rasa sama itu

Posted on Agustus 12, 2008. Filed under: coretan |

(cuma ingin mengenang…)

kemarin saya melihat tayangan di televisi. seperti biasa, FPI melakukan razia minuman keras di daerah demi menyambut bulan suci ramadhan. dalam adegan itu, seorang bapak yang mengemudikan mobil berisi tuak itu, disuruh berjongkok dan di sirami air tuaknya beramai-ramai oleh FPI.

hmmm, saya kok miris ya melihatnya..

cerita yaa..
seperti saya pernah sampaikan di sini, saya suka di ajak ke kampung-kampung para pembantu saya oleh orangtua. mengantarkan mereka mudik lebaran dan berlibur di sela-sela acara itu.
sebagai seorang berkulit putih, berbaju bagus, berbau pendidikan dan dari kota pula, saya benar-benar seperti malaikat buat anak-anak kampung itu. saya dipegang-pegang, di sentuh-sentuh, bahkan diciumi oleh nenek-nenek kampung, seolah berkah bisa menyentuh pipi saya. apalagi saya seorang perempuan kecil tinggi langsing, makin di gemasi orang-orang kampung itu deh.

awalnya saya kaget dan ga mau. tangan orang kampung itu hitam, kasar dan mereka bau. tapi ibu saya bilang..
– jangan begitu. biasa saja. mereka juga manusia, sama seperti kita.
mata saya pasti akan menatap ibu saya dengan pertanyaan..
– sama dimananya? mereka kan kampungan?
dan ibu saya akan menambahkan,
– hushhh… mereka tetap manusia nonn. mereka berada dalam kebiasaan mereka, bukan kebiasaan kita. ga papa dong kita saling mengenal.
– tapi kan ga enak dipegang-pegang??
– loh, yang berani memegang kan hanya yang perempuan toh? yang lelaki justru tidak berani memegang.
iya sih, jujur, memang tidak ada anak lelaki kampung yang berani menyentuh saya. kenapa ya?
– itu karena mereka memang bisa menghormati dan hanya ingin mengagumi. sudah, jangan terlalu begitu. biasa saja.

hmm, maka saya pun terbiasa dengan sikap begitu. bahkan kalau saya mau duduk, orang kampung itu memberikan alas terbaiknya loh. tikar yang di simpan dan mungkin hanya dipakai kalau lebaran saja. ketika saya melihat jambu di pohonnya, langsung jambu itu dipetikan untuk saya. bahkan ketika saya melihat kelapa muda di pohonnya, belum lagi saya bilang mau, kelapa muda itu sudah dipanjatkan dan di ambilkan tuk saya. ga tahu deh kenapa mereka begitu, yang saya tahu mereka sangat menghormati orang tua saya.

hehehe, sebelnya kakak saya suka mendompleng minta saya lihat ini itu, supaya di ambilin aneka buah-buahan. dasar!

begitupun kalau saya di titip di bibi tukang sayur. kalau lagi tidak ada pembeli, saya akan diajaknya berbicara, sambil mengelus tangan dan jemari saya. dalam bahasa jawa, karena bibi itu orang jawa, dia akan berkata yang memuji-muji Allah.
– gusti.. bla-bla-bla..
yang rasanya cah bagus gitu deh. supaya anu dan anu.. kalau ga salah, tangannya yang alus, semoga bagus apa gitu deh. ga tahu! dan kemudian saya akan diciumi dengan sirih di mulutnya itu, kalau ibu saya menjemput saya. herannya.. ibu saya tuh tidak pernah melarang orang kampung itu mencium saya. katanya selalu ga papa, nonn.

hmm…

apalagi nih, di usia SD itu saya emang seperti malaikat nyasar, yang kerjanya cuma sekolah dan ke tempat-tempat ibadah. tangan saya cuma tahu membuat tanda salib, atau sesekali di minta memegang dupa tuk memohon doa. memohon yang baik-baik saja deh. selebihnya saya ya hanya asyik dengan buku2 saya. ibu saya galak dan streng menjaga saya. zaman itu semua ibu masih begitu kali yaa?? hehehe..

saya hanya tahu, bahwa orang kampung itu juga manusia seperti saya, yang banyak mengucapkan harapan-harapan baik. ingin hidup baik, ingin hidup berkah. ga lebih.

lah, ketika saya masuk islam, buat ibu saya itu seperti turun derajat. disela-sela kata-katanya yang penuh intimidasi itu, pernah terucap..
– nis.. masuk islam itu kan membuat anis seperti orang-orang kampung yang megang-megang anis waktu kecil itu. yang anis sendiri bilang itu “kampungan”?!
dan saya akan membalikkan pada ibu saya..
– lah, kata mama mereka juga manusia, sama seperti kita.
– iya nonnn.. tapi adab mereka jauh dari kita. kita boleh merasa sama tapi tidak harus menjadi sama kan?
wah, otak saya belum nyampe tuk mengerti kalimat terakhirnya itu di usia 18 tahun.

maka ibu saya menangis sejadi-jadinya ketika saya menjadi kurus dan banyak menangis menjalani keislaman saya. tapi beliau juga tidak bisa banyak melarang saya, mengingat beliau sendirilah yang membukakan jalan saya tuk mengenal manusia islam pertama kali dalam hidup saya. manusia-manusia kampungan dalam benak saya ketika itu..

dengan tulisan ini saya hanya ingin bilang,
saya sudah menyebrangi samudra, tuk merasa sama bahkan tuk menjadi sama.
tapi melihat adegan FPI merazia orang kampung yang membawa tuak, saya jadi geram.. kenapa ada prilaku yang begitu membedakan dari umat islam kepada umat islam sendiri?

yang saya sadari, mereka meski orang kampung, mereka juga ingin hidup layak di tengah himpitan ekonomi ini. maka kalau mereka melakoni kejahatan, sesungguhnya siapa sih yang mau jadi penjahat? ajari mereka, beri mereka ruang tuk bernafas, jawab kemiskinan mereka, hapus lapar dan dahaga mereka, bukan cuma bisanya menghukum dan menghakimi dengan cara merendahkan mereka begitu.

kalau mereka memang salah, proseslah perkara mereka dengan tetap bersikap baik dan santun agar mereka belajar tuk tidak salah lagi.

mereka juga manusia..
sama seperti kita..
maafkan banyak keterbatasan mereka
kalau saja batas itu bisa kita buka
kalau saja sabar itu bisa kita biasakan
dan kalau saja pendidikan itu bisa kita adakan
tentu mereka akan menjadi cerdas sebagaimana anda semua
tentu mereka akan menjadi beradab sebagaimana anda semua

maka buat apa masjid mewah berlomba di dirikan
jika sekolah ambruk satu demi satu?
maka buat apa tanah suci disambangi dengan alasan nama rasulnya
jika hati rasulnya tetap di biarkan menangis melihat umatnya direndahkan begitu?
maka buat apa dalil-dalil kitab suci ditinggikan melebihi tuhan
jika prilaku sangat jauh dari rasa tuhan itu sendiri?
ah, tapi saya juga tahu persis betapa congkaknya hati ketika mereka sudah merasa lebih dari -bahkan- saudara-saudaranya sendiri..

saya sudah tersoek-soek menuruni menara gading keberagamaan saya
sementara manusia-manusia itu malah berlomba mendaki menara gading itu
maukah saya ceritakan apa yang ada di atas menara gading itu?
sesungguhnya tuhan tidak ada di sana
tuhan justru ada di kedalaman hati ketika memandang kehidupan
tidak percaya?
silakan buktikan sendiri
saya sudah kehabisan kata
saya merasa tidak tahu apa-apa
maaf jika saya salah..

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “rasa sama itu”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Please visit our updated blog at http://airsetitik.tk or http://airsetitik.co.cc

Regards -Air Setitik

Saya hanya menghela nafas ketika melihat di TV….

@mas datyo
jadi ingin sama-sama menghela nafas bersama mas datyo deh, miris ya mas…:)


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: