trauma itu

Posted on Juli 23, 2008. Filed under: 1 |

(sedikit di bagi yaa.. semoga bisa dihindari di masa yang akan datang..)

bayangkan, di usia 18 tahun itu, saya berdiri di posisi yang sangat menjepit.
di satu sisi, orangtua dan kerabat saya menolak keras keislaman saya. sangat tidak trauma fisik, tapi cukup letih secara psikis.
lalu, di satu sisi saya bersama kelompok manusia islam yang mengklaim islamnya islam kaffah. saya harus bisa sholat, karena itu wajib, dsb-dsb. padahal, saya nih buta huruf arab. saya ga tahu islam sebelumnya. saya nyaris tidak punya masa mengenal islam sebelumnya, saya tuh masuk islam ya masuk saja. hanya karena dorongan dari dalam jiwa saya.
di sini sudah saya ceritakan deh. dari sebuah mimpi tea.

untung saja saya cukup bisa belajar sangat cepat.
mereka menyuruh saya sholat, sementara di satu sisi, saya harus bisa membagi sisa uang saya tuk membeli mukena sendiri. dan harus berpikir keras tuk bagaimana mencari uang sendiri di usia segitu.

saya tidak bisa menyalahkan orangtua saya, kalau mereka memboikot finansial saya. tapi mereka yang muslim apa juga mau tahu? hehehe, jangan ngaku islam di depan saya! mualaf yang dalam qur’an jelas-jelas di tulis berhak atas zakat, apa mereka peduli??
tahunya cuma suruh sholat!
apa buktinya kalau qur’an itu memang dibaca??

tapi saya nih dididik tuk tidak menjadi peminta-minta, saya berterimakasih tuk sahabat saya yang mau membantu saya waktu itu. itu pun saya sudah bingung bagaimana harus membalasnya.

lalu saya juga diwacanakan jilbab.
anda tahu apa yang saya alami tuk menjadi islam dengan jilbab demikian?
saya diteriaki paman-paman saya : botak!! dan dibetot jilbabnya oleh ibu saya.
tapi saya diceritakan bahwa mereka yang kaffah itu juga sulit kok tuk berjilbab meski mereka sendiri islam, maka saya juga harus berjuang.

lalu mereka bilang orang kafir tidak boleh melihat rambut saya.
sementara yang kafir itu adalah ibu dan bapak saya, yang merasa rindu tuk melihat saya anaknya dalam keadaan yang biasanya. tapi kata mereka, kita harus kaffah..

saya sakit harus berdiri di antara agama dan orangtua.. dimana tuhan kalau sudah begitu?

tapi demi sudah terjebur, ya saya jalani. terbayangkan saya bermusuhan seperti itu dengan ortu. kenapa islam tidak bisa luwes tuk kondisi saya? yang katanya permudahlah dan jangan dipersulit? siapa yang memperumit islam? saya atau orang islam sendiri?
giliran saya protes?
hah, jawabannya seperti mas budi. saya yang disalahkan dan dituduh memperumit. diwacanakan kalau islam baik dstnya. halahhh… tapi kenapa tidak pernah ada ruang tuk saya??

islam hanya tau maunya saja!

lalu saya suka puasa daud. puasa sehari, makan sehari. hey.. saya dipuja puji. dikatakan perkataan dan perbuatan saya akan membaik dengan puasa yang demikian.
hahahaha, tau ga kenapa saya puasa daud? saya nih ga bisa makan tiap hari! kalau saya dapet kerjaan disain, saya makan. kalau tidak, ya tidak. uang yang ada lebih tuk kuliah, karena saya masih punya cita-cita.
kalau saya puasa karena mampu, maka itu namanya saya melatih diri. lah, saya puasa karena memang ga punya makan, apa yang saya latih?
apakah puasa seperti itu yang lebih dibanggakan dari memberi orang yang kelaparan?

saya memang tidak berpenampilan sebagaimana orang miskin yang compang-camping ya, saya dari keluarga yang tahu adab. tahu tata krama termasuk dalam berpakaian. saya tidak akan merendahkan diri dengan penampilan seperti itu, saya tidak akan memelas.

sementara ketika saudara saya yang kristen tahu, ya jadi sarana tuk mencemooh. dibilangnya saya bodoh! sudah tahu islam begitu, kenapa masih dipilih?? saudara-saudara saya yang kristen senang melihat saya susah di islam, rasanya seperti menemukan kelemahan umat islam. mereka suka mempertanyakan dan kemudian mentertawakan saya lebar-lebar.

o god, saya memang bodoh deh. saya telah membuat diri saya dipencudangi oleh mereka yang banyak membaca qur’an dan mereka yang merasa suci di gereja.

tapi saya berpikir manusiawi sajalah, saya mengerti saudara-saudara saya yang kristen berhak marah atas keputusan saya, dan di satu sisi, saya memang tidak mengenal saudara-saudara saya yang islam dengan baik.
apes saya!!

jadi mualaf tapi sengsara batin.. 😀
dan saya tetap tidak bisa menjual kemualafan saya dengan menjadi penceramah misalnya. seperti saya bilang, apa yang mau saya jual??
saya ga punya kebencian apa-apa pada agama saya sebelumnya..

lalu begitu terus menerus, sampai rasanya lepas dari satu masalah dan masuk ke masalah yang baru. saya hanya bisa menikmati dan tertawa di sela-selanya, tanpa benar-benar merasa ringan tuk tertawa.

adakah yang tahu? hehehe, saya ga akan meminta-minta!
menikah? maaf, saya sangat mendalami kisah roaaarr itu.

perhatikan ini yaa..
saya tidak akan kembali menjadi kristen, kalau itu dijadikan alat tuk menjelekkan islam. dan saya tidak akan menjadi islam kaffah kalau itu untuk menjelekkan kristen.
maka seumur ini, saya tetap merasa saya mualaf!

sementara yang muslim, mentertawakan dengan mencemooh kok saya merasa mualaf terus. ya bagaimana? memang itulah rasanya..
saya ga mau beragama yang mencemooh orang. saya ga mau beragama yang tertawa diatas penderitaan orang. saya ga mau beragama yang dipaksakan.

saya adalah saya,
kapasitas saya : mualaf.
e, apa sih arti mualaf itu?
dia yang hatinya dilembutkan??
yup, biar segitu saja tuk saya

maka nih, kalau saya melihat orang berkoar-koar begitu hebatnya ttg islam, saya suka tersenyum sendiri. atau melihat saudara saya yang kristen terus mencari cela tuk saling menjatuhkan, saya juga hanya bisa tersenyum. saya prihatin melihat banyak gereja di tutup dan dipersulit, saya juga prihatin melihat banyak umat islam terbelit kemiskinan dan kehilangan jati diri. dua-duanya punya masalah. ya itulah hidup!

kata teman saya, semua agama punya potensi tuk menyebarkan kebencian.
maka ya, mau bagaimana lagi selain hati-hati??
tapi saya lebih percaya, kalau semau agama lebih berpotensi tuk menyebarkan kebaikan.
saya percaya pada rasa tuhan dalam semua agama.

saya mualaf
saya ditengah-tengah
saya tak bisa ke kiri
saya tak bisa ke kanan
saya sayang isa
saya sayang muhammad
dan saya…
hanya ingin tuhan

sampai hari ini, saya masih suka mimpi buruk.
selalu merasa terancam, ga tahu kenapa?
trauma ini,
entah sampai kapan
mesti saya bawa.

maka saya hanya bisa berharap
dalam apapun agama kita
plissss… tuk tuhanlah tujuannya
bukan tuk siapa-siapa
bukan tuk nafsu dan segala atribut itu
kalau kita ingin menjadi manfaat yang banyak
dan kalau kita ingin menjadi lebih peka
pada kenyataan di sekitar anda..

salam
anis

ps. ketika saya memilih calon suami saya, jelas ortu marah karena saya akan menikah dengan muslim. janjinya dulu, saya boleh islam tapi tidak menikah dengan muslim. lah, teman yang islam kaffah itu juga menyalahkan saya loh. karena suami saya itu tidak dari kelompoknya, tidak ini dan itu. saya disurati yang bikin.. ah, saya marah. haduhhh.. kenapa serba salah yaa? maunya apa sih? apalagi kalau saya nikah beda agama? lagi-lagi dikafirin deh saya! kristen kafir, islam juga kafir.. hahahaha…

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

9 Tanggapan to “trauma itu”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

begitu selesai baca tulisan ini ceu anis..
langsung teringat sebuah kisah Nabi yang meremukkan hati….
“Suatu hari, Jibril datang hendak menemui Rasulullah, dan tampak oleh Jibril as. tampak Nabi tengah menangis sendirian…
beliau ditanya oleh Jibril,
“Mengapa engkau menangis ya Rasulullah?”
jawab Beliau,
“Aku telah memohon sesuatu kepada Allah tiga permintaan, dua permintaan Allah kabulkan, namun satu permintaan lagi yang Allah tolak pengabulannya…
“Apa itu ya Nabi?”
“Aku meminta kepada-Nya agar umat ini disatukan-Nya, dan Allah menolak permintaan itu…”

kita merindukan sebuah perdamaian… dan tentu semua makhluk dimuka bumi yang sehat akalnya pasti merindukan kedamaian juga… merindukan sebuah kondisi yang aman tentram bersatu, tidak ada keributan, tidak ada percekcokan, tidak ada perbedaan… semua satu warna…
dan,
sejak hadirnya pasangan putera Adam pertama dan kedua, dimulailah sebuah perbedaan pendapat, perbedaan melihat dan perbedaan sikap…. dan dimulai pula peristiwa pembunuhan pertama…
hingga hari ini, pun, perdamaian yang tampak abadi tidak pernah kita temukan… sejak Adam hingga detik ini!

Semua tampak menjadi bukti kata-kata para malaikat ketika mereka mempertanyakan penciptaan Adam dan keturunannya sebagai khalifah di muka bumi ini.. mereka akan saling menumpahkan darah…

ah,
kesimpulan singkatnya..
akan selalu hadir di hadapan kita sebuah perbedaan pendapat, sebuah konflik demi konflik, sebuah peperangan demi peperangan.. dan tampak ini menjadi hukum alamnya…

pasca meninggalnya Baginda Rasul pun, langsung terjadi perbedaan pendapat mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin berikutnya…

artinya..
yang hari ini saya dapat renungkan adalah…
saya juga ingin berjuang menjadi manusia yang punya kekuatan menerima perbedaan pikiran, tapi hati terikat kuat erat… dan belajar saling menghargai perbedaan itu, belajar merasa diri lebih tidak mengerti dibanding orang lain, belajar menuruti nurani yang jauh lebih jernih memandang setiap manusia lain,
belajar berprasangka baik dengan apapun yang telah Allah gariskan dalam rencana-Nya…

Allah izinkan setiap peristiwa demi peristiwa yang membuat kita miris melihatnya, peristiwa yang membuat kita prihatin habis-habisan, satu agama saling menghancurkan agama lain, satu pemahaman saling mencoba menjatuhkan pemahaman yang lain, satu keyakinan mencoba membutakan keyakinan lain dlsb. dlsb….

Sudah terjadi!
tapi mengapa Dia izinkan peristiwa itu terjadi..?
Kalau Dia Maha Baik, tentu akan baik pula rencana-Nya…
Kalau Dia Maha Kreatif dalam mengatur sekian milyar fenomena memusingkan ini, tentu aturannya itu berada di dalam Ke-Maha Bijakannya…

masalahnya adalah,
mata kita ketika melihat..
telinga kita ketika mendengar, mengamati, menganalisa… sudah seperti apa yang menjadi keinginan-Nya kah? sudah merasakan seperti apa yang dirasakan-Nya kah? menilai menghakimi seperti apa yang menjadi penilaian-Nya kah?

ah,
saya pribadi masih pontang-panting berjuang terus berprasangka baik kepada-Nya, mengambil makna lewat pengetahuan-Nya, merasakan dengan rasa-Nya, menilai sesuatu dengan mata-Nya, telinga-Nya,

jadi…
sama-sama saling ngingetin aja ceu anis…
saya yakin penuh… semua nurani manusia yang hadir di bumi ini… selama topeng jasadnya berhasil ditanggalkan…tentu akan rindu kedamaian kok…walaupun saat itu pula jasad pikirannya diobok-obok oleh jutaan fenomena yang membingungkannya…

salam lagi..
addaani2008.wordpress.com

@kuswandani
hehehe.. maaf nih kang dani.
saya kok kurang setuju yaa dengan hadist itu, sebegitunyakah tuhan sampai permusuhan dipelihara? membuat sebagian akhirnya terus mempertahankan permusuhan ini, karena alasan hadist tsb? rasanya kok seperti menutup kemungkinan dan kuasa tuhan saja..?? seperti tidak percaya pada tuhan gitu?

tau dong, kalau begitu wafat muhammad, sekian ratus hadist palsu di rilis?? maka saya mah tetap pake logika dan rasa deh kalau membaca hadist.

maka buat apa juga ada kitab suci kalau permusuhan terus dipelihara? bukankah tujuan pembelajaran kitab suci agar manusia bisa bersama dalam damai, seperti dalam surat al hujurat itu? jangan saling tumpang tindih dong.. 🙂

saya lebih suka kisah baduy yang mengencingi masjid. hebatnya, muhammad tidak marah loh. dan malah yang membersihkan bekas kencingnya. ini nih yang lebih membangun karakter. maka, apa yang kamu pikirkan tetang islam? kalau ternyata di dalamnya hanyalah akhlaq dan lagi-lagi akhlaq mulia??
ini yang harusnya lebih dikedepankan..

saya yang jadi mualaf tergolong sopan (kayanya sih :)), tidak sebagaimana baduy yang mengencingi masjid itu, sudah dihina-hina. bagaimana yang tidak? mau saya jadi mualaf yang menjelek-jelekan kristen dan memuja-muja islam mulu? o-o, sayang sekali saya ga bisa begitu.. salah orang deh!

jangan kebolak-balik deh kang dani. simple aja..islam itu tegas. tegas dalam memperjuangkan kebaikan. maka muhammad itu rela berperang demi tegas menegakkan kebaikan. dan jika kebaikan sudah ada, meski itu dari non muslim, ya juga tegas harus dihormati. ga usah tawar-tawar mulu.

menghormati non muslim, tidak akan mengurangi nilai muhammad dan Allah dalam jiwa dan hati seorang muslim sejati. ini keyakinan saya. toh, dalam rasa hormat saya pada non muslim, saya semakin mengimani islam.. buktinya saya tetap percaya Allah dan muhammad.
saran dari semua pengalaman saya itu : jadi muslim jangan munafik lah.. qur’an juga ngajarin begitu, ya ga?

“hehehe.. maaf nih kang dani.
saya kok kurang setuju yaa dengan hadist itu, sebegitunyakah tuhan sampai permusuhan dipelihara? membuat sebagian akhirnya terus mempertahankan permusuhan ini, karena alasan hadist tsb? rasanya kok seperti menutup kemungkinan dan kuasa tuhan saja..?? seperti tidak percaya pada tuhan gitu?”
Rasanya pemahamannya tidak begitu. Saya melihat, Allah ingin kita selalu belajar tentang “perbedaan”.
Seperti yang dikatakan bung Dani :
“saya juga ingin berjuang menjadi manusia yang punya kekuatan menerima perbedaan pikiran, tapi hati terikat kuat erat… dan belajar saling menghargai perbedaan itu, belajar merasa diri lebih tidak mengerti dibanding orang lain, belajar menuruti nurani yang jauh lebih jernih memandang setiap manusia lain,
belajar berprasangka baik dengan apapun yang telah Allah gariskan dalam rencana-Nya…”

berbeda tidak apa apa kan ? 🙂

@mas datyo
tidak papa, mas..
saya sudah sangat jenuh dengan dalil kali.. 😀

tenang mbak, nggak semua muslim menuntut sampeyan untuk mencaci orang lain (khususnya agama lain), salah satunya saya.
bertemu seorang muslim seperti sampeyan, seperti bertemu oase di tengah padang pasir, seperti bertemu saudara di antara keterasingan.
sungguh, saya tidak rela ada orang yang memaksa sampeyan mencaci orang lain, siapapun dia adanya. Kalau perlu akan aku tuntutkan rasa sakitmu di pengadilan-Nya, karena rasa sakitmu itu rasa sakitku juga.

masih ingatkan pertanyaan saya, “apakah persaudaraan islam itu sunatullah ataukah jargon semata ??”, dan kita telah membuktikannya, dan saya pribadi tidak akan menukarnya bahkan dengan iming-iming surga sekalipun, camkanlah itu oleh kalian semua !!

@watonist
waduh.. mas watonist jangan marah yaa. sakit loh.

saya sedang belajar tuk selalu memaafkan semua yang sudah terjadi. darihari ke hari, cuma itu yang saya lakukan. karena saya sadari cuma maaf yang bisa meringankan hati saya. bukan apa-apa dan siapa-siapa. toh, jujur saya juga ga butuh apa-apa dari semua yang sudah terjadi.

maaf saya tuk semua itu rasanya seperti memaafkan diri saya sendiri deh. kalau lagi eling…hehehe 😀

hehehe … jadi malu, maafkan saya juga mbak, sempet nggak bisa menahan diri tadi 😀

hehe, berbeda memaknai itu wajar… apalagi kita punya kepala bebeda, pikiran berbeda, latar belakang pemahaman berbeda.. dst.dst.

tapi kalau kita saling share untuk mencoba membangun pemahaman yang sama terhadap sebuah teks hadis, (walaupun ceu anis sudah jenuh dengan bentuk dalil teks ini….hiks…)
disinilah berharganya sebuah ruang blog untuk saling berbagi… semoga ketika kita berhasil memandang sesuatu dari sudut yang sama, ternyata kita sepakat kok, ternyata kita memahami yang sama kok..

yuk kita lihat lagi teks hadis yang saya tulis sebelumnya…

……………………………..
“Aku meminta kepada-Nya agar umat ini disatukan-Nya, dan Allah menolak permintaan itu…”
…………………………

Nabi meminta kepada Allah agar disatukan umatnya… dan ditolak…
logika saya, menolak disatukan umat itu bukan berarti dibiarkan bermusuhan…. rasanya tidak selamanya yang berbeda dan tidak bersatu identik bermusuhan….
Yang ALlah tolak itu persatuan… satu warna, satu tugas di muka bumi, satu pandangan, satu sudut arah, satu dan satu-satu yang lain dalam urusan dunia… (itu yang saya paham hari ini)

tapi kan kita bisa akur dalam perbedaan warna kulit kita, bisa akur dalam perbedaan agama… sangat bisa kok… bisa akur dalam perbedaan cara pandang…bisa akur dan saling share dalam berbagai hal karena masing2 unik dan tidak bisa disatukan…

hehe, rasanya yang saya paham seperti itu..
dan jelas bagi saya pribadi hari ini, masih sangat meyakini mustahil satu dalil berbeda pendapat dengan dalil lain, mustahil saling bertentangan…

punten, gak masalah ceu anis, saya menerima sepenuhnya kok dianggap masih seperti munafik, karena saya memang belum menjadi hamba-Nya semestinya total 100% menghadapkan hidup ke ALlah semata…
tapi, sungguh saya selalu merindukan diri untuk bisa total, bisa menggerus jutaan kemunafikan saya selama ini, semoga Allah berkenan menerima persembahan pengabdian saya yang tak seberapa ini…

saya sepakat kok sekali lagi… Islam tegas memperjuangkan kebaikan, Islam sendiri saya pahami agama perdamaian kok…
kalaulah faktanya hari ini masih ada permusuhan, peperangan, perebutan kekuasaan, dan Allah biarkan itu terjadi.. kan gak fair langsung kita persoalkan Islamnya, dalilnya, apalagi kebijakan Tuhannya….
saya sih menilai, orang-orang Islamnya yang belum berhasil mewujudkan nilai ke-Islamannya dalam perilaku kesehariannya…

selama Iblis masih diberi nafas kehidupan, selama pasukannya masih bergentayangan… tentu permusuhan, kebencian, balas dendam, saling maki, saling melempari akan terus hadir di bumi ini… apalagi kalau manusia-manusianya juga sudah menjadi pasukan yang dilaknat ALlah ini…

maka, yang saya bisa lakukan hari ini adalah,
belajar membangun rasa damai di hati ini, walaupun di kepala kita tetap berbeda dan tidak bisa disatukan (itu pemahaman saya tentang hadis itu)
membangun kedamaian dan ketentraman di nurani walaupun kita berdebat bolak balik jungkir balik saling berargumen dari puluhan sudut pandang… tanda memang kita gak bisa dipaksakan menyatu dalam satu sikap yang sama….

apa itu bisa… saya yakin bisa kok..
ada permusuhan disana? bisa gak ada kan? berbeda tapi menghormati perbedaan…. karena yang berbeda adalah baju agama kita… tapi hati bisa Dia satukan…

peace ah…

@kuswandani
makasih kang dani. maaf ya, itukan saya lagi emosi. hihihi. piss 😀
maklum deh, saya tuh bahkan merasa diajari munafik loh. waduh, maka marahlah saya.
seperti katanya agama damai, tapi kok seperti di bikin musuh bersama. (dan itu sodara sendiri yang hanya karena berbeda saja loh). katanya kudu akhlaq mulia, kok tuk yang sederhana aja kasar gitu. katanya memilih yang ikhlas, tapi kok kudu dari kelompoknya saja. katanya semua sama di mata tuhan, kok dibedainnya gitu amat. katanya…

15 tahun tuh saya bertahan memaklumi sebagai hal yang manusiawi, saya juga bisa jadi begitu. namanya juga manusia. tapi ternyata saya jebol juga. beban psikisnya kena ke fisik. kena serangan jantung dan hampir mati di januari 2006.

maka sederhanakan saja deh islam itu.
saya dukung kang dani mencari dan mengedepankan tafsir-tafsir yang lebih empati deh. lebih membangun karakter, dari yang hanya membangun militansi dan berorientasi taktis.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: