bahagia yang sederhana

Posted on Juli 30, 2008. Filed under: coretan |

(masih percayakah kalau kita bisa bahagia bersama?..)

hari ini ulang tahun suami saya.
hari masih pagi setelah melewati malam pengantar hari jadinya berdua saja, saya kembali menemaninya mencari sarapan pagi, di bunderan air mancur kompleks perumahan kami. soto betawi menjadi pilihan, setelah rasanya menu pilihan yang lain sudah kami coba semua. maklum, hampir setiap akhir minggu kami suka mencari sarapan disini.

berbeda meja dari kami, duduklah seorang ibu dan anaknya. maaf ya, pelayan di warung tenda soto betawi ini memang terasa agak kasar, begitupun yang dialami oleh ibu itu. membuat wajah si ibu tampak agak tidak nyaman. setelah pesanan datang, terlihat mereka menundukan kepala hening sejenak berdoa sebelum makan. seperti saya mengucap bismillah dalam hati kali ya, itupun kalau saya inget.. hehehe 🙂

diantara dominasi wanita, tua muda yang berjilbab di ruang publik itu, mereka malah sangat menarik perhatian saya. terlihat sekali kecanggungan mereka ketika akan berdoa tadi.

bukan saya kalau makan ga cerita ini itu. maka sarapan pagi itu terasa lama, dan suami saya asyik cicip ini itu sambil mendengarkan celoteh saya. sesekali dia menanggapi, atau malah hanya mendengarkan saja. membuat saya kadang harus bertanya padanya, gitu ga sih??
hehehe, agar dia tetap perhatian pada celoteh saya. maksa! 🙂

lalu datang suami istri keturunan cina dan seorang anak kecil dalam gendongannya. duduk di meja saya, walau berselang beberapa kursi kosong. terlihat di leher istrinya sebuah kalung bertanda salib.

ketika mereka duduk, terlihat anaknya ga diam dan meraih ini itu. termasuk meraih wadah sambal yang ada. saya pun tertawa, menyelamatkan tangan mungilnya dari sambal yang pedas itu.
– lagi seneng-senengnya mau ambil ini itu ya?
reflek saya berkata itu tuk anaknya. ibupun tersenyum. saya kembali bertanya,
– berapa umurnya bu?
– 19 bulan.
lalu anaknya minum air jeruk ayahnya. muka mesem-mesem, karena rasa air jeruknya.
– hii, asem ya? siapa namanya?
– jesen. salam dengan tante..
ibunya mengajarinya salam pada saya. kamipun bersalaman.
– pinter nih. anak ke berapa pak?
saya beralih kepada bapaknya.
– anak pertama bu. itu lagi pilek aja.
– biasa. anak batita langganan sakitnya memang batuk pilek. ga papa kok.
– iya bu. baru bulan lalu ke dokter, sekarang sudah pilek lagi.
– wah ga papa kok, pak. anak saya dulu juga langganan batuk pilek.
ibunya pun bertanya pada saya,
– anaknya berapa bu?
– anak saya dua. yang pertama sudah 10 tahun, yang kecil 5 tahun.
– wah, sudah pada besar ya?
– iya..
hehehe, memang banyak yang tidak menyangka saya sudah punya anak berumur 10 tahun.
susana pagi itu cair deh. ibu dan anaknya yang tadi berdoa dengan cara yang berbeda dari saya, terlihat memperhatikan dan ikut tersenyum melihat kehangatan kami bersama keluarga jesen. kemudian saya dan suami pamit pada mereka terlebih dahulu.

saya bilang pada suami saya. kita mayoritas, mari kita yang terlebih dulu membuka komunikasi. minoritas di mana-mana memang cenderung menarik dan membatasi diri. maka biarlah kita yang meraih. ok? suami saya menggangguk setuju.

sungguh, percayalah pada saya. meski saya berjilbab, saya mau membuka komunikasi dan membangun kehangatan bersama semua yang berbeda di sini. meski hanya dari hal-hal kecil..

teringat di suatu hari sabtu pagi beberapa waktu lalu, saya dan suami sarapan pagi bubur ayam yang lumayan terkenal di jajanan bunderan itu juga. duduk satu meja dengan saya, bapak dan ibu dengan penampilan khas indonesia timur dan usia yang jauh lebih sepuh dari saya dan suami. kami berkenalan dan membicarakan bubur ayam itu. mereka ternyata asli papua dan tinggal di kompleks kami juga.

sebelum menikmati bubur ayamnya, mereka sempat meminta izin tuk berdoa sebagaimana biasanya orang kristen berdoa. setelah mereka berdoa, kamipun bersama-sama menikmati bubur ayam sambil bicara ini itu. beliau kerja di freeport, dan saya bertanya macam-macam. pagi itu jadi hangat. sangat hangat..

mungkin sulit ya, membedakan saya diantara wanita berjilbab yang banyaknya ga kira-kira saat ini. tapi saya selalu mengingat wajah papuanya yang khas, sehingga ketika suatu ketika kami bertemu, saya tersenyum padanya. dan dia membalas senyum dengan hangat dengan seperti tengah berusaha mengingat-ngingat saya. sepertinya kita pernah ketemu ya dik??
saya menjawab, iya pak. di bubur ayam anu sabtu pagi.
senyumnya makin melebar, oooo…iya. apa kabar?
hanya sejenak bertukar kabar, kamipun segera saling berpamitan dan bersalaman tuk kemudian melanjutkan urusan kami masing-masing.

tuhan..
aku bisa bersama siapa saja
karena aku manusia biasa

lalu terdengar teriakan dari seorang ibu bertubuh gemuk dan berwajah manis. beliau berjilbab, penjual nasi kuning langganan saya.
– kemana ajaaaaa??? kurus ih!
– hahaha, tuh dia. sudah sering makan nasi kuning, belum gemuk juga nih.
– halahhh… terlalu jaga badan sih! sudah punya suami ini, gemuk dikit wajarrrr..
– justru itu. jaga badan buat suami bu.
– ah, muka suaminya muka setia tuh. anis aja yang ga mau gemuk. dasar susah makan!
membuat suami saya yang ikut mendengar tersenyum pasrah. hehehe 🙂
ah, kalau diterusin saya dan bu Hadi, begitu panggilan beliau, tentu tidak akan selesai-selesainya. beliau terasa seperti ibu saya. cablak dan ramai. orang medan bersuami jawa. ayahnya dulu kerja di perkebunan di medan. beliau suka bercerita ttg naga timbul, bah endah dan batu gingging, nama daerah di sumatera utara. masakannya berbumbu suangat mantap, khas sumatera deh.

indah ya?
maka saya selalu menemani suami saya mencari sarapan pagi di akhir minggu. bertemu banyak orang di luar sana.

siang harinya kami berbakar-bakaran ikan. pake arang dari batok kelapa loh. anak-anak saya suka makanan bakar-bakaran. beberapa hari sebelumnya tukang ojek nganterin ikan nila merah hasil kuras balong majikannya. selain ngojek, dia ngerjain ternak ikan nila tuk restoran2 sekitar tempatnya. beberapa teman tidak sengaja datang, dan ikut bakar-bakaran. sebagian lagi, ikannya saya masak dengan bumbu tom yam, ole-ole ketika suami saya ke thailand. jadi alhamdulillah deh, ultah suami saya kali ini ramai.

semoga suami saya bahagia, di hari jadi yang penuh isi.
bahagia dengan sederhana tapi kaya makna

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “bahagia yang sederhana”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Hehe, begitulah rejeki, niat iseng sambil silaturahmi. Eh, dapet ikan bakar, nyam…nyam… Btw, ada orang (so’) Arab yang tau ceritanya dan pengen dibakarin ikan juga pas pulang kampung, dikasih gak?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: