homo

Posted on Juli 30, 2008. Filed under: 1 |

(aktual nih..)

maaf ya, saya nih baru benar-benar memperhatikan berita ttg pembunuhan berantai, setelah siang hari kemarin teman-teman datang merayakan ultah suami saya dan membicarakannya. maka semalam saya belain melihat liputan lengkapnya di acara khusus sebuah stasiun tv.

hmmm, saya jadi mikir soal ini deh.

begini..
semua di sini tentu ingat, kalau saya pernah menerima pengakuan dari seorang teman yang juga memiliki orientasi sex yang menyimpang (di tulisan Remang). di sana saya melihat sebuah prilaku yang ambigu darinya. kemudian juga prilaku yang sangat keras dan kasar, jika dia tersinggung sedikit saja. sebuah respon yang menurut saya sangat tidak masuk akal sebagai sebuah reaksi normal dari istrinya. saya pernah marah padanya, mempertanyakan semua sikapnya, dan itu seperti sulit di koreksi. seperti ada yang pecah dalam dirinya, sampai-sampai saya mencurigainya sebagai split personality.

satu yang saya sadari, seperti juga yang saya ceritakan, bahwa semua itu dialaminya akibat lingkungannya. awalnya dia adalah korban, di usia sangat dini pula. saya menemukan hasil tes psikologi yang menunjukkan bahwa sebetulnya dia (bisa) normal. tapi tentu, tidak semudah membalikan telapak tangan.

wacana agama yang positif, seperti ikhlas, tobat dst-dst, menurut saya -maaf- sangat basi. tidak cukup ampuh tuk mengalahkan wacana dalam agama yang di satu sisi malah sangat negatif ttg itu. bahwa itu haram, dosa dan bahkan dicontohkan oleh kaum nabi luth, yang kemudian dihancurkan Tuhan lewat kejadian sodom dan gomora.

kalau saya nabi.. hahahaha. 😀
kalau loh… aslinya, saya bukan nabi.. (ya iyalah! :D)
pastinya saya tidak bisa serta merta meminta agar tuhan menghancurkan kaum homo ini. saya ga akan tega! saya merasa ga adil.
kenapa?
karena saya tahu, mereka begitu bukan semata karena keinginan mereka. ini sudah jadi efek domino yang panjang dari perjalanan kehidupan kita yang semakin hari memang mengalami penurunan moral dan etika. saya ga mau spekulan, bahwa prilaku homo ini adalah masalah hormonal atau kesehatan. kalau ini masalah hormonal/medis, saya pikir sudah bisa diatasi dengan diberi hormon penyeimbangnya saja.

ini masalah prilaku. ini masalah sosial.

maka, saya sangat berharap ada up date atau itjihad dari para ulama dan tokoh agama yang terpercaya, tuk memberikan keterangan tentang ini. ini harus diberi ruang khusus dalam keberagamaan kita di era saat ini. kenapa saya bilang gitu?
gini yaa..

saya melihat, kesadaran perilaku itu menyimpang, sebetulnya ada di bawah sadar para homo itu. kesadaran ini basic manusia. tapi sering kali kesadaran ini kalah oleh nafsunya sendiri dan kalah oleh ketidak berdayaannya sebagai efek domino dari persoalan kemasyarakatan kita yang luas. sebagai manusia yang “kalah”, mereka jadi memiliki pandangan yang negatif tentang diri mereka sendiri. dan itu semakin menghancurkan psikologis mereka. wajah innocent dan lugu juga prilaku ambigu itu, hanya kedok dari kegagalan diri tersebut.

duh, terasa deh mereka seperti terpenjara jiwanya. kasian.

sebagian memang berprilaku sebagai banci. itu hanya kamuflase dari persoalan yang sebenarnya. hal sebenarnya, mereka itu menyimpang! itu yang harus diakui. berprilaku sebagai banci sendiri telah membuat mereka menjadi bahan olok-olok. bayangkan betapa semakin letihnya mereka dalam kehidupan sosial demikian.

maka, saya lebih setuju seperti di amerika. kaum homo ini diakui keberadaannya dan di atur hak serta kewajibannya sebagai anggota maysarakat. sebagian dari mereka bahkan boleh menikah dan memiliki pasangan tetap.

ventilasi berupa pengakuan ini semoga bisa sedikit membebaskan energi negatif yang menggumpal dalam diri mereka. yang kalau ditekan terus menerus pastinya akan semakin banyak menghasilkan prilaku psikopat, seperti pembunuhan berantai tsb, walau dalam bentuk lain. seperti pedofilia dsbnya.

logika saya begini,
berkaca dari pengalaman kita yang normal ini menikah deh. sebelum menikah, kita berada di usia prima tuk bereproduksi. maka usaha kita mencari pasangan hidup dan membuat pertemanan khusus pun terdorong lebih intens. lalu di awal pernikahan kita memang seperti orang yang asyik mendapat permainan baru bernama sex. kita bisa asyik dan selalu ingin bermain dengan pasangan.

tapi kemudian lihat, ketika kita tumbuh dan berkembang bersama, peran sosial kemasyarakatan lebih mendominasi kita sebagai pasangan. sang suami dengan karir di pekerjaan, sang istri dengan sosialita kewanitaan, juga anak-anak.

singkat kata saya mau bilang kalau, orientasi hidup kita ini ga cuma masalah sex.

jadi menyelesaikan permasalahan kebutuhan sex, akan menghantarkan manusia itu menuju kehidupan lainnya yang terintegrasi satu sama lain. jika ini tidak terselesaikan, dalam kondisi normal atau tidak, ya akan terus mencari ruangnya. kecuali yang memilih hidup selibat, dan ini tuh minim sekali jumlahnya. dan menyuruh kaum homo ini menikah dengan lawan jenis sebagaimana yang dialami teman saya itu, dia juga kesulitan bahkan tidak melakukan fungsi tuk pasangannya secara normal.

sehingga saya pikir, jika kaum homo ini mendapat ruangnya, ya semoga dengan begitu mereka bisa melanjutkan kehidupan mereka yang lain di masyarakat dengan baik. sebagaimana pasangan normal yang telah menikah. kita akan melanjutkan kehidupan sebagai suami istri dan menjawab persoalan kehidupan secara bersama dan bertangungjawab. semoga mereka yang homopun begitu. semoga mereka bisa berkarya dan menyumbangkan banyak hal positif kedepannya.

saya tidak begitu mengkhawatirkan jika pembukaan ruang untuk mereka ini akan membuat prilaku homo ini akan semakin menjadi-jadi. saya kok yakin tidak ya. secara akal dan budi, manusia itu bisa menemukan siapa dirinya sendiri. manusia itu punya basic humannya termasuk soal sex. di sini saya berharap kita semua sebagai anggota masyarakat harus sama-sama saling menjaga dan menghormati.

dalam kebebasan saya berharap kita sama-sama bsia bertanggungjawab pada sesama dan tuhan.

kedepan saya malah berharap, kebebasan yang bertanggungjawab ini bisa meminimalis prilaku menyimpang itu. kalau mereka mendapat ruang, semoga mereka merasa cukup di ruang itu saja, dan tidak mengganggu yang lain dalam interaksi sosialnya. yang lainpun, akan bisa menghindar tanpa mencipta ketersinggungan yang biasanya akan memicu prilaku mereka semakin menjadi negatif.

ini menurut saya loh.
menurut kapasitas saya yang terbatas.
beranjak dari keprihatinan saya atas kasus penyimpangan yang mulai menelan banyak korban ini. sebagaimana saya juga sangat mengkhawatirkan banyak anak jalanan yang terindikasi juga mengalami perlakuan yang menyimpang tsb.

kasus pembunuhan berantai itu harus diselesaikan secara hukum dengan sangat tegas. tapi persoalan tentang prilaku menyimpang ini juga harus diselesaikan secara sosial dengan mendasar.

tulisan saya ini hanya satu pendapat, mungkin anda punya pendapat lain?
mari yuk, kita berbagi di sini dengan saling berbagi pendapat
kita coba bantu saudara-saudara kita yang terjebak di sana

ketika kehidupan meremang
masihkah kita ingin terang?

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “homo”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

hehe, sampai detik ini
saya masih bingung yah…
kok bisa-bisanya Allah salah cipta (itupun kalau kita berani nuduh Dia…)
tubuh dibuat laki-laki, tapi batinnya perempuan…
atau sebaliknya tubuhnya perempuan tapi batinnya laki-laki…

hehe, yang salah Sang Pencipta… keliru memasangkan fisik dan jiwa. atau….
san manusia itu yang berkreasi.. membuat sebuah jenis gender yang baru…

dan, gimana yah.. apa mungkin mereka-mereka yang merasa salah dicipta bisa berjuang untuk kemudian sadar bahwa jatidiri mereka sebenarnya sempurna….

di balik Ke-Maha Sempurnaan-Nya…
tentu kesempurnaan ciptaan juga harus mengiringinya…
itu kalau kita berhasil memahami-Nya juga deng…

jika tidak…
maka,
mafhum juga sih, kalau sebagian mereka berjuang mendapatkan pengakuan demi pengakuan agar eksistensi transeksual mereka diakui…

sebagai sebuah bentuk ciptaan baru…

wah,
jadi yang mencipta itu… Dia atau dia?

(masih garuk2 kepala…..)

http://addaani2008.wordpress.com/

@kuswandani
Saya sebenarnya takut salah komentari masalah
beginian. Tapi karena perbedaan pendapat itu indah
maka nulis aja.

Saya dulu juga mikir gitu, kok bisa Allah salah cipta, tapi setelah saya lebih pelajari lagi, ternyata
homo banyak disebabkan karena salah pola asuh,
lingkungan yang tidak mendukung. Jadi kalau
awal udah bener maka jadinya juga bener.
Peran orang tua penting disini. Jadi kalo
Islam mengatakan bahwa homo itu haram, maka
orang tua si homo juga ikut bertanggung jawab.
Ini juga suatu peringatan juga buat orang tua.
Bahwa kalao anaknya tidak mau kelak dianggap haram
maka ortu harus mendidik anak dengan “benar”.
Tidak bisa kesalahan itu hanya ditimpakan anak.

Cuma memang ada juga saya yang bingung, dimana
kalo hasil pemeriksaan psikolog dinyatakan bahwa
DARI LAHIR tubuh dibuat laki laki, tapi batin
perempuan.

Jadi ikutan garuk garuk neehhh…

Iya ya, kalo dipikir pikir betapa tertekannya kaum homoseksual di negara ini. Pantes aja mereka jadi lebih reaksioner dibanding yang lain.

*pengalaman pernah dikejar gay pake piso karena saya ganggu kegiatannya*

::jika memandang kaum homo, apakah yg terpelajari hanya rasa welas, kalau begitu masih perlu memperbanyak kaum homo, biar lebih tampak jelas arahnya…dan diulangi-diulangi berkali-kali, dan dipopulerkan dengan berneka peristiwa yg membuat mereka lebih diperhatikan…
apakah benar kita normal, coba dulu berhomo, apakah kita masih mengakui kita normal…setelah itu..
tidaklah sesuatu tercipta sia-sia

itu dia, agak sulit kita membandingkan sebuah produk pemikiran manusia bernama ilmu psikologi dalam mengamati manusia itu sendiri… dengan produk Sang Maha bernama agama (yang dipahami bener yah) mau agama manapun juga…
yang kita perjuangkan mencari makna, mengapa Allah mengutuk kaum nabi Luth dengan aktifitas homoseksual nya……
bukan kita malah mempertanyakan kok Allah bisa-bisanya sih mengutuk mereka? kayaknya hukumnya gak kontekstual deh….

saya sepakat yang kelak akan ikut bertanggung jawab tentang anak yang mengalami penyimpangan seksual… adalah sang orang tua…. bukan lingkungan yang hadir begitu saja sesuai dengan perkembangannya…

itu yang tidak ringan, menjadi orang tua… anak dan istri menjadi ujian… ujian yang mengantarkannya pada sebuah pengabdian tulus kepada ALlah, yang membuatnya mengenal dan mencintai-Nya, ujian yang membuat dirinya merasa lemah dihadapan-Nya dan akhirnya bergantung dan manjadi fakir / memiliki rasa butuh yang tinggi kepada-Nya…

tapi sebaliknya,
ujian yang sama bisa membuat seseorang terjatuh pada kehancuran dirinya dan diri anak-anaknya…
lagi2 lingkungan hanya faktor penyebab berikutnya.. faktor penyebab awal yang akan dimintai pertanggungjawabannya kepada ALlah adalah sang ortu yang dengan darah dagingnya melahirkannya dan mendidiknya sejak dini…

mafhum buat saya pribadi, mengapa agama begitu concern mempersoalkan keturunan mana yang anak kandung dan mana yang anak angkat… dan pengharaman bayi tabung dengan sembarang sperma ortu dll..dlsb…

saya sepakat mas datyo,
asal sebab pertama yang jadi bahan renungan kita, bagaimana menjadi ortu yang tepat, ortu yang amanah…

saya bertemu dengan banyak psikolog yang akhirnya mereka terpaksa merubah hampir sebagian besar pemahaman empiriknya tentang manusia, ketika berhadapan dengan hukum-hukum agama terutama yang berkaitan dengan struktur yang unik dalam diri manusia…

insya Allah di warung prasmanan blog saya kelak, ingin sekali membahas tentang betapa ajaibnya struktur manusia itu…. semoga juga terbahas apa yang membuat seseorang sadar atau tidak sadar memproklamasikan dirinya memiliki dua gender…. atau tidak bergender…. atau eksistensi gender barunya di akui….

ah, inimah sebuah cita-cita… semoga terwujud..

salamberbedaituindah…

http://addaani2008.wordpress.com/

@kuswandani
@mas datyo
@mas dana

makasih yaa..
intinya sih, semua kejadian ini adalah pesan kehidupan. menjadi seperti ayat-ayatNya yang nyata untuk kita.
mengajak kita tuk lebih sadar diri dan……. mari kita menjadi NORMAL! 🙂
karena menjadi normal itu saja sudah susah loh. hehehe..

saya sih hanya ingin kita semua bisa saling menghargai dan menjaga, dalam apapun keadaan kita. dan berharap semua bisa berperan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dengan baik demi kebaikan bersama pula. dan dengan terus berusaha tuk tidak terlalu membeda-bedakan.

saya seperti sedang berlajar berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. belajar sama dan bersama dengan siapa saja di hadapanNya. 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: