kasus itu begitu menginspirasi saya, sampai-sampai kalau saya ditanya temen-temen tentang hal lain, saya berusaha masuk dulu ke dalam pemahamannya, dan saya berusaha menyajikan kasus lain yang tidak bisa diselesaikan dengan pemahamannya. jadinya sama-sama enak, dia cepet paham karena nggak merasa digurui/dipaksakan pemahamannya, saya nggak merasa kerepotan karena nggak perlu bertele-tele menjelaskan.

begitu pula tentang Qur’an, dalam pemahaman saya dia adalah contoh-contoh kasus yang dipilihkan oleh Tuhan, agar kita mampu mencapai pemahaman holistik. Jadi isi Qur’an itu satu menurut saya, nggak terpecah pecah per ayat, per surat, per bab, per kasus, tapi satu … satu pemahaman, yang dengan pemahaman itu mudahlah bagi kita menyelesaikan tantangan hidup.

@watonist
boleh dong.. saya suka malah kalau ada yang berbagi di sini.
mas watonist benar.. kita butuh tuk berani menyimpulkan diri dan kitab suci kita. menyimpulkan satu pemahaman holistik ttgnya, yang dengan satu itu kemudian kita melangkah ke depan.

kenapa ya kita tidak berani? karena merasa bukan orang arab? hahahaha.. inilah dominasi dari mereka yang merasa memiliki muhammad. padahal islam itu universal dan tanah ini adalah tanah indonesia. maka simpel saja, mari kita simpulkan berserahnya diri kita pada tuhan dari basic referensi bernama kitab suci kita itu, dengan rasa, bahasa, masa dan bangsa kita yang indonesia. semoga dari sini, bisa menjawab banyak hal ttg islam itu sendiri dan kedamaian umat manusia pada umumnya.. gitu ga sih?

Ini juga dari postingan Kitri Dewi di : http://blogberita.net/2008/04/27/mustahil-orang-kristen-bisa-menjawab/

Saya melihat ada komentar bagus sedikit nyambung dgn tulisan ibu

Ada baiknya ibu melihat koment2 disana dan menyelami apa yg sebenarnya terjadi.

====================================================================

Saya baru saja bisa menemukan di internet 11 Pertanyaan yang dimaksud Insan Mokoginta. Saya pikir pertanyaannya dasyat sekali ternyata duuuh penonton kecewa. Orang ini persiiiis sama mantan Suster Katholik Irene Handono.

Mengargumentasikan Yesus dan Alkitab menurut iman kekristenan tetapi dari perspektif Al Quran dan Islam, lha ya of course ndak nyambung.

Saya selalu tertarik dengan orang yang pernah mengaku sebagai orang Kristen terus pindah ke Islam, apa yang terjadi, pengalaman spiritual seperti apa yang membuat pindah ke Islam, dan seterusnya. Ketika saya melihat video Irene Handono, mendengarkan dengan takzim penjelasan demi penjelasan, argumen demi argumen, reaksi pertama saya juga: lho? Ha? Haaaa??? Demikian pula ketika barusan saya melihat sendiri pertanyaan-pertanyaan Insan Mokoginta.

Lain lagi ceritanya kalau Irene Handono dan Insan Mokoginta ini tidak pernah mengaku sebagai orang Kristen sebelumnya. Saya bisa memaklumi semua pertanyaan dan argumentasi mereka.

Mereka mengaku sebagai orang Kristen sebelumnya, ini yang bikin saya heran, karena pertanyaan dan argumentasinya semuanya berdasarkan perspektif Islam dan Al Quran, dan mengaku bahwa mereka come up dengan pemikiran (atau pencerahan itu) sehingga masuk Islam. Aneh sekali, padahal semua argumentasi itu sudah ada sangat gamblang dan jelas jawabannya kalau saja selama menjadi orang Kristen mau belajar dan benar-benar genuinely punya kerinduan untuk mengenal Tuhan dari mulai Kitab Genesis sampai Wahyu, atau kalaupun malas baca sendiri kan ya bisa mendengarkan pengajaran.

Insan Mokoginta ini mungkin orang awam (artinya bukan mantan pendeta atau penginjil) tetapi Irene Handono yang mantan biarawati? Saya ketawa waktu dia menceritakan bagaimana dia berdebat dengan pastor pembimbingnya mengenai Yesus dengan ilustrasi “meja ini dibuat oleh tukang kayu, mau sampai kapanpun meja ini tetap buatan si tukang kayu, tidak mungkin berubah menjadi tukang kayu yang bisa membuat meja” Hahahaha. Kemudian menggambarkan trinitas dengan segitiga yang berarti dengan demikian bisa jadi segi empat dan lima dan seterusnya. Pastor pembimbingnya, katanya, tidak bisa menjawab.

Berarti selama menjadi orang Kristen mereka kemana saja dan ngapain saja, sungguh saya bertanya-tanya. Sepertinya mereka belum pernah jadi orang Kristen sebelumnya. Irene Handono selama menjalani kehidupan di biara entahlah apa yang dia lakukan, Pastor pembimbing yang dia ceritakan itu, kalau memang benar seperti itu, walah walah hanya Tuhan yang tahu selama di seminari belajar apa saja, dan selama menjadi pastor ngapain aja, dan bagaimana jemaat Katholik lainnya yang harus dia gembalakan duuh kasihan.

Sekali lagi, saya selalu punya genuine interest untuk mengetahui apa yang terjadi, pengalaman rohani seperti apa yang mereka alami sehingga memutuskan pindah ke Islam atau agama yang lain. Kalau cuma karena mengikuti suami/istri, atau karena artis biar lebih terkenal, saya tidak tertarik untuk tahu lebih jauh. Yang saya ingin tahu adalah pengalaman dan perjalanan rohani dan iman mereka dari agama A ke agama B ini yang menarik. Tetapi sampai hari ini saya belum ketemu “mualaf” yang bisa memuaskan ketertarikan saya tadi. Yang saya temui selama ini adalah orang-orang ex-Kristen by KTP yang pindah ke Islam tetapi selama jadi Kristen tidak banyak tahu inti kekristenan mereka.

Barangkali pemilik Blog Berita ini yang juga mualaf bisa sharing pengalaman rohani seperti apa yang menggerakkan hati untuk mualaf? Bolehkah?

Sungguh ini dari hati yang tulus dan niat yang bersih untuk lebih memahami.

Salam
/k

@jephman
makasih bang jephman, insyaAllah nanti saya ke sana yaa..

@buat semua di sini..
meski sesama mualaf, saya sangat prihatin ya dengan pernyataan2 bu Irene Handono. kalau Insan apa itu, saya belum tahu. saya nyaris tidak pernah mendengar ceramah bu Irene. saya ga tertarik sama sekali dengan segala yang berbau permusuhan, entah itu dari mana saja..

sederhananya saya mau bilang, kalau saya tidak akan “menjual” kemualafan saya. kebenaran yang saya yakini harus menjadi berkah bagi semua orang, termasuk tuk saudara-saudara dari agama saya sebelumnya. bukan malah menjadikan hidup ini penuh dengan permusuhan.

saya justru ingin memberikan iman islam saya ini kepada saudara-saudara saya yang kristen sebagai BUKTI, bahwa ketika saya melangkah dari kristen ke dalam islam, itu sama seperti saya melangkah dari kebaikan menuju kepada kebaikan pula. saya yang islam hari ini, tidak lepas dari saya yang katolik sebelumnya. karena saya utuh sebagai seorang manusia yang tumbuh dan kembang dalam keseluruhan hidup saya.

jujur nih yaaa, kemarin saya bermimpi. saya langsung menghubungi (imel) teman saya kok karena mimpi itu. dia bisa bersaksi.

saya bermimpi berada di sebuah gereja. semua orang menyanyikan pujian pada tuhan. tiba-tiba pastur meminta saya tuk bernyanyi, saya bingung. karena saya membawa al qur’an, saya muslim. ketika saya berniat meminjam madah bakti, pastur pun tersenyum memaklumi. maka kemudian saya memilih duduk di tempat yang agak tersendiri, menikmati dengan tidak ingin mengganggu. tidak ada suasana permusuhan di sana, hanya ada hanya kidung dan terasa seperti menikmati denting piano dalam jiwa.

saya menghormati tuhan yang mau hadir dalam banyak cara. seperti hadirnya saya di sana, meski hanya dalam mimpi. saya tidak tahu, mengapa saya bermimpi demikian. nyaris 20 tahun saya ga pernah lagi ke gereja. tapi saya tahu, -sangat tahu- bahwa di sana hanya ada puja dan puji untuk tuhan. bukan untuk permusuhan.

semoga refleksi mimpi itu, bisa membangun kesadaran kita bersama, bahwa dalam apapun cara saudara-saudara kita memuji tuhan, sebagaimana cara kita sendiri dalam memujiNya, itu adalah salah satu dari banyak bentuk kebaikan atas namaNya. itu juga tanda kalau kita semua sama-sama masih sangat ingin memujiNya dalam rasa dan kapasitas kita maisng-masing. karena DIA memang tujuan segala puja dan puji dalam hidup ini. karena DIA yang sempurna.

itu saja, semoga ini bisa menjadi penghantar tuk niat kita memulai kembali kebersamaan kita dalam begitu banyaknya perbedaan ini. terimakasih..

halahhh… kaya pidato, maaf ya. pissss… saya nih suka ga kuat kelamaan serius, hehehe. 🙂
nanti saya akan ke sana. 😀

“saya justru ingin memberikan iman islam saya ini kepada saudara-saudara saya yang kristen sebagai BUKTI, bahwa ketika saya melangkah dari kristen ke dalam islam, itu sama seperti saya melangkah dari kebaikan menuju kepada kebaikan pula.. ”

>>> WAH MENARIK NIH BU !!!
Karena Al quran sendiri menyatakan ahlkitab itu akan masuk neraka karena mereka adalah seburuk-buruknya makhluk. Dan tidaklah mungkin sama-sama kebaikan jika salah satu masuk neraka.

Surat Al Bayyinah : “[98:6] Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. ”

“kebenaran yang saya yakini harus menjadi berkah bagi semua orang, termasuk tuk saudara-saudara dari agama saya sebelumnya. bukan malah menjadikan hidup ini penuh dengan permusuhan.”

>>> Ini juga tidak sejalan dengan surat Al Maaidah yang melarang Muslim mengangkat non muslim sebagai “pemimpin” (dalam tanda kutip karena arti sesungguhnya adalah “teman/bersahabat” spt terjemahan Alquran sebelumnya).

“[5:51] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Bahkan rasa sayang ibu kepada kami yang bakal masuk neraka ini sama sekali bertentangan dengan suruhan Allah SWT :

“[8:12] (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka

“[2:191] Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah117 itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. ”

“[4:89] Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling330, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,”

“[4:91] Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.”

“[9:5] Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu630, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan631. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang. ”

Saya tidak sedang mencoba meminta ibu kembali kepada Kristus (istilahnya “memerangi” muslim) jadi saya terbebas dari suruhan Allah SWT agar ibu membunuh saya. 😛

Saya hanya mencoba agar ibu menerima Islam secara keseluruhan, tidak cuma comot yg bagusnya saja.

Seperti sudah saya katakan sebelumnya, para muallaf biasanya berlindung dibalik TAFSIRAN yang humanis, sosialis, pluralis bahkan liberal untuk menciptakan Islam seperti image yang mereka bayangkan, walaupun dari muslim sendiri dicap sesat sebagai SIPILIS (sekularisme,pluralis dan liberalis).

Satu yang saya minta : JUJURLAH minimal pada diri sendiri.

Mencomot ayat2 Alquran yg indah lantas melupakan ayat2 yg “panas” (halusnya : menafsirkan kembali menurut zamannya) itu artinya baru percaya SETENGAH saja dari Alquran.

Salam.

@jephman
bang.. coba deh baca lagi surat-surat yang abang tulis itu. di “rasa” saya sih, itu dalam konteks perang. dalam kejujuran.. saya tidak menafikannya, atau mengambil yang baiknya saja. saya menerima itu dalam konteks perang. dan saya tidak merasa perlu menggunakan itu tuk menyerang apa yang tidak saya alami..

saya minta maaf sekali kalau itu sering terasa tidak enak di hati kita yang berbeda yaa.

tapi saya merasa, itupun tidak akan terjadi jika tidak terprovokasi. dari saat kehadirannya, islam memang sudah dalam tekanan dari kekuasaan dan sekitarnya yang ada saat itu. sebagai agama baru itu membahayakan “comfort zone” agama-agama sebelumnya. saya rasa, sama dengan ketika Yesus mewartakan kebenarannya dan dikhianati oleh yahudi saat itu.

hanya di sini bedanya, Yesus tidak membuat tatanan sebuah komunitas bang. maka komplekstisitas permasalahannya tidak serumit yang dihadapi Muhammad. cara memobilisasi dan karakter umat yang dihadapinya pun berbeda. muhammad itu dengan bangsa arab, bang. Yesus tidak.. dan Yesus pun wafat di usia yang juga sangat muda. maka menjadi sangat berbeda dengan perjuangan seorang Muhammad.
ada konteks yang berbeda di sini.. dan tidak bisa dibandingkan begitu saja.

bisa dipahami sudutnya bang??

dan maaf, saya nyaris tidak pernah menggunakan ayat loh. artinya konsekuen deh, yang indahpun ga saya kutip. hehehe. saya berusaha menjadi diri saya sendiri. saya juga tidak jualan agama saya bang, saya terbuka… dan fair. bagaimana bang jephman?

@jephman
di topik sebelah, saya mengajukan usul untuk penafsiran lain dari kata nasrani yahudi ataupun kafir sendiri, yakni sebagai sifat.
gimana … ?? bisa diterima ??

Salaam..

wah diskusinya menarik ya..

mungkin ttg hubungan dengan non muslim bisa dilihat dalam tafsir Al Azhar hamka yang amat monumental. Dengan cukup menarik, hamka dalam tafsirnya mengungkapkan tafsir surat Al Qur’an Al-Baqarah 62: “Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.”

Kemudian juga surat Al-Maidah 69: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi dan (begitu juga) orang Shabi’un, dan Nashara, barangsipa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan dia pun mengamalkan yang shalih. Maka tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.”

Penafsiran Hamka atas dua ayat itu dalam Al-Azhar adalah sebagai berikut:

“Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. ‘Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita”

Saya menyetujui pendapat Hamka itu..banyak sekali yang menarik dalam tafsir-tafsir hamka, yang menurut saya amat meluaskan hati..

salaam..

siska
si faqir ilmu..

Itu baik untuk yg memiliki pemahaman Islam spt ibu, yaitu (spt yg sudah saya bilang diatas) yg sudah terpengaruh isme-isme.

Tapi…bagi mereka (Islam lainnya terutama Wahabi), ayat2 tersebut diatas, tidak pernah keluar dari konteksnya (berperang).

Justru dari tafsiran islamnya ibu, ayat2 itu jadi keluar dari konteksnya.

Karena dengan menyatakan semua agama baik, tapi ibu memilih salah satunya, itu sudah menyatakan salah satunya lebih baik. Dan ini berpotensi polemik yg sudah memasuki ranah “perang”.

Masih kelihatan gak nyambung ya?

Menyatakan suatu ayat “perang” harus dilihat dari konteksnya itu baik, tapi ini juga berarti menyatakan pembenaran “perang” kalau konteksnya tepat.

Ah banyak amat ngomong saya ini…

Saya coba to the point saja ya :

Kalau ibu merasa diperangi, apakah tindakan membunuh saya jadi benar dihadapan Allah SWT?

Salam

Maaf ada yg terlupa

Menyatakan ada ayat2 Alquran tidak up to date bahkan tidak realistis…gimana ya… 😛

to the point lagi deh 😛

Menyatakan firman Allahmu sendiri ketinggalan zaman?

hehehhehehe :p maaf ya

ibu terus mencari lagi ya…

@jephman
bukan bermaksud memaksakan konteks …
tapi disini kita (setidaknya saya sama mbak anis) kan setuju bahwa Qur’an harus di pahami sebagai satu pemahaman utuh, buka terpecah-pecah atau saling dipertentangkan.

Salaam…
makna Al-quran amat berlapis-lapis dan “hanya orang yang disucikan” begitu menurut al quran) yang bisa menyentuh makna al quran yang sebenarnya .. apa maksudnya orang yang disucikan? apakah orang yang disucikan itu orang yang berwudu terus menerus? atau orang yang dianggap syekh dan ulama besar oleh masyarakat, yang bisa bahasa arab dan kuliah di mesir? atau apa? apa maksud Al-quran dengan orang yang “disucikan” itu?… hm.. mari coba kita cari bersama-sama.. :)) ..

@jephman
gini ya bang jephman, pertama perkenalkan, saya nih bukan seorang yang belajar formal. asli saya ga tahu isme-isme itu. karena blog ini nih saya tuh dituduh liberal, di tuduh sinkretis -apa itu-, saya tetap ga ngeh. sampai cari dulu di google tuh. 🙂

maka saya ga tahu suhuf dsbnya itu. saya nih rada bodoh emang iya deh:) saya ga pernah mempelajari apa-apa.. polos-polos saja.

saya tahunya : hati saya begini. sudah. ga neko-neko.

jadi ttg kitab suci dsbnya itu, nalar saya ya seadanya ini. buat saya emang ada bagian yang up to date. seperti ayat ttg perbudakan itu. sistem sekarang kan perburuhan. atau soal poligami itu, hehehe, saya merasa itu memang ga up to date.

apakah dengan begitu saya jadi mempermainkan kitab suci saya sendiri? ya saya bilang tidak. buat saya al qur’an itu basic referensi. dengannya saya mengup date persoalan yang ada. tapi jelas sesuai dengan nalar saya. kalau ga sesuai tapi saya terima aja, munafiklah saya nanti bang.. jatuhnya cuma ikut-ikutan doang.

bisa dimengerti bang?

kalau ditanya : apakah dalam suasana perang saya akan membunuh bang jephman? ya tergantung hati saya. kalau bang jephman merugikan negara dan bangsa saya, tidak mustahil saya akan melakukannya. tapi jika tidak, apakah saya punya alasan tuk membunuh itu?

kalau sekedar diprovokasi begini, ya ga lah bang. saya tuh kalau marah malah menangis. rasanya sulit deh saya membunuh dalam keadaan marah. saya justru akan sibuk menenangkan diri dulu.. 🙂

gitu bang.. relatif ya? tergantung konteksnya dulu deh. saya ga bisa berimajinasi soal, maaf.:(

@jephman
maaf bang, tuh nulis aja berantakan..keburu kekirim. ketinggalan ini :
– ttg perbudakan itu maksudnya juga ga up to date buat saya
– trus, maksudnya saya ga bisa berimajinasi soal pembunuhan.
maaf 😀

@watonist
@siska
makasih ya mas watonist juga mbak siska.
hmm, kok jadi sulit gitu ya qur’an?

cerita ya, saya tuh kalau baca qur’an ya baca aja. ga ada niatan apa-apa. ga juga kepikir akan dapet pahala. biasa saja. trus kalau temu ayat yang memojokkan yahudi misalnya, saya biasa saja tuh. ga lantas jadi benci yahudi israel itu. saya ya seperti belajar di sekolah aja. udahannya ngerti atau lupa, itu gimana nanti. hehehe 😀

intinya saya iman, saya baca, saya nikmati. saya ga punya ekspektasi apa-apa pada qur’an. kadang malah ngantuk, kadang malah blepotan, ya sudah tinggalin. kadang ikutan ngaji tafsir, malah bikin bingung dan kok suka ga sesuai hati. kan kadang tafsir sendiri itu menurut si X, si Y dstnya.

maka saya tuh suka kebingungan kalau sudah pake ayat. emang ada apa dengan ayat itu?? kadang suka juga sih ikutan coba mentafsir dan menalarkannya, e.. malah salah tuh. aduhhhhh.. saya bloon deh. jadi ya sudah, saya lebih memilih tuk membacanya, trus mengendapkannya.
hasilnya apa? hasilnya saya semangat aja jadi anak baik 😀

pemahaman kita tentang Qur’an atau islam sendiri, belum tentu sama persis mbak … tapi saya terima dan syukuri itu sebagai kekayaan islam sendiri, sebagai rahmat dari-Nya.
ada yang bilang, bentuk islam itu bisa sebanyak jumlah kepala penganutnya, dan saya setuju dengannya.

@watonist
itu sih one man one universe itu yaa? hehehe.
hmm, tapi di kebersamaan harus ada yang mencontohkan yang baik deh mas. gitu ga sih?

Nah itulah bu, kebanyakan mualaf itu mengaku2 mengerti agamanya padahal baru belajar. Parahnya lagi mengaku kalau dulu taat dengan agama lamanya, lantas pindah. Padahal dulu agama cuma di KTP doang.

Biasanya awalnya menganggap semua agama sama. Logikanya, kalau semua agama sama, ngapain juga pindah agama? 😛

Kalau ibu merasa diprovokasi, itu artinya ibu belum siap memasuki dunia dialog antar agama. Sebagian umat islam lain kalau begini sudah keluar tuh cacimaki, dianggap menghina, memfitnah, membenci islam, dll.

Itulah bu bedanya Kristen dengan Islam. Kalau ibu merasa diperangi, Islam mengizinkan ibu untuk membunuh. Definisi “diperangi”pun berbeda-beda dari masing2 mazhab. Ibu sendiri menyatakannya dengan “mengikuti kata hati”. Apa kata hatinya ibu konsisten dari waktu ke waktu?

Apa dengan berkata begini saya membahayakan negara dan bangsa ibu? Bagaimana dengan membahayakan agama bu? Karena Islam memandang agama-bangsa-negara satu kesatuan yg tak terpisahkan.

Dalam kekristenan pemisahan agama dan negara itu jelas (ingat “berikan kaisar apa yg menjadi milik kaisar, berikan Tuhan apa yg menjadi milik Tuhan”?)

Kalau dalam Kekristenan, ditampar pipi kiri beri juga pipi kanan.

Kekristenan,dalam sejarahnya memang penuh lumpur dan darah. Itu fakta.

Tapi Yesus sendiri tidak pernah menyuruh murid2nya membunuh. Ingat kejadian waktu Yesus ditangkap di taman Getsemani? Petrus sudah menghunus pedangnya dan melukai tentara yg mau menangkap Yesus. Yesus justru mengatakan : “Siapa yg menghunus pedang akan mati oleh pedang”.

Hal yg sebaliknya justru dilakukan oleh Muhammad. Muhammad justru menyemangati pengikutnya untuk berperang.

Kalau Yesus tidak pernah membunuh (malah membangkitkan orang mati), Muhammad justru sering.

Kalau Yesus bilang : “Kasihilah musuhmu”
Muhammad justru bilang : “Ceruk batu dan pohong2 berteriak memanggil muslimin untuk membunuh Yahudi”.

Ini adalah antiklimaks dari ajaran kasih dalam agama. Antithesis dari seluruh perdamaian yg coba diajarkan agama.

Karena selama PEMBERI CONTOHnya berbeda antara yg diajarkan dengan perbuatannya, itu akan terbawa terus ke umatnya. Orang bilang : munafik.

Jadinya ya hanya pikiran rumit njelimet untuk menjelaskan (kalau gak mau disebut menutup-nutupi) kemunafikan yang ada.

Ujung-ujungnya disebut teka-teki. Lebih lucunya dibilang misteri.

Semuanya tidak jadi teka-teki dan misteri kalau mau jujur mengakui ada yang salah kalau mulut mengaku damai tapi tangan megang pedang.

Mulut bilang boleh punya istri empat tapi dia sendiri melanggar sampe belasan.

Mulut bilang jangan berbuat lalim, tapi memimpin perampokan karavan pedangan.
(masih banyak lagi tapi males nulisnya bu)

Intinya bu, jujurlah dalam memandang agama ibu sekarang.

Semuanya menjadi jelas dan gak perlu repot2 berpuisi bercurhat ria tanpa ada kelanjutan penyelesaian masalah.

Ini mungkin postingan terakhir saya di blog ibu. Izinkan saya memberi sepotong ucapan Yesus sendiri tentang seorang nabi yang datang di akhir zaman :

Matius 7:15-23

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?

Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.

Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Salam.
Tuhan Yesus mengasihi Ibu dan keluarga ibu.

@jephman
kita berada di dua rasa yang berbeda bang. ini ga bisa disamakan begitu saja.
Yesus sendiri adalah antitesa tuk ajaran Musa pada bani israel.
saya ga mau kita debat kusir di sini, saya sudah jawab di komen saya sebelumnya.

saya lebih suka, kalau saya dan bang jephman sama-sama menjawab realitas kita, karena ini lebih penting dari sekedar debat dalil/ayat. saya sudah coba wacanakan di “trilogi tuk toleransi”.

perhatikan ini :
saya turut prihatin atas tekanan psikologis yang dihadapi teman-teman kristen dan agama lainnya, atas masuknya keberagamaan kita ke RUANG PUBLIK indonesia. yang jelas saat ini sangat dikuasai oleh yang mayoritas islam.

sejujurnya, tekanan psikologis ini juga dirasakan oleh pihak islam indonesia lainnya yang berbeda haluan.

saya melihat sekali usaha para ulama besar indonesia, tuk membendung -sebut saja- wahabisme ini. mereka bahkan dicemooh oleh umat islam sendiri. sebut saja para tokoh islam indonesia di gerakan AKKBB.

islam indonesia, berusaha kok tuk melindungi indonesia -termasuk di dalamnya kristen dan agama yang lainnya, bahkan kesukuan dan semua persoalan berbau SARA, dari kemungkinan di satu warnakan. bahkan temui saya, dengan banyak postingan disini, adalah turut berupaya tuk itu. walau saya ini pribadi dan sendirian. saya bukan apa-apa.

maka alangkah lebih baik, jika energi kita bisa disatukan tuk hal yang lebih baik. dari sekedar debat kusir yang tidak ada habisnya.

karena islam indonesia hanya bisa membendung hal yang bang jephman sendiri juga tidak sukai ini, dengan didukung oleh seluruh elemen bangsa indonesia. tidak bisa hanya oleh islam indonesia sendiri.

islam indonesia adalah islam yang nasionalis. bedakan banyaknya kubu islam yang berkembang saat ini, lewat wawasan nasionalismenya.

saya sendiri akan turut mempertahankan keindonesiaan saya. saya kan melepaskan islam saya jika indonesia ini mau disatu-warnakan. karena ini akan mengkhianati rasa indonesia saya. tapi jelas, sebelum saya harus menanggalkannya, maka saya akan memperjuangkannya sebisa mungkin.

memperjuangkan islam indonesia!

disini, saya meminta bang jephman tuk FAIR, jangan turut merong-rong indonesia dari banyak sisi. indonesia harus mau BERSATU tuk merdeka sekali lagi!

tanpa bersatu, jangankan melawan problem keberagamaan kita saat ini, tuk bisa berdiri tegak saja indonesia saat ini sudah susah setengah mati. ya kan?

saya santai tapi SERIUS nih.. 🙂

Maaf baru baca. Mungkin gara2 judulnya kurang cukup merangsang nafsu sy tuk ngeklik he he..
Terimakasih telah nyebut nama sy di awal postingan — appreciate — meskipun sy belum paham kenapanya, malah sy heran apakah ada komen sy yg bikin tersinggung, sedih atau susah kah?
Tolong dihapus sj komen2 tsb jika bener demikian adanya, drpd nanti2nya komen tsb bikin lebih banyak insan tersinggung, sedih atau susah. Spt lobang di jalanan, kalo gak ditutup smk lama akan smk banyak korban komen tsb. kcian khan?!

okay, sah2 aja kok pernah merasa quran terasa seperti tts, ndak perlu diperdebatkan, mau suka rasa manis, pedas, dst atau suka jazz, qasidah, dst. atau tertarik pak Maria Teguh, Sufi, dst lha semua itu rasa, suka, tertarik adalah hak prerogratip setiap insan dan ndak perlu diperdebatkan apalagi saling meremehkan. Itulah kenyataan, sudah saatnya kita semua menyadari bukan zaman lagi ngomongin TV monokrom. Smk lama orang semakin mengetahui dan menyadari bhw ternyata ada ribuan, jutaan warna yg bisa didalilkan. Dan mungkin masih banyak lagi warna yg belum bisa didalilkan. pengetahuan dan kesadaran atas keanekaragaman itulah yg bikin hidup lebih indah, gak cuman monokrom doang kenyataan hidup ini.
Sy rasa banyak warna, meskipun mungkin sedikit banyak berbeda, dr kita yg bisa dipadukan shg lebih n lebih… bermanfaat. andai kita bisa mencari keserasian ato bikin perpaduan2, kenapa musti mencari-cari perbedaan ato memaksakan pembedaan2 khan?

eh ga usah serius2 amatlah bacanya

@jiwamusik
dikutip yang sunatullah itu ya? ya pastinya karena saya setuju mas 😀

yup, kita hanya perlu sadar diri sendiri aja deh. bahwa kita begini, lalu orang lain begitu, lalu bagaimana bisa bersama dalam damai. simpel.

masih banyak sisi lain hidup yang harus kita bangun, menjadi baik dan membahagiakan banyak orang. terutama saudara kita yang lebih memprihatinkan hidupnya dari kita.

tadi saya jemput anak ke sekolahnya, ketemu bapak tukang sate langganan. sudah sepuh. biasanya pake gerobak, tadi pake pikulannya. gerobak dan pikulannya pinjaman. jadi ada biaya sewanya juga. trus dia sendiri juga cuma tukang sate aja, dagangannya ada majikannya lagi. walah, berapa pendapatan bersihnya dikurangi semua setorannya yaa??

tadi tukang ojek nanyain mbak yang bantu di rumah saya.
– bu, kok lia itu galak ya?
– emang diajari saya tuk tahu jaga diri.
– wah, pantes jadi susah didekati.
– emang kenapa?
– ga, cuma tanya aja. bu, berarti saya harus dekati ibu dong kalau suka sama lia?
– hahaha.. dekati bapak (suami saya) sana. lia kan satu kampung sama bapak.
– aduh ibu, berarti.. mau yang baik itu susah yaa???
– ya iyalah. emang gratisan??

hahahaha… lucu ya? tapi saya salut dia berani bertanya pada saya. kebetulan saya kenal tukang ojek itu sekeluarga. warga sekitar kompleks juga.

tuh kan mas jiwa musik, hidup ini seru.. 😀

waduh, ceu anis, punten,
karena saya belum pernah jadi orang kristen,
apa emang wajah kaum kristiani bisa diwakilkan sama bang jepham saja?
kok saya jadi bingung, katanya agama Yesus adalah agama kasih, dan beliau tekankan berkali2, tapi justru tulisan di atas sama sekali tidak saya temukan nilai kasihnya…
yang ada adalah sebuah provokasi dalam bentuk lain,,
semoga bang jepham juga berniat buka ayat ALquran lain, (mumpung udah mengutip ayat lain sebelumnya) yaitu di QS Al-Baqarah [2]: 62
yang menyatakan hal sebaliknya tentang orang beriman, orang yahudi, orang nashrani dan shabiin, ada juga di antara mereka yang mengimani ALlah dan hari akhir… mereka semua mendapatkan keselamatan…

ah, rasanya saya gak percaya deh ceu anis,
pasti beliau tidak mewakili agama kasih yang saya rindukan juga…
bisa saling melihat sisi baiknya, bisa lebih dahulu mengedepankan prasangka baik terhadap ayat demi ayat ALquran yang tampak bertentangan satu sama lain…
bisa bedampingan dengan agama lain, sebagaimana sejarah juga mencatat di zaman Rasulullah di Madinah mereka berdampingan juga kok….

juga semoga tidak mencontoh sejarah perang salib yang memilikuan itu… entah gara2 siapa yang memulainya…saya gak ikutan kok…

yuk ah, kita mah lebih efektif membangun dialog yang tidak saling menjatuhkan satu sama lain…
yang sama2 saling membangun satu sama lain..
semoga bisa..
insya Allah, bisa kok…
wong semua punya nurani sebenarnya kan…
peace ya bang jepham…
silakan cari ruang debat di majlis yang lain…

(eh punten, gak bermaksud ngusir, wong saya juga sama-sama tamu kok….)
peace..

tuh kan, sampai nyebut nama aja salah,
punten maksud saya bang jephman…..

peace lagi ah…

@kuswandani
bang jephman hanya menyampaikan perasaannya seperti juga kang dani. dan saya menghargainya dalam apapun rasanya saat menuliskan komentarnya. marah, sedih, kecewa, bahagia, senang, itulah bang jephman. utuh.

saya mengerti bahwa kita (bangsa indonesia secara umum)masih lebih mudah teradu domba, tanpa ada yang mau melerai dengan fair. ini wajar, indonesia sangat majemuk. butuh waktu kok tuk berdamai dengan siapa saja, bahkan dengan diri sendiri.

saya yakin hanya kedamaianlah yang ditawarkan bang jephman. hanya memang masih dalam bahasa bang jephman. yang mungkin tidak mudah di terima banyak orang. saya tahu kristen, saya bisa menerimanya.

maka kita perlu bahasa bersama. dan bahasa bersama kita ya tertuang dalam pancasila itu. yuk mulai berdamai terutama awali dengan berdamai pada diri sendiri. semoga refleksinya, semakin hari akan semakin indah terasa oleh kita bersama.

saya menghormati semua tamu-tamu saya. saya suka malah. kalau nyata, tentu akan saya ajak makan pisgor rame-rame. hahaha.. 😀

agama yang damai itu jangan di rindukan di mana-mana, dia ada di dalam hati dan prilaku kita.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: