berdagang

Posted on Agustus 1, 2008. Filed under: 1 |

(lebih realistis yuk..)

konsep surga dan neraka dalam benak saya kadang terasa sangat sederhana loh. di mata saya, itu hanya menunjukkan kalau semua dalam hidup ini ga ada yang gratisan. hehehe.

maaf buat yang sangat konsevatif sama agama ya.
ini hanya masalah pembahasaan saya kok. inti/substansinya masih sama, kalau semua perbuatan itu ada balasannya. mau berbuat baik, hasilnya baik. mau berbuat jelek, ya hasilnya jelek. jangan berharap mau baik tapi berlaku jelek. sebaliknya ga ada hasil yang jelek dari berbuat baik.

nah, maka wajarlah kalau kasus incest ibu dan anak itu akhirnya terungkap dengan hasil berupa kehamilan ibunya berusia 4 bulan.
‘cos emang ga ada yang gratisan dong.
mau berbuat mesum yang tidak pada tempatnya, baik itu sex bebas apalagi incest begitu, ya pasti akan ada hasilnya. ada resikonya.

di sini surga dan neraka menjadi hasil dan resikonya. hasil cenderung hal-hal baik, resiko cenderung hal-hal buruk.

kenapa saya bilang begini?
karena kalau bertahan pada konsep agama yang konservatif, maka bahasa surga dan neraka ini -maaf loh- sudah sangat tidak mengena di masyarakat awam. mereka tahunya surga dan neraka itu di alam lain. sehingga perbuatannya di dunia ini ya urusan sekarang alias urusan hari ini. alam lain urusan berikutnya, besok saja tobatnya. dan ini tidak hanya menyentuh kalangan awam yang berpendidikan rendah, yang berpendidikan tinggi juga sama saja.

agama cenderung dilangkahi.
maka agama hanya mengena pada aspek fromalnya, tidak pada aspek moralnya.

ibu saya adalah pelaku bisnis.
beliau selalu mengajari saya tentang hasil dan resiko. apapun jenis bisnisnya, tentu tidak akan keluar dari dua hal tsb. seperti kalau tidak untung ya buntung. sebagai pengusaha catering, beliau menjual jasa. menjadi sangat hati-hati demi memuaskan keinginan pelanggannya. produk masakan harus selaras dengan keinginan pembeli dan alternatif yang diajukan juga harus disepakati jauh sebelumnya. bener-bener harus teliti dan peka deh.

resiko kenaikan harga setelah kesepakatan harga tidak bisa dikoreksi lagi. itu resiko. dan kalau itu bisa dihadapi, maka pelanggan akan mengakui keprofesionalan pelayanan. maka itu ya memberi kredit point tuk promosi usaha catering itu. di sana ibu saya bilang seperti investasi-lah. sesuatu yang hasilnya ga langsung.

maka doa itu konon ada yang dikabulkan ada yang tidak/ditunda yaa.. hehehe

bener-bener setiap keputusan bisnis ibu saya tuh berada di antara untung dan buntung, hasil dan resiko. tapi kata ibu saya, itulah hidup!
bukan hidup kalau ga kaya gitu.

maka jadi manusia harus cermat memuat perhitungan hidup dan tujuannya. agar resiko dan hasil ini bisa direncanakan sesuai gambaran garis besarnya kehidupan yang diinginkannya. ga ada hidup yang aman dari resiko, ga ada hidup yang tahunya dapet hasil doang. tetap kedua hal itu selalu ada, hanya dengan ada gambaran hasil secara keseluruhan akan memberi kita acuan lebih lurus akan kerjaan kita. istilah ibu saya, ya jadi ga terlalu lari kemana-mana. relatif terarah.

setelah saya islam, suatu ketika saya diminta ibu, tuk menjelaskan tujuan hidup dalam islam. hehehe.. ya saya jawab sebagaimana ibu saya menjelaskan dengan hal bisnis itu.
dalam islam, kehidupan juga seperti berdagang dengan tuhan, istilahnya tijaroh.
ketika ditanya hasilnya apa? ya saya jawab hasilnya cuma dua, hasil atau resiko. surga atau neraka.
hahaha, waktu itu ibu saya tertawa.
komentarnya, – itu islam anis aja kali..
hahaha 😀

eiiits.. waktu itu mungkin saya sekedar berbicara dan membuat perumpamaan agar konsep itu dimengerti oleh ibu saya. tapi setelah saya lalui kehidupan ini terus menerus sampai usia saya hari ini, saya menemukan hidup memang begitu. hidup memang seperti selalu berada antara hasil dan resiko. antara untung dan buntung.

saya harus cermat dalam hidup, berani mengambil resiko termasuk berani berinvestasi tuk hasil yang lebih baik. dan itu nyata.

visi dan misi manusia sebagai kholifah dan rahmatan lil alamin, adalah garis besar acuan semua investasi dan resiko yang saya ambil dalam hidup saya. ga jauh-jauh dan ga lari kemana-mana.

maka kemudian saya bisa hidup menjadi diri saya sendiri. ga lagi bingung dengan kata orang. walau kata orang lain itu tetap bisa menjadi masukan dan inspirasi buat saya. begitupun saya tidak lagi bingung terjebak dalam kitab suci jika hanya sepotong-potong.
saya sudah mengetahui inti sari patinya hidup dan itu selaras atau basicly dari kitab suci.

maka..
perdagangan seperti apa yang mau kita buat dengan tuhan?
mau perdagangan seperti apa yang kita lakukan dalam hidup?

mau hanya seperti urusan yang sekejap mata? ya segitu juga hasil dan resikonya.
mau hanya seperti yang hanya permainan belaka? ya segitu juga hasil dan resikonya.

melihat fenomena amoral di sekitar kita saat ini, buat saya hanya seperti merayakan kedangkalan hidup. hidup yang hanya berorientasi kesesaatan.

agama tidak mampu menjangkaukan pahala surga dan resiko neraka ke kehidupan ini. seperti langit dan bumi. agama telah terlena dan terjebak dalam bahasanya yang statis, tidak dinamis dan membumi..
kenapa bisa begitu?
karena manusia yang mempelajari agama hanya seperti belajar kata-kata. bukan belajar makna. agama cukup di dalil, bukan di prilaku. agama kehilangan spiritnya.

jadi…
hmm, yuk perbaiki lagi main set kita tentang agama.
beragama jangan sekedar dalil.
beragama itu adalah berprilaku
beragama itu bahkan sama seperti berbisinis dengan tuhan.

maaf bagi yang konservatif dalam beragama ya…

dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya pada semua yang pandai beragama di sini
saya memang suka berbeda.. 😀
itupun kalau anda mengganggap saya berbeda.
kalau tidak ya tidak apa-apa juga. hehehe 🙂

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “berdagang”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Karma dunk nih. 😀

@mas dana
hahahaha, he-eh euy karma pisannn.
maklum, dulu masih harfiah, mas dana.
hmm, hidup memang seperti siklus di situ-situ aja deh, ya ga?
maka kenapa kita ga ngeh-ngeh juga yaa? hehehe..

walah, saya makin takjub aja dengan cara Allah memperlakukan para hamba-Nya…!

Kadang Dia memperlakukan para manusia nya sebagai pasukan pedagang… diberi imbalan dosa dan pahala dengan kebaikan dan keburukannya, diberi imbalan pula surga dan neraka di ujungnya atas segala konsekwensi perbuatan demi perbuatannya…
ada untung dan ada rugi…

Pada taraf paling awal perlakuan-Nya kepada si manusia,

Dia memberi ketakutan demi ketakutan, ancaman demi ancaman atas kesalahan dan dosa yang dilakukan manusia. warning demi warning, awas! kalau berbuat ini pasti begitu-begini….! awas jangan lakukan ini dan itu…!
itulah perlakuan-Nya kepada para hamba-Nya yang ingin menjadi budak-Nya…

level berikutnya….
Dia memperlakukan sebagian hamba dengan sekian iming demi iming keuntungan, pahala demi pahala, surga demi surga… karena mereka siap mengabdi sebagaimana para pedagang berpengharapan dan berlaku… mencari keuntungan demi keuntungan…

itulah dunia hari ini….
dunia sebagai alam sebab akibat tentu akan membuat semua kita akan terkondisikan seperti itu…
saya mafhumi kok, apa yg terlintas di benak ceu anis…

tapi jangan lupa,
ada juga, sebagian keciiiiiil sekali manusia, yang tidak melihat surga dan neraka sebagai tujuan akhir…

mau dimajukan ke dunia, atau diakhirkan di akhirat kelak, rasanya buat mereka gak ada perbedaannya tuh…
mereka (yg sangat sedikiiiiiiiiit sekali ada di bumi ini) sama sekali tidak mempersoalkan ujung itu, mau baik atau tidak baik…
mereka gak peduli tuh…

buat mereka, hidup adalah mengabdi… mengabdi… mengenal diri.. mengenal diri… mengenali-Nya, mencintai-Nya… mencari-Nya…

makanya….
Dia pun membentuk agama… menciptakan aturan main dalam hidup ini… untuk peradaban mana pun juga.. manusia di bumi mana pun juga… mestinya agama menuntun mereka untuk dapat mengenali dirinya dan diri-Nya….

maka, kasian atuh kalau yang disalahin adalah agamanya… bukan sang pemeluknya yang belum tepat memahaminya dan menjalaninya…

wuih…
saya ini lagi bincangin apa yah…
kayaknya ngaco deh…

peace ah..

http://addaani2008.wordpress.com/


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: