tobat rame-rame

Posted on Agustus 20, 2008. Filed under: Indonesiana |

(isenggg..)

semalam ga sengaja, saya mengikuti bagian akhir dari todays dialognya metro tv. temanya masih seputar 63 tahun indonesia, ttg kekayaan alam indonesia. pembicaranya amin rais, rizal malarangeng, marwan batubara? dan bapak mentri sofian djalil. hostnya si cantik mutia hafiz.

pada saat saya mengikuti, pembicaraan sudah mengalir seputar blok cepu yang jatuh ke tangan exxon. rizal malarangeng sebagai anggota team negosiasi dari pemerintan dengan exxon, terkesan sangat ingin menjelaskan bagaimana keuntungan indonesialah tujuan dari negosiasi itu. bukan ketundukan pada siapa-siapa. sementara amin rais dari awal sangat tidak setuju soal jatuhnya cepu ke tangan exxon. baginya itu hanya indah di atas kertas tapi tetap sangat merugikan indonesia. bahkan mengutip kalau pertamina mendapatkan tender di negera lain –saya lupa negara apa– tapi di kandang sendiri kalah sama exxon. bagi pak amin itu bertentangan ddg UUD 45 pasal 33 tea.

bagi pak sofian, pemerintah berusaha menterjemahkan pasal 33 sesuai kebutuhan zaman sekrang. menurut pak sofian, pak hatta ketika merumuskan pasal tsb tidak lepas dari romantisme sosialis saat itu. ini diperkuat dengan andi malarangeng yang menyatakan lebih suka jika orang indonesia bisa menjawab tantangan masa kini. ga papa banyak orang indonesia yang go internasional.

tapi ini sempat di tertawakan oleh mutia hafiz dan amin rais, apakah berarti ga papa orang indonesia go internasional dan asing yang menguasai indonesia? hahaha..

sementara marwan batubara? itu menyoroti ketidak konsistenan pemerintah pada pasal 33 itu, dalam apapun kondisinya dulu atau sekarang. contoh yang disoroti adalah kekalahan PT Aneka Tambang dari Bakrie di banyak sumber daya indonesia yang menjanjikan. di satupihak katanya pemerintah gapunya uang, tapi kok ga lebih berani mencari uang? katanya, mengapa Bakrie di kasih hutang, Antam tidak? toh kalau menguntungkan kenapa tidak berani ambil resiko? jawab pak sofian, beliau sudah sering mensupport Antam tuk banyak berinvestasi, tapi kalau dipaksakan, Antamya akan bangkrut.

hehehe, saya bingung melihat orang-orang itu membicarakan kekayaan alam indonesia. antara mau mandiri dan ketidak percayaan diri. antara keinginan memakmurkan indonesia dan ketakutan kalah dengan pasar bebas. antara ingin mendobrak dan ingin tetap nyaman. semua masih setengah-setengah .

maaf, terkesan yang muda –dalam hal ini rizal malarangeng, juga tidak berani mengambil resiko mendobrak comfort zone indonesia di tangan asing ini. sementara si tua — dalam hal ini amin rais, terasa berwacana tapi juga tidak menyentuh detailnya. di keduanya –si tua dan si muda punya persepsinya sendiri antara mendobrak dan status quo ini.

pak sofian mengatakan, bahwa setelah beliau masuk ke pemeritahan, terasa antara tataran makro dan mikro, ada gap yang mendasar sekali.

dan saya hanya suka pada kalimat amin rais di akhir acara, katanya kurleb..
– mari melihat kedepan, maafkan semua kesalahan kolektif yang terjadi kemarin-kemarin. jangan melulu kita kembangkan self denial. mari sama-sama melihat ke depan, selamatkan indonesia.

hahahaha, saya terima pernyataan terakhirnya itu. setuju tuk tidak melulu melakukan self denial. jangan menyangkal melulu deh.
tapi selebihnya saya punya pikiran sendiri.. hehehe..

***

saya bisa mengerti, mungkin tidak semakro para tokoh itu. karena dalam hal keseharian saja, saya melihat kok betapa bangsa kita ini terjebak dalam keadaan serba setengah-setengah.
antara modernisasi dan tradisi, antara kapitalis dan ekonomi kerakyatan, antara pendidikan merakyat dan pola pendidikan internasional, antara budaya sendiri dan asing, antara materialistis dan asketisisme, antara konsumerisme dan kemiskinan dst-dstnya.
maka terciptalah jurang kesenjangan yang begitu dalamnya.

saya ga munafik ya, saya ga menafikan semua keadaan itu. semua itu alami terbentuk sesuai sifat dasar manusia itu sendiri. siapa yang kuat, dia yang menang. siapa yang mampu, dia yang menguasai.
tapiiii…
saya lebih suka dengan solusi : kesimbangan.

keseimbangan ini nyaris mutlak deh bagi kita, walau ga semutlak tuhan. hehehe πŸ˜€

mengapa? ya karena kita sudah melihat sendiri dengan mata dan kepala, bahkan merasakan dampaknya secara nyata, bahwa kesenjangan ini sangat merugikan kedua belah pihak. sebut saja si miskin, dia memang pihak yang terkalahkan. tapi lihat juga si kaya, dia menjadi sasaran empuk kriminalitas akibat ketidak seimbangan ini. contoh ttg ini terlihat ketika kawasan menteng saja sudah mulai menjadi sasaran kejahatan. mengingatkan kita pada revolusi perancis, dimana para bangsawanlah yang menjadi obyek kekerasan nomor satu. bahkan ketika komunis bangkit di cina, golongan bangsawan juga yang paling di rugikan akibat ketidakseimbangan kehidupan saat itu.

apakah kita ingin demikian?

menguntungkan bagi kita, bangsa indonesia yang sangat damai dan santun ini. kita terbiasa berpikir seribu kali tuk menindak keras kesenjangan bahkan betah berlama-lama dalam kesenjangan ini. maka reformasi 10 tahunpun tak mampu merubah keadaan. walau tentu sangat merugikan di sisi lainnya, bahwa sampai hari ini kita masih saja begini. sampai nyaris habis negara ini, masih saja begini. hehehe.. πŸ˜€

maka keseimbangan adalah sebuah solusi yang cukup berkeadilan. — menurut saya. saya tidak menafikkan si kaya dan saya peduli si miskin. saya lebih ingin ada upaya tuk sama-sama sejahteralah. jangan terlalu egois dengan diri sendiri masing-masing..

yang pasti jangan setengah-setengah. kalau mau perbaikan, apapun itu ya lakoni dengan penuh konsistensi. kalau memang ingin semua di privatisasi, kompensasinya bisa saja menjadikan bangsa ini sebagai owner, selebihnya owner diuntungkan habis-habisan dengan sistem kontrak yang ada. katanya mengingat kemajuan tidka bisa menunggu. kalau mau nasionalisasi totalpun, ya lakukanlah berdayakan seluruh potensi dan nominal yang ada. katanya rakyat butuh pekerjaan. mengkombinasikan semua yang ada, asal bisa, mengapa tidak? ga ada yang ga mungkin. kalau perlu.. break the limit! coba lepas semua batasan.
selama itu ditujukan untuk bisa menciptakan keseimbangan.

tapi, jauuuuuuuuh sebelum melakukan terobosan apapun itu, komitmen dan kesadaran dulu deh yang digalakkan, dibiasakan dan diupayakan. termasuk keberanian mengambil resiko. jangan cuma tebar pesona. jangan pencitraan melulu.. atau juga jangan malah menjual tuhan di tengah keadaan seperti ini.

kalau masih takut-takut dan setengah-setengah…
yaa… jangan coba-coba jadi presiden tuk negara yang berada di ujung tanduk ini deh. πŸ˜€

hmm, contoh persoalan subsidi. menurut saya, itu juga sikap setengah-setengah. bikin negara ini miskin ga miskin, kaya ga kaya. saya lebih suka miskin atau kaya, kita mandiri. dan mandiri ini kita awali dengan keseimbangan saja antara semua hal di negeri ini. gitu..

ibarat di tepi sebuah jurang, pilhannya cuma lompat atau jatuh sekalian. kita tidak tahu ada apa di seberang jurang, kita juga tidak tahu ada apa di dasar jurang. hidup atau mati, kita juga tidak tahu. kita hanya tahu, setelah kita sendiri yang melakukannya.. hehehe πŸ˜€

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

7 Tanggapan to “tobat rame-rame”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

waduh… sekali lagi… can’t be more agree with you, Mbak Anis.

Suatu sifat yang manusiawi banget, jika orang sudah berada dalam kondisi yang enak, kadang dapat sedikit saja goncangan, sudah mau protes.Setuju banget dengan istilah “nggak mau lepas dari comfort zone”

Duh.. jadi kudu banyak bercermin setelah baca artikel Mbak Anis πŸ™‚

Salam

tampaknya kita harus banyak belajar lepas dari zona kenyamanan ini. Masalahnya tidak semua orang mau dan sadar untuk melepaskannya. Bisa dimulai dari yang sederhana. Mis : anggota DPR kalo berangkat suruh naik
bus tanpa AC. Pasti bisa mikir oooo kalo naik
bus tanpa AC terus macet ternyata gerahnya minta ampun.
dia jadi mikir, wah kalo gitu gimana supaya gak macet ya…
Nah kalo si DPR ini berangkat naik mobil
sedan empuk terus kena macet minta tolong
pulisi untuk ber nguing nguing buka jalan…ya gak bakalan paham bahwa macet itu gak enak.
tidak cuma si DPR, bisa menteri, bisa presiden, bisa kita sendiri…

bagi pembaca kiyosaki udah paham dengan comfort zone ini. Kalo pingin sukses segera tinggalkan comfort zone ini.

If we are not living on the edge, we have to much space..

gitu gak sih ? (ikutan bu Anis…)

jujur aj, ndak paham nie maksud postingan ini πŸ˜•
tobat kah, solusi keseimbangan kah, ato… hehehe kah??
Ok lah, dlm rangka HUT RI, sy bagi bonus (bukan intensif lho) merdeka nie. Terserah mau diterima apa ndak ya..

ok, sy setuju “ibarat di tepi sebuah jurang”, yeah… spt kl orang dlm kondisi kritis banget di ICU. Emang jaman2nya krismon dulu banyak negara rame2 masuk UGD. Mungkin abis itu, mErekA tobat rame2 agar tak masuk UGD lagi.
lhah kini yg laen2 dah pd melancong kemana-mana, tp yg satu ini masih terkapar di ICU aj. Padahal kita tau khan ongkos perawatan ICU jauh lebih mahal drpd kamar VIP sekalipun. Banyak ongkos dah terbuang buat beli macam2 obat ato solusi, tp ternyata teteeep aja di ICU till now. Lhoh kok bisa? Yg pasti ada yg salah, ntah salah obat ato salah terapi ato salah diagnosa. Masya iya seeeh???

Ya iya laah masya ya iya donk, duren aj dibelah bukan dibedong.
Pertama, yg pertama n yg utama: mau sadar dulu kalo selama ini kita salah (bocor). Kalo ga mau nyadar juga bhw slm ini kita telah di jalan yg salah ato sesat, ya.. wassalam.

Nah kalo mo nyadar, maka spt tukang tambal ban cari dulu dimana bolongnya baru cari tau penyebabnya. kmd cari tau tuh gimana metodologi or cara nambalnya, dst.. dst… (selanjutnya terserah anda). Tukang tambal ban aja bisa jd tauladan kita, nah buanyak lagi yg bisa kita jadi’in tauladan. Hanya saja, semua itu akan semkn parah n payah kalo belom mau tobat (=mengakui bhw selama ini kita punya banyak kesalahan ato “sedang mendaki bukit yg salah)”. Ya pantesan.. masih di ICU terus kahn?!

salam
~JM~

ga papa banyak orang indonesia yang go internasional.

tapi ini sempat di tertawakan oleh mutia hafiz dan amin rais, apakah berarti ga papa orang indonesia go internasional dan asing yang menguasai indonesia? hahaha..

iya … saya juga tertawa, tertawa miris.
ya memang begitulah kondisinya, para ahli kita itu lebih dihargai di negara asing daripada di negaranya sendiri.

gimana ya rasanya berada d comfort zone?
coz aku tinggal di tempat yg g nyaman bgt!!!!
daerah yang kata orang tinggal nunggu kapan ada gempa gede dan tsunami..

loh kok g nyambung πŸ™‚

@mbak darnia
@mas datyo
@mas JM
@mas watonist
@mas rons
maaf ya, sebetulnya saya agak ga konsentrasi nulis ini. rasanya berantakan antara maksud dan tujuan. suka gitu ga sih para blogger lainnya? saya suka gitu deh, otak dan jari suka ga sikron, hehehe.. maaf ya. tapi semoga dalam keterbatasan yang ada, masih bisa diikuti logikanya.
makasih yaa πŸ˜€

Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com
http://nasional.infogue.com/tobat_rame_rame


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: