menikmati tobat

Posted on Agustus 4, 2008. Filed under: Indonesiana |

(akhirnya saya bisa…)

perhatikan tulisan saya yang Indonesia Mengendap deh.. hehe, maaf menyuruh 🙂
segitu tuh saya sudah merasa lebih baik loh, biasanya saya akan protes. akhir-akhir ini saya memang lebih banyak memilih tuk menikmati saja perbedaan itu. ga lagi membenturkannya sebagaimana dulu.
entah karena saya nih sudak kapok protes atau entah saya nih sudah mulai dewasa hihihi.., ga tahu deh. pokoknya saya sudah merasa lebih baik tuk menikmati saja perbedaan itu termasuk menikmati….. kebodohan itu. kenapa?

– pertama, kasihan rakyat kecil, kalau kita ribut melulu. bener atau salah bukan untuk dimutlakkan. biarlah yang mutlak itu hanya milik tuhan. tugas kita hanya bagaimana menselaraskannya. mengharmonikan dan membuat hidup ini membaik. konflik hanya menambah banyak PR bagi negeri ini.

– kedua, meski saya menikmati perbedaan itu, saya tetap memiliki pendapat saya sendiri. saya adalah saya, saya adalah pohon yang akarnya menghujam ke tanah dan berusaha bisa berdaun rindang dan berbuah banyak. saya dalam kebenaran yang saya yakini, hanya ingin bisa bermanfaat. termasuk menuliskannya di sini. saya bukan ingin mendeskriditkan siapa-siapa. saya hanya tidak ingin mengkhianati apa-apa dalam diri saya. tapi saya berdamai pada semua, itu juga iya. saya memilih biarlah waktu membuktikan keyakinan saya.

– ketiga, hidup saya hari ini sudah bukan waktunya untuk memaksakan kehendak. hidup untuk dijalani sesuai keyakinan dan kepercayaan kita masing-masing, selebihnya adalah bagaimana hidup bisa diisi dengan sebaik-baiknya. mewujudkan cita-cita bersama. keyakinan dan kepercayaan kita ditentukan pada bagaimana kita mengisi kehidupan ini, bukan pada dalil-dalil itu saja.

sungguh, saya hanya tidak ingin malah merusak biduk kita bersama ini.
saya tahu dan rasakan sekali bahwa menahan diri itu susah, tapi saya juga tetap harus sadar diri akan tujuan saya sendiri. bentrok teruskah tujuan saya? jelas bukan.

lalu saya pahami, mengajari manusia itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. kalau kemudian ada orang-orang yang bisa melakukan semudah itu, percayalah itu hanya kesesaatan. maka apakah saya juga akan ikut-ikutan berusaha membalikkan manusia semudah itu? buat apa?hasil saya nanti juga hanya akan berupa kesesaatan.

kesesaatan baik berupa kebaikan maupun keburukan, hasilnya sama saja : nihil.
maka untuk apa? lebih baik kita manfaatkan energi kita tuk hal yang lebih manfaat. percayalah kita tidak sendirian. ya ga?

saya sedih melihat bangsa kita, sedih melihat negeri kita. mereka yang cerdik pandai juga sudah berkoar-koar tentang cara tuk negeri ini menjadi baik, lewat banyak cara termasuk literasi.
saya salut.. tapi, saat ini saya sedang sadar kalau semua itu tidak bisa hanya berupa kesesaatan.

sama sadarnya saya ketika menatap matahari negeri ini dari terbitnya hingga tenggelamnya. saya suka bertanya pada tuhan, mau berapa lama negeri ini dirundung nestapa? tidakkah tuhan sendiri miris melihatnya?
tuhan terdengar seperti tertawa.. Dia mentertawakan saya! seolah katanya,
– mengapa terburu-buru anis? bukankah ketergesa-gesaan sudah dibuktikan menambah kenestapaan?

asal tahu ya, saya ini paling sebal di suruh nrimo. tidak ada kata menyerah pasrah dalam kamus hidup saya, dan tuhan tahu itu..
maka seperti terdengar kembali tuhan itu berkata,
– anis, kesadaran harus mendasar. tidak ada yang mencegah dan tidak ada yang menganjurkan tuk nrimo. kesadaran yang mendasar akan membuat semua bergerak dengan sendirinya. nah, maka kalau belum bergerak juga, itu berarti memang belum ada kesadaran yang mendasar..

ah, tuhan..
bukan tuhan namanya, kalau tidak lebih pandai dari manusia ciptaanNya, ya ga?

jadi jangan heran kalau sebagian kita malah mual melihat orang muda itu berkoar, menjual kemudaan dirinya. yang konon adalah jawaban tuk sebuah kebutuhan tuk negeri ini membangun negerinya. padahal kalau di teliti, apa sih yang bisa dihasilkan kalau cuma jargon saja?

di setiap masa, anak (tergolong) mudanya pasti mengambil kesempatan. eksponen 45, eksponen 66 sampai para reformis.. dan apa hasilnya? sama saja! mau tua, mau muda, kalau tidak ada kesadaran yang mendasar, nihil..! ujung-ujungnya hanya memanfaatkan kekuasaan tuk kepentingan pribadi dan kelompok juga.

saat ini, saya tidak mencari orang muda, saya mencari orang tobat. hahaha 😀
mau tua atau muda, yang penting tobat. konon dalam tobat ada kesadaran yang mendasar, tentu bukan tobat asal-asalan. tobat sebenar-sebenar tobat.

cerita yaa.
saya mengenal sesosok manusia yang hidupnya nestapa. dulu, dia berjaya. apa yang dia mau dan dia minta selalu diberikan. entah juga kenapa, tradisi membenarkan dan mendewakan kehadirannya. dia lelaki yang dibanggakan dalam adat yang memuja lelaki. maka berlimpahlah semua untuknya. sampai suatu ketika, dia hanya manja dan berleha-leha saja, jauh dari arti lelaki kebanggaan. dia tidak bisa mengatasi dirinya, ketika semua tidak seperti yang dia mau.

padahal pengetahuan itu beda dengan pemahaman, kau boleh merasa telah tahu begini dan begitu, tapi keadaan sering memberi pemahaman yang berbeda.

tidak sampai di situ, dia menjadi tinggi hati dan merasa cukup. waduh, semua hanya bak pelayan untuk maunya. dia tidak mengenal kegagalan, karena sekitarnya sangat memaafkan kegagalannya. bahkan menghibur dan membangunkan kemenangan semu padanya. ah, semua yang melihatnya muak dengan kepalsuan itu. tapi juga hanya bisa menyadari tanpa bisa memaksakan. karena ketika dipaksakan, hubungan dengannya memburuk, mencipta permusuhan dan alih-alih menjadi baik, semua malah menjadi memburuk.

sampai kematian menjemput semua yang memuliakannya pun tetap tak bisa membuatnya menyadari kenyataan. habis ludes kemegahan dan kemewahannya sebagai lelakipun tak cukup. semua rasa sayang dan ketulusan tidak bisa membuatnya bangkit dari kebiasaan merasa dialah yang terbaik dan pantas dilayani. maka apa lagi? selain…. dia ditinggalkan?

katanya kalau cinta tidak pernah pergi, maka tidak akan disadari kalau cinta pernah datang.

kini, dia hitam legam di terpa angin laut di tambak udang lepas pantai. dia berteman ombak, berteman angin dan berteman sunyi. tuk berapa pun dia dibayar dia tak bisa menawar. dia tak bisa berada di kota sebagaimana biasanya, karena dia akan kalah dan kalah lagi dengan dirinya sendiri. laut telah menghantarkan dia pada kesadaran akan hidup yang damai dari senda gurau, dari kesemuan dan kepalsuan. dia adalah seseorang yang nyata, meski saya tidak ingin menyebut siapa dia..

dan itulah tobatnya.
tobat tuk tidak menyentuh kembali dan mengheningkan diri di kedalaman hatinya kemudian memperbaiki. dia menemukan kesederhanaan yang sepadan dengan kesadaran dirinya.

sementara saya menemukan kesederhanaan yang juga sepadan dengan diri saya sendiri. saya ga mesti hidup di laut. saya hanya butuh tuk bisa menikmati perbedaan yang dulu cenderung saya benturkan. yang merusak diri saya sendiri dan membuat saya hampir mati. tapi semua itu, justru yang membawa saya pada kesadaran tuk tidak lagi begitu. mengheningkan diri dan memperbaiki. 🙂

dalam kesadaran yang mendasar, saya merdeka

maka seolah terdengar tuhan berkata,
anis, aku ada dan nyata ketika kamu sadar aku ada dan nyata
aku tidak ada dan tidak nyata di semua angan-angan itu
aku bahkan tidak ada dan tidak nyata dibanyak ritual dan kata-kata itu
aku hanya ada dan nyata di kesadaranmu bahwa aku ada dan nyata
dan ketika itu bisa, semua tentangmu adalah ibadah kepadaku

maka saya kini bisa menikmati banyak perbedaan itu
saya tidak mau naif, bangsa ini sudah letih di adu domba
dari zaman belanda sampai hari ini
perutnya sudah lapar dan harga-harga makin mahal
jangan jualan janji karena mereka tak lagi mampu membeli

jangan pura-pura, karena mereka sudah tak lagi kura-kura
jangan menipu, karena mereka telah berkali-kali tertipu
mereka adalah masa yang marah
mereka bisa menjelma menjadi srigala
yang akan memangsa meski itu tuannya sendiri

hati-hati, jangan obral janji..
hati-hati juga, jangan ngaku siap berbeda kalau belum sadar tuk apa berbeda..

salam,
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “menikmati tobat”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

waduh .. hebat juga nih sdh bisa menikmati tobat .. salut … tapi apa yaa yg buat anda tobat ..???

@marah bangun
salam kenal.. 🙂
pastinya, kenyataanlah yang membuat saya bertobat..
saya ga lagi bisa membohongi diri dari segala yang saya rasa dan saya lihat..


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: