pergi

Posted on Juli 29, 2008. Filed under: coretan |

(mau mendongeng ah..)

gadis kecil itu datang mengetuk pintu sebuah rumah yang katanya dari emas.
katanya pula, pemilik rumah itu seorang yang sholeh dan baik budi.
ah, gadis kecil itu datang karena dorongan dalam hati
dan masih terlalu kecil tuk benar-benar mengerti

pintu memang dibukakan
tidak dari emas, begitu si gadis kecil bergumam
tidak ada sang pemilik di dalamnya
yang ada hanya mereka yang turut tinggal di dalam rumah itu
turut tinggal menjadi turut memiliki

jauh sebelum di tanya, – mau apa kemari dik?
jauh sebelum di beri suguhan minum atau apa
sebagaimana biasa menyambut seorang tamu yang bertandang

gadis kecil itu malah langsung disuruh ini dan itu.
bingung sih..
tapi demi bertemu sang pemilik rumah gadis kecil itupun melakukannya
walau kadang tangan mungilnya masih terlalu sulit tuk mengerjakannya
walau kadang tubuh kecilnya juga masih terlalu ringkih tuk melakukannya

dalam hati gadis kecil itu hanya ada satu keyakinan
tentang sang pemilik rumah yang baik hati dan luhur budi
yang konon katanya, wajah sang pemilik tumah itu sangat bercahaya
gadis kecil itu ingin sekali bertemu dan membuktikan keyakinannya

tapi ternyata berat
malah sulit
bahkan sakit

lalu penghuninya juga selalu saling ribut satu sama lain
bertengkar tentang pintu yang dari emas itu
– katanya itu dulu buatanku,
– bukan katanya itu dulu buatanku
mereka saling berebut katanya

membuat sang gadis letih mendengarkannya
membuat sang gadis ingin melerainya

maka kata sang gadis kepada mereka yang saling bertengkar itu
– oom, pintunya hanya dari kayu
– tante, pintunya hanya dari kayu
– aku melihatnya karena aku kan tadi mengetuk di depannya
– aku melihatnya karena aku kan tadi dari luar sana
– bahkan aku menyentuhnya ketika masuk tadi

tapi orang-orang itu malah menghardiknya
– tahu apa kamu?
– masih kecil!
– ingusan!
– pendatang!
– terhalusinasi!
– mengarang-ngarang!

tuhan..haruskah gadis kecil itu mengkhianati diri
ikut berkata kalau pintu itu dari emas?
padahal dia hanya anak kecil yang tidak bisa berbohong
tentang apa yang dilihat dan dirasakannya

bahkan seorang dari mereka berpikir begini, dan dinyatakannya
– kamu sudah tidak mendapatkan makanan di sini ya maka kamu berkata begitu?
– kamu mau merusak kebiasaan dan tatanan kami ya?
– seperti dulu orang yang telah menghancurkan bangunan ini?

tuhan.. gadis kecil itupun berteriak
– aku memang tidak pernah dapat makan di rumah ini sejak pertama aku datang
– aku tidak dijamu sebagaimana tamu pada umumnya
– aku tidak berpikir menghancurkan bangunan ini
sang gadis kecil itu pun menangis. betapa tubuh dan tangan munggilnya sudah nyata tak mungkin menghancurkan bangunan itu? apa mereka tak melihatnya?

atau kejujuran memang sudah tidak lagi menemukan tempatnya di sana?
di rumah seorang yang sholeh dan berwajah bak cahaya?

gadis kecil itu termenung di sisi pintu kayu itu
di rabanya perlahan dan dirasakan hangatnya kayu itu
tidak ada kesombongan dari pintu yang hanya kayu itu
dia sebagaimana rumah-rumah lainnya yang pernah gadis kecil itu kunjungi

sungguh, tidak ada kesombongan di pintu yang hanya kayu itu
tak sesombong pintu emas yang diangan-angankan penghuninya

gadis kecil keletihan dan kesakitan
tubuh kecilnya gemetar
kemudian perlahan
keluar dari sana…

terdiam di teras rumah itu yang hanya batu
duduk dan diam lama di sana
menatap langit nun jauh di atas
merasakan angin berhembus ringan

rasanya terlalu letih tuk terus melangkah pergi
tapi juga terlalu sakit tuk masuk kembali

teringat olehnya sebuah sesumbar
kelak akan datang seorang yang pinter dan sholeh
seorang yang wajahnya tak kalah bercahaya
yang dengan ilmunya akan menerangkan tentang pintu kayu itu

gadis kecil itu merebahkan badannya di teras itu
berbaring dan kemudian tertidur begitu letihnya

beratapkan langit, beralaskan batu
malam mendinginkan rasa, siang menghangatkan jiwa
hujan membasahkan hati, angin menerbangkan rasa

sampai di suatu malam
dia merasakan hangat sebuah tangan mengusap kepalanya
dia juga merasakan jubah yang dibuka dan menyelimutinya
bahkan ketika petir itu menggelegar
tubuh kekar itu merangkumnya, menjaga dan melindunginya
seolah tak ingin gadis kecil itu terkaget dan terbangun karenanya

gadis kecil terlalu letih tuk sekedar membuka mata
wajahnya pucat putih dan tak lagi bersemu kehidupan
dia hanya tertidur dalam ada dan tiada
sadari cahaya dari tubuh kekar itu berpendar
begitu lembut menghangatkan sekitarnya

cahaya yang menjaga dan memelihara
berharap sang gadis kecil bahagia
tak lagi perlu tahu apa yang ada di dalam sana
hanya ingin memeluk dan tak ingin lagi melepaskannya

masih terdengar bisikannya
sebelum kamu benar-benar pergi
izinkan, meski hanya aku, yang memiliki
kebenaranmu tentang pintu kayu ini

maukah?

tak pernah ada jawab dari mulut munggil itu

salam,
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: